
"Hah, Anda serius Dok, saya boleh keluar dan menemui anak saya?" tanya Mimin, terkejut dan tidak percaya pastinya ketika dokter tampan itu mengatakan kalau dirinya boleh ke luar rumah sakit.
"Saya serius Mbak Mimin, sekarang adalah hari raya umat muslim maka nikmatilah. Dan salam buat jagoan Anda dan juga buat keluarga Mbak Lydia."
"Pasti Dok, saya akan salamkan pada teman saya," ucap Mimin tidak henti-hentinya wanita berhijab panjang itu mengucapkan syukur dan terima kasih untuk dokter Doni. Akhirnya apa yang ia inginkan dalam hati kecilnya tersampaikan juga dan semua ini lagi dan lagi berkata temannya.
"Mbak Mimin cantik banget, nggak nyangka kalau sudah make up secantik ini," ucap Suster Maria ketika Mimin, akhirnya diizinkan untuk ke luar rumah sakit. Wanita yang dipuji itu pun hanya mengembangkan senyum terbaiknya. Yah, dia akui selama menjalani terapi dengan dokter Marni kulit yang menghitam dan ada bintik-bintik hitam pun tidak terlalu terlihat seperti dulu yang membuat ia minder dan tidak berani menatap dirinya di pantulan cermin. Kini ia hanya perlu bersabar agar dia bisa kembali normal seperti dulu lagi. Meskipun proses penyembuhanya sangat memakan waktu, yang tidak sebentar.
Dalam hati wanita itu terus mengucapkan rasa syukurnya ketika dokter Doni mengatakan kalau dia boleh izin untuk satu hari ini. Bukan hanya itu ia pun mengucapkan syukur yang luar biasa sama sahabatnya, yang tidak lupa dengan dirinya sehingga mau bersusah payah izin dengan dokter Doni agar dirinya bisa ke luar rumah sakit demi bertemu dengan anaknya.
"Ayo Mbak Mimin, kita jalan lewat pintu belakang dan langsung naik ke ambulance, agar tidak ada yang tahu kalau kita meninggalkan rumah sakit," ucap Suster Maria dengan menggandeng tangan Mimin, dan wanita itu pun langsung mengikuti apa kata perawatnya, dengan langkah pelan tetapi pasti wanita itu kini sudah berada di dalam mobil ambulan yang siap mengantarkan pasienya ke rumah Mami Misel.
"Mbak Mimin, perasaanya gimana? Kenapa dari tadi diam saja?" tanya Suster Maria yang takut kalau Mimin justru tertekan.
"Yang pastinya seneng banget Mbak, mungkin ini adalah jawaban atas doa-doa aku, dan hari ini aku akan bertemu dengan Iko, sudah hampir dua bulan aku menahan rasa rindu ini. Dan di hari ini aku akan memeluknya." Mimin pun berbicara dengan bibir tersenyum dan suara yang bergetar karena saking bahagianya. Wanita itu seolah tidak sabar kalau dia akan memeluk sang putra.
"Syukurlah kalau Mbak Mimin senang, semoga setelah pertemuan ini Mbak Mimin makin semangat yah untuk sembuh, kan sudah ketemu dengan Iko." Suster Maria pun memberikan semangat untuk pasienya, dan dibalas dengan anggukan semangat oleh Mimin.
Sementara Mimin sedang melakukan perjalanan untuk bertemu putranya. Di tempat berbeda pun suasana lebaran masih sangat terasa. Tamu silih berganti datang seolah tidak ada hentinya dari rekan bisnis karyawan yang cukup dekat tetangga dan sanak keluarga.
Kembali Lydia pun berbisik bahwa ia akan kembali ke kamarnya sang jagoan sudah merengek minta istirahat. Sejak pagi jagoan itu sudah sangat sibuk, menyambut tamu-tamu yang bersilahturahmi sehingga dia kini ingin istirahat.
__ADS_1
"Mas nanti kalau Mimin datang infokan Lydia yah, sekarang mau ajak bobo Iko dulu dia ngantuk," bisik Lydia di balik daun telinga sang suami yang duduk tidak jauh dari tempatnya.
"Ok baiklah, selamat bobo jagoan," balas Aarav dan seperti biasa Lydia pun kembali ke kamarnya dan mengajak sang putra istirahat.
Hari ini adalah hari yang sangat bahagia, meskipun keluarganya tidak kumpul secara langsung tetapi tadi wanita itu sempat berkomunikasi dengan sang adik yang saat ini sedang berada di tempat yang berbeda, dan juga sudah sempat bertegur sapa, dan mohon maaf ala kadarnya lewat sambungan telpon, tetapi sudah cukup mengobati hati Lydia, bahwa adiknya sekarang sudah banyak berubah. Sudah mau berbicara dengan dirinya dan meminta maaf.
Yah, keputusan sang orang tua untuk memisahkan Lyra dengan keluarga dan di antarkan ke pesantren memang keputusan yang tepat. Karena di sana dia mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat dan kini meskipun baru satu bulan lebih sudah mendapatkan hasilnya.
Detik terus bergulir hingga berganti menit dan menit pun terus berjalan hingga berganti jam dan tanpa terasa kini Iko sudah bangun setelah satu jam lebih bocah tampan itu istirahat.
"Hay jagoan Bunda udah bangun, kita mandi yah biar nggak bau asem..." Lydia pun mencium-cium wangi keringat sang anak yang harum nampak sangat senang karena dia sudah mulai suka kalau diajak bermain, dan kini Lydia pun langsung memandikan putranya dan berganti dengan pakian yang baru. Kini Iko sudah kembali segar dan juga harum bayi, yang pastinya bakal banyak yang nempel lagi.
"Sekarang Iko udah siap, segar dan juga wangi kita siap ketemu sama Mamah," ucap Lydia dengan menirukan suara anak kecil yang menggemaskan.
"Iko sini sama Papah udah kangen," ucap Aarav dengan sigap mengambil jagoanya ketika Ainun mau mengambilnya.
"Ih astaga Bang, gantian napa dari tadi perasaan aku nggak kebagian mulu mau gendong Iko," protes Ainun dengan merengek seperti anak kecil yang minta permen.
"Apaan, aku juga baru gendong anak aku, dari pagi juga sama kalian pada," balas Aarav dengan menimang anaknya.
"Siapa yang sama Iko, dari pagi sama Amora dan Masaya, sampai-sampai anaknya mereka dibiarkan berkeliaran sendiri emaknya pada ngasuh anak kamu." Ainun tidak mau kalah, sembari menatap dua sodara perempuanya yang tetap cuek dengan ucapanya.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu tunggu satu atau dua jam lagi," balas Aarav, tapi jangan ditanya satu atau dua jam lagi juga belum pasti bisa gendong.
"Kalau nggak kan masih ada hari esok, sabar-sabar yah." Aarav pun semakin senang meledek sang adik. Hingga akhirnya Ainun pun mengalah dan pergi, melawan abangnya sama saja dia akan kalah.
"Mas, ibunya Iko belum datang?" tanya Lydia dengan setengah berbisik. Dan Aarav pun membalas dengan gelengan kepala.
"Macet mungkin," balas Aarav yang tetap fokus dengan anaknya, dan tidak lama pun sebuah mobil ambulance masuk kehalaman luas rumah Tuan Sony.
"Mas, kayaknya itu Mimin deh, kalau gitu Lydia lihat ke depan dulu yah," ucap Lydia sembari berjalan ke depan, dan yang lain pun ikut penasaran dengan sosok ibu kandung Iko menatap ke arah mobil ambulance datang. Yah Mimin datang memang sudah sangat siang sehingga tamu-tamu pun sudah pada pulang sehingga yang tersisa saat ini hanya keluarga inti saja.
Tidak lama dari mobil ambulan datang sebuah mobil mewah berwarna hitam pun mengikuti di belakangnya hingga Aarav dan Mimin heran mobil siapa itu yang terlihat sepertinya sangat baru.
"Mobil siapa Mas?" tanya Lydia sembari berjalan menghampiri Mimin.
"Kurang tahu, mungkin teman bisnis Papih," jawab Aarav dengan singkat.
"Assalamualaikum..." ucap dua orang yang secara bersamaan mengucapkan salam yang satu wanita berhijab yang tampil lebih segar dan juga cantik yang satu laki-laki dengan pakaian koko yang terlihat sangat tampan seolah mereka adalah orang yang datang secara bersamaa.
"Walaikumsallam... kalian kok bisa datang bersamaan?" tanya Aarav dengan bingung. Dan yang dimaksud kalian datang bersamaan pun ikut bingung dengan ucapan Aarav. Dan justru saling pandang, seolah berkata siapa yang di maksud?
#Nah loh kira-kira siapa yang dimaksud kalian itu? Jangan-jangan Cucu dan sekutunya juga rekan bisnis Aarav nih.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...