Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Hukuman Untuk David


__ADS_3

"Sayang, Mas berangkat dulu yah, nanti kamu berangkat bareng dengan Mamih dan juga sopir," pamit Aarav, hari ini ia memang sengaja tidak masuk kerja dulu, demi menghadiri sidang putusan atas kasus David dan Mimin.


Lydia bergeming tidak memberikan jawaban apa-apa dengan ucapan sang suami.


"Kenapa, apa kamu mau ikut sekarang dan nanti nunggu di luar atau di dalam mobil?" tanya Aarav, ketika melihat sang istri justru nampak bingung.


"Emang di pengadilan tidak ada ruang tunggu, untuk kita menunggu kenapa harus di luar."


"Ada, kamu mau tunggu di ruang tunggu saja?" tanya Aarav sekali lagi.


Dan Lydia pun menjawab dengan anggukan. "Kayaknya lebih enak nunggu di ruang tunggu saja Mas, sekarang Lydia berangkat dengan Mas, nanti pulang Mas mau ke mana?"


"Ya udah kalau gitu kamu siap-siap. Mas mungkin akan ke kantor kenapa?" tanya Aarav mengambil alih menjaga Iko selama Lydia bersiap-siap.


"Apa Lydia boleh ikut ke kantor? Bosan setiap hari di rumah terus hampir dua bulan di rumah terus mungkin sekedar jalan-jalan ke kantor Mas tidak apa-apa."


"Ya udah boleh, kamu mau temanin Mas tiap hari juga boleh."  Ya jelaslah Aarav mah semangat kalau di temanin sang istri.


"Kalau setiap hari jatuhnya bosan, lagian kasihan Iko kalau ditinggal setiap hari."


Setelah Aarav memperbolehkan Lydia untuk ikut ke kantor, calon ibu tiga anak itu pun langsung kembali ke kamarnya untuk bersiap karena ia akan berangkat ke pengadilan bersama sang suami.


Meskipun ada perasaan takut kalau nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terutama dengan kakeknya Iko, tetapi Lydia mencoba tetap tenang karena tidak mungkin Wijaya mencari keributan di pengadilan.


"Tidak harus menunggu lama kini Lydia dan Aarav, Mami Misel dan Iko sudah sampai di pengadilan, di mana akan diadakan sidang putusan pada David.


Begitu mobil sampai di tempat parkir tidak lama mobil Hadi pun datang, siapa lagi kalau bukan Hadi dan Mimin serta keluarga dokter Sera ternyata ikut hadir juga.


"Mamah... Om, Kakek, Nenek, Tante Olin..." Iko langsung menyapa orang-orang yang keluar dari mobil yang parkir di samping mobilnya.


"Hay ganteng, gimana kabarnya ikan?" tanya dokter Sera.


"Ikanya sudah banyak Nek."

__ADS_1


"Belum bosen sama ikan nih?" tanya Pak Sono.


"Belum Om, malah sekarang sudah hafal banyak nama-nama ikan, terutama ikan air laut, untung tidak semua di minta di bawa ke rumah, gimana kalau minta ikan hiu coba," kelakar Aarav.


"Hahah, tapi pasti diturutin sama opanya. Ngomong-ngomong Tuan Sony tidak ikut?"


"Papi ada kerjaan Om, maklum beliau orang sibuk."


Setelah berbasa-basi mereka pun masuk ke ruang sidang kecuali Lydia dan Mami Misel yang memilih duduk di ruang tunggu yang hanya terpisah dengan dinding dengan ruangan sidang.


"Gimana Min, deg-degan nggak?" tanya Lydia sembari menuntun Iko.


"Cukup deg-degan, tapi tidak apa-apa, aku sudah siap apa pun keputusan pengadilan nanti."


"Ya udah kamu masuk sana, aku akan tunggu di ruangan sebelah. Nanti masuk kalau sudah setengah sidang." Lydia, iko dan Mami Misel pun nunggu di ruangan tunggu. Untung Iko tidak rewel, dia tahu kalau papah dan yang lainya ada kerjaan sehingga ia mau kalau menunggu hanya bertiga dengan Lydia dan Mami Misel.


******


Sekilas pandangan mata Mimin bertemu dengan pandangan mata David, setelah beberapa saat Mimin hanya menunduk. Penampilan David sangat berbeda jauh, laki-laki yang pernah menjadi suaminya sekarang terlihat kurus dan juga sekarang berpenampilan dengan peci, dan baju koko setelahnya dilapisi rompi tahanan.


Namun harapanya sepertinya tidak akan terjadi, sampai sidang di mulai papah dan ibunya tidak hadir. Untuk papahnya memang tidak pernah lagi menjenguk David, sejak laki-laki itu pasrah dan memilih menjalani hukuman apapun putusan pengadilan, marah mungkin itu yang Wijaya rasakan pada anaknya. Dan untuk ibunya pernah datang dengan mengantarkan makanan untuk David, tetapi setelah itu tidak ada lagi datang, mungkin lagi-lagi sang papah yang melarangnya. Bahkan Wijaya meminta sidang tertutup dan tidak ada media yang meliputnya, baik media cetak maupun elektronik, tetapi atas permintaan pihak korban, sidang dilakukan terbuka dan media pun boleh menerbitkan hasil perkembangan kasus David.


Yah, sejak keputusan itu Wijaya dan istrinya benar-benar tidak lagi pernah mengunjungi David. Dan kini David benar-benar merasakan sendiri dalam menghadapi ujian hidupnya. Beruntung banyak sesama narapidana yang bersimpati dan baik terhadap David.


Sidang pun berjalan dengan lancar, seperti sebelum-sebelumnya David tidak menyangkal apa pun. Ini yang membuat persidangan cukup cepat, kalau di persidangan pidana bisa sampai tiga bulan, berhubung David mengakui semua perbuatanya dan tidak melakukan pembelaan sehingga hanya dua bulan sudah sampai tahap putusan persidangan.


Jantung Mimin bergemuruh hebat ketika hakim membacakan hukuman yang harus David jalani, ini memang yang ia inginkan, tetapi ketika melihat wajah dan tubuh David menunduk pasrah hatinya teriris.


Tanpa terasa air mata Mimin menetes ketika hakim memutuskan David dihukum lima tahun penjara.


David sendiri hanya mengulas senyum masam ketika mendengar putusan pengadilan yang memberikan dirinya hukuman masa tahanan sampai lima tahun penjara. Meskipun bagi David itu sangat lama, lagi dan lagi ia terima putusan ini.


David terus menunduk kepalanya hingga selesai persidangan.

__ADS_1


Tidak ada satu orang pun yang datang untuk menguatkan mentalnya, bahkan istrinya pun tidak datang. Meskipun David sedang menjalani sidang penceraian, tetapi ia berharap setidaknya ada satu atau dua orang yang datang untuk memberikan kekuatan pada dirinya. Namun, itu semua hanya harapanya nyatanya ia hanya ditemani oleh kuasa hukumnya.


Handan selaku pengaca Mimin, pun meminta waktu agar David diberikan waktu untuk berbicara dengan Mimin, setelah bernegosiasi akhirnya David tetap dibiarkan untuk beberapa saat berbicara dengan mantan istrinya.


"Aku minta maaf harus membuat kamu seperti ini," ucap Mimin yang pertama kali berbicara dengan David.


Mendengar suara yang sangat dia kenal, David pun mengangkat wajahnya. Senyum tersungging di wajah tirusnya.


"Kamu tidak salah, yang salah aku. Ini adalah hukuman yang pantas untuk aku. Seharusnya aku yang minta maaf pada kamu. Mafkan aku sudah membuat kamu terluka, dan melecehkan kamu. Bahkan aku menuduh kamu dan Hadi serta Aarav dengan tuduhan dan kata-kata yang tidak pantas," balas David dengan tenang.


Mimin pun membalas dengan anggukkan, ia merasakan lega karena akhirnya David meminta maaf atas apa yang ia ucapkan.


"Aku mengajak Iko ke sini. Bukanya kamu ingin bertemu dengan anak kamu." Meskipun hati Mimin sedih, tetapi ia berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja dengan apa yang terjadi, dan segera menyampaikan apa maksud dia meminta waktu agar berbicara dengan David.


Mendengar ucapan Mimin, David langsung menatap Mimin dengan tajam. "Ka... kamu serius?" tanya David kali ini kedua bola matanya sudah mengembun, bahkan ia kesulitan mencari keberadaan Iko karena selaput tipis yang menghalangi pandanganya.


"Aku serius. Ini Iko...." Mimin mengulurkan tanganya agar Iko mendekat ke arahnya.


"Sayang, kenalin ini Ayah ...." Mimin tidak bisa melanjutkan ucapanya tenggorokanya seperti tercekik, ketika mengenalkan  ayahnya pada anaknya dengan cara yang sangat menyedihkan seperti ini.


"Kamu serius Min, ini Iko, anak aku?" tanya David lagi kali ini air matanya sudah jatuh, dan suaranya sangat berat.


Mimin hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia pun tidak kuasa membendung air matanya.


Iko yang nampak kebingungan pun menatap Lydia dan Aarav.


"Iko, ini Ayah. Iko boleh peluk dan kenalan sama Ayah." Aarav yang melihat kalau Iko ke bingungan pun membantu Mimin untuk menjelaskan siapa David itu.


"Ayah... Ayah itu apa Pah?" tanya Iko dengan polos.


#Ayah itu yang berkokok kalau pagi hari Ko....


Bersambung.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2