Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Ghibah Berjama'ah


__ADS_3

Aarav menatap ponselnya yang tiba-tiba berkedip-kedip. Menandakan ada yang melakukan sambungan telpon.


"Sayang, Mas ke depan dulu yah Hadi telpon," ucap Aarav sembari menunjukan layar utamanya yang tertera nama Hadi dan juga lagi-lagi foto laki-laki itu dengan Iko.


"Ya udah, sekalian nanti tanyakan Mimin, apa Hadi sedang sama Mimin atau tidak." Lydia masih belum tenang kalau belum tahu sahabatnya saat ini dalam keadaan baik-baik saja atau sedang dalam bahaya. Ia akan tenang kalau sudah berkomunikasi dengan Mimin langsung.


"Iya-iya..." Aarav sih yakin kalau Hadi telpon juga pasti tidak jauh dengan memberikan kabar bagaimana keadaan Mimin seakarang.


[Assalamualaikum...] Justru yang paling pertama adalah suara Mimin yang menyapa.


[Walaikumsallam, Mimin kamu sudah sadar. Bagaimana keadaanya?] tanya balik Aarav


[Kabarku baik Rav, aku boleh nggak ngomong sama Lydia, dan Iko?]


[Boleh, tapi ngomong-ngomong Lydia dan semuanya tidak ada yang tahu apa yang menimpa sama kamu, jadi kamu ngomongnya hati-hati yah jangan sampai Lydia tahu apa yang barusan terjadi dengan kamu dan bisa jadi cemas. Kalau Lydia nanti tahu kamu sedang berada di rumah sakit atau bertanya tentang ponsel dan lain sebagainya, kamu cari alasan yang tepat yah, biar Lydia percaya, dia sedang hamil jadi sebisa mungkin pikirannya dibikin tenang. Sejak tadi dia sudah setres mikirin kamu yang tiba-tiba nomornya nggak aktif.]


[Hah... Lydia sedang hamil. MasyaAllah selamat yah akhirnya kalian bakal punya anak lagi,] ucap Mimin tidak kalah bahagia ketika mendengar kalau sahabatnya hamil juga.


[Terima kasih, ini kado yang luar biasa indah apalagi bakal langsung dua.] Rasanya tidak afdol kalau kabar bahagia yang satu ini tidak diberitahukan juga oleh Aarav.


[MasyaAllah, Aarav kamu serius?] tanya Mimin kali ini dengan antusias, hingga Hadi yang awalnya sedang duduk manis di sofa dengan menonton acara TV punĀ  langsung mengalihkan pandangnya pada Mimin yang justru terlihat sangat bahagia.


"Kenapa Min?" tanya Hadi dengan berjalan menghampiri Mimin yang sedang tertawa dengan bahagia di atas ranjang pasien.


"Lydia hamil, kembar..."Mimin menjawab pertanyaan Hadi sebelumnya menutup ponsel yang sedang melakukan sambungan telpon dengan Aarav, dengan menggunakan telapak tangannya.


"Yang bener, masa Aarav sekeren itu?" gumam Hadi, dengan wajah yang tidak percaya.

__ADS_1


"Coba sendiri tanya." Mimin memberikan ponsel yang masih terhubung dengan Aarav.


"Itu Aarav?" Hadi menunjuk ponsel yang Mimin berikan dengan setengah berbisik.


"Iya." Begitupun Mimin menjawab dengan berbisik juga dan menganggukan kepalanya dengan kuat.


Setelah memastikan kalau yang sedang melakukan sambungan telpon adalah Aarav, Hadi pun langsung meraih ponselnya dengan semangat.


[Rav, loe serius. Lydia sedang hamil anak kembar?] tanya Hadi dengan sangat antusias. Bahkan laki-laki itu tidak sadar kalau Mimin memperhatikanya dengan senyum-senyum sendiri. Karena menganggap tingkah Hadi itu lucu.


[Hai, apa yang harus diragukan dari seorang Aarav,] balas Aarav yang dengan sengaja membuat Hadi agar iri.


[Sue, nyesel sebenarnya gue nanya, tapi penasaran. Kok bisa sih loe bikin yang kembar gitu, rahasianya apa?] tanya Hadi, iya lah dia juga mau anak kembar kaya Aarav, bahkan Aarav dan Lydia yang tengah di berikan rezeki nomplok. Hadi tidak henti-hentinya mengucap syukur dan menunjukan rasa bahagianya.


Terdengar tawa renyah dari sebrang telpon. [Loe cari lawan dulu, baru gue kasih rahasianya, tipsnya dan juga ramuannya.] Bukan Aarav kalau tidak iseng.


"Mas kamu ngomong sama siapa?" tanya Lydia dengan mengerutkan kedua alisnya melihat suaminya sekarang terlihat bahagia banget.


"Hadi, dia tanya bagaimana caranya punya anak kembar, aku ledek aja biar dia cari lawanya dulu baru dikasih rumusnya. Eh dia kabur." Aarav kembali terkekeh, laki-laki itu bahkan sudah membayangkan untuk beberapa hari ini pasti dikacangin sama rekan bisnisnya. Yah, sekarang dia bisa sedikit melupakan apa yang sedang ia pikirkan, bahkan untuk terror dia sedikit melupakanya karena berhasil membuat rekan bisnisnya sensi.


"Kamu Mas, nanti marah loh Mas Hadi," balas Lydia dengan kembali masuk ke dalam kamar sedangkan Iko sendiri masih bengong melihat papahnya sangat bahagia.


"Emang sengaja Yang biar dia marah, Hadi itu kalau marah lucu, biar kata dia sudah tua cenderung mateng sampai gembyur (Matang yang sudah sangat mateng) Tapi dia kalau marah itu baperan banget. Mas senang ledekin dia." Aarav justru yang terlalu senang meledek rekan bisnisnya sampai lupa dari balik telpon Mimin sudah memanggil entah berapa kali, bahkan Mimin hampir mendengar semua percakapan Aarav dan Lydia.


"Tapi ngomong-ngomong bukanya Mas Hadi katanya suka sama Mimin? Itu benar nggak sih? Kok sudah satu tahun nggak ada kelajutanya lagi? Padahal Lydia berharap Mimin dapat pasangan yang baik seperti Mas Hadi, selain baik dia juga diam-diam pengertian, tanpa kebaikan Hadi yang mengusulkan Mimin kerja bahkan sampai dia rela mengeluarkan uang pribadinya untuk membayar Mimin, agar semangat untuk sembuh dan memiliki impian lagi. Kebaikan Hadi tidak perlu diragukan lagi."


"Ya, tapi kemarin Hadi sih pernah curhat kalau dia nanti apabila masalah selesai ingin lebih serius dengan hubunganya dengan Mimin, untuk sekarang dia sabar-sabar dulu, sampai masalah Mimin dan David selesai dulu, biar nggak timbul masalah-masalah baru. Kaya tidak tahu David saja, kalau Hadi seriusin dari sekarang bisa-bisa keluarga laki-laki itu kebakaran jenggot, cari-cari kesalahan dan terus menyerang tanpa memperdulikan yang diomongin fakta atau tidak. Jadi kalau Mas sih dukung apa yang Hadi rencanakan, selesaikan dulu masalah-masalah Mimin setelah itu dia baru mulai dengan kehidupan yang baru, jadi nggak lagi terbawa-bawa dengan masa lalu jadi bisa hidup damai dan sentosa."

__ADS_1


"Tapi Mimin kira-kira udah tahu belum kalau bosnya naksir?" tanya Lydia dengan santai kembali mengasuh jagoan yang sedang menyusun lego.


"Astaga... ini Mimin..." Aarav berbicara hanya dengan menggerakan bibirnya agar Mimin yang ada di balik telpon tidak dengar. Jari telunjuk Aarav menunjuk layar telpon yang masih tersambung dengan Hadi. .


"Serius..." tanya Lydia dengan wajah sama-sama panik dengan sang suami. Mereka merasa berdosa banget karena sudah ngomongin sahabat mereka, mana di depannya sekaligus lagi. Yah, meskipun melalui ponsel, tapi tetap saja kemungkinan Mimin dengar sangat besar.


Aarav mengangguk dengan bibir komat-kamit. Karena ia tahu Mimin pasti sudah mendengar obrolan pasangan suami istri tersebut.


Begitupun Lydia yang merasa berdoa karena sudah ghibah sahabatnya. Mana ini rahasia perusahaan, tapi malah dibocorkan semuanya. Kalau Hadi sih yakin tidak akan marah tapi Mimin tidak jamin.


"Mas, kenapa nggak bilang," protes Lydia masih dengan mode bisik-bisik.


"Lupa Sayang, terus ini gimana matiin atau terima?" tanya Aarav, laki-laki itu juga jadi merasa tidak tenang.


"Bagaimana lagi terima lah, kalau dimatiin bisa-bisa Mimin bertanduk. Mas nggak tau aja dia kalau marah tanduknya keluar tiga."


Lydia mau tidak mau dan dengan kesiapaan pun sudah pasrah kalau Mimin akan marah.


[Hai Min, kamu ke mana aja, aku baru aja telpon kamu tapi nggak diangkat-angkat.] sapa Lydia dengan gaya santainya.


"Bagus yah... ghibah terus yah...."


Bersambung....


...****************...


__ADS_1


__ADS_2