
Setelah memastikan calon istrinya masuk rumah dan aman tanpa lecet dan kurang apa pun, Hadi pun langsung kembali ke rumahnya. Begitu Hadi sampai rumah ia langsung membersihkan tubuh dan merebahkan diri di atas kasur. Sehari bekerja sekaligus menggantikan tugas Aarav ternyata sangat lelah.
Hadi malam ini benar-benar bahagia. Apalagi orang tuanya sudah merestu hubungan dirinya dan juga Mimin untuk melanjutkan kehubungan yang lebih serius. Bahkan kedua orang tuanya sudah berbicara dengan Mimin, meskipun hanya lewat sambungan telepon, tetapi bagi Hadi sudah sangat senang. Mungkin kapan-kapan kalau orang tuanya tidak sibuk atau bahkan dirinya ada waktu bakal ajak Mimin ketemu dengan orang tuanya.
Baru juga Hadi merasakan bahagia, dan hatinya berbunga-bunga laki-laki itu kembali terpikirkan dengan ucapan Mimin terutama masalah ayah dari Mimin.
"Bukanya kalau tidak salah Lydia dan Aarav pernah cerita kalau Mimin mantan kekasihnya Aarav, apa aku tanya Aarav yah kira-kira alamat rumah Mimin di mana dan orang tua serta abangnya namanya siapa," gumam Hadi. Tanpa menunggu lama laki-laki itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya yang sedang mudik.
Satu panggilan tidak diangkat, dua dan tiga panggilan pun tidak diangkat.
"Ini Aarav ke mana sih kenapa nggak angkat telpon, pasti dia sengaja nggak mau angkat. Sengaja pengin kerjain gue," gerunder Hadi, tanpa dia sadari saat ini sudah hampir tengah malam. Wajar kalau tidak diangkat sama papah Aarav dong.
[Hallo, as'salamualaikum,] sapa Aarav dengan suara serak.
[Wa'alaikumussalam, loe ke mana aja sih susah banget ditelpon,] sembur Hadi dengan rasa tidak bersalah.
Aarav mendengar nada bicara Hadi pun mengintip jam di ponselnya.
[Gila loe yah, tengah malem telpon gue mau ngapain? Mana ngomel-ngomel. Ya gue tidur lah,] balas Aarav dengan nada marah, tapi dengan suara berbisik karena takut anak dan istrinya pada bangun. Aarav pun berjalan dengan pelan-pelan agar tidak mengganggu anak dan istrinya tidur. Laki-laki itu memilih ngobrol di luar rumah, mungkin saja Hadi telpon malam-malam seperti ini ada hal yang ingin di sampaikan sehingga Aarav pun malkum. Apalagi kerja berdua pasti sangat cape, dan resiko kalau ada yang ingin Jadi tanyakan.
Hadi sendiri di tempat lain langsung melihat jam di dindingnya. Ia baru sadar kalau dia telpon Aarav hampir di jam dua belas malam. Wajar sih kalau Aarav tidak kunjung mengangkat telpon Hadi karena memang dia telpon sudah di jam orang istirahat.
__ADS_1
"Hehehe sorry Rav, gue pikir ini masih sore, perasaan gue baru pulang kerja bersih-bersih dan nempel di kasur juga sebentar, tapi udah keingat sama loe. Kangen pengin curhat." Agar Aarav tidak marah pun Hadi harus kasih rayuan biar singa betina tidak marah-marah terus.
"Ada apa emang kayaknya penting banget. Ada masalah dengan kantor?" tanya Aarav ya jelas laki-laki itu berpikir kalau Hadi telpon ya pasti tidak lain karena masalah kantor. Hadi sendiri justru di tempat lain tersenyum. Ia sudah siap-siap bakal dimarahin sama sahabatnya kalau tahu ia telpon hanya karena ingin tahu keluarga Mimi. Hadi yang sudah siap-siap akan dimarahi pun ia garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
[E... ini bukan masalah kantor Rav,] balas Hadi dengan ragu. Karena pasti Aarav yang galak bakal marah pada dirinya.
[Bukan masalah kantor? Jadi loe telpon ada masalah apa Hadi! Loe sudah bangunin gue tengah malam, lagi enak-enak tidur hanya mau curhat isi hati loe. Bener-bener anak ini kelewatan." Nah kan Aarav langsung ngoceh.
[Tapi ini tidak kalah penting Rav, bahkan dari urusan kantor sekalipun.] bela Hadi.
[Ya pentingnya masalah apa, pacar, Mimin atau ada wanita lain lagi yang bikin loe telpon gue," cecar Aarav dengan mode cewek mau datang bulan.
[Gue mau tanya bukanya loe dulu mantan Mimin, keluarganya siapa namanya dan di mana rumahnya?] tanya Hadi tidak mau buang waktu lagi, apalagi nanggapi kemarahan Aarav.
[Gue mau nikah dengan Mimin, tapi setidaknya izinlah sama orang tuanya, kan dia masih punya ayah meskipun hubunganya tidak baik, syukur-syukur bisa jadi wali nikah ayahnya atau abangnya,] jawab Hadi dengan jujut.
[Emang loe nggak tanya Mimin, dia bukanya lebih tau?] tanya balik Aarav. Bukanya Aarav tidak mau kasih tahu, tapi tidak enak kalau malah Mimin nanti marah karena Aarav ikut campur dengan keluarganya.
[Udah, gue coba tanya Mimin, tapi dia tidak mau kasih tahu, ya setidaknya gue usaha buat nemui dulu siapa tahu hubungan mereka msih bisa diperbaiki. Mungkin saja Mimin selama ini juga merindukan sosok ayahnya, rasanya tidak mungkin kalau terlalu membenci sampai tidak ada rasa rindu dan ingin memperbaiki hubungan. Gue hanya ingin berusaha memperbaiki hubungan yang tidak sehat kalau masih bisa diperbaiki jauh lebih bagus, tapi kalau tidak ya aku pun tidak akan memaksa semua keputusan ada pada Mimin dan ayah serta abangnya.]
[Tapi loe sudah berbicara dengan Mimin soal ini, gue hanya takut nanti dikira ikut campur lagi dengan urusan calon istri loe. Kan loe tahu gue sudah ada istri dan Mimin juga sudah dengan loe takut nanti Mimin salah paham malah nggak enak sama Lydia juga.]
__ADS_1
[Loe tenang saja, kalau ada masalah dengan Lydia atau justru Mimin sendiri, nanti gue yang akan meluruskanya,] ucap Hadi menenangkan Aarav.
[Ya udah nanti alamat keluarganya gue kirim lewat pesan aja yah. Dan awas loe pastiin kalau gue tidak akan kebawa-bawa dalam masalah kalian," ucap Aarav memastikan.
[Iya gue janji ya udah gue tunggu yah alamatnya dan loe boleh istirahat lagi,] balas Hadi dengan tanpa dosa, sudah bikin Aarav bangun bahkan sekarang tidak ngantuk lagi dan itu gara-gara Hadi yang tidak tahu diri telpon malam-malam.
[E ... enak ajah loe yah udah ganggu gue malah main udah-udah aja, tanggung jawab lah gue nggak bisa tidur lagi noh,] protes Aarav, menahan agar Hadi jangan matiin sambungan telponya.
[Ya elah Rav, loe kan nggak kerja mau bergadang juga bebas. Lah gue besok kerja kalau sekarang gue nggak tidur ya bahaya dong. Nanti yang gantiin kerjaan loe siapa. Gue sekarang mau tidur biar besok pagi bisa bangun pagi dan jemput calon ibu dari anak-anakku.]
[Preeettt... dasar orang satu bisaan banget cari alasanya. Udah tidur sanah. Gue doain bangun kesiangan, biar calon ibu dari anak-anak kamu dijemput sama orang lain.]
#Jahat banget Bang doanya.
Nut ... nut ...
Hadi baru mau protes malah sudah di matikan oleh Aarav.
'"Gila tuh orang doanya serem banget," umpat Hadi pada Aarav yang doanya jelekĀ banget buat Hadi. Sedangkan Aarav sendiri juga kesal sama temanya. Tengah malam di ganggu tidurnya hanya untuk tanya alamat rumah Mimin dan nama ayah dan abangnya. Gak ada kerjaan banget emang Hadi itu.
Namun, Aarav yang memang baik pun langsung mengirimkan alamat, nama bekerja tempat kerja orang tua Mimin. Aarav sih yakin kalau Hadi bisa cari ayahnya Mimin dengan mudah buat sultah apa sih yang nggak bisa dikerjakan. Dengan duit semuanya beres.
__ADS_1
Bersambung...
...****************...