
Sifat alamiku muncul, sangat penasaran dengan isi kado yang mas suami berikan. Aku pun mencoba mengintip kado apa yang Mas Aarav berikan untuk aku dan mas bojo bilang itu juga kado untuk dirinya. Ah, makin penasaran ajah....
"Astaga Mas ini apa?" tanyaku kaget bin terkejoot ketika melihat isi kado yang mas suami berikan. Namun, sedetik kemudian aku merasa murung karena melihat kado yang menurutku kurang pantas.
"Itu untuk kamu dan dipakai kalau kita sedang berduaan. Untuk menyenangkan Mas," jawab Mas Aarav dengan senyum mengembang sempurna. Mungkin dalam pikiran mas suami sudah membanyakan aku memakai pakaian yang mas suami berikan.
Aku memejamkan mataku yang terasa sesak, dan juga aku merasa kalau mas Aarav itu tidak menyukai penampilanku. "Apa Mas Aarav tidak suka penampilan Lydia? Sampai Mas Aarav meminta Lydia memakai pakaian yang seperti ini, jujur Lydia merasa kalau pakai-pakaian seperti ini sama halnya sebagai wanita penggoda yang menjual lekuk tubuhnya untuk dinikmati setiap laki-laki," ucapku sembari berjalan dan meletakan kado yang mas suami beri di atas meja kerja Mas Aarav. Aku hanya butuh penjelasan dari mas suami. Aku sedikit tahu tugas seorang istri, tetapi. aku juga butuh penjelasan dari suamiku, agar aku tidak memiliki pikiran buruh mengenai pemikiran liar suamiku.
Mas Aarav yang awalnya sedang berjalan untuk kembali duduk di kursi kerjanya dalam hitungan detik menghentikan langkahnya. Dan membalikan tubuhnya lalu kembali menghampiriku.
"Astaga Sayang, Mas tidak pernah mempermasalahkan penampilan seseorang. Jujur malah Mas lebih suka dengan wanita yang berpenampilan tertutup seperti kamu. Karena itu tandanya kamu tahu batasan menjadi istri. Dan soal apa yang Mas kasih kekamu itu namanya lingerie atau orang biasa sebut pakaian dinas seorang istri. Kenapa di sebut seperti itu. Karena di hadapan suami bukanya seluruh tubuh istri sudah halal dan memakai lingerie itu bisa digunaakan untuk memikat pasangan. Jujur kalau lagi berdua Mas juga ingin kamu berpenampilan seksi agar Mas tidak melirik wanita lain, salah satunya kamu juga bisa menggunakan pakaian seksi itu untuk menggoda suami. Karena kadang fantasi laki-laki itu cukup liar kalau istri berpenampilan sexsi dihadapanya sudah membuat Mas senang dan suka bisa mengimbangi pikiran liar suamimu. Atau kamu bisa tanya Mamih, takutnya Mas salah menjelaskanya," ucap Mas Aarav yang bisa aku dengar dari cara dia menjelaskan memang sangat berhati-hati agar aku tidak tersinggung.
Yah, tidak salah sih, aku sendiri saja sebagai wanita kalau melihat wanita berpenampilan seksi suka terhipnotis juga, dan benar apa kata Mas Aarav pasti juga laki-laki ingin agar istrinya tampil seksi di hadapan sang suaminya untuk membangkitkan gairah bercinta agar lebih romatis juga.
"Tidak perlu, Lydia bisa memaklumi, tapi apa Mas Aarav tidak menganggap Lydia seperti wanita malam kan?" tanyaku lagi. Dan di balas dengan tawa renyah oleh mas bojo.
"Ya Allah Sayang, masa sih Mas berpikir kaya gitu. Lagian kamu mau nakal kaya apa pun kalau di hadapan Mas, Mas akan sangat suka. kamu jangan berpikir kejauhan, kalau tidak kalau malu bertanya pada Mamih, kamu bisa bnaca-baca di internet kenapa suami suka kalau istri berpakaian seksi di hadapannya. Mas rasa semua suami hampir semuanya suka kalau istrinya berpakaian seksi di hadapan sang suami. Bukan hanya Mas saja," jelas mas bojo lagi.
"Iya-iya Lydia tahu maksud Mas, maaf kalau ucapan Lydia tadi bikin Mas kesel. Nanti akan Lydia pakai kalau kita sedang berdua," balas aku untuk membahagiakan mas suami apalagi hari ini adalah hari ulang tahun mas bojo aku ingin menjadi wanita yang paling baik untuk dia di ulang tahunnya mulai tahun ini hingga tahun-tahun selanjutnya dan hanya maut yang memisahkan kita.
__ADS_1
"Tidak kamu tidak bikin Mas kesel kok. Wajar kalau kamu kaget, Mas seneng kalau kamu itu patuh sama permintaan Mas." Mas Aarav pun kembali duduk di kursi kerjanya dan langsung kembali melanjutkan pekerjaanya mengingat nanti sore kami harus kembali pergi mengunjungi calon hunian baru kita.
"Mas, apa Mas tidak ingin kado khusus dari Lydia, mungkin sesuatu benda yang Lydia berikan untuk Mas. Rasanya Lydia masih kurang kalau tidak memberikan kado atau benda yang bermanfaat untuk Mas Aarav," tanyaku apalagi hampir semua memberikan kado pada mas bojo masa aku hanya memakai pakaian dinas saja sebagai kadonya
"Semua terserah sama kamu, kalau kamu ingin membelikan benda sesuatu yang mungkin untuk kenang-kenangan. Silahkan saja, tapi Mas tidak bisa meminta ingin ini dan ingin itu karena namanya kado masa minta tidak kejutan dong. Dan lagi apapun yang kamu berikan untuk Mas akan Mas terima karena itu semua adalah pemberian dari istri tercinta," balas Mas Aarav. Aku pun membalas dengan senyum terbaikku.
Aku keluarkan ponselku dan aku jelajahi toko online untuk membelikan kado untuk mas suami yang bisa di kirim hari ini juga. Aku ingin malam ini memberikan mas suami kado itu dan juga aku ingin menghadiahkan puisi cinta untuk kang mas suami yang sudah pasti senang.
Pandangan mataku tertuju pada salah satu bingkisan yang cukup menarik dan aku yakin kalau kado yang aku berikan akan bermanfaat untuk mas suami. Aku pun lihat harganya tidak terlalu malu-maluin banget karena bisa dibilang cukup pantas untuk suami yang golongan sultan. Meskipun kalau dalam golongan aku mahal, tapi kalau untuk golongan mas suami yakin sangat murah.
Setelah aku menemukan kado dan saat ini juga di kirim ke alamat kami. Aku pun meminta Mbok Jum untuk menyiapkan hiasan sederhana untuk menyambut mas suami, tentunya aku mencari jasa dekor ruangan dan juga meminta Mbok Jum membelikan kue ulang tahun, makan malam romantis di rumah aku juga minta Mbok Jum siapkan tentu dengan menu Mas Aarav seperti biasa tinggi protein, dan serat serta rendah gula dan karbohidrat.
Sejak aku menjadi istri Mas Aarav gaya hidup aku juga jadi berubah tidak lagi makan sembarangan. Aku selalu punya jadwal makanan setiap harinya. Dan tentu efeknya aku merasa kalau tubuhku jauh lebih sehat dan tidak gampang sakit.
"Sayang kamu lagi ngapaian?" tanya Mas Aarav yang berhasil mengagetkan aku. Yang sedang susah payah merangkai kata. Bahkan entah berapa kali aku menghapus kata-kataku dan mengagantinya hingga menemukan kata yang pas.
"Oh ini Mas sedang bnertukar kabar dengan Bapak, kata Bapak Lyra sudah sadar dan dia juga sudah siap kalau harus dipesantrenkan," jawabku dengan santai. Memang dari sela-sela aku mengerjakan semua kejutan untuk Mas Arav aku juga sedang bertukar kabar dengan Bapak dan Ibu.
"Oh Alhamdulillah lah. Semoga tobat yang Lyra lakukan bukan tobat sambel yah, yang hanya terjadi sesaat," ucap Mas bojo dan aku hanya membalas dengan anggukan ringan.
"Amin balasku lagi. Hingga tidak terasa pukul empat pun sudah tiba, dan pekerjaan mas bojo sudah selesai.
"Pulang yuk, kita lihat rumah masa depan kita," ucap Mas suami dengan wajah yang terlihat senang. Aku pun melanjutkan perjalanan, tentu setelah menunggu mas suami menjalankan kewajibanya. Memang mas suami ini masih suka lupa dengan kewajiban utamanya, jadi aku harus yang memilik kesabaran untuk terus mengingatkanya. Mungkin karena sebelum kenal aku mas suami ibadahnya masih senin kamis jadi masih terbawa kebiasaan. Atau justru yang mas suami lakukan karena masih sebatas hanya karena adanya istri.
__ADS_1
Namun, aku yakin semakin berjalanya waktu akan ada yang mengetuk pintu hati sehingga yang mas suami lakukan itu karena kesadaranya sendiri.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, karena kamu pulang di jam pulang kerja sehingga jalanan ibu kota masyaAllah menguji kesabaran, aku yang hampir tidak pernah ke luar rumah sehingga beberapa kali aku mengeluh dengan kemacetan ini, sangat berbeda dengan mas suami yang mungkin pemandangan kemacetan seperti ini sudah menjadi hal yang wajar. Sehingga terlihat santai saja.
Tidak henti-hentinya aku mengucapkan takjub dengan rumah yang Mas Aarav beli, selain besarnya dua kali lipat dari yang kita tempati sekarang. Perawatanya juga aku sudah bayangkan tidak boleh asal-asalan. Perabotan mewah semua. Sungguh ini ujian besar banget aku menikah sama mas duda.
"Satu demi satu ruangan aku lihat hingga ke kamar tidur utama yang rasaanya aku langsung ingin tidur juga. Saking asiknya kami berada di rumah baru, sampai tidak terasa kita sudah menghabiskan hampir dua jam untuk mengecek kesiapan semuanya, dan memang sesuai yang dikatakan Amora kalau rumah itu sudah siap seratus persen untuk di huni.
"Mas pulang yuk, cape ingin buru-buru istirahat ucapku ketika hari sudah mulai makin menggelap. Sedangkan aku di rumah juga menyiapkan kejutan kecil-kecilan untuk mas suami. Tapi cape memang benar sih. Aku yang nggak biasa ke luar seharian cukup merasakan cape yang sangat amat.
"Kita makan di luar dulu yah. Mas lapar banget. Lagian sebagai makan malam pertama di luar," ucap mas suami, tetapi buru-buru aku menolaknya. Itu karena aku sudah menyiapkan semua persiapan untuk makan bahkan aku sudah pesan makan malam dari restoran yang menurut mamih mertua masakanya kesukaan mas Aarav.
"Jangan Mas, makan di luar bisa lain kali ajah yah, lagian mungkin karena pengaruh datang bulan tubuh rasanya pingin rebahan. Tadi Lydia sudah bilang sama Mbok Jum untuk makan menu rumah dulu. Besok kalau tubuh Lydia tidak terlalu pegal dan sakit kita makan di luar." Dengan segala kemampuanku aku gunakan alasan yang semoga saja mas suami tidak curiga kalau aku sedang mencoba mengibulinya.
"Baiklah. Malam ini kita makan di rumah, jujur Mas juga cape," balas mas suami, membuat hati ini lega.
"Mas Lydia mau tiduran yah kalau nanti tidur benaran bangunin kalau sudah sampai," ucapku sembari memejamkan mata yang berat.
"Ok Sayang, kamu istirahat saja, Mas kasihan juga sama kamu, pasti cape banget."
Tanpa menunggu lama aku pun memejamkaan mata yang semakin berat ini.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...