
Aarav menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan, "Apa yang saya bisa percaya dari isi surat ini?" tanya Aarav dengan meletakan surat yang baru ia baca di atas meja.
"Saya tahu kasus yang menjerat David, dan saya tahu itu cukup fatal, tetapi saya saksi bahwa David itu sudah berubah." Yanto mencoba meyakinkan kalau David memang orang yang baik.
"Bukan saya tidak percaya Anda, Pak Yanto. Tetapi jujur saya belum bisa sepenuhnya kalau David itu seperduli itu dengan anaknya. Sedangkan dia saja orang yang sangat tega terhadap ibu dari anaknya. Saya takut dia memanfaatkan kebaikan Anda untuk melancarkan rencana lainnya."
Waspada itu perlu mengingat diluar Wijaya masih bebas, mungkin David ada di penjara, tetapi tidak dengan anak buah dan otak utamanya. Itu yang Aarav pikirkan.
"Saat ini David ada di Polda. Anda bisa temui dia untuk berbicara sendiri. Mungkin setelah Anda berbicara dengan David, Anda bisa tahu kebenaranya. Saya memang baru kenal dengan David, tetapi saya bisa simpulkan dia hanyalah korban dari keserakahan orang tuanya, dia anak yang baik, bahkan sekarang saya sendiri yang sedang mengajari dia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Saat ini David butuh dukungan salah satunya kepercayaan dari orang-orang yang pernah dia kecewakan. Bukan tidak mungkin David juga akan baik seperti Anda."
Aarav hanya memberikan respon mengangguk samar mendengar ucapan dari Yanto.
"Sebenarnya saya sudah tahu kalau anak saya sedang diincar untuk diambil oleh orang tua David, dan saya juga sudah memberikan perlindungan penuh pada keluarga saya. Hanya saja saya juga tidak bisa meremehkan Tuan Wijaya karena memang laki-laki itu cukup misterius dan menghalalkan segala cara. Apa Anda memiliki ide bagaimana saya bisa menghentikan serangan dari laki-laki itu?" tanya Aarav dengan memberikan tatapan yang serius pada lawan bicaranya.
"Tidak ada salahnya Anda datang menemui David, dia anak dari Tuan Wijaya dan itu artinya dia lebih tahu dengan papahnya, saya hanya orang luar yang membantu orang untuk bertaubat."
Kembali Aarav menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu saya akan temui David, dan terima kasih atas bantuan Anda."
Yanto pun langsung berdiri dan berpamitan untuk pulang, sementara Aarav kembali duduk dan mengambil lagi surat dari David lalu membaca ulang kata demi katanya.
"Apa iya David secepat itu bertaubat." Kening Aarav mengerut saat membaca peringatan dari David.
'Papah sedang menyiapkan rencana untuk melaporkan Anda dan Mimin, dengan dugaan jual beli anakku'
"Di..." Aarav memanggil Hadi yang baru lewat.
Laki-laki dengan setelan jas resmi berwarna Gray pun memalinkan pandangan pada Aarav yang duduk di sova tamu.
"Lagi ngapain loe di situ? Sejak kapan bos nunggu Hadi di sofa tamu, udah turun kelas." Hadi pun berjalan denganĀ tegap menghampiri Aarav yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya dan selembar kertas di tangannya.
"Baca ini." Aarav memberikan surat yang dikirim David untuk Hadi.
__ADS_1
Sama halnya dengan Aarav Hadi pun mengernyitkan keningnya beberapa kali saat membaca surat yang diberikan Aarav .
"Jadi kesimpulanya David itu bela kita atau papahnya?" tanya Hadi yang heran kenapa tiba-tiba David mengirimkan pesan yang kesimpulanya agar Iko tidak jatuh ke tangan Wijaya.
Aarav mengangkat bahunya. "Gue pun bingung. Loe percaya kalau orang tobat sangat singkat. Dia bahkan baru dua hari di penjara tapi sudah langsung tobat. Aneh bukan?"
Anggukan kepala dari Hadi jawaban untuk mendukung pertanyaan Aarav. "Handan sedang dalam perjalanan ke Jakarta, kalau memang Wijaya akan membuat laporan kalau loe dan Mimin terlibat jual beli cucunya biarkan saja, bukti kuat kalau Mimin pernah dapat ancaman dan David pernah menunduh Mimin selingkuh bahkan orang yang jadi tersangka pernah dituduh sebagai ayah biologis Iko ikut ke sini. Gue rasa dengan bukti kuat polisi juga bisa menjadikan bahan pertimbangan kenapa Mimin menyerahkan bayinya ke kalian. Biarkan mereka gunakan cara apapun yang pentung kita jangan sampai lengah siapkan bahan untuk menangkal serangan dari laki-laki tua itu."
Mendengar ucapan dari Hadi, Aarav pun memberikan seulas senyum lega. Yah, kalau bukti sudah dipersiapkan dia tidak perlu khawatir tidak akan ada yang bisa mengusik dirinya dan juga ibu dari Iko.
"Wijaya memang pandai dia tahu Iko tidak akan bisa dia ambil, jadi dia serang kita, dengan tuduhan yang tidak masuk akal, padahal seharusnya dia menyerang kita sudah tahu resikonya."
"Orang rakus emang tahu resikonya, yang terpenting bagi laki-laki ambisius seperti beliau pasti hanya ingin membuat lawan-lawanya mundur dan bisa dibilang hanya butuh pengakuan saja."
"Tapi apa gue perlu temui David?" tanya Aarav dengan menujuk surat dengan gerakan bibir.
"Pergilah, mungkin dia juga butuh semangat dari bestie-nya," ledek Hadi.
"Ya itu karena loe kurang pandai. Sekarang lebih pandai lagi, karena dia itu licik yang baik hanya Hadi."
Ck.... Aarav mengangkat bibirnya menunjukan senyum sinis.
"Sejak kapan loe jadi narsis gini. Gue berteman dengan loe juga karena loe banyak duit, kalau miskin mana mau." Aarav langsung beranjak dari duduknya dan mengibaskan jasnya berlaga orang yang kaya.
Hadi hanya terkekeh lihat kelakuan rekan bisnisnya.
"Eh... loe mau kemana kantor ada di dalam?" tanya Hadi yang melihat Aarav malah kembali pergi keluar gedung.
"Ketemu bestie."
"Cie yang mau notalgia, jangan lupa titip salam yah," pekik Hadi sekalian ngeledek Aarav yang akhirnya memilih menemui David.
"Salam apa mau juga jadi besti-nya?" tanya Aarav tidak mau kalah meledek Hadi balik.
__ADS_1
"Enggak deh, kalian bukan kelas gue, kan gue orang kaya."
"Ck... Aarav kembali mengecap bibirnya.
"Sombong."
Tanpa menunggu jawaban dari Hadi Aarav pun kembali mengayunkan kakinya, ia akan mencoba berbicara dengan David. Laki-laki itu teringat omongan Yanto yang mengatakan David butuh dukungan untuk merubah diri jadi yang lebih baik. Meskipun dalam hatinya Aarav juga belum begitu yakin kalau dalam waktu singkat David bisa tobat, tetapi kembali lagi tidak ada salahnya kalau Aarav mencoba berbicara dengan David dan mungkin saja David memang benar-benar bertaubat dan bisa menjadi saksi atas perbuatan Wijaya yang meresahkan terutama terror dari Wijaya.
Tidak harus menunggu lama kini Aarav dan David sudah saling duduk dengan berhadapan.
"Apa kamu sudah membaca surat yang aku titipkan pada Pak Yanto?" David yang memulai obrolan.
Aarav mengambil selembar surat yang ada di jasnya dan meletakan di atas meja.
"Kenapa secepat itu kamu berubah dan kalau tidak salah aku menyimpulkan kamu menginginkan Iko tetap di tanganku kenapa? Bukannya sebelumnya kamu dan Tuan Wijaya sangat keras ingin mengambil Iko dari tangan kami. Bahkan sampai menjebak Mimin dan berbuat tidak mengenakan pada mantan istri kamu?" cecar Aarav dengan memberikan tatapan yang tajam pada laki-laki yang tampak lelah di wajahnya.
"Aku harus memulai dari mana? Aku pun bingung."
"Terserah yang penting kamu berikan jawaban yang membuat aku yakin, kalau kamu memang benar-benar menginginkan hal itu, bukan sedang merencanakan sesuatu yang sedang kalian usaha kemas dengan sangat rapi, agar aku percaya dengan kamu dan bukan tidak mungkin kamu akan mengambil Iko dengan memanfaatkan kebaikan kami ini."
Suasana ruang besuk kembali hening.
"Apa aku seburuk itu di mata kamu?"
Aarav mengangguk dengan cepat. "Cukup buruk, sekali dikecewakan akan sangat sulit untuk aku percaya lagi pada kamu. Bukan aku yang jahat tetapi aku hanya tidak ingin menambah masalah baru."
David mengangguk lembut. "Yah aku tahu, memang aku sebelumnya pernah membuat kamu kecewa tetapi percayalah kali ini aku benar-benar ingin Iko tetap dengan kamu."
"Alasanya?"
Bersambung....
...****************...
__ADS_1