
Di rumah sakit.
Hadi yang sudah makan bubur dan sup ikan gabus spesial dari calon istri dan. sudah kenyang pun tertidur, tetapi rasanya baru juga laki-laki itu merangkai mimpi. Ia sudah terbangun. Perasaanya tiba-tiba tidak tenang, dadanya seperti sesak dan deg-degan seperti orang yang telah berlari jauh. Ia mencoba untuk duduk dan juga menghirup nafas dalam. Arum yang tidur di ranjang samping putranya pun terbangun.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Arum, wanita paruh baya itu langsung mengambilkan minum untuk Hadi. Ahmad pun yang sedang duduk di sofa menghampiri Hadi juga.
"Tidak tahu Mah, tiba-tiba deg-degan seperti habis lari, padahal tidak mimpi apa-apa." Hadi mengambil gelas yang Arum berikan dan meneguknya hingga tandas.
"Apa perlu Papah panggilkan dokter?" tanya Ahmad.
"Kayaknya tidak usah Pah, ini sudah mendingan," balas Hadi. Sembari terus mengatur nafasnya agar tidak lagi merasa ngos-ngosa.
"Kamu beneran sudah mendingan? Takut ada efek sesuatu dari operasi kamu?" Arum mengusap punggung Hadi yang saat ini sedang duduk.
"Tidak Mah, ini sudah mendingan. Mungkin ini karena Hadi mimpi aja kali atau apalah, tapi sekarang sudah mendingan." Hadi kembali rebahan untuk melanjutkan tidurnya. Kata dokter kalau besok hasil pemeriksaan sudah ok, maka Hadi bisa pulang dan hanya nanti dilakukan kontrol rutin saja.
"Mamah dan Papah istirahat saja." Hadi tidak enak karena dirinya, malah membuat cemas ke dua orang tuanya, ia juga jadi tidak bisa tidur lagi.
"Iya Mamah tidur aja, biar Papah bagian jaga Hadi." Ahmad dari tadi memang belum tidur. Laki-laki paruh baya itu masih mengecek pekerjaanya.
Arum yang memang cape pun memilih kembali merebahkan tubuhnya. Memang kamar yang diambil oleh keluarga Hadi yang ada dua tempat tidur yang satu untuk pasien dan yang satu lagi untuk orang yang menjaga pasien agar bisa beristirahat juga. Jangan sampai menjaga pasien sakit malah yang menjaga pulang-pulang gantian sakit.
"Kamu juga tidak lagi Sayang," ucap Arum sebelum benar-benar tidur lagi.
"Iya Mah, ini juga mau tidur lagi."
__ADS_1
Hadi merebahkan tubuhnya mencoba untuk memejamkan matanya, tapi ia justru tidak bisa tidur-tidur. Ia lupa belum melihat ponselnya. Apakah calon istrinya sudah sampai rumah atau belum. Hadi mengambil ponselnya mengecek pesan dari Mimin, tapi yang ada Mimin mengirimkan rekaman amang sate yang mengirim salam untuk dirinya, dan mendoakan Hadi agar cepat sembuh.
[Ada salam dari Ayang (Emoji tertawa] Itu pesan yang Mimin kirimkan untuk Hadi. Laki-laki itu pun tertawa, cukup senang dengan pesan yang dikirimkan oleh calon istrinya. Meskipun Mimin tidak mengatakan sudah sampai rumah seperti dirinya selalu laporan pada Mimin kalau sudah sampai rumah, tetapi Hadi memaklumi, mungkin memang Mimin pulang langsung tidur atau ada urusan lain, tapi sudah sampai mamang sate Hadi sudah cukup tenang. Karena jarak mamang sate sama rumah Dokter Sera hanya tinggal beberapa meter saja.
Ia meletakan kembali ponselnya dan mencoba istirahat agar besok hasil pemeriksaanya bagus dan dia cepat pulang. Meskipun di rumah sakit ruanganya cukup nyaman tapi bagi Hadi, tidur tenyaman tetap di rumah, sehingga ia sangat yakin kalau istirahat di rumah jauh lebih cepat untuk sembuh.
**********
Sudah hampir dua jam Mimin di IGD, tapi kondisinya belum stabil juga. Sehingga ia akan makin lama menghabiskan waktu di tempat itu hingga akhirnya nanti kalau sudah setabil bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
Julio dan dokter Sera yang menemani Mimin, sedangkan suaminya dan Orlin di rumah karena sang suami besok harus kerja dan Orlin harus kuliah.
"Kira-kira adik saya kenapa Dok? Apa terjadi sakit yang serius dengan adik saya?" tanya Julio, panik ketika melihat adiknya seperti itu. Sedangkan dokter Sera hanya diam saja, ia tahu apa yang terjadi dengan Mimin.
"Tapi tadi mimisan dan detak nadi katanya melemah Dok?" tanya Julio lagi.
"Itu sebenarnya biasa terjadi. Mimisan yang Mimin alami itu karena tekanan emosi yang sangat kuat, depresi dan stres bisa memicu mimisan, dan detak jantung yang melemah atau bahkan tiba-tiba detak jantung berdetak cepat itu juga biasa terjadi dalam keadaan emosi dan stres. Untuk sakit yang sebelumnya dialami oleh pasien, nanti tunggu dokter Doni periksa karena beliau yang mengetahui riwayat sakit sebelumnya. Sekarang beliau sudah pulang dan akan datang ke rumah sakit besok maka untuk sakit yang pernah Mimin alami, besok akan di jelaskan oleh dokter Doni," jelasnya, dengan detail.
Julio yang tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi pada Mimin pun hanya bisa bertanya-tanya. "Sakit apa yang sebelumnya Mimin alami?"
Kini di IGD hanya ada dokter Sera dan Julio yang menemani Mimin hingga kondisi bisa dipindahkan ke ruang rawat.
"Bisa kita bicara?" ucap dokter Sera pada Julio, penyebab Mimin seperti ini. Laki-laki yang tentunya mirip dengan Mimin pun mengangguk dan mengikuti Dokter Sera.
Mereka duduk saling bersebelahan. Untuk sesaat mereka saling diam. Dokter Sera menghirup nafas dalam.
__ADS_1
"Jujur, aku bingung mau memulai obrolan dari mana, karena aku dan Mimin kenal pun baru dua tahun lebih. Tapi aku minta sama kamu. Untuk sementara waktu menjauh dulu dari Mimin," ucap Dokter Sera, dengan suara parau. Meskipun dua tahun lebih tentu masih sangat dini untuk sebuah pertemuan, tapi Dokter Sera tahu betapa beratnya beban Mimin.
"Kenapa Dok?" tanya Julio dengan suara yang sama-sama lirih.
"Kamu mungkin kakak kandung dari Mimin, tapi kamu tidak tahu apa yang Mimin alami. Dia sebelumnya pernah berada di titik terendah karena sakitnya, Mimin pernah mengalami kanker kulit itu alasan dia berpakaian tertutup. Dia dililit begitu banyak masalah dengan mantan mertua dan suaminya. Depresi berat karena kepergian ibunya, dan yang terbesar adalah masalah dengan kalian. Jangan remehkan kesehatan mental seseorang. Kita tidak tahu dibalik senyum seseorang menyimpan betapa beratnya beban hidup. Kita nggak tahu kekuatan mentalnya menghadapi masalah ini. Kalau kamu sayang dan perduli dengan adik kamu biarkan dia tenang dulu. Dia santai dulu, jangan terlalu ditekan terus takutnya kamu menyesal ketika dia sudah tidak kuat menjalani cobaan semua. Ingat depresi bisa menjadi sakit yang sangat mematikan."
Tes ... Julio pun hanya bisa menangis ketika dia membayangkan kalau adiknya akan menyusul ibunya. Membayangkan adiknya melewati banyak cobaan. Sedangkan dia hidup enak.
"Aku banyak melewatkan kejadian luar biasa dari adikku," lirih Julio.
"Yah, banyak bahkan banyak sekali, mungkin kamu memang saudaranya, tapi ketika kamu tidak ada saat dia terpuruk jangan salahkan adik kamu ketika dia membenci keluarganya karena yang memulai kalian sendiri. Biarkan Mimin memperbaiki mentalnya sendiri dia memang saat ini sedang menyakiti dirinya dengan mencoba melupakan apa yang dia rasakan, tapi dia juga sedang memperbaiki perasaanya agar bisa menerima kenyataan ini dan menjadikan orang yang lebih kuat. Sama halnya ketika kita olahraga bukannya kita sedang merusak otot kita, tapi tujuannya adalah agar otot yang baru tumbuh jauh lebih kuat dari yang sebelumnya. Ini sama dengan yang dilakukan oleh Mimin, percayalah setelah dia membaik dan menerima takdir ini dia akan datang dan bicara dengan lebih tenang. Jangan paksa sekarang, beri waktu untuk dia menyiapkan semuanya. Aku hanya takut kalau kamu tetap paksa Mimin, dia justru semakin keras dan justru ada hal terburuknya. Kamu tidak ingin kan kehilangan adik kamu?"
"Saya akan mengikuti saran Anda, Dok. Tapi tidak apa-apa kan kalau saya tetap datang menjenguk, tapi tidak dia ketahui?" tanya Julio, dia benar-benar ingin dekat dengan adiknya, belajar dari pengalaman sebelumnya, ia sangat kesepian karena tidak ada sodara keluarganya hanya tinggal ayahnya dan setelah ayahnya pergi ia hanya punya adiknya itulah sebabnya Julio ingin memperbaiki hubunganya dengan sang adik.
"Tidak apa-apa kalau untuk melihatnya, tapi jangan sampai Mimin tahu aja. Aku sendiri kalau berada di posisi dia pasti akan melakukan hal yang sama, jadi kamu yang harus sedikit mengalah, dan menjauh dulu, kalau Mimin sudah menata hatinya baru bisa bicara baik-baik. Percayalah, dalam hatinya dia juga ada rasa kangen dan ingin memiliki hubungan yang baik dengan kalian, tidak ada di dunia ini yang suka dengan pertengkaran dan permusuhan apalagi dengan keluarga. Kita hanya tinggal menunggu waktu saja." Dokter Sera sedikit lega karena Julio bisa diajak kerja sama.
"Baiklah kalau gitu biarkan saya tunggu di luar. Saya titip adik saya yah Dok. Kalau ada apa-apa katakan sama saya saja. Untuk semua urusan rumah sakit biar saya yang tanggung. Izinkan saya mengganti apa yang tidak pernah saya lakukan selama ini pada adik saya." Julio menatap penuh permohonan ketika Dokter Sera sepertinya berat kalau Julio menanggung biaya pengobatan adiknya.
"Ya udah, tapi di kuitansi nanti pembayaran atas nama aku yah, agar Mimin mengira memakai uang-uangnya," ucap dokter Sera dan langsung di balas anggukan oleh Julio.
"Tidak apa-apa saya menunggu di luar setidaknya saya bisa merasakan menjaga adik saya, dan untuk kwitansi saya akan ikuti sara Anda," ucap Julio, sesak pasti ketika melihat adiknya jauh lebih nyaman dan dekat dengan orang lain, tapi inilah yang harus dia terima karena perbuatanya dulu.
Bersambung.....
...****************...
__ADS_1