
Pukul dua dini hari.
Mimin mengerjapkan matanya pelan, ia meringis ketika merasakan kepalanya sangat sakit. Perlahan wanita itu membuka matanya, gelap itu yang Mimin rasakan saat pertama kali membuka matanya. Perlahan Mimin mengerjapkan matanya agar cahaya bisa menyesuaikan masuk ke dalam retina matanya. Benar saja perlahan pandangan matanya bisa sedikit terang.
Tangan Mimin memijat pelipisnya pelan, yang terasa sangat berat, di sebelahnya dokter Sera memperhatikan gerak gerik Mimin, tentu wanita paruh baya itu tahu kalau Mimin sudah siuman, tetapi ia cukup memperhatikannya saja.
"Apa yang kamu rasakan Min?" tanya Dokter Sera dengan suara lirih.
Mendengar suara dokter Sera Mimin pun langsung mengalihkan pandanganya, dan menatap ke arah Dokter Sera.
"Kepalanya sangat pusing Dok," balas Mimin dengan sesekali meringis karena kepala yang terasa seperti ada yang memukul, apalagi saat pertama kali membuka mata rasanya gelap seperti ada kunang-kunangnya.
"Itu tidak apa-apa, yang kamu rasakan karena kamu kurang darah, tapi semuanya akan segera membaik. Mau minum dulu?" tanya Dokter Sera sembari memberikan satu botol air mineral.
Mimin pun mengangguk dan berusaha bangun dengan dibantu oleh Dokter Sera. Wanita itu hanya minum beberapa tegukan saja. Ia mengalihkan pandanganya seolah mencari sesuatu.
"Apa Dokter di sini sendirian?" tanya Mimin.
"Iya, suami di rumah kan Orlin besok harus sekolah, kalau Orlin ditinggal sendirian di rumah mana berani dia. Orang tengah malam pengin ke kamar mandi aja, harus bangunin kamu kan?" balas Dokter Sera, setengah berkelakar, dan memang itu kebiasaan Orlin kalau mau ke kamar mandi pasti selalu heboh karena dia sangat penakut.
Mimin mengulas senyum samar. "Terima kasih Dok sudah mau temanin saya, lagi-lagi saya hanya bisa merepotkan Dokter. Ini sudah pukul dua Dokter belum istirahat. Saya nggak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Dokter." Pandangan Mimin menunduk kembali mengeluarkan air matanya. Dokter Sera pun langsung sigap, bagun dan duduk di samping Mimin dengan memeluk tubuh Mimin.
"Kamu jangan bilang seperti itu, aku tidak sama sekali merasa direpotkan oleh kamu. Aku sudah anggap kamu sama seperti Orlin, kita adalah keluarga. Apa yang kamu rasakan, kita akan saling bahu membahu merasakan juga." Tangan dokter Sera mengusap hijab Mimin dengan lembut.
Untuk sesaat Mimin merasakan tenang ketika di peluk oleh Dokter Sera.
"Terima kasih Dok," ucap Mimin lagi. Siapa yang tidak sedih, ketika orang yang tidak ada hubungan keluarga jauh lebih perduli dengan dirinya dan juga dengan mentalnya, tapi orang yang seharusnya ada karena hubungan darah, malah menyakitinya. Membiarkan dia melewati kesulitan seorang diri.
__ADS_1
"Kamu tidur lagi yah, kamu itu butuh istirahat yang cukup, jangan pikirkan sesuatu. Aku yakin kalau kamu bisa lewati ini semua. Aku tahu kamu itu orang yang hebat."
Mimin mengangguk, ia kembali rebahan. Dan tidur dengan tubuh miring, air matanya terus mengalir. Wanita itu sudah tidak bisa tidur lagi, yang ia ingin air matanya terus mengalir karena ia masih mengingat kata demi kata yang ia ucapkan, dan tentu juga yang Julio katakan.
"Kamu jangan pikirkan apa-apa dulu, kamu coba kosongkan pikiran kamu, dan kamu hanya fokus dengan kebahagiaan kamu. Kamu bersama dengan Iko dan orang-orang yang perduli dengan kamu. Di situ kamu akan merasakan sangat bahagia. Hilangkan kesedihan kamu. Jangan pikiran sesuatu yang hanya akan menyakiti kami. Kamu pasti biasa untuk kembali kuat lagi." Dokter Sera mengusap punggung tangan Mimin.
Wanita itu pun mengangguk. Dan mencoba memejamkan matanya kembali kali ini dalam pikiran Mimin, ia membayangkan orang yang ia sayang saling berkumpul. Ia hanya ingin bahagia sehingga Mimin tidak ingin memikirkan siapa yang membuatnya terbaring di sini.
Dengan sekuat hati Mimin mencoba menguatkan dirinya sendiri, menghibur hatinya yang sedang sakit, meskipun wanita itu tahu betul usahanya tidak akan sepenuhnya berhasil. Namun, ia tahu tidak akan ada yang mampu menyembuhkannya kalau bukan hatinya sendiri. Siapa yang akan perduli kalau bukan dirinya sendiri.
"Dokter Sera benar, dulu aku merasakan jauh lebih sakit tapi aku bisa lewati. Sekarang juga pasti bisa."
*********
Di rumah mewah, Lydia dan Aarav kembali dibuat cemas oleh Iko yang tiba-tiba tubuhnya demam. Bahkan anak kecil itu beberapa kali mengigo menangis dan tidak mau tidur sejak pukul satu malam. Sudah satu jam Iko tidak mau turun dari pangkuan Aarav.
"Mas apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit aja?" tanya Lydia sembari mengusap punggung anaknya yang sedang dipangku oleh Aarav.
"Kamu tidur aja Sayang, aku takut nanti malah kamu ikut-ikutan sakit karena kecapean. Biar urusan Iko, bareng sama Mas," ucap Aarav yang kasihan kalau istrinya tidak tidur-tidur karena Iko yang tiba-tiba demam.
"Apa Mas nggak cape ngasuh Iko terus," balas Lydia. Ia memang sudah ngantuk lagi.
"Tidak Sayang, kamu tidur yah, kasihan kalau kamu sakit si kembar dan Iko malah nggak ada yang jaga." Aarav kembali meyakinkan kalau dia tidak apa-apa ketika Lydia kembali tidur dan dia harus menjaga Iko sendiri. Aarav sih bisa tidur sambil memeluk Iko. Agar anaknya tidak bangun.
Setelah memastikan kalau Aarav bisa menjaga Iko, Lydia pun kembali merebahkan dirinya dan melanjutkan istirahat.
Pagi harinya demam Iko sudah turun, tapi masih lemas. Setelah mengganti pakian Iko dan juga Lydia sudah rapi serta Aarav yang sudah siap dengan setelan pakaian kerjanya. Mereka pun memutuskan untuk ke rumah sakit memeriksakan Iko yang tubuhnya sangat lemas. Meskipun sudah tidak demam tetapi Iko masih lemas, makan pun tidak mau dan tidak seceria dan sebawel seperti sebelum-sebelumnya yang apa aja di tanyakan dan diajak ngobrol.
__ADS_1
Dalam perjalanan Lydia membuka ponselnya ia terkejut ketika ada pesan dari Dokter Sera. Lydia yang penasaran pun langsung membuka pesa yang dikirimkan di jam dua belas malam. Semalaman Lydia sangat takut, cemas dan hal-hal lainya. Sehingga tidak membuka ponsel baru pagi ini ia membuka ponselnya.
[Lyd, kalau tidak sibuk bisa ajak Iko ke rumah sakit Keluarga sehat yah, Mimin semalam jatuh sakit mungkin dengan kehadiran Iko Mimin bisa jauh lebih baik.]
Deg! Lydia terkejut ketika membaca pesan dari Dokter Sera yang mengabarkan Mimin sakit lagi.
"Ada apa Sayang?" tanya Aarav yang lihat kalau Lydia seperti, cemas dan bingung.
"Mimin kembali masuk rumah sakit Mas. Ini semalam dokter Sera mengabarkan lewat Wa, tapi baru di buka sekarang? Apa ini juga yang bikin Iko sakit yah?" lirih Lydia. Iko memang memiliki ikatan yang kuat dengan mamahnya apabila ada apa-apa dengan Mimin, maka Iko pun ikutan merasa tidak nyaman.
"Kita nanti jenguk setelah periksakan Iko," Aarav tidak mau berpikir yang tidak-tidak sekarang yang penting priksakan Iko dulu aja. Apalagi dari pagi juga nggak mau makan. Sehingga badanya terlihat lemas terus.
Lydia pun mengangguk setuju dengan saran dari suaminya.
**********
Di rumah sakit Hadi bangun cukup segar setelah bisa kembali tidur. Seperti pada ABG pada umumnya ketika bangun yang dilihat justru ponselnya. Mengecek apakah Mimin kirim pesan atau tidak.
Hadi melihat tidak ada pesan dari Mimin yang ada justru pesan dari Dokter Sera. Dengan perlahan Hadi pun, membuka pesan itu. Sama halnya dengan Lydia yang kaget dengan pesan yang dikirimkan oleh Dokter Sera.
[Mimin semalam jatuh sakit, sekarang ada di rumah sakit.] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Dokter Sera.
Wajah ceria yang Hadi rasakan kini berganti dengan wajah murung. Ternyata Mimin tidak mengirimkan pesan semalam, bukan karena ketiduran, tapi karena ia yang juga jatuh sakit. Rasa bersalah langsung Hadi rasakan taku kalau malah calon istrinya sakit gara-gara kecapean.
Namun, Hadi mengingat wajah cerita Mimin semalam sebelum pulang. Wajah yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Jadi sampai merasakan bahagia karena Mimin yang ceria itu. Tapi sekarang dapat kabar malah Mimin sakit.
"Kenapa cobaan ini besar banget yah, aku belum juga sepenuhnya sembuh, sekarang Mimin masuk rumah sakit lagi."
__ADS_1
Bersambung.....
...****************...