Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Dendam Mimin


__ADS_3

"Selamat yah kamu sudah bisa tenang sekarang, baik urusan dengan ayahnya Iko maupun dengan kakeknya Iko semuanya sudah selesai," ucap Hadi ketika mereka sudah pulang dari kantor.


"Terima kasih Mas, yah apa yang Mas katakan memang benar jujur aku sangat senang dengan putusan sidang kali ini. Saat ini aku sudah bisa tidur tenang." Mimin mengulas senyum dari balik cadarnya. Tidak ia bayangkan bahwa semua masalahnya bisa ia selesaikan dengan sangat baik. Bahkan tiga tahun ke belakang adalah tahun terberat sekaligus tahun teristimewa dalam hidupnya. Tuhan memberikan ujian sekaligus pertolongan yang benar-benar tidak pernah dibayangkan sama sekali oleh Mimin.


Tanpa terasa air mata pun jatuh, ketika ia kembali mengingat segala macam ujian yang sudah berhasil ia lewati.


Melihat Mimin nunduk dengan isakan samar Hadi pun jadi bingung, dan takut omonganya ada yang salah.


"Kenapa kamu malah nangis, katanya ini adalah hari bahagia kamu tapi kok malah nangis?"


"Entahlah kadang aku ini berada di posisi sekarang ini seperti mimpi. Entah amal baik apa yang pernah aku lakukan sampai aku bisa mendapatkan teman-teman yang sangat baik. Mungkin kalau ibu masih ada akan sangat bangga melihat pencapaian aku saat ini. Sayang Ibu sudah tidak ada," lirih Mimin, ia jadi teringat dengan sosok ibunya.


"Kamu kangen sama ibu kamu?" tanya Hadi dengan memberikan tatapan serius.


"Beliau adalah penguat untuk hidup aku, sampai detik ini aku masih menganggap kalau beliau masih tetap hidup. Mungkin yang membuat aku tetap bertahan hidup dengan guncangan mental yang hebat adalah beliau. Aku ingin tetap hidup hingga aku ada keberanian untuk menemui papahku dan membalas semua yang pernah kami terima. Aku harus tetap hidup kalau tidak papah dan abanku akan tetap hidup enak dan aku tidak terima." Mimin berkata dengan penuh penekanan.


Mendengar ucapan Mimin jujur Hadi cukup kaget. "Jangan bilang kaya gitu, karena bagaimanapun dia adalah papah kamu bukan? Belajarlah memaafkan, kamu saja bisa memaafkan orang lain masa tidak bisa memaafkan papah dan abang kamu."


Mimin mengulas senyum getir. "Yah, mungkin kalau memaafkan orang lain, aku bisa. Karena aku yang merasakan langsung sakit hatinya, dan orang itu tidak sampai membuat aku meninggal. Kalau papahku adalah dalang dibalik meninggalnya ibuku, aku tidak akan terima itu Mas, sampai kapanpun. Mungkin laki-laki itu bisa berlindung dibalik uang dan kekuasaan, tetapi tidak dengan hukuman dari aku. Aku akan terus meminta keadilan atas apa yang papahku lalukan. Anak mana yang tetapi diam saja ketika ibunya meninggal dihadapanya ditabrak dengan orang suruhan papahnya. Tidak ada di dunia ini yang ikhlas akan itu. Yah kecuali kalau anaknya gila lalu mau memaafkan itu semua. Aku rasa hanya stres sedikit tidak sampai gila jadi aku akan tetap berusaha membuat Ibu tenang."


"Kamu yakin orang yang menabrak ibu kamu adalah orang suruhan papah kamu?" tanya Hadi dengan serius. "Kalau kamu yakin kamu bisa buat papah kamu terpenjara, kamu jangan takut, tapi kamu juga jangan dendam karena bagaimanapun itu dia adalah papah kamu."

__ADS_1


"Sulit untuk mempenjarakanya, aku tidak punya bukti, kejadian itu saat aku umur 20 tahun alias sudah dua belas tahun lebih ibuku meninggal. Hanya aku yang melihat kejadian itu. Mengorek sampai manapun aku tidak bisa membuat pelajaran di dunia ini pada laki-laki itu, tetapi aku akan terus berdoa agar Tuhan membalaskan apa yang kami rasakan setidaknya, sedikit saja dari perbuatan yang pernah dia lakukan pada kami."


"Apa kamu sekarang ingin mengunjungi makan ibu kamu?" tanya Hadi.


Mendengar pertanyaan Hadi, Mimin langsung memalingkan pandanganya. "Makam Ibu jauh, tepatnya berada di kampung Lydia. Harus membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menempuhnya."


"Kita bisa ambil cuti setelah Aarav pulang dari mudik, kita berangkat jum'at, sabtu, minggu. Cukup kan?" tanya Hadi lagi.


"Kita hanya berdua?" tanya Mimin balik.


"Emang maunya berapa orang? Apa mau ajak Iko juga mau?"


"Apa Lydia mengizinkanya, bukanya Iko juga baru pulang dari kampung halaman Lydia, masa diajak lagi kasihan nanti kecapean bisa sakit." Meskipun dalam hati Mimin tentu ingin mengajak anaknya mengunjungi makam ibunya, tetapi Iko sekarang sudah jadi milik Lydia dia harus mendaatkan izin setidaknya dari ibu angkatnya tidak bisa seenaknya mengajak putranya pergi.


"Tapi apa tidak kasihan Aarav kerja hanya sendirian?" tanya Mimin, sekarang kerja berdua dengan Hadi dan dirinya saja, berasa tetap kalang kabut. Apalagi Aarav sendirian bisa-bisa seperti gangsing muter-muter isi kepalanya.


"Tenang saja Aarav adalah orang yang hebat, dia punya sepuluh kekuatan super jadi jangan diambil pusing pasti semuanya bisa di bereskan oleh Aarav."


#Kamu pikir Aarav ultraman punya kekuatan super.


Mimin mengangguk mengerti apa yang Hadi katakan, dan memang Aarav juga memiliki sekretaris dua dan ada Brata, asisten kepercayaanya.

__ADS_1


Mimin melihat ke sekeliling tempat di mana saat ini ia dan Hadi sedang makan malam, jam sembilan malam baru makan malam karena habis lembur mengerjakan laporan. Tempat cukup sepi tidak terlalu rame. Hal ini bisa Mimin gunakan untuk membukan obroaln yang serius.


"Mas ...." Mimin memanggil Hadi dengan suara yang lirih.


"Hemz .... kenapa mau nambah?" tanya Hadi dengan mengangkat wajahnya.


"Bukan, ini aja udah kenyang. Ada yang mau diomongin," bisik Mimin seperti orang yang sedang bisik-bisik mau pinjam uang.


Hadi menyipitkan kedua matanya. "Mau ngomong apa, ngomong aja kayak sama siapa saja."


"Ini soal pertanyaan Mas Hadi yang waktu itu." Mimin masih terus berbicara dengan suara yang Lirih dan berhati-hati padahal tempat ini tidak terlalu ramai sehingga tidak seharusnya berbicara dengan bisik-bisik juga pasti bakal aman.


"Yang mana, waktu yang di mana dulu. Soalnya yang kita omongin kan banyak?" tanya Hadi memastikan lagi padahal dalam hatinya sudah senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan Mimin katakan. Yah, tentu Hadi sudah menebak omongan waktu itu yang mana.


Mimin nampak garuk-garuk kepala nampaknya sangat bingung mau memulai dari mana.


"Yang soal Mas Hadi ngajak ke hubungan yang lebih serius. Saat itu saya belum bisa memberikan jawaban karena urusan saya dengan ayahnya Iko dan juga kakeknya Iko belum selesai, tapi saat ini insyaAlloh saya bisa memberikan jawaban, tapi sebelumya saya ingin bertanya apakah orang tua Mas Hadi bisa menerima saya sebagai menantunya apabila saya menerima tawaran Mas Hadi. Jujur berangkat dari pengalaman sebelumnya saya benar-benar ingin memulai niat baik dengan restu orang tua terutama orang tua Mas Hadi."


Hadi pun langsung mengulas senyum, apa yang ia bayangkan benar, kalau Mimin akan membahas pertanyaanya waktu itu. Padahal Mimin belum pasti akan menerima dirinya, tetapi Hadi sudah berbunga-bunga wajahnya.


#Cie abang bentar lagi soldout... 👏👏

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2