
Hari terus berganti, Lydia dan Aarav pun sangat menikmati kebersamaannya menjadi sepasang suami istri dengan anak dua yang sedang butuh perhatiannya. Abang Iko pun pengasuhnya masih digilir kali ini sabtu minggu baru tinggal di rumah Lydia dan Aarav agar mereka dekat dengan sodara-sodaranya. Senin sampai jumat di rumah Mimin. Sabtu minggu di rumah Lydia karena ada Aarav di rumah sehingga ada yang bantu jaga Iko, meskipun hampir setiap hari keluarga Aarav selalu ada di rumah Lydia untuk menjaga cucunya.
Hadi dan Mimin pun semakin bahagia. Sekarang usia kehamilan Mimin sudah memasuki mulai usia lima bulan. Dengan kesepakatan bersama Mimin dan Hadi pun sama tidak ingin tahu jenis kelamin buah hatinya. ia ingin mengikuti jejak Aarav dan Lydia di mana mereka akan mendapatkan kejutan dengan kelahiran buah hati mereka.
Sesuai rencana yang sudah disepakati juga Mimin dan Hadi bulan ini akan pulang ke Kalimantan, dan di sana akan dirayakan resepsi pernikahan mereka. Sebenarnya Mimin tidak ingin merayakan pernikahan mereka, tetapi kata Mamah Arum agar semua tahu kalau istri Hadi adalah Mimin. Sekalian mereka juga akan merayakan usia empat bulan kehamilan Mimin. Maklum kehamilan Mimin ini sekaligus akan jadi cucu pertama bagi mereka jelas penyambutannya pun berbeda, terasa spesial dan juga Arum dan Ahmad ingin rekan bisnis, dan keluarga besarnya tahu bahwa ia akan punya cucu. Meskipun sudah punya satu yaitu Iko.
"Sayang kita siap-siap lusa akan pulang ke Kalimantan," ucap Hadi begitu pulang kerja.
"Ko lusa Mas bukanya kata Mamah masih ada waktu satu minggu lagi," ucap Mimin kaget, karena ia masih ada rencana besok akan bermain ke rumah Lydia sudah satu minggu tidak bermain dengan Azura dan Azam. Biasanya Mimin selalu main karena dia tidak ada kegiatan di rumah, terutama kalau Iko sudah dapat jatah di rumah Lydia, Mimin akan menyusul padahal di sana hanya numpang tidur dan makan, cerita-cerita, tetapi sudah bahagia.
"Iya Mamah yang minta agar kita pulang lebih awal." Mungkin ke dua orang tua Hadi ingin mereka bersiap-siap untuk pesta mereka.
"Iko akan ikut Mas?" tanya Mimin. Meskipun dia sudah yakin kalau Iko ya pasti ikut lah. Apalagi Mamah Arum juga sudah wanti-wanti cucu sulungnya diajak. Udah kangen bobo. bareng cucu.
"Jelas dong Sayang. Iko ikut, aku sudah bilang sama Aarav dan Lydia. Mereka juga nanti akan datang di acara resepsi dan selamatan anak kita," jelas Hadi. Mimin pun mengangguk. Malam ini ia akan mulai beres-beres. Meskipun yang dibawa oleh Mimin dan Hadi tidak akan banyak. Kalau butuh sesuatu mereka akan membelinya itu pikiran Hadi dan Mimin. Sehingga yang dibawa hanya yang penting saja.
"Kita besok ke rumah Lydia yah, persiapkan keperluan Iko sekalian pamitan dengan Iko." Sudah dua hari Iko menginap di rumah Lydia dan itu tandanya besok adalah jatah Iko nginap di rumah mereka. Sekalian esok harinya akan langsung akan pergi ke rumah kakek dan neneknya naik pesawat.
*****
Pagi hari menyapa, seperti biasanya. Mimin dan Hadi bangun tidur pagi untuk menjalankan kewajibannya, tentu ia akan memasak untuk suami tercintanya. Aneh bin ajaib sejak ia dinyatakan hamil. Wanita yang kini tengah berbadan dua ini jadi sangat suka dengan yang namanya masakan. Bau bawang goreng dan aneka bumbu-bumbu lainya yang ditumis, sangat Mimin sukai kalau di saat yang lain ada wanita hamil yang tidak suka dengan aroma-aroma bumbu-bumbu dapur. Mimin justru sangat menikmatinya. Yang ditunggu hampir setiap hari justru bangun pagi dan memasak.
Wanita itu juga kini bisa dikatakan sudah pandai untuk memasak. Bukan hanya memasak Mimin justru suka sekali dengan dunia baking. Ia bisa juga membuat kue. Ya meskipun tidak semua kue bisa Mimin buat, tetapi dalam waktu yang singkat dia bisa membuat bolu atau brownies sudah suatu keberuntungan yang luar biasa hebat. Seperti yang kita tahu untuk membuat kue butuh keahlian dan adonan yang pas. Kalau salah. satu kelebihan yang bantet.
__ADS_1
"Wah, kamu masak apa lagi Sayang baunya harum banget," ucap Hadi sembari hidungnya mengendus-endus mencoba mengenali makanan yang sedang istrinya masak.
Yah Hadi dan Mimin mengalami ngidam yang sama kalau Mimin suka masak dan mencium bawang goreng yang baru layu saat ditumis, kayanya wanginya sangat enak. Kalau Hadi tidak mau makan kalau bukan masakan Mimin. Dia tahu masakan yang diolah oleh Mimin dan makanan yang diolah oleh tangan orang lain.
Kalau kata Aarav lebai. Aarav yang selalu mengejek Hadi karena pernah laki-laki itu muntah-muntah gara-gara makan masakan yang tidak di masak oleh tangan Mimin. Sejak itu Aarav menjuluki Hadi si lebai. Katanya makan apa saja sama lah rasanya. Yang Hadi lakukan itu hanya manja alias lebai. Namun bagi Hadi yang mengalaminya langsung jelas itu berbeda. Karena memang ia akan mual kalau makan bukan masakan sang istri. Aneh memang, tapi itulah yang dirasakan oleh Hadi. Dia sendiri juga sampai heran dengan apa yang dirasakannya.
"Mas tebak sendiri Mimin lagi masak apa," ucap Mimin sembari menunjukan panci masakannya.
Hadi pun langsung memeluk Mimin dari belakang, dan melihat masakan apa yang sedang sang istri masak.
"Wah kalau dari warna kuahnya seperti semur yah. Coklat gitu," ucap Hadi melihat warna kuah dari masakan yang sedang sang istri olah.
"No ... no ..." Mimin menggelengkan kepalanya mengikuti cara bicara Iko.
"Jangan dulu Mas, ini belum matang. Ikannya baru di masukin, rasanya nggak enak tunggu dulu yah. Kalau ikannya sudah matang baru dicoba itu baru enak kalau sekarang mana enak." Mimin menghalangi Hadi yang ingin mencoba masakan Mimin.
Meskipun Hadi menunjukkan wajah cemberut tapi dia mau juga menunggu.
"Kamu dapat resep ini dari siapa?" tanya Hadi, karena dia belum pernah makan masakan seperti itu. Mungkin karena faktor dia yang baru tinggal di Jakarta sehingga tidak begitu tahu makanan yang berasal dari Jawa Timur.
"Mimin dapat resep ini dari Dokter Sera. Dulu waktu tinggal bareng Dokter Sera sering makan masakan ini, dan baru kali ini keinget resepnya. Kemarin Mimin mimpi makan masakan ini, dan langsung deh minta resep dari Dokter Sera. Pagi ini langsung eksekusi." Mimin terus menggerakkan tangannya dengan lihai. Kini dia benar-benar jadi istri yang pandai memasak, memegang piso juga sudah pandai dan tidak pelan-pelan lagi itu tandanya dia sudah banyak kemajuannya.
Kalau dulu jangankan mengiris bawang dengan cepat untuk mengiris sayuran pun pelan-pelan.
__ADS_1
"Aduh kok Mas jadi penasaran rasanya kaya apa. Apa kalau dimakan sekarang tidak enak?" tanya Hadi apalagi aroma masakan yang berkuah gelap itu cukup membuat Hadi semakin penasaran. Wanginya kuat dan membuat cacing-cacing di dalam perutnya langsung memberikan alarm ingin segera diisi sumber tenaga.
"Ini ikannya baru di masukin tidak enak, tunggu yah Baba, nanti pasti bakal cobain kok." Mendengar rayuan sang istri yang sangat manis membuat Hadi kembali bersabar.
"Kira-kira ada yang perlu dibantu tidak?" tanya Hadi biar kata dia laki-laki, tapi juga dia jago masak memasak.
Mimin menatap Hadi dengan tatapan yang serius.
"Emang Mas bisa masak?" tanya Mimin yang terkesan meremehkan.
"Hay Sayang, jangan salah Mas ini juga pintar masak. Biar kata laki-laki, tapi soal masak memasak bisa diandalkan," ucap Hadi dengan kesombongan yang pari purna.
"Kalau gitu nanti malam bisa masakan Mimin masakan spesial dari Baba tidak? Mimin tiba-tiba ingin masak buatan Baba." Yah, tiba-tiba dalam pikirannya dia ingin makan masakan suaminya.
"Jangankan nanti malam sekarang saja Baba langsung masak kan." Hadi jelas tidak keberatan karena ternyata benar kata Mimin mencium bumbu yang sedang di tumis itu menjadi dia bersemangat. Wanginya membuat ia betah di dapur.
"Jangan sekarang Ba, kalau sekarang kan sudah ada masakan Mimin. Nanti malam saja bagaimana?"
"Siap deh, kamu sebutkan saja Sayang mau makan apa biar Baba yang masakan buat Mamah dan baby dalam perut." Hadi membalas dengan semangat empat lima.
Mimin tersenyum bahagia karena di kehamilan kali ini Mimin benar-benar bahagia. Berbeda saat hamil Iko yang penuh dengan air mata. Sekarang justru kebalikannya bahagia banget. Setiap kontrol juga Hadi selalu mendampingi.. Bikin susu, dan malam-malam mau apa saja selalu dituruti. Pokoknya Hadi benar-benar memanjakan Mimin dan Iko.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...