Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kecurigaan David


__ADS_3

"Loh Mas, kenapa kamu sudah pulang?" tanya Lydia yang cemas di jam sepuluh suaminya sudah pulang, hal yang sangat tidak pernah terjadi. Tidak mungkin kan service malam yang dia berikan kurang sehingga pagi-pagi udah pulang.


"Mas ingin istirahat, tiba-tiba badan meriang, biarkan di kantor sudah ada yang gantiin kok, ada Hadi dan juga Mimin dua orang itu bisa diandalkan," balas Aarav dengan memberikan tas kerjanya, dan memeluk sang istri untuk melepaskan rasa rindunya.


"Apa kita harus ke rumah sakit?" tanya Lydia dengan meletakan punggung tanggan di kening sang suami, yang tidak hangat apalagi panas, tapi suaminya tiba-tiba mengeluh kalau badannya kurang sehat.


"Tidak usah, Mas hanya ingin istirahat ditemani kamu," ucap Aarav dengan menatap manja sang istri yang makin cantik tentunya.


"Ok baiklah kalau itu mau Mas Aarav, Lydia akan temanin Mas isitahat, bagaimana kalau Lydia pijit?" tanya Lydia dengan berjalan bergandengan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Boleh, ngomong-ngomong ke mana jagoan kita, kenapa rumah rasanya sepi sekali?" tanya Aarav dengan menajamkan kupingnya karena saat ini Iko adalah pembuat suasana rumah yang ramai. Tanpa adanya Iko mungkin rumah ini akan menjadi rumah yang sangat sepi berkat adanya anak kecil itu rumah ini selalu ramai dari ocehan dan jeritan serta tangisnya.


"Kalau rumah sepi gini, itu tandanya batrei sedang di isi," balas Lydia dengan meletakan jari telunjuk di depan bibirnya. Karena takut anaknya akan bangun mendengar obrolan ibu dan ayahnya.


"Pantas rumah sepi."


Namun, Aarav langsung terkekeh ketika melihat jagoannya sedang duduk dengan tersenyum tanpa dosa. Ketika dia baru membuka pintu kamarnya.


"Astaga Bunda, coba kamu lihat dia bukan tidur, tapi sedang duduk menunggu kita," tunjuk Aarav dengan terkekeh rasanya badan yang tadinya dia rasa tidak nyaman ketika melihat anak dan istrinya jadi sembuh.


Bos cilik udah bisa prank bunda nih.



"Loh, kok bisa dia malah sedang duduk dengan mata lebar seperti itu, tadi Lydia tinggal ke bawah sudah merem loh Mas," adu Lydia yang merasa kena prank oleh jagoannya yang ternyata dia hanya mengerjai sang bunda dengan pura-pura tidur.


"Mungkin jagoan itu tahu kalau Mas akan pulang sehingga bangun lagi," ucap Aarav yang langsung menghampiri Iko, di mana anak usia satu tahu terngah itu langsung berdiri dan menunjukan jalan robotnya pada sang papah dan mengulurkan tangannya sebagai tanda kalau dia ingin di gendong.


"Pa... papah..." ocehnya, bocah kecil itu memang lebih pandai berbicara dari pada berjalanya.

__ADS_1


"Iya Sayang, Iko kangen dengan Papah?" tanya Aarav yang mana dia langsung mengeluarkan jagoanya dari tempat tidurnya, dan mengajaknya bermain. Meskipun Iko dan Aarav tidak ada ikatan darah, tetapi mereka sangat dekat bahkan mereka sangat kompak, apabila Iko sakit makan Aarav pun tidak akan tenang di kantor.


"Mas jadi dipijat?" tanya Lydia yang malah melihat Aarav seolah baik-baik saja, dan asik bermain dengan jagoanya, apalagi Iko sedang asik-asiknya berjalan bagi Aarav itu sangat mengasikan sehingga dia pun terus mengajak Iko muter-muter dengan memberikan pancingan bola. Agar jagoannya mengejar bola dengan sesekali jalan bocah itu oleng dan Aarav akan sigap menangkapnya agar tidak mencium lantai dan berujung nyanyian yang merdu.


"Nanti aja Sayang, jujur Mas pulang sebenarnya karena khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Iko, karena tadi Hadi bilang kalau dia dan Mimin sempat bertemu dengan David dan tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Mimin dan menemukan posel Mimin di mana dia melihat walpaper yang Mimin pasang ketika dengan Iko, dan David sempat menekan Mimin tetang anak itu, untung tadi Hadi sempat datang dan melihat perdebatan itu, yang cukup membuat ramai di depan kantor. Dan kita kayaknya harus hati-hati Sayang, David sepertinya curiga dengan anak kita?" ucap Aarav laki-laki itu sebenarnya tidak ingin membuat Lydia cemas dengan apa yang terjadi, tetapi Aarav juga harus memberitahukan Lydia agar dia bisa berjaga di rumah, apabila tiba-tiba ada David atau keluarganya datang untuk mengintrogasi siapa Iko.


Lydia langsung menatap tajam ke arah Aarav. "Mas serius kalau David curiga anak yang kita adopsi adalah anak Mimin dan dia?" tanya Lydia sekali lagi dengan tatapan yang mulai cemas.


"Itu yang tadi Hadi katakan. Tidak mungkin Hadi dan Mimin berbohong, tadi sebelum Mas pulang, Hadi sempat datang ke ruangan Mas dengan wajah yang terlihat cemas dan merah. Mas pikir ada masalah dengan proyek kita, ternyata dia cerita kalau barusan di depan gedung dia bertemu dengan David yang sedang menekan Mimin untuk mengatakan foto siapa yang ada di wallpaper-nya yang tidak sengaja jatuh saat bertabrakan dengan dia."


Aarav pun menceritakan apa yang tadi diceritakan oleh Hadi.


Flashback...


" Anak siapa yang ada di ponsel kamu ini?" tanya David dengan memegang ponsel yang tanpa Mimin tahu sempat jatuh saat tabrak dengan mantan suaminya dan tanpa Mimin tahu pula kalau David mengambilnya, dan melihat foto yang ia jadikan wallpaper di. ponselnya. Di mana wanita bercadar itu sedang berdiri menggendong buah hatinya.


Sontak saja Mimin kaget dengan pertanyaan David.


"Katakan siapa anak ini?" tanya David sekali lagi dengan suara yang jauh lebih keras.


"Aku sudah bilang itu bukan urusan kamu, tapi kenapa kamu masih tetap keras kepala," balas Mimin dengan suara yang tidak kalah tinggi, mungkin dulu dia adalah wanita yang sangat diam, lemah dan menurut saja apa pun yang dikatakan oleh David ataupun orang tuanya, tetapi kali ini Mimin tidak akan tinggal diam dia tidak akan membiarkan mantan suaminya mengganggu hidupnya lagi.


Bahkan dia rela kalau Iko jadi anak adopsi Lydia dan Aarav semua dia lakukan agar David tidak bisa mengambil Iko, dan memisahkan dirinya dari anaknya. Ia lebih rela Iko jadi anak sahabatnya dan dia masih bisa bertemu kapanpun dia mau, dari pada diambil oleh David yang bisa saja dia akan kesulitan untuk bertemu anaknya.


"Itu jadi urusan aku, karena anak itu adalah anakku, katakan kalau anak itu anakku," balas David semakin keras laki-laki itu menekan tangannya dipergelangan tangan mantan istrinya. Hingga Mimin semakin meringis karena rasa sakit yang disebakan oleh tekanan tangan David.


"David kamu menyakiti aku, kenapa kamu masih saja suka mengganggu hidupku sedangkan kita sudah tidak ada hubungan apapun, kamu kan yang menceraikan aku bahkan kamu mengirimkan surat cerai di saat aku belum siap bercerai dari kamu dan sekarang kamu masih saja menyakiti aku mau kamu apa?" tanya Mimin dengan suara yang bergetar ingin dia menangis tetapi dia tidakĀ  ingin dipandang lemah lagi oleh mantan suaminya.


"Aku hanya ingin kamu jujur anak siapa yang ada di wallpaper kamu itu?" tanya David dengan suara yang makin tinggi.

__ADS_1


"Dia anakku." Suara yang tidak asing di telinga Mimin, berhasil membuat wanita itu bisa merasakan kalau dia mempunyai kesempatan untuk bebas dari tekanan David.


"Balikin ponsel itu." David langsung beringas ketika ponsel yang ia pegang tiba-tiba diambil paksa oleh seseorang yang mengaku kalau anak yang ada di ponsel Mimin adalah anaknya.


"Ponsel ini bukan punya kamu, kenapa kamu masih mau ambil ponsel itu. Ini punya Mimin, lepaskan tanga kamu dari tangan Mimin. Lagian kenapa kamu ingin tahu sekali tentang anak itu, bukanya kamu dan Mimin sudah tidak ada hubungan lagi?" tanya laki-laki yang baru datang.


"Jangan sok tahu kamu Hadi, aku tahu siapa kamu bahkan istri kamu yang sudah mati dari mana kamu dapat anak itu? Kecuali anak itu adalah anakku yang kamu akui jadi anak kamu. Lihat saja Mimin dan kamu duda lapuk, akan aku buktikan kalau anak itu adalah anakku, dan kalau itu semua terbukti, siap-siap kamu Mimin, akan aku buat kamu mendekam di penjara, dan siapa pun yang telah menyembunyikan anakku akan aku buat menyesal hidupnya sudah berurusan denganku," ancam David dengan tangan menunjuk pada Mimin dan juga Hadi.


"Lakukanlah Tuan David yang terhormat, dan aku akan berdoa sebelum kamu tahu fakta sesungguhnya itu, Tuhan sudah mengirimkan karma untuk kamu dan keluargamu," balas Hadi dengan santai, memang ini semua bukan urusan dirinya tapi dia juga tidak bisa tutup mata daan telinga ketika wanita yang tidak berdaya diancam oleh laki-laki yang seharusnya melindunginya, karena mereka pernah terlibat cinta bahkan sempat menikah dan saling sayang.


"Kalian saat ini bisa tenang dan menantang, tapi lihat kalau aku sudah menemukan bukti kalau anakku tidak pernah meninggal, kamu adalah orang yang pertama akan aku buat menyesal Mimin, karena berani membohongi aku."


David pun langsung meninggalkan Hadi dan juga Mimin yang wajahnya langsung berubah ketika mendengan ancaman dari mantan suaminya.


"Kamu jangan khawatir, kalau dia melakukan itu tandanya dia mencari musuh. Kamu jangan kepikiran dengan ancaman laki-laki ben-cong itu, yang berdiri di belakang kamu banyak. Iko sudah jadi anak Aarav dan Lydia, itu akan sangat sulit buat dia mendapatkan kembali Iko, apalagi kalau kamu punya bukti kalau David dan orang tuanya pernah mengancam kamu untuk menggugurkan kandungan kamu, polisi tidak akan pernah memberikan Iko pada keluarga David."


Hadi memberikan semangat untuk Mimin. "Pantas saja Mimin jadi depresi, matan suaminya ternyata setengah tidak waras." Hadi terus bergumam dalam batinnya.


Flashback Off.....


"Aduh Mas, kenapa Lydia jadi takut yah. Lydia takut kalau David tahu kalau anak yang kita adopsi adalah anaknya," ucap Lydia dengan wajah yang cemas setelah mendengar cerita dari Aarav.


"Kamu tenang saja, dan kamu tetap fokus jaga Iko, yang berdiri di belakang kita banyak. Hadi tadi sempat bilang, kalau Mimin akan mencari bukti-bukti yang dia punya untuk menguatkan kalau dulu Tuan Wijaya pernah minta dirinya menggugurkan buah hatinya, dan juga Mimin akan mencari bukti kalau dulu David pernah mencurigai bahwa anak yang dikandung Mimin bukan anaknya, semoga bukti itu bisa ketemu sehingga David tetap tidak bisa menutut hak kita, ataupun Mimin. Hadi dan yang lainya tidak akan tinggal diam, kamu tetap fokus pada Iko," ucap Aarav dengan memeluk sang istri yang sedang ketakutan dan Iko yang seolah tahu bahwa orang tuanya sedang mencemaskan dirinya.


"Tapi, bukanya Mas pernah bilang kalau sudah jadi anak adopsi kita David dan keluarganya tidak bisa mengambil Iko?" tanya Lydia yang justru terlihat sangat pucat wajahnya ketika Aarav bercerita apa yang terjadi dengan dirinya yang tiba-tiba pulang dari kantor di jam sepuluh pagi. Meriang ternyata hanya alasan saja, kenyataan dia terlalu cemas kalau Lydia dan Iko kenapa napa.


"Kamu tenang Sayang, David hanya mengancam kita." Aarav mencoba menenangkan sang istri yang sudah terlanjur cemas.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2