
Pukul delapan malam, Mimin dan juga Hadi sudah sampai di rumah almarhum orang tuanya. Begitupun pengacara keluarga yang ternyata sudah datang juga.
Setelah mengucapkan salam, Mimin dan Hadi pun langsung masuk dan bersalaman dengan Julio dan laki-laki paruh baya yang berpakaian rapi yang bisa ditebak bahwa beliau adalah pengacara keluarga. Namun, ada satu lagi laki-laki yang umurnya kurang lebih sama dengan Julio kalau itu dia tidak tahu karena Mimin belum pernah melihatnya.
"Maaf datangnya telat, baru pulang kerja dan jemput istri di rumah temannya," ucap Hadi dengan sopan, dan berjabat tangan Mereka duduk saling berhadapan dan Hadi bersebelahan dengan Mimin begitupun Julio yang terlihat lebih tegang. Karena dihari ini ia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan meninggalnya sang ibu dan juga kehidupan ayahnya yang bisa dikatakan cukup misterius. Bahkan Julio seperti tidak mengenali ayahnya.
"Tidak apa-apa saya juga baru datang," balas sang pengacara yang bernama Hilmi. "Bagaimana mau dibicarakan sekarang atau justru kita ngobrol santai dulu, karena Om lihat kayaknya kalian tegang banget," ucap Hilmi, sebari setengah berkelakar. Terlihat dari wajah Julio dan juga Mimin sangat tegang. Meskipun Mimin tidak setegang Julio. Itu semua karena ada suami yang selalu menguatkan Mimin untuk menerima apa pun yang akan terjadi.
Yah, dari dalam hatinya Mimin nyatanya jauh bisa menerima keadaan orang tuanya dari pada Julio, hal itu karena Mimin ada yang selalu menasihati dan mengingatkan agar ikhlas dengan takdir yang telah Alloh gariskan. Berbeda dengan Julio yang belum memiliki orang yang selalu siap untuk memberikan nasihat yang seperti Hadi lakukan untuk menguatkan sang istri.
"Langsung aja Om, kita sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Ayah," ucap Mimin dengan yakin. Hadi pun kembali menggenggam tangan sang istri dan mengusapnya dengan lembut. Untuk memberikan dukungan pada sang istri.
"Ok kalau gitu saya akan bacakan wasiat Tuan Lukman sekarang yah. Agar kalian tahu yang sebenarnya terjadi. Oh iya sebelumnya saya akan kenalkan dia adalah Dude anak dari sopir yang pernah Mbak Jasmin katakan menabrak almarhumah ibu Halimah. Namanya Pak Supri, tentu Mbak Jasmin dan Mas Julio kenal dengan Pak Supri. Yah dia adalah orang kepercayaan Tuan Lukman." Hilmi lebih dulu mengenalkan Dude pada Julio dan juga Jasmin.
Mereka pun saling sapa lewat senyum, yang menandakan baik Julio maupun Mimin menerima pertemuan dengan orang-orang yang bernama Dude.
__ADS_1
Setelah mengenalkan Dude, pengacara Hilmi membuka tas kerjanya dan mengambil beberapa map yang diyakini menjadi acuan untuk membacakan wasiat dari Lukman.
Mimin dan yang lain pun hanya diam, menunggu pengacara Hilmi membacakan wasiat yang dituliskan oleh Lukman. Suasana ruang keluarga pun semakin, sepi dan menegangkan.
"Pertama-tama saya akan bacakan mengenai meninggalnya Nyonya Halimah yang saya pastikan kalau ini adalah kabar yang sudah sangat ditunggu-tunggu." Hilmi mengambil map yang paling bawah dan mengganti dijadikan ditumpukan paling atas.
"Meninggalnya Nyonya Halimah memang bisa dikatakan karena ada yang membunuh, tetapi tersangka utamanya tidak semua real karena Lukman, ada andil dari orang kepercayaan Lukman yaitu Supri." Pengacara Hilmi menghentikan ucapannya. Ketika mendengar Mimin terisak. Julio pun hanya menunduk, tetapi tidak dipungkiri laki-laki usia tiga puluh empat tahun itu pun sedih mendengar pembacaan wasiat dari ayahnya. Penyesalan kembali menggerogoti Julio, karena dulu ia adalah orang yang paling tidak percaya kalau ayahnya melakukan hal seperti itu tetapi kini ia salah. Lukman ternyata ada andil dari kejadian ini.
Dude sendiri sebagai anak dari Supri pun hanya diam dan menunduk. Ia datang mewakilkan ayahnya yang juga sudah berpulang untuk meminta maaf atas kesalahan yang ayahnya lakukan hingga menyebabkan orang lain meninggal dunia.
"Kita bisa lanjutkan?" tanya Hilmi pada semuanya yang terlihat sedih dengan wasiat dari Lukman.
"Tuan Lukman saat itu memerintahkan Supri untuk menemui Nyonya Halimah untuk meminta uang yang secara diam-diam saat Nyonya Halimah meninggalkan rumah ini dibawa tanpa sepengetahuan Tuan Lukman termasuk surat-surat penting. Tuan Lukman tahu setelah beberapa tahun Nyonya Halimah pergi. Supri yang diperintahkan pun langsung mendatangi Nyonya Halimah untuk menyampaikan perintah dari Tuan Lukman. Beberapa pertemuan berdua saja dari Supri dan Nyonya Halimah pun tidak ada titik temu. Nyonya Halimah tidak mengakui itu semua dan menurut cerita Supri pada Tuan Lukman ada kata-kata yang menyakiti laki-laki itu keluar dari mulut Halimah. Sehingga Supri merencanakan pembunuhan itu tanpa sepengetahuan Lukman, karena Tuan Lukman hanya memerintahkan Supri untuk meminta harta milik Tuan Lukman yang dibawa kabur oleh Nyonya Halimah. Hingga suatu hari Supri yang sakit hati karena ucapan Almarhum Nyonya Halimah akan berusaha lagi untuk bernegosiasi tetapi gagal lagi-lagi ada kata-kata dari almarhum yang tidak mengenakan hingga penabrakan itu terjadi. Dan dua hari setelah meninggalnya Ibu kalian Pak Supri juga ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri dan meninggalkan surat ini."
Pengacara Hilmi memberikan surat wasiat yang diyakini ditulis oleh Supri untuk keluarga bosnya. Termasuk Julio dan juga Jasmin.
__ADS_1
Dude pun hanya bisa menunduk mendengarkan pembacaan dari pengacara keluarga mantan bos dari ayahnya. Jangankan Julio dan juga Jasmin. Dude sendiri tidak begitu paham dengan apa yang terjadi dengan papahnya. Bahkan ia tidak menyangka kalau papahnya membunuh orang lain. Bahkan meninggalnya ayahnya di duga murni karena kecelakaan tidak menyangka sama sekali kalau sang papah ternyata melakukan bunuh diri, karena merasa bersalah dengan meninggalnya Nyonya Halimah.
"Bisa tolong bacakan surat wasiat dari almarhum Pak Supri?" Hadi yang mewakilkan yanga ingin Julio dan Jasmin ketahui.
Pengacara Hilmi pun kembali membacakan surat wasiat dari Supri yang hanya meninggalkan permintaan maafkan pada Julio dan Jasmi, kalau dia mengakui dia sakit hati dengan ucapan Halimah. Supri mengakui kalau yang diperintahkan oleh Lukman hanya mengambil uang dan surat-surat yang dibawa oleh Halimah, tapi ucapan Halimah yang membuat ia sakit hati dan melakukan rencana pembunuhan ini.
Tangisan Mimin pun kembali pecah, marah kembali menguasai hatinya. Belasan tahun ia terjebak kemarahan pada ayahnya, tetapi dengan fakta yang ternyata ada orang lain yang membuat ibunya meninggal dunia. Bukan hanya itu bahkan Mimin tidak menyangka ibunya meninggal hanya karena alasan sakit hati. Kenapa harus di bunuh? Ingin wanita itu marah dan kesal dengan Supri, tetapi dia tidak bisa melakukanya. Karena dia tahu Dude sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya.
Ruangan keluarga pun semakin rame dengan isakan tangis dari Mimin dan juga Julio, sedangkan Dude hanya menunduk dengan penuh penyesalan, dan juga bingung mau berbuat apa?
"Saya membacakan wasiat ini tidak ada niatan untuk menimbulkan dendam. Baik kalian anak-anak Tuan Lukman, dan keluarga Pak Supri, dan juga Nyonya Halimah dan Tuan Lukman sudah bahagia di surga-Nya kini saatnya kita bersihkan hati ini dari dendam, dendam yang ada di dalam diri kita. Dude sebagai perwakilan keluarga Pak Supri ingin meminta maaf atas kesalahan ayahnya. Jangan marah pada keluarga Pak Supri karena mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka tahu papahnya bekerja baik, dan meninggalnya karena kecelakaan bukan niat hati menabrakkan diri ke tepian jalan. Semua bisa dikatakan ini niat tunggal tidak ada orang lain terlibnat dalam masalah ini bukan juga saya membela Tuah Lukman, karena sebelumnya Tuan Lukman sudah bersumpah bahwa apa yang ia katakan memang benar adanya." Pengacara Helmi berbicara dengan sangat hati-hati. Karena ini mengakibatkan kesensitifan.
Baik Juli maupun Mimin oun hanya diam karena mereka saling menenangkan hatinya.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...