Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Baby Kembar Punya Abang Iko


__ADS_3

Saking banyaknya barang yang dibeli Hadi, Mimin dan Iko, mereka sampai membeli trolinya juga untuk membawa kado-kadonya ke rumah sakit di mana Lydia melahirkan. Jangan ditanya pandangan mata orang-orang sudah jelas pasti akan menatap mereka dengan heran. Udah bener-bener kalau sultan memang bebas. Selagi ada yang uang maka beres.


Bahkan bukan hanya di mall mereka mendapatkan tatapan yang seolah mereka mengumpat kalau mereka sepertinya sudah gila, tetapi di rumah sakit mereka pun banyak yang memperhatikan dan heran dengan kado yang begitu banyak. Padahal niat Hadi dan Mimin hanya memberikan kado sebagai syarat. Karena pasti Hadi akan memberikan kado yang sesungguhnya berupa saldo rekening yang bisa buat beli pulau. Namun, malah kebablasan belanja.


"Pak tolong bantu bawa ke kamar Lydia dan Aarav yah." Hadi meminta Pak sopir dan scurity untuk membawa kado-kadonya.


Bahkan ada balon-balon berwarna-warni dan itu lagi-lagi pilihan abang Iko. yang kata laki-laki usia tiga tahun yang sudah menjadi abang, adik adiknya akan menyukainya. Sehingga lagi-lagi Hadi mengabulkannya meskipun pasti ada yang memberikan tatapan aneh dan penilaian norak. Namun, asalkan anaknya seneng maka Hadi gak ada masalah.


"Mamah, Papa ... coba lihat Iko bawa apa ..." Iko begitu masuk ke dalam kamar rawat bundanya pun langsung membuka pintu dengan keras dan berteriak lalu berjingkram dengan riang bahagia.


Eaaaa... adik bayinya dua duanya yang kaget dengan kegaduhan malah nangis secara bersamaan. Sontak Hadi dan Mimin serta yang ada di ruangan itu panik termasuk Aarav yang masih baru jadi panik ketika anaknya nangis.


"Abang, ngomongnya jangan kencang-kencanh adiknya nangis." Mami Misel langsung menasihati Iko.


"Oma, mau lihat dede bayi nangis." Iko mengangkat tangannya dan ingin di gendong Hadi pun langsung sigap menggendong Iko dan melihat adik bayinya yang udah nggak nangis lagi.


"Kok adik bayinya udahan nagisnya?" tanya Iko semakin gemas semua tertawa dengan celotehan lucu Iko. Mungkin Iko kira itu pertunjukan sehingga ingin adik bayinya nangis terus.


"Astaga Hadi, Mimin kalian bawa apa?" tanya Opa Sony yang tidak menyangka kadonya bakal satu toko di bawa. Apalagi ada pak. sopir dan security yang membawanya.


"Kado Opa dali Abang untuk dede bayi," ucap Iko yang saat ini sedang lihat dedek bayi yang saat ini sudah tidak nangis lagi saking bahagianya lihat dede bayi sampai dia tidak mau mau turun dari ranjang pasien karena senang lihat bayi yang lagi bobo.


"Abang senang gak, sekarang punya dedek bayi ada dua," tanya Aarav. Sembari mengusap rambut anak sulungnya.


"Senang Pah, tapi kok dede bayinya bobo terus? Abang mau main sama dede bayi," ucap Iko yang belum tahu kalau bayi kerjaanya hanya bobo saja.


"Nanti yah main sama dedek bayinya kalau sudah besar," sahut Lydia. Senang melihat Iko yang sangat antusias dengan adik-adiknya.


"Dede bayinya namanya siapa Bunda?" Iko yang dominan berbicara terus. Maklum dia lagi senang karena punya mainan baru. Belum tau nanti kalau punya adik maka harus ngasuh.


"Yang ini namanya adik Azzam, ini cowok sama kaya Abang. Kalau yang ini namanya adik Azzura ini cewek." Lydia memperkenalkan satu persatu dengan anaknya pada Iko sebagai abangnya.

__ADS_1


"Yang ini cewek Bunda?" tanya Iko dengan wajah yang bahagia.


Lydia mengulas senyum dan mengangguk. "Iya, Abang suka?" tanya Mimin yang langsung menghampiri mereka setelah menyusun kado-kado yang ia bawa.


"Yes! Abang punya adik cewe." Sesuai yang Iko katakan kalau dia sangat suka dengan adik ceweknya.


"Selamat yah, maaf baru datang tadi nggak kuat banget. Kamu yang mau lahiran, malah aku yang mulas," adu Mimin dengan cepika-cepiki. Begitupun dengan baba Hadi yang langsung ngobrol dengan Papah Aarav. Meskipun Hadi sudah mengucapkan selamat tadi melalui pesan singkat.


"Loh kok bisa, aku aja biasa saja. Ternyata melahirkan tidak sehoror yang aku bayangkan," balas Lydia.


"Mungkin karena tegang, jadi berasa aku yang mules. Padahal dulu lahiran Iko nggak kaya gitu."


Mereka pun terus ngobrol sampai Mimin izin menggendong Azura ketika bayi cantik itu nangis.


"Aku gantian gendong yah, siapa tau ketularan," ucap Mimin yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Lydia sedangkan bayi Azzam sepertinya orangnya cuek. Buktinya ruangan cukup ramai, tapi Azzam tetap saja pulas merangkai Mimipi.


Mimin dengan hati-hati menggendong Azzura yang tidak lama digendong sama Mimin langsung diam.


"Tenang aja Rav, sebentar lagi aku akan nyusul kalian," balas Hadi dengan yakin. Ya sombong aja dulu masalah jadi atau tidak biarkan Tuhan yang izinkan.


"Amin."


Semua mengamini, dan itu tandanya banyak yang mendoakan kalau Hadi dan Mimin segera menyusul papah Aarav dan juga menyusul mamah Lydia.


Mereka melanjutkan ngobrol dengan sesekali bergurai. Hingga Mimin dan Hadi untuk sementara izin keluar setelah membuat janji dengan dokter Sita sebagai dokter SPOG. Mimin dan Hadi hanya ingin mengetes kesuburan dan program hamil seperti yang sudah disepakati.


Doa pun ucapkan oleh pasangan Lydia dan Aarav. Agar sahabatnya juga cepat menyusul mendapatkan buah hati sama seperti mereka.


Berhubung Mimin dan Hadi sudah membuat janji dengan dokter Sita. Mereka pun langsung menemui dokter yang kalau dilihat dari penampilannya usianya tidak begitu jauh dengan Mamah Arum.


"Selamat Sore Mbak, Mas. Ada yang bisa dibantu," ucap Dokter Sita yang baru bertemu dengan pasien yang saat ini ada di hadapanya.

__ADS_1


"Itu Dok, saya ingin program hamil. Apa bisa?" tanya Mimin dengan ragu-ragu.


"Bisa, ngomong-ngmong sudah menikah berapa bulan atau tahun?" tanya dokter Sita. Biasanya pasangan yang datang ingin program hamil adalam mereka yang sudah menikah cukup lama.


Mimin pun bingung mau jawabnya, karena pasti dokter tertawa kalau dia katakan baru mau satu bulan mereka nikah, tapi sudah kebelet ingin program hamil.


"Sebenarnya kami menikah baru Dok, tapi ingin langsung dapat momongan. Maklum orang tua pengin langsung dapat cucu pertama," balas Hadi yang menggantikan Mimin untuk menjawab pertanyaan Lydia.


Dokter Sita pun mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Hadi dia pun tahu kalau dari wajah Hadi bukan anak muda lagi sehingga wajar ketika menikah langsung menginginkan memiliki buah hati.


"Kalian mengambil cara yang sudah tepat. Memang sebaiknya buat para pengantin baru yang langsung pengin di kasih momongan priksa dulu agar tahu keduanya subur atau tidak ada masalah atau tidak dan ketika semuanya aman bisa diberikan tips oleh kami dan bantuan dari obat-obatan agar bisa cepat jadi. Tentu semuanya aman untuk ibu dan bapaknya maupun calon anak mereka nantinya." Dokter Sita mengucapkan dengan lembut


Mimin bisa bernafas lega ketika dokter tidak menertawakannya.


"Kalau gitu kita priksa dulu yah. Pertama kita lihat rahim Mbak Mimin dulu. Kalau semuanya tidak ada kendala kita bisa cek dari pihak laki-laki. Kalau tidak mau saya yang priksa. Nanti saya akan rekomendasikan pada dokter yang laki-laki. Maklum kalau laki-laki suka malu kalau saya priksa," ucap Dokter Sinta yang langsung di balas anggukan oleh Hadi dan Mimin.


Hadi pun tersenyum malu dan memang benar kalau priksa dengan dokter perempuan ada rasa canggung meskipun katanya profesi dan udah biasa tetap saja kurang nyaman.


Mimin dan Hadi pun mengikuti dokter Sita untuk berbaring di tempat akan dilakukan USG.


"Sebelumnya sudah pernah kontrol?" tanya Dokter Sita sembari mempersiapkan semua alat-alatnya.


Mimin yang memang belum pernah kontrol pun membalas dengan gelengan kepala. Rasanya ia tegang malam mau menjalankan pemeriksaan. Takut kalau ada masalah di rahimnya.


"Ini pemeriksaan pertama Dok." Lagi, Hadi yang menjawab pertanyaan Dokter Sita. Maklum Mimin lebih tegang.


"Kalau gitu kita lihat dulu kondisi rahimnya siapa tau malah udah ada penunggunya."


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2