
Ada yang bilang hidup itu seperti bunga yang tumbuh di tepi jurang. Indah untuk dilihat, tapi sulit untuk menggapainya. Orang lain melihat hidup kita indah. Nyatanya yang kita alami sulit, suka lara datang untuk menggoda, tangis dan tawa hiburan semata. Tak ada yang abadi bahagia itu.
Hadi beranjak dari duduknya, ia melangkah menghampiri Mimin dan Arum yang sedang ngobrol sembari berbisik. Agar Iko tidak bangun.
"Mah, Min, mau ke luar dulu yah cari udara yang seger," pamit Hadi sebelum ke luar menemui Julio.
"Papah ikut Di, mau beli kopi, ngantuk banget," sahut Ahmad, sebelum anaknya ke luar meninggalkan ruangan calon istrinya.
"Ya udah ayok."
Akhirnya Hadi pun ke luar bareng dengan papahnya.
"Papah mau ke kantin beneran?" tanya Hadi, begitu ke luar dari ruangan Mimin.
"Ya iya dong, mau beli kopi. Kamu mau nitip? Atau kamu mau ikut ke kantin?" tanya Ahmad.
"Tidak, Hadi mau coba nemui abangnya Mimin katanya ada di sini." Pandangan Hadi mencari sosok yang Lydia katakan. Ketemu, laki-laki itu memang memilih duduk yang cukup jauh dari ruangan Mimin, Hadi tidak tahu alasannya.
"Ya udah kalau gitu, Papah mau ke kantin dulu yah. Semoga urusannya lancar."
Hadi mengangguk, setelahnya ia berjalan menghampiri laki-laki yang duduk seorang diri. Entah tujuanya apa duduk dari semalaman tidak pulang-pulang sedangkan Mimin sendiri sudah tidak mau dikunjungi oleh Julio.
Julio menatap heran pada laki-laki yang ke luar dari ruangan adiknya. Ia tidak kenal dengan laki-laki itu. Berbeda dengan Aarav yang sudah Julio kenal dari beberapa waktu yang lalu, kalau laki-laki ini baru pertama kali Julio temui.
"Apa Anda yang bernama Julio?" tanya Hadi sembari duduk di samping laki-laki itu.
__ADS_1
"Iya, ada perlu apa yah? Dan kamu siapa?" tanya Juli dengan tatapan yang serius, dan mengamati Hadi dari atas hingga bawah.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu, ini penting," balas Hadi, ia tidak lagi berbicara formal, karena yang ia tahu umur Julio sepertinya lebih muda dari dirinya. Dan juga Hadi ingin lebih dekat dengan Julio.
"Soal apa?" tanya Julio lagi.
"Soal Mimin, jujur aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Mimin. Aku tidak ingin menghakimi kamu maupun Mimin. Aku hanya ingin menyampaikan niat baik, sekaligus meminta izin untuk menikahi adik kamu." Tanpa berbasa basi dan juga membuang waktu yang tidak penting Hadi langsung menyampaikan niat baiknya.
Julio langsung menatap Hadi dengan tatapan yang serius sekaligus bingung.
"Kamu abangnya, mungkin kamu bisa jadi wali adik kamu. Meskinya papah kamu masih hidup, tapi aku dengar papah kalian sedang sakit, sehingga aku rasa kamu jauh bisa menggantikan beliau untuk menjadi wali untuk adik kamu."
Yah, Hadi tentu tahu kalau papah dari calon istrinya sakit, itu dari orang suruhannya. Jadi meskipun Hadi tidak tanya pada Mimin, tapi ia sedikit banyak tahu kondisi keluarganya.
"Apa mungkin Iko lahir dari hubungan diluar nikah?" batin Julio, tapi ia tidak ingin menduga-duga karena ia sendiri belum tahu betul apa yang terjadi dengan adiknya.
"Kalau bisa secepatnya," balas Hadi, kalau sudah mendapatkan restu dari abangnya maka tidak ada lagi penghalang untuk Mimin dan Hadi. Mungkin untuk saat ini hanya ijab kabul dulu sedangkan untuk acara resepsi nunggu masalah Mimin selesai sehingga nantinya tinggal bulan madu. #Cie mereka yang mau bulan madu othor yang panas dingin.
"Saya tidak keberatan, selagi kamu memang sayang dengan adik saya. Dan saya hanya berpesan kalau kamu harus benar-benar sayang pada Jasmin, jangan sakiti dia. Meskipun mungkin tidak sepantasnya kalau aku berbicara seperti ini, karena aku sendiri adalah orang yang paling menyakitinya, tapi aku juga tidak inginĀ kalau adikku disakiti oleh orang lain." Biarkan orang berkata dia tidak punya malu, tapi inilah yang Julio rasakan saat ini ia sangat takut kalau Mimin akan menderita. Kini ia tahu betapa beratinya kebahagiaan untuk adiknya.
"Kamu tenang saja, InsyaAlloh aku akan jaga adik kamu dengan baik. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu tidak masuk ke dalam. Mungkin berbicara dengan Mimin. Kenapa harus di sini?" tanya Hadi. Calon papah baru Iko berpikir kalau Mimin pasti akan senang dengan bertemu dengan Julio, tapi kenpa laki-laki itu malah duduk seorang diri di sini. Mana cukup jauh dari ruangan Mimin.
Julio hanya tersenyum getir, ia bingung mau bicara dari mana, karena memang apa yang ia lakukan sudah sesuai dengan apa yang pernah ia perbuat pada Mimin tempo dulu.
"Aku yang mengakibatkan calon istri kamu berada di rumah sakit ini, jadi rasanya tidak pantas dan tidak tahu malu kalau aku masih duduk di dalam. Aku hanya ingin memastikan Jasmin baik-baik saja." Pandangan mata Julio menatap ke arah pintu ruangan Mimin. Andai ia dulu tidak bersikap egois dan terlalu percaya pada papah dan juga ibu tirinya mungkin tidak akan seperti ini, tidak akan separah ini permusuhan mereka.
__ADS_1
"Jujur aku nggak tahu apa yang terjadi dengan kalian, tapi terlepas benar atau tidaknya yang terjadi dengan ibu kalian, aku hanya bisa berdoa semoga semuanya cepat selesai. Tidak ada lagi perselisihan ini. Aku yakin Mimin hanya butuh waktu untuk bicara dengan kalian. Dan nanti akan aku bantu berbicara dengan Mimin." Hadi menepuk punggung Julio, untuk memberikan semangat untuk Julio menghadapi masalahnya.
Laki-laki itu tidak ingin ada masalah yang berlarut dengan iparnya. Dia harus berusaha untuk jadi penengahnya.
Julio menatap Hadi dengan senyum tulus. "Terima kasih doanya semoga saja tidak ada lagi perselisihan di antara kita. Aku sudah lelah hidup sendiri. Ingin seperti yang lain, akrab dan dekat dengan keluarga. Seperti orang-orang yang dekat dengan keluarga saling bercengkrama dan juga saling curhat dan saling menyayangi. Bukan seperti kami yang masih jauh untuk menggapai itu semua."
"Iya aku tahu, tapi semua butuh perjuangan. Mimin juga seperti ini karena ada sebab yang membuatnya begini. Sabar yah, jangan buru-buru ikuti seperti air mengalir biar semakin terasa perjuanganya. Aku kembali ke dalam dulu yah. Papah sudah kembali. Nanti kalau kami akan menikah kami kabarkan ke kamu. Kalau bisa bagi nomer HP-nya agar bisa menghubungi kalau nanti kami menikah." Hadi mengulurkan ponsel ke calon kakak iparnya.
Julio menatap Hadi dengan tatapan bahagia. "Kamu serius, apa nanti Mimin tidak marah kalau tahu kamu menyimpan nomer HP aku?" tanya Julio dengan serius.
"Tidak, aku janji semuanya akan aman."
Setelah mendengar kepastian dari Hadi. Julio pun memberikan nomer HP-nya. "Semoga semuanya lancar yah."
"Amin, kamu juga semoga bisa kembali akur dengan adik kamu. Kalau gitu aku masuk lagi yah." Hadi pun meninggalkan Julio untuk kembali masuk ke ruangan calon istrinya, tentu kali ini dengan hati yang jauh berbunga-bunga karena sudah mendapatkan restu dari Julio.
#Kenapa tidak meminta restu pada Lukman, karena kondisi Lukman sakit, dan dia kalau diajak bicara seperti anak kecil suka ngelantur sehingga cukup izin dari Julio sebagai wali pengganti.
Sama halnya dengan Hadi yang merasa bahagia karena mendapatkan izin dari Julio. Julio sendiri merasa bahagia karena akhirnya Hadi mau mencoba membantu dirinya berbaikan dengan Mimin tanpa bantuan dari Hadi ia pasti akan sangat kesulitan untuk dekat dengan adiknya lagi.
"Ya Tuhan, semoga dengan adanya Hadi. Hubungan kami bisa kembali membaik."
Bersambung.....
...****************...
__ADS_1