Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Ketakutan Wijaya


__ADS_3

Bab 162 sudah di revisi silahkan baca ulang biar nyambung dengan bab selanjutnya ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป


...*********...


Di sebuah ruangan kecil yang terdiri dari beberapa orang. David duduk termenung di pojokan, tidak seperti biasanya yang rame, dan selalu bergabung dengan teman-teman yang lain. Hari ini David sangat berbeda. Lebih tepatnya sejak ia mendengarkan berita yang ada di televisi. Pengusaha terkenal dan pemilik perkebunan kelapa sawit terluas, dan pemilik pengolahan buah sawit diamankan polisi, dengan dugaan tidak membayarkan upah para karyawanya selama berbulan-bulan. Bukan hanya upah pokok karyawan, tetapi sering mengancam para karyawan agar mau bekerja lembur, tetapi tidak ada uang lembur yang dibayarkan.ย  Meskipun David cemas dengan kondisi papahnya, tetapi ia yakin bahwa apa yang papahnya punya bisa dijual dan menutupi tuntutan dari karyawannya.


Namun yang bikin David cemas adalah, rumah pribadi papahnya sudah dikuasai oleh para karyawan yang berdeemo. Ia takut kalau karyawan yang sakit hati dengan perbuatan papahnya akan menggunakan kesempatan ini untuk membuat rumah itu hancur dan tidak bisa di jual atau ditempati lagi. Meskipun itu bukanlah rumah satu-satunya yang dimiliki Wijaya, tetapi luas dan mewahnya rumah itu nilainya jauh lebih tinggi dari pada rumah-rumah lain yang dimiliki oleh Wijaya.


"David, kamu kenapa tumben terlihat murung sekali?" tanya salah satu tahanan dalam satu sel-nya. Yah, kali ini David memang memilih tinggal dalam tahanan bersama dengan teman-teman yang lain tidak ada perbedaan kelas dan lain sebagainya. Ia benar-benar tidak mau memanfaatkan kekayaan papahnya untuk mendapatkan perlakuan yang spesial. Ia ingin tetap merasakan seperti narapidana yang lain. Tetap berbaur dan diperlakukan sama dengan para narapidana lain.


Bukan hanya ingin disamakan dengan para tahanan yang lain, tetapi David juga ketika tinggal ditahanan khusus ia merasa kesepian tidak ada teman yang diajak berbicara. Sedangkan ia butuh teman untuk melepaskan rasa stresnya.


David menatap teman satu ruangan yang berpindah ke sampingnya, dan menemaninya untuk ngobrol.


"Kamu tadi dengar berita tentang papaku?" tanya David.


Para penghuni lapas ini mungkin semuanya sudah tahu siapa David sebenarnya. Dan mereka pun cukup kagum dengan keputusan David yang tidak mau diperlakukan secara spesial sedangkan yang lain saja ingin merasakan lapas khusus yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu bayar mahal, agar merasa nyaman dan tidak terganggu dengan para narapidana yang lain.


"Yah aku dengar, kenapa? Apa ini yang membuat kamu jadi murung."


"Aku hanya cemas dengan papahku dan juga ibuku, bagaimana nasib mereka sekarang. Meskipun papahku salah tapi aku tidak tega kalau beliau harus menderita. Beliau adalah orang yang semasa hidupnya tidak pernah menderita, tidak pernah kekurangan apa pun, tidak pernah merasakan hidup susah. Sekarang justru Papah seperti ini pasti sangat berat banget menghadapinya. Aku takut kalau Papah akan sakit dan akan depresi. Aku tidak punya apa-apa selain orang tua," ucap David dengan suara yang lirih. Beruntung teman-teman satu ruanganya baik-baik sehingga ia untuk curhat pun tidak merasa bingung. Bebanya sedikit berkurang setelah bercerita dengan teman-temanya.

__ADS_1


"Jangan bingung Tuhan akan bantu semuanya. Kamu sebagai anak hanya butuh doakan orang tuamu. Maaf bukan aku sok tahu, tetapi semua yang terjadi dalam hidup kita itu atas se-izin Alloh, dan atas se-izin Alloh juga semuanya akan baik-baik saja. Yang penting kamu sekarang berdoa untuk orang tua kamu."


David menatap temanya yang barusan memberikan masukan atas dirinya. Mereka memang awalnya tidak saling kenal, bahkan David sempat berpikir negative dengan teman satu sel-nya, tetapi setelah mereka saling kenal David semakin paham, bahwa penampilan yang terlihat garang, urakan, berandalan dan sangat menjijihkan juga memiliki sisi baik. Bahkan teman yang tubuhnya banyak tato dan wajahnya terlihat galak, tetapi hatinya lebih tulus dari dirinya yang tampan dan terlihat baik sekilas, tetapi memiliki hati yang jahat. Dan selalu iri dengan pencapaian orang lain.


*********


Di tempat lain.


Laki-laki yang sudah tidak lagi muda duduk dengan tatapan kosong, tidak jauh darinya ada sesosok wanita yang umurnya tidak jauh berbeda dengan dandanan yang cetar membahana. Duduk saling diam. Entah berapa lama mereka tidak terlibat obrolan. Keduanya sedang pusing dan bingung bagaimana cara agar mereka bisa keluar dari masalah ini. Rumah pun sudah dikuasai oleh karyawanya. Pihaknya sudah mengutus seseorang yang dipercaya untuk berusaha nego dengan penanggung jawab karyawan yang menguasai rumahnya, agar bisa dibicarakan secara baik-baik.


Namun, permitaan Wijaya ditolak ke dua kalinya. Mereka bukan tidak mau diajak berbicara baik-baik, tetapi mereka sudah hilang kepercayaan pada Wijaya pasalnya sudah dua bulan mereka menuntut haknya, dan berjanji akan diselesaikan secara baik-baik dan bicara dari hati ke hati agar segara keluhan karyawan bisa diatasi baik upah dan lembur. Namun, rupanya yang Wijaya lakukan bukan bersungguh-sungguh untuk cari solusinya, tetapi justru Wijaya sepertinya hanya memanfaatkan kebaikan mereka. Dua bulan sudah aduan karyawannya tidak ada yang didengar. Segala upaya sudah di gerakan oleh para karyawan tetapi Wijaya masih saja berjanji dan berjanji terus, tetapi untuk produksi dan pemasaran masih normal. Bahkan penjualan tidak ada penurunan tetapi hak karyawan dipermainkan.


Sehingga sekarang saat Wijaya benar-benar ingin bernegosiasi para karyawanya sudah tidak percaya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Wijaya, mungkin itu ucapan pertama setelah sekian purnama puasa berbicara. Bahkan Risa, sang istri mengajak bicara Wijaya hanya menanggapinya dengan tatapan mata. Yang menandakan bahwa dirinya tidak ingin berbicara dulu.


"Sulit Tuan, jalan satu-satunya Anda bayarkan dulu uang-uang mereka dan mereka baru akan memberikan rumah Anda." Orang kepercayaan Wijaya memberika laporan hasil bernegosiasi dengan pemimpin para karyawan yang masih menjaga rumah Wijaya.


"Polisi tidak ada yang bertindak?" tanya Wijaya dengan nada bicara yang marah dan kesal.


"Masa terlalu banyak Tuan, bahkan yang mengepung rumah Anda bukan hanya karywana Anda, tetapi teman-teman satu organisasi yang bersimpati terhadap para teman-temanya memberikan dukungan dan tetap tidak mau pergi dan berbicara baik-baik sebelum hak mereka di penuhi." Dude, orang kepercayaan Wijaya menjelaskan dengan sangat detail apa yang terjadi di lapangan.

__ADS_1


Wijaya nampak memijit kepalanya yang nampak berat dan terasa sangat sakit.


"Pengacara bagaimana, semua tim bagaimana tidak mungkin dia diam saja ketika aku dihadapkan masalah yang besar," ucap Wijaya dengan tubuh disandarkan ke sova dan tanganya memijit keningnya.


"Mereka menyarankan menjual semua aset milik Anda atau kalau tidak rumah itu jual tetapi sepertinya tidak akan cukup untukย  membayar karyawan Anda yang banyak Tuan."


"Gila kalian, itu sama saja kalian bersekongkol memiskinkan aku," bentak Wijaya.


"Tapi kalau Anda tetap kekeh mempertahankan usaha Anda semuanya. Justru Anda akan kehilangan harta Anda dengan sia-sia. Anda bisa menyusul David sungguhan. Mungkin sekarang Anda bisa santai di sini dan berpura-pura diamankan pihak berwajib tapi tidak dengan laporan mereka akan bisa tetap diproses. Pertimbangan baik-baik Tuan. Anda sedang menghadapi orang-orang yang berbahaya. Jangan terlalu menganggap mereka remeh. Persatuan mereka cukup kuat. Anda tidak bisa bertahan lagi kalau bener-bener semua sudah bersatu. Mungkin bukan hanya rumah Anda yang mereka kuasai. Bisa juga perusahaan Anda mereka ambil alih." Dude kali ini berbicara cukup tegas.


Wijaya dan Risa hanya diam memikirkan langkah apa yang mereka akan ambil.


"Kalau Anda menjual perusahaan Anda. Setidaknya Anda masih memiliki uang lebihan dari uang-uang yang harus Anda bayarkan untuk hak karyawan Anda. Dan Anda bisa gunakan uang itu untuk mengolah bisnis yang baru. Memulai semua dari nol memang tidak mudah tapi bukanya itu akan jauh lebih baik dari pada semua yang ada miliki dikuasai paksa oleh para karyawan Anda dan Anda juga di penjara. Pikiran maksud baik saya Tuan." Dude kembali menjelaskan apa yang ia maksud, dan ia juga hanya berniat memberikan solusi baik pada atasannya. Bukan ingin mendapatkan keuntungan yang besar.


"Pah ini jauh lebih baik dari pada kita dipenjara. Kita mulai dari nol." Risa pun akhirnya ikut angkat bicara.


Cukup lama Wijaya berpikir keras dengan maksudnya. Namun ia pun akhirnya setuju dengan usul Dude.


"Kamu urus semuanya Dude, aku tidak ingin terlibat, hatiku sakit kalau harus tahu perusahaanku hancur dan aku akan menjadi orang miskin." Wijaya mengusap wajahnya kasar. Ia tidak mau jatuh miskin tapi ia juga tidak mau di penjara apalagi. Sudah miskin terkurung dalam jeruji besi pula.


Untuk membayangkan semuanya pun Wijaya tidak berani. Apalagi benar-benar ia alami, sudah ketakutan duluan sebelum semua benar menjadi kenyataan.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2