Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Makan Malam Spesial


__ADS_3

Sesuai yang Mimin inginkan makan malam hari ini khusus dengan masakan hasil tangan sang suami. Wanita itu pun terkagum-kagum dengan kepiawaian sang suami yang ternyata pandai memasak.


"Kamu pengin makan pakai apa Sayang?" tanya Hadi ketika mereka sudah sampai di rumah. Wanita dengan perut yang sudah membuncit pun nampak berpikir kira-kira ia ingin makan pakai apa. Bahkan sejak ia hamil berat badan Mimin naik dratis. Sekarang baru kehamilannya memasuki lima bulan jalan berat badan dia sudah naik delapan kilo. Yah, Hadi sih makin senang karena itu tandanya dirinya bisa merawat sang istri jadi jauh lebih bahagia dan tercukupi. Apalagi Mimin tidak terlihat kurus lagi.


"Iko mau makan apa?" Mimin justru bertanya pada sang putra. Kini Iko dong yang gantian berpikir.


"Nasi goleng. Iko mau makan nasi goleng," ucap Iko dengan semangat.


"Ya udah Mas pengin makan nasi goreng tapi yang sea foods yah." Request ibu hamil. Mengikuti kemauan anaknya nasi goreng seafood.


"Ok deh Baba akan bikinkan nasi goreng sesuai yang kalian minta." Setelah Hadi cukup istirahat ia pun pergi ke dapur untuk bersiap memasakan apa yang sang istri inginkan.


"Sayang kita lihat Baba masak yuk. Iko mau bantu tidak?" Mimin pengin melihat sang suami yang katanya jago masak untuk membuktikan ucapannya.


"Ayu Mah, Abang nanti bantu Baba masak." Iko pun sangat antusias untuk melihat sang Baba yang siap memasak.


"Baba Abang mau lihat." Iko merentangkan tangannya minta digendong oleh Hadi. Agar ia bisa leluasa melihat babanya masak.


"Loh kok minta gendong Baba mau masak Sayang, jangan sampai abang minta gendong nanti kena minyak panas." Hadi mengambilkan kursi yang cukup tinggi agar Iko duduk dengan santai, dan tentunya tetap bisa lihat ia masak dengan jelas.


"Mas kalau Mimin abadikan dengan membuat Vlog boleh tidak?" tanya Mimin melihat Hadi masak dia sangat senang.


"Wah boleh tuh sekalian biar buat bukti kalau Baba bisa masak." Jiwa sombong Hadi pun keluar dan benar saja kini Mimin pun merekam kegiatan Hadi. Bisa Mimin lihat kalau Hadi memang jago memasak semuanya bisa dilihat dari cara Hadi memegang pisonya.


"Wah Baba pintar memasaknya. Iko mau bisa masak seperti itu Baba." Iko langsung tepuk tangan ketika dia melihat atraksi Hadi yang mengaduk nasi goreng dengan dilempar ke atas persis seperti seorang chef handal, dan yang membuat Mimin sampai bengong adalah nasi-nasi yang terbang jatuh lagi ke wajah dengan rapi tanpa ada yang berceceran. Dia sendiri pasti tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


"Mas kok kamu bisa sih masak kaya gitu, udah kaya chef aja, Mimin jadi malu ternyata malah Mas jauh lebih pintar masak dari pada Mimin." Mimin pun sama dengan Iko salut dengan Hadi yang jelas pintar memasak bahkan rasanya bisa Mimin bayangkan pasti enak sekali.


"Kamu jangan mider dong, kalau rajin masak pasti bakal bisa kaya Mas. Lagian Mas itu mungkin karena suka masak saja, kan Mamah Arum juga pintar masak, dan Mas sering lihat kalau Mamah masak jadi sekarang bisa deh masak. Mas juga pernah ngekos saat kuliah dan demi menghemat uang makan ya terpaksa jadi chef dadakan, dan hasilnya kaya gini deh. Tapi Mas jujur lebih suka masakan kamu. Tidak tahu ini mau makan atau tidak kalau bukan kamu yang masak." Hadi benar-benar pengin Mimin yang masakan untuk dia.


"Loh kan ini Mas yang masak ya dimakan lah."


Setelah bertarung di dapur hampir satu jam tiga porsi nasi goreng sea food dengan penampilan yang menarik dan juga dengan plating yang membuat rasanya ingin langsung hap.


"Baba lapal ..." Iko saja langsung ngusap-ngusap perutnya ketika nasi goreng sudah di siapkan.


Nasi goreng buatan Baba Hadi.



"Ya udah ayo kita makan." Hadi menggendong sang anak dan menggandeng sang istri untuk siap makan dengan masakan yang sudah pasti enak dan lezat. Mimin pun tidak lupa mengabadaikan jepretan kamera yang mengambil hasil masakan Hadi. Dan diunggah di media sosialnya. Dari sekian purnama baru kali ini ia kembali menggunakan sosial medianya dan yang diunggah adalah nasi goreng spesial masakan sang suaminya. Yang berhasil membuat hati Mimin berbunga-bunga dan merasa diratukan banget saat nikah dengan Hadi.


Hadi dan Mimin saling pandang dan mengulum senyum. Yah, wajar Iko masih manja-manjaan lah wong usianya aja baru tiga tahun masih senang-senangnya bermanja-manjaan.


"Iko mau disuapi Baba?" tanya Hadi ulang.


"Iya Baba ..." balas Iko dengan suara lirihnya.


"Uluh manja banget sama Baba, biasanya aja makan sendiri," balas Mimin dengan meledek anaknya.


"Mamah mau juga dong disuapi Baba." Mimin juga tidak mau kalah dong.

__ADS_1


"Ya udah Baba suapi abang deh dan Mamah." Hadi menggeser posisi duduk Iko agar berdekatan biar gampang nyuapinya. Hadi pun makan dengan sesekali menyuapi Iko begitupun Mimin sesekali disuapi Hadi. Romantis hingga Iko pun iri kalau Hadi menyuapi Mimin. Inginnya anak itu yang disuapi hanya dia seorang. Babanya jangan sampai suapi mamahnya, kata Iko Mamahnya bisa makan sendiri, kan udah gede.


"Baba jangan suapi Mamah, Abang aja. Mamah udah besal."


Mimin dan Hadi pun hanya membalas dengan senyuman masam. Hingga rasa jahil keluar dari otak Mimin. Ingin. mengerjai anaknya.


Makan malam pun selesai meskipun banyak drama, bahkan Iko sampai nangis gara-gara mamahnya ingin disuapi juga. Yah, meskipun Mimin sudah tua tapi dia justru senang melihat anaknya menangis. Dia senang karena akhirnya anaknya ada tempat untuk mengadu yaitu babanya.


"Abang, ganti baju yah," ucap Mimin dengan mengambil pakaian tidur untuk anak dan suaminya.


"Baba ayo ganti baju, kan mau bobo." Iko kembali manja dengan babanya.


"Iko ganti bajunya dengan Mamah, Baba lagi kerja Sayang." Mimin mencoba merayu anaknya setelah terjadi perang dimeja makan tadi.


"Baba ayo ganti baju, kita sikat gigi baleng." Iko masih mencoba merayu babanya.


"Ya udah biar Iko ganti baju sama Baba yah. Mamah bobo duluan aja." Hadi mematikan laptopnya, dan menggandeng tangan Iko ke kamar mandi gosok gigi dan berganti pakaian tidur. Hadi mengganti pakaian Iko dengan sangat hati-hati dan menggosok gigi anaknya. Pokoknya dia sudah lolos untuk menjadi baba yang baik dan bisa menjaga anak istri.


"Baba kita berdoa dulu." Iko menengandahkan tangannya agar berdoa dulu. Hadi pun memimpin doa dan diikuti Iko untuk doa mau bobo.


"Abang nanti pagi bangun bobonya jangan susah dan jangan nangis yah kita akan pergi ke rumah nenek dan kakek, naik pesawat kalau abang bangunnya susah apalagi nangis kita tinggal yah Ba."


"Iya, nanti abang di rumah sendirian, Baba dan Mamah naik pesawat berdua." Hadi menimpali, maklum anak kecil ini kadang kambuhan kalau bangun bobo suka drama, sejak punya adik kadang dewasa pake banget, tapi juga kadang sangat manja pake banget untuk bangun pun kadang berdrama dulu.


"Ok siap Baba, Mamah, Abang mau bangun pagi." Iko menjawab dengan semangat, biasanya kalau menjawab semangat begini biasanya akan gampang bangunnya. Apakah abang Iko akan gampang bangunnya esok hari atau justru akan ditinggal baba dan mamahnya karena nangis?

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2