
Aku meletakan ponsel ketika pintu kamar mandi di buka, dan senyum bahagia pun aku berikan untuk Mas suami yang baru ke luar dari dalam sana. Tentunya dengan tubuh yang lebih segar.
"Kamu kenapa Sayang, kok kayaknya bahagia banget? Mau kasih jatah yah?" ucap Mas suami, sudah menjadi kebiasaan. Selalu kalau aku tersenyum dengan bahagia pasti tidak akan jauh dari jatah batin untuk Mas suami.
Aku merentangkan tanganku dan memeluk mas suami yang segar dan wangi itu.
"Lydia sedang bahagia sekali Mas," ucapku, yah aku memang sedang bahagia, tetapi aku juga sedang bingung, karena aku mau menceritakan semua ini dari mana aku pun sedang menyusun semuanya agar Mas suami tidak menyalahkan aku nantinya karena telah merahasiakan ibu kandung Iko, yang ternyata orang yang sangat Mas bojo kenal.
"Bahagianya karena apa? Apa karena Mas atau karena orang lain nih?" tanya Mas suami yang sudah aku pastikan pasti kepo banget.
"Karena orang lain sih, Lydia ingin cerita tapi nggak tahu mau mulainya dari mana," balasku masih dengan tangan merangkul tubuh mas suami, biarkan manja juga sama suami sendiri kok. Yang tidak boleh manja sama suami orang.
"Wah ini kayaknya masalahnya serius banget, kalau mulainya dari sana gimana?" Mas suami menujuk atas kasur untuk memulai obrolan, aku pun yang baik dan tidak sombong langsung menyanggupi permintaan mas suami, paling juga cape mandi terus.
Mumpung bulan puasa adalah bulan penuh berkah dan juga bulan yang sangat manjur untuk berdoa, sehingga kami tidak ingin menyia-nyiakan bulan yang penuh berkah ini. Usaha agar bisa memberikan Iko adik pun selalu kami lakukan dan berharap pastinya apa yang kami semogakan akan segera membuah kan hasil.
__ADS_1
Rasa bahagia tidak bisa aku unggapkan setiap mengakhiri percintaan kami.
"Ayo sekarang cerita, jangan sampai Mas nggak bisa tidur karena saking penasaranya," ucap mas suami dengan menarik tubuhku, yang masih bercucuran peluh kenikmataan.
"Jujur Lydia masih bingung harus memulai dari mana? Tapi ini ada hubungannya dengan Iko," ucapku sembari menatap wajah Mas suami yang apabila penuh keringat ketampanannya naik berkali-kali lipat.
"Maksudnya ada hubunganya dengan Iko? Iko kenapa, dan kenapa bahagia sekali atau jangan-jangan udah ada adik untuk Iko di dalam sana?" tanya mas suami sembari mengusap perutku yang baru saja di tanam benih.
"Bukan Mas, tapi ini berhubungan dengan Ibunya Iko," ucapku dengan suara yang terdengar lirih.
"Kalau sembuh belum, tetapi sekarang sudah ada kemajuan, sebenarnya ibu kandung dari Iko selama ini tidak mau menjalani pengobatan ini dan itu, tetapi sekarang sejak memutuskan untuk tinggal di pesantren sudah ada kemajuan, mau kembali berobat serta ada semangat untuk sembuh, dan yang bikin Lydia senang banget adalah ibu kandung dari Iko mau bertemu dengan Lydia," ucapku dengan girang yang langsung mas suami mengernyitkan dahinya.
"Loh, emang selama ini nggak mau ketemu dengan kamu kenapa? Bukanya saat menyerahkan Iko kalian bertemu? Buktinya ada surat-surat perjanjian itu? Kalian tidak sedang marahan kan?" cecar mas suami yang tidak salah bertanya panjang kali lebar itu semua karena aku yang dari awal tidak terbuka dengan ibu kandung baby Iko.
Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah. "Wanita itu belum mau bertemu dengan Lydia ataupun dengan orang lain, alasanya simpel, karena dia malu dengan kondisi fisiknya yang sangat memprihatinkan, kurus dan juga kulitnya keriput dan juga seperti ada luka hitam-hitam dan membuat dia minder. Oleh sebab itu tidak mau ditemui oleh orang lain selain dokter Sera, dan ketika Lydia mendengar kalau saat ini mau dijenguk rasanya bahagia sekali," aduku yang memang terlihat sepele, tetapi bagi aku ini adalah kabar paling bahagia. Mengingat terakhir kita ketemu dari wajahnya sangat memprihatinkan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong dia sakit apa?" tanya mas suami semakin ingin tahu.
Aku pun menceritakan apa yang pernah Mimin katakan dengan detail dan juga seberapa resiko sakit yang apabila memang benar Mimin menderita sakit kangker kulit Melanoma, pasalnya aku sampai detik ini masih penasaran dengan sakit Mimin sesungguhnya.
"Tapi Lydia masih belum yakin kalau sakitnya adalah memang sakit itu, dan juga Lydia masih berharap kalau diagnosa yang menjadi patokan ibu kandung Iko adalah salah, pasalnya tidak berdasarkan dari pemeriksaan dokter yang akurat," jawabku dengan jujur.
"Kalau gitu nanti kamu coba bujuk agar melakukan pemeriksaan pada rumah saakit yang memadai dan bisa mendiagnosa sakit dengan pasti sehingga pemberian obat-obatan dan juga terapi atau penanganan jelas dan pasti, soal biaya jangan khawatirkan semua biar Mas yang tanggung," usul Mas suami yang langsung aku sanggupi, dan memang pemikiran Mas suami juga pastinya aku juga memikirkannya. Dan pastinya aku sangat bahagia karena Mas suami peduli dengan wanita yang telah melahirkan Iko meskipun belum tahu identitas aslinya.
"Semoga saja mau yah Mas, Lydia hanya ingin dia sembuh dan setidaknya Iko tahu siapa ibu kandungnya. Syukur-syukur bisa membesarkan Iko bersama-sama."
Yah, malam ini kami pun membahas ibu kandung Iko dan tentunya masih dengan nama yang tidak aku sebutkan, kecuali nanti apabila aku sudah izin dari Mimin dan juga dia mengizinkanya sehingga aku akan mencoba dengan menceritakan semuanya dari yang aku tahu.
"Jadi kapan kita akan menemui wanita itu?" tanya Mas suami, dengan pandangan mata terus menatap jagoan kami.
Bersambung...
__ADS_1