
Aku kembali terkejut, di mana baru saja aku menjaga adikku belum dua puluh empat jam paska aku di periksa di kantor polisi. Bapak meminta aku dan mas suami pulang.
[Pulang dulu Mbak, ada yang mau dibahas di dalam keluarga kita.] Itu pesan singkat dari Bapak, setelah aku menitipkan adikku pada perawat dan juga dokter seperti yang Bapak sarankan. Memang setelah aku dan Mas Aarav pulang dari kantor polisi, Bapak pulang ke rumah dan bergantian dimintai keterangan oleh pihak berwajib. Sehingga untuk urusan adikku kamilah yang mengurusnya.
"Kira-kira ada apa lagi yah Mas, kenapa aku merasa ada yang penting," ucapku begitu kami meninggalkan ruangan adikku yang belum juga sadar.
"Mungkin pelaku dan motifnya sudah diketahui," balas suamiku, dan aku pun hanya menjawab dengan anggukan kepala dan juga ucapan hamdalah.
"Itu tandanya polisi cepat bekerjanya, dan Lydia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat kembali saja ke Jakarta, di sini kayaknya Lydia hanya bikin masalah saja. Kalau jauh kan kata orang wangi kalau dekat bau t*i jadi gini deh salah terus," gumamku, entahlah sejak pulang dari kantor polisi hatiku jadi gampang baper terutama kalau soal adikku.
Masih untung saja kang mas suami orangnya bisa mgertiin sehingga aku sedikit bisa lupa dengan serentetan masalah. Kalau biasanya pengantin baru penuh dengan keromantisan, kami mana ada di rumah sakit romantis mau gandengan tangan saja rasanya kurang nyaman karena takut ada yang nyinyir maklum umbar kemesraan nanti ada yang iri.
"Kalau urusan kamu sudah selesai Mas yang akan bawa kamu buru-buru pergi. Jujur Mas di sini juga jadi kurang menikmati momen kebersamaan. Meskipun Mas belum tahu sesungguhnya apa yang terjadi di keluarga kamu, tapi kalau Mas amati dari serentetan masalah yang kamu hadapi. Memang sepertinya ada adik kamu yang iri jadi menggunakan segala cara untuk membuat kamu tersisih, tapi untuk masalah pastinya Mas nggak tau yah, ini hanya sekilas kalau Mas amati. Mudah-mudahan saja tidak karena kalau sudah berbicara dengan keirian itu akan sangat mengerikan. Apalagi kalau musuhnya dalam selimut sangat lebih mengerikan dari seorang pembunuh bayaran sekaligus."
Lagi, aku merasa apa yang dikatakan oleh mas bojo itu aku juga merasa seperti itu sangat menakutkan memang kalau ada yang iri karena apabila sudah iri maka akan sangat sulit untuk mengartikan mana yang benar-benar baik dan hanya pura-pura. Apalagi ini adik sendiri.
Aku menatap mas suami dengan tatapan yang tajam. karena aku merasa mas suami itu sangat jeli untuk mengawasi sesuatu. "Jujur loh Mas Lydia juga merasakan seperti itu. Lydia merasa kalau selama ini orang-orang tidak suka dengan Lydia, bahkan adik-adik Lydia itu semata karena ada yang menebar nama yang kurang baik. Tapi mau bagaimana lagi. Lydia biarkan saja toh nanti juga mereka akan cape sediri," ucapku pasrah.
Cape juga woy nanggapi orang yang nggak suka. Kita diem aja dibenci apalagi banyak omong pasti bikin tambah kesel, jadi suka mereka saja lah.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama kami sudah sampai di depan rumah Bapak. Suasana hajatan masih terasa dengan kental karena memang orang-orang masih lalu lalang membantu rewang , dan juga tenda, pelaminan serta panggung bekas hiburan masih tertata dengan rapi, seolah mereka tidak ingin merapihkanya.
Dengan bergandengan tangan aku dan mas bojo langsung menuju ruangan keluarga yang super luas. Karena di ruangan ini Bapak sering menggunakan untuk rapat-rapat desa dan juga menjamu para tamu Bapak.
Dadaku langsung bergemuruh ketika kedua mataku menangkap dalam ruangan itu sudah banyak orang termasuk polisi. Namun, ke dua mataku lagi-lagi menangkap sosok yang sangat aku kenal. Yah ada Dirly di antara kelompok orang-orang yang ada di ruangan itu bahkan orang tua mantan calon suamiku pun ikut hadir. Jantungku semakin berdetak tak menentu karena aku yakin berati bukan Dirly yang melakukan penusukan pada adikku, tapi kalau bukan Dirly siapa?
Atau malah orang tua kami yang memutuskan untuk menutup kasus ini? Tapi rasanya tidak mungkin mengingat kalau ditarik garis kesimpulan dari yang Bapak katakan beliau sangat kecewa berat pada Dirly jadi rasanya tidak akan sangat mudah apabila mau menutup kasus ini.
Aku tersentak kaget ketika tangan mas suami mengusap punggungku.
"Kita masuk saja Dek, kayaknya kedatangan kita sudah di tunggu-tunggu," ucap Mas Aarav, dan aku pun langsung mengikuti apa yang Mas Aarav katakan. Aku tidak mau membuat-buang waktu karena jujur aku sudah sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Untung saja ada suamiku yang dengan sabar menggenggam tanganku seolah laki-laki yang baru kemarin menikahiku tahu kalau aku sedang kurang nyaman berada di tempat ini. Satu lagi aku tahu Allah memang tidak pernah salah menentukan jalan hidup hambanya.
Contohnya saat ini mungkin tujuan Allah belum mengirimkan jodoh padaku karena Tuhan menganggap kalau masalah yang hadir padaku masih bisa dihadapi seorang ini. Tetapi masalah ini aku benar-benar butuh teman untuk menguatkan aku.
"Berhubung Lydia dan suaminya sudah datang kita mulai saja musyawarah ini, karena saya yakin baik Lydia maupun suaminya ingin tahu apa yang senarnya terjadi dalam keluarga kami. Bahkan mungkin ada yang masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini sehingga Lyra bisa di temukan sekarat di kamarnya. Jujur saya sendiri sebagai kepala keluarga dan juga pemimpin masyarakat, sangat malu ketika satu persatu fakta terungkap. Saya selama ini selalu mengayomo warga, tapi keluarga saya sendiri kecolongan. Mungkin setelah masalah ini selesai saya akan mengundurkan diri dari jabatan ini. Dan juga untuk anak-anak Bapak silahkan kalau mau tinggal di rumah ini tapi kalau mau pindah juga silahkan Bapak nggak akan larang. Tapi kalau mau tinggal di sini Bapak tidak akan biarkan ada dua kepala lebih dalam satu rumah karena takut terjadi hal serupa. Meskipun berjauhan pun kalau memang orangnya bandel tetap akan sama cari-cari masalah." Bapak memulai pembukaan. Tangaku justru semakin dingin bahkan berkeringat.
Sungguh berada di titik ini aku sangat-sangat lelah tubuhku berasa sangat tidak enak badan entah ini reaksi sesaat karena terlalu gugup atau mungkin memang ini reaksi atas beberapa hari ini yang aku benar-benar berada di titik leleh karena cemas yang teramat bahkan untuk makan aku pun merasakan kurang berselera.
__ADS_1
Pandangan mataku menangkap Bapak beberapa kali menghirup nafas dalam sedangkan Ibu duduk tanpa daya dengan menunduk dan terlihat kalau wanita paruh baya itu sangat lelah dan sepertinya kurang istirahat. Kedua adikku pun tidak banyak memberikan wajah yang baik. Mereka juga seolah tengah menampung beban yang sangat berat terutama adikku Lyka dari kedua matanya aku bisa menangkap kalau wanita itu memang sedang menghadapi masalah yang berat.
Bapak kembali menatap aku dan juga Dirly lalu bergantian pada Samsul yang duduk terpisah dengan Lyka. Sementara Dirly sendiri duduk di antara kedua orang tuanya.
"Dirly, saya sebagai ke dua orang tua Lyra minta maaf atas semua kelakuan anak saya?" Bapak membuat aku semakin tidak tahu apa yang terjadi, apalagi suara Bapak bergetar dan sesekali menunduk seolah tidak berani menatap Dirly.
Kembali aku tersentak ketika suamiku memeluk tubuhku yang aku merasa bergetar dan panas dingin, dan di wajahku pun sudah banjir keringat, bukan hanya karena tegang tetapi memang rasanya tubuhku tidak baik baik saja.
"Kamu sakit?" tanya Mas Aarav dengan berbisik telinga yang tertutup hijabku.
Aku hanya menggeleng dengan pelan. "Tidak Mas, tegang ajah," elakku, tetapi dalam batiku tak henti-hentinya aku mengucapkan doa agar aku kuat dan tidak terjadi apa-apa yang di luar kendaliku. Aku yakin kalau aku kuat.
Aku memberikan senyum terbaikku di balik wajahku yang udah pasti pucat, agar mas suami tahu kalau aku memang baik-baik saja.
Ketika anak kecil berbuat salah, ketakutan dan kebingungan mengusai hatinya. Pasrah seolah menunggu reaksi orang dewasa atas kesalahanya apakah menghukumnya atau justru mengatakan, ini tidak apa-apa kamu masih kecil dan belum tahu mana yang salah dan mana yang benar. Seperti inilah rasaku saat ini. Aku ketakutan dan kebingungan seolah aku tengah diadili oleh keadan. Padahal aku sudah terlalu sering berada di posisi itu, tetapi kali ini hati ini lebih tidak menentu. Wajah-wajah mereka sangat mengerikan seolah aku tidak mengenalinya. Berdiri di tempat yang asing dengan melakukan kesalahan, ini yang aku rasakan.
Akankah Semesta menunjukan kebenaranya, dan aku akan meninggalkan rumah dan kampung ini dengan nama yang baik. Menginggat aku merasa orang dan keluargaku seolah telah memberi nilai buruk pada ku. Entahlah hanya waktu yang akan menjawab.
...****************...
__ADS_1