
Seperti sekuntum mawar yang merekah, harum, terlihat indah dan menarik hati, ini yang Mimin rasakan. Ada rasa lain yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Ini bukan pertama kali ia jatuh cinta, tapi ini bisa dikatakan pertama kali ia merasakan hal yang aneh ini. Yah, aneh sekali padahal ia hanya ingin bertemu dengan suaminya, tapi hatinya terasa sangat bergembira.
Saat ini wanita itu duduk dengan bibir melengkung di balik cadarnya. Pandanganya menatap jalanan ibu kota. Ia sudah melewati serentetan masalah yang sangat berat dan kini ia sedang menikmati buah dari kesabarannya.
Tidak harus menempuh perjalanan yang lama kini wanita itu sudah berdiri di depan gedung kantor tempatnya bekerja. Rasanya tidak sabar ingin lihat wajah suaminya. Wajah terkejut sekaligus bahagia karena dikunjungi oleh istri barunya.
"Selamat pagi menjelang siang Mbak Mimin ..." sapa security dengan ramah. Mimin pun membalas dengan anggukan dan senyum ramah dari balik cadarnya.
"Suami saya ada di dalam kan Pak?" tanya Mimin dengan suara lembut.
"Hah, suami? Suami yang mana Mbak Mimin?" tanya balik security. Ya jelas ia tidak tahu suami yang mana kan Mimin nikah juga baru kemarin dan juga pernikahanya belum di umumkan.
"Eh, maksud saya Pak Hadi. Pak Satpam salah dengar kali nih." Mimin pun langsung ngeles untung ia tidak kehilangan akal sehingga tidak sampai ada pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Ia juga belum siap rasanya kalau pernikahannya diketahui oleh orang banyak. Toh rencananya ia dan Jadi juga akan mengadakan pesta dan pasti nanti seluruh karyawan dan rekan bisnis akan diundang dan mereka akan tahu kebenarannya.
"Oh Pak Hadi barusan saja masuk abis patroli ke bawah (Supermarket sehatnya yang sekarang sudah ada dua cabang yang satu punya David yang dibeli oleh Hadi, dan kini juga programnya sama dengan supermarket yang Hadi dan Aarav bangun, lebih mengedepankan makanan sehat.)," ucap security, tetapi bisa Mimin lihat scurity itu masih sedikit bingung dengan ucapan Mimin.
"Kalau gitu saya masuk dulu Pak," pamit Mimin, tidak mau ambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan, sedangkan security yang ngobrol dengan Mimin terus menatap bingung pada Mimin apalagi wanita berpakaian tertutup itu tampil lebih cantik, meskipun hanya bagian mata saja yang terlihat, tapi laki-laki berseragam security itu tahu kalau wanita itu sekarang bersolek cantik. Kecurigaan security itu semakin kuat kalau Mimin memang sudah menikah dengan Hadi.
"Hus ... apa Mbak Mimin sekarang sudah nikah dengan Pak Hadi?" tanya security yang ngobrol dengan Mimin tadi pada teman satu profesinya.
Sedangkan teman satu profesi yang tidak tahu apa-apa pun bingung.
"Mas sih? kayaknya mereka teman kerja kan Mbak Mimin dan Pak Hadi satu divisi, sama-sama di bidang pemasaran. Jadi wajar kali kalau hany kebetulan dekat aja." Scurity yang lain tidak semudah itu percaya kalau Mimin ada hubungan dengan Hadi.
"Iya aku tahu, tapi tadi Mbak Mimin keceplosan tanya suaminya ada di dalam atau tidak. Terus juga dia datang bawa kotak bekal. Apalagi coba kalau bukan mereka ada hubungan spesial." Gosip pun mulai ditiupkan dengan mengalun bisik-bisik terdengar syahdu sayang untuk diabaikan.
__ADS_1
"Ya berati bagus dong, bukanya Mbak Mimin juga janda, dan Pak Hadi juga duda, kalau Mbak Mimin tanya Pak Aarav baru kurang ajar. Apalagi Pak Aarav suami temanya Mbak Mimin, kalau yang dicariin Pak Hadi ya tidak apa-apa," balas security yang lain.
"Iya sih, tapi kapan nikahnya. Bukanya waktu mereka nggak masuk karena sakit? Apa jangan-jangan ada udang di balik rempeyek."
Nah loh ternyata bukan hanya ibu-ibu yang suka gosip, bapak-bapak juga sudah mulai meniupkan api-apai pergosipan. Di saat security mulai bergosip. Eh lebih tepatnya mereka seperti mencari jawaban atas rasa penasaran apakah Mimin dan Hadi memang ada hubungan spesial. Mimin sendiri langsung masuk ke ruangan Hadi setelah sebelumnya memastikan kalau Jadi ada di dalam dengan mengetuk pintu.
Wanita itu membuka pintu dengan pelan, dan Hadi seperti biasa akan menunduk dengan fokus menatap lembaran-lembaran laporan yang ada di hadapanya.
"Serius banget ..." ucap Mimin dengan suara menggoda. Sontak saja Hadi langsung mengangkat wajahnya ketika mendengar suara wanita yang sejak tadi mengganggu pikiranya. Yah, ternyata bukan hanya Mimin yang kangen dengan suaminya. Hadi pun sejak tadi sebenarnya ingin bertemu dengan istri barunya.
Lebay? Yah, mungkin dia memang terlalu lebay karena ia sendiri berpisah paling hanya beberapa jam saja, tetapi hatinya sudah merasakan berat ingin bertemu Mimin lagi.
"Sayang kamu datang?" Hadi langsung menunjukan wajah senang ketika istrinya tiba-tiba datang.
"Kata Mamah kamu tadi makanya sedikit, makanya aku bawakan makanan biar kamu sarapan lagi, biar cepat sembuh." Ah, untung saja otak Mimin agak pinter cari alasan sehingga ia tidak ketahuan banget kalau dirinya yang ingin bertemu dengan suami barunya lagi.
"Mas mau makan lagi?" tanya Mimin sembari membuka kotak bekal yang sudah disediakan oleh mamah mertuanya yang paling baik.
"Disuapin?" Hadi menggoda Mimin. Apalagi Hadi melihat Mimin sekarang lebih cantik, ia bersolek, tentu menambah rasa cinta Hadi.
"Manja banget udah gede juga. Iko aja udah bisa makan sendiri," elak Mimin, meskipun lagi-lagi dalam batinya ia tidak masalah kalau harus suapin suaminya.
"Hist, jangan samakan dengan Iko. Aku sedang banyak kerjaan. Kalau kamu suapin aku tetap bisa bekerja. Maklum Aarav itu galak banget, bahkan dia mengancam akan memecat aku kalau kerjaan aku nggak selesai."
Nah, ketika tadi Mimin menggunakan nama Mamah untuk mencari alasan ia membawakan makanan untuk Hadi, maka sekarang Hadi pun menggunakan nama Aarav untuk membuat Mimin mau menyuapinya.
__ADS_1
"Ya udah, Mimin suapin." Nah, kan Mimin itu cuma pura-pura tarik ulur aja, padahal dari rumah sudah berencana nyuapin suami barunya.
"Terima kasih Sayang. Aku yakin kalau kamu yang nyuapin aku. Maka makanan rasanya akan jauh lebih lezat," balas Hadi dengan menujukan senyum menggoda.
"Ada-ada aja. Namanya makanan ya sama aja, mau makan sendiri atau disuapi oleh istri atau orang tua." Mimin menarik kursi dan duduk di samping Hadi mereka pun makan bersama.
"Hemz ... beda Sayang. Seperti sekarang ini rasanya nasinya manis, dan lezat banget. Ini sih kalau setiap hari disuapi sama uminya Iko bakal gendut abi." Bukan hanya selera makan yang naik, nyatanya semangat untuk kerja pun langsung naik. Buktinya sekarang Hadi langsung bersemangat mengerjakan laporan-laporan yang tertinggal.
Yah, memang apa yang Hadi katakan benar adanya. Mimin sendiri tidak memungkiri ia merasakan senang dan bahagia ketika makanan yang ia makan bersama dengan suaminya rasanya lebih lezat.
Mimin dan Hadi pun makan dengan sesekali ngobrol dengan hal yang tidak terlalu penting, tapi cukup membuat hubungan mereka semakin akrab.
"Kamu mau ke rumah Ayah?" tanya Hadi ketika mereka selesai makan.
"Mau, rencananya akan ke rumah Ayah abis dzuhur, kenapa mau ikut?" Memberikan tisu untuk mengusap bibir suaminya, yang berminyak sisa makan.
"Salam aja deh. Kalau kerjaan nggak lagi numpuk sih nggak masalah ikut, tapi kerjaan lagi menggunung, jadi mau nggak mau harus ditahan dulu. Kamu saja yang ke sana. Enggak apa-apa kan? Dan salam buat Ayah dan Julio."
"Enggak apa-apa lagi. Mimin juga cuma datang menjenguk sebenar aja, karena mau ke rumah Lydia, pengin izin ajak Iko nginap dirumah kita. Biar rame."
Hadi langsung mengembangkan senyum setuju.
"Iya kalau itu aku setuju banget. Maklum kangen pake banget sama Iko. Pengin deh tidur ada anak dan istri." Ini adalah keinginan yang sudah lama ia bayangkan, tidak bersama anak istri dengan ngobrol-ngobrol bersama dan tidur karena kelelahan bercanda.
Impian sederhana sebenarnya, tetapi belum pernah terwujud.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...