
"Tunggu, kenapa kisah teman kamu sepertinya aku kenal. Apa nama wanita itu Jasmin?" tanya Mas bojo dengan wajah yang penasaran. Aku pun jadi tidak kalah penasaran dengan kisa
Dalam batinku bertanya-tanya, ada hubungan apa Mas suami dengan orang yang bernama Jasmin? Apa ada mantan lain selain Mbak Siska?
"Kenapa Mas bisa kenal dengan Mimin? Apa Mimin ada hubungan keluarga, atau ada kisah masa lalu Mas dengan Mimi?" tanyaku, memang seperti ini ketika menikah dengan orang yang baru dikenal banyak banget kejuta-kejutanya. Termasuk mas suami yang kenal Jasmin, atau biasa disebut oleh kami Mimin. Sangat tidak menyangka kalau teman yang aku kenal ternyata juga dikenal oleh Mas suami.
Cukup lama Mas Aarav diam seolah dia tengah mengatur hatinya. Mungkin dia tidak ingin berkisah mengenai Mimi, sangat berbeda dengan bercerita Mbak Siska yang mas suami lebih terbuka, tetapi untuk Mimi sepertinya ada banyak kenangan yang berat harus mas suami mati-matian untuk melupakanya.
"Kalau Mas Aarav berat untuk bercerita, jangan diceritakan. Kita kembali ke kamar yuk, Lydia juga cape habis berantem dengan Mbak Siska, otot yang lama nggak latihan jadi sakit semua," balasku, penasaran? Sudah pasti aku sangat penasaran dengan kisah yang lalu-lalu dari pasanganku, tetapi aku tidak ingin kalau gara-gara kekepoanku. Aku dan Mas Aarav jadi bersitegang.
Namun, ketika tubuhku sudah setengah badan berdiri, tangaku di tarik oleh Mas Aarav. "Duduklah, Mas masih kepikiran dengan Jasmin, bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya mas suami dengan suara yang lembut dan juga terdengar jauh sekali berbeda, seperti ada kesedihan dalam wajahnya. Tentu berbeda dengan ketika membahas Mbak Siska yang lebih cuek dan masa bodo. Dengan Mimin, Mas Aarav telihat sangat cemas.
Aku mengikuti kemauan mas suami, dan duduk bersebelahan dengan menatap layar televisi yang bahkan tidak ada suaranya. Kami hanya menonton layar bergerak.
"Lydia akan cerita dengan Mas soal Mimin, tapi apa Mas bersedia cerita juga ada hubungan apa sebenarnya Mas dan wanita yang bernama lengkap Jasmin?" tanyaku sama dengan suara yang lirih dan cenderung mengiba.
__ADS_1
"Baiklah Mas cerita." Cukup lama Mas Aarav menjeda ucapanya, seolah laki-laki yang sudah resmi menyandang setatus sumiku berat sekali untuk bercerita. Namun, karena jiwa penasaranku yang sangat tinggi sehingga aku pun memilih untuk sabar dan menunggu mas suami cerita.
"Jasmin, adalah wanita yang pertama kali ada di hati Mas, bahkan jujur sampai saat ini nama itu seolah sulit sekali hilang. Bahkan untuk sekedar ada yang menyebut nama Jasmin, hati ini masih bergetar. Namun, sejak lulus sekolah Mas kehilangan jejak dia. Dan beberpa bulan setelah Jasmin menghilang, Mas dapat kabar kalau orang tuanya berpisah, tetapi Mas tanya sama abang dan juga papahnya nggak ada yang tahu. Sehingga sampai detik ini Mas masih ingin tahu kondisinya. Hanya ingin tahu, mungkin setelah itu Mas bisa lebih tenang mengingat dia adalah teman kencan pertama kali sejak SMA kelas satu kami saling borkomitmen dan setelah kelulusan aku kehilangan kontaknya. Dan baru tahu ternyata kamu adalah teman dekat Jasmin." Mas Aarav seperti sangat mencintai Mimin temanku sendiri.
"Tapi kenapa Jasmin tidak pernah cerita tentang keluarga dan juga kekasihnya yah. Dia itu seperti memendam banyak banget masaalah. Bahkan sebenarnya kami tidak terlalu akrab. Karena sedikit takut sih. Dia itu seperti depresi juga, iyah. Jadi pendiam, tapi kadang dia itu tertawa sendiri dan marah tanpa sebab. Jadi kayak mengindap depresi juga selain sakit yang cukup parah. Bahkan kalau untuk tengok dia tidak berani sendiri itu karena kondisi kesehatan jiwanya sedikit terganggu, kami sedikit takut kalau harus berdekatan dengan dirinya. Kedekatan kami sebatas teman kuliah dan juga teman main, selebihnya dia juga tidak banyak berbaur." Aku kembali mencoba mengingat kedekatanku dengan Mimin yang mana kami dekat bisa dibilang karena adanya pinjam uang dan lama kelama dia tidak bisa mengembalikan uangnya sehingga usaha miliknya resmi aku beli, dan aku yang meneruskan bisnisnya itu.
"Apa kamu masih suka kontak dengan Jasmin?" tanya Mas Aarav lagi seolah ada harapan yang ingin bertemu dengan Mimin.
"Tidak, terakhir dengar kabar dia menjalin kasih dengan anak dosen, tapi nggak dapat restu, dan dari situ Mimin pergi lagi. Tapi kan itu sudah lama banget Mas lebih dari sepuluh tahun yang lalu kayaknya. Usia Lydia saat ini saja sudah tiga puluh enam kenal Mimi kalau nggak salah sekitar umur dua tiga atau dua empat gitu, udah lama banget lah. Dan teman-teman juga kayakanya hilang kontak dengan dia," balasku dengan jujur.
"Mas Aarav masih cinta sama Mimin?" tanyaku, mengingat wajah suamiku berbeda.
"Kayaknya bukan cinta deh, tapi lebih teringat kenangan dia, yang ceria dan baik, tapi tiba-tiba dia diterpa masalah yang berat banget, jadi kasihan dengan mental dia. Aku tahu jadi dia itu berat banget. Apalagi dia berasal dari kelaurga kaya raya, dan juga papah dan mamahnya adalah orang yang baik, tapi tidak menyangka kalau papahnya bisa selingkuh dan memilih selingkuhanya dari pada istrinya sendiri." Terlihat sekali dari cerita mas suami permasalah Mimin memang sangat berat. Pantas saja selama aku kenal dia seperti depresi berat. Mungkin dia sudah berusaha kuat tapi mungkin mental dia tidak sanggup menghadapi cobaan yang sangat berat.
Tidak heran kalau dia tiba-tiba depresi, apalagi dia tidak ada pegangan hidup selain ibunya, tetapi justru sang ibu juga berpulang di saat hatinya masih hancur karena permasalahan ayahnya.
__ADS_1
"Jujur, Lydia baru tahu kisah Mimin sebegitu menyedihkanya saat ini. Selain dia cukup tertutup dia juga tidak banyak orang yang kenal dekat, dia cukup tertutup baik sama Lydia maupun sama teman yang hanya sebatas teman menyapa, hubungan Lydia sama Mimin juga awalnya karena hutang piutang, sampai dia gak bisa bayar hutang jadi usaha dia Lydia bayarin. Itu awal mulai Lydia punya usah tempat GYM dari Mimin dan berkembang jadi ada tiga cabang."
Aku bahkan jadi merasa berdosa karena dulu dia pernah ingin meminjam uang lagi untuk berobat, tetapi aku tolak. Apalagi memang uang tabungan aku habis untuk membayar sisa pembelian tempat fitness miliknya. Jadi aku kepikiran apakah Mimin udah sembuh atau justru sudah kembali pada Sang Pemilik Sesungguhnya.
Sejak saat itu dia terlibat gosip pacaran tanpa restu dan tiba-tiba menghilang lagi, sampai sekarang aku tidak tahu kabar wanita yang menjadi kisah cinta pertama mas suami.
"Udah yuk istirahat saja." Kini gantian Mas Aarav yang meminta segera beristirahat. Namun justru pikiranku jadi tidak tenang.
Bisa aku lihat kalau Mas suami itu masih ada harapan bertemu dengan Mimin. Aku pun mengikuti Mas suami, dan tanpa sepengetahuan mas suami aku bertanya pada grup teman kuliahku dulu tentang Mimin, mungkin saja teman-temanku ada yang tahu tentang kabar Mimin, bukan ingin menggali masalah hanya penasaran saja, apakah Mimin sudah sembuh atau justru dia sudah berpulang.
Malam ini aku masih terbayang-bayang wajah mas suami sedih ketika aku berkisah masalah mantan kekasihnya. Justru aku lebih melihat mas suami masih mengharapkan Mimin dari pada Mbak Siska. Kalau Mbak Siska justru mas suami seolah malas membahasnya beda ketika dengan Jasmin mas suami lebih semangat dan bahkan ingin tahu sampai sekarang kondisi dan keadaanya.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul satu dini hari, tetapi aku tidak sedikit pun ada rasa mengantuk menghampiriku. Aku masih terpikirkn dengan Mimin dan mas Aarav. "Ya Tuhan, ayo datangkanlah rasa ngantuk, agar aku bisa tidur besok ada pertemuan dengan karyawan Mas Aarav, bagaimana kalau aku malah nanti kurang istirahat selain wajahnya lesu juga pasti ngantuk," batinku dengan dengan menatap mas suami yang sudah tertidur pulas.
Aku tatap wajah teduh mas suami, yang tampan. Wajar banyak wanita yang jatuh cinta dengan mas suami, selain tampan dia juga mapan. Namun justru kisah pertemuan singkat ini mengantarkan aku yang menjadi teman tidurnya.
__ADS_1