
"Pa, berhenti dulu!" ucap Mami Misel menepuk pelan pundak sang sopir, ketika melewati pedagang kaki lima yang berderet di pinggir jalan.
"Mau beli apa lagi Mih?" tanya Lydia yang sudah tidak sabar ingin sampai ke rumah untuk memberikan kabar gembira. Namun, sang mertua nampaknya kembali berhenti untuk membeli sesuatu.
"Itu di depan ada tukang rujak bebek, takut kamu atau Aarav mau. Biasanya kalau lagi hamil suka sama rujak." Mami Misel menunjuk penjual rujak bebek.
"Tidak Mih, Lydia tidak ingin rujak, lagian ini kan sudah ada rujak, Mami juga sudah beli buah-buahan untuk bahan rujak, kalau mau nanti bisa bikin sendiri," balas Lydia yang entah mertuanya meminta berhenti untuk keberapa kali. Bahkan mungkin setiap ada yang jual rujak atau apalah, selalu meminta untuk berhenti. Seolah wanita paruh paya itu yang sedang hamil.
"Hust... itu beda Sayang, kalau yang itu rujak bebek, yang barusan Mami beli itu rujak ulek, dan rujak serut," balas sang bertu sembari turun dari mobil dan bersiap membeli rujak lagi. Padahal namanya rujak sama aja lah, seperti itu kira-kira pemikiran Lydia.
Lydia hanya bisa mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan sang mertua. Ia tidak memungkiri rasanya sangat bahagia, ketika barus saja dokter mengatakan kalau dirinya sudah dipastikan hamil, dan semuanya sehat-sehat saja. Allah memang maha tahu kapan dirinya siap untuk menerima kabar bahagia ini. Mungkin ketika ia hamil kemarin-kemarin pasti akan sangat melelahkan karena banyak urusan yang harus dia kerjakan. Belum petugas dinas sosial yang bolak balik datang ke rumah untuk memastikan kalau Iko memang terawat dengan baik. Andai ia hamil saat itu, kemungkin hak adopsi mungkin akan dibatalkan karena dianggap nanti bakal tidak bisa mengasuh Iko dengan baik.
Rasa bahagia nyatanya tidak hanya Lydia rasakan bahkan sang mertua pun tidak kalah bahagia, malah sangat antusias. Entah berapa kali Mami Misel menanyakan pada sang menantu ingin makan apa. Karena orang hamil bisanya akan ngidam dan Mami Misel takut kalau Lydia ingin sesuatu dan malu untuk mengatakanya. Tapi memang Lydia sendiri tidak merasakan apa-apa, bahkan dia biasa saja seperti tidak merasakan hamil.
Wajah bahagia terlihat dari wanita paruh baya yang tengah berjalan ke arah mobil dengan membawa dua kantong pelastik. Tangan Mami diangkat dengan tujuan ingin menunjukkan pada sang menantu kalau sudah dapat rujak. Lydia sendiri hanya terkekeh, bahkan di dalam mobil entah sudah berapa banyak makanan yang dibeli oleh sang mertua, alasanya takut ia atau Aarav ingin. Yah, Lydia jadi mengira kalau yang mengidam kayaknya sang Mami Mertua, bukan dirinya.
"Mih, kenapa belinya banyak sekali, emang siapa yang mau makan?" tanya Lydia dengan nada yang lirih agar sang mertua tidak tersinggung.
"Kamu, dan Aarav kan kalian yang hamil, dulu saat Mami hamil sangat senang makan-makan yang seperti ini, pasti kamu juga nanti seperti itu," jawab Mami Misel dengan santai.
"Sebanyak ini?" Lydia menunjuk satu bangku di belakang dirinya yang sudah penuh oleh jajanan hasil buruan sang mertua.
"Astaga Lydia, emang Mami sudah beli makanan segini banyak?" tanya Mami Misel yang nampak kaget dengan perbuatan dia sendiri.
Senyum kembali terkembang dari bibir wanita berhijab itu, setelah melihat sang mertua yang kini justru bergantian kaget karena tidak menyangka kalau dirinya sudah membeli segala jenis makanan, sampai banyak di bangku belakang.
"Kalau tidak habis, nanti bagi-bagi saja dengan orang-orang di rumah," balas Mami Misel, dan sekarang mereka benar-benar pulang ke rumah. Yang mana tadi izin pada Aarav kalau akan keluar hanya sebentar. Nyatanya sudah lebih dari dua jam belum kembali juga.
"Lydia tadi kotak kado punya Mami yang mana?" tanya Mami Misel, wanita paruh baya itu benar-benar sangat antusias ketika mengetahu sang menantu hamil. Bahkan Mami Misel tidak mau ketinggalan ketika Lydia membuat kado untuk sang suami. Mami Misel pun sama membuat kado untuk sang calon kakek.
"Ini punya Mami yang tulisanya Hallo Opa, kalau punya Lydia kan Hallo Dady." Lydia memberikan satu kotak kado punya Mami Misel dan satu dipegang sama dia sendiri.
__ADS_1
"Ah, iya Mamih sampai lupa. Awas nanti kalau salah kasih bisa-bisa Papah mengira kalau Mami hamil lagi."
"Tidak apa-apa Mih, kan biar rame dapet cucu dapat anak juga," balas Lydia sembari terkekeh.
"Apaan sih kamu, yang benar saja cucu Mamih udah banyak masa mau punya anak lagi, lebih baik kalian yang punya anak banyak, Mami dan Papi bagian jaga saja."
"Siap...." Lydia pun sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan pada sang suami. Sehingga begitu sampai rumah ia langsung mencari Aarav.
"Bi, tolong makanan yang ada di mobil keluarkan dan siapkan sebagian dan sebagian lagi bagi-bagi yah," ucap Mami Misel dan wanita paruh baya itu pun sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana reaksi sang putra yang pada akhirnya penantian panjangnya bisa membuahkan hasil. Dulu saat pernikahan pertamanya tidak berhasil mendapatkan keturunan dan saat ini di pernikahan kedua baru mendapatkan kepercayaan, pasti sangat bahagia.
"Mih, Lydia masuk ke kamar dulu yah, kayaknya Mas Aarav dan Iko sudah masuk ke kamar. Di taman belakang tidak ada," pamit Lydia, setelah ia mengecek anak dan suaminya di taman belakang, tetapi tidak ada, dan besar kemungkinan pasti ada di kamar.
Lydia langsung membuka pintu kamarnya setelah sang Mertua memberikan anggukan sebagai tanda setuju. Pemandangan yang sangat menyejukkan mata di mana Iko sedang bobo dengan ditemani sang Papah.
"Maaf Mas, Lydia baru pulang, Iko rewel tidak?" tanya Lydia dengan meletakan tas selempangnya di atas nakas.
"Astaga Sayang kamu dari mana saja? Iko cari-cari kamu terus, bahkan sampai dia tidur masih cari bundanya," balas Aarav dengan suara yang dikecilkan. Padahal itu alasan Aarav saja nyatanya yang cari-cari Lydia pasti papahnya.
"Iya Maaf tadi ada urusan sebentar dengan Mami Misel, dan ini juga baru selesai." Lydia mencium sang putra yang sebentar lagi akan menjadi Kakak.
"Udah tidak usah, sini duduk! Lydia ada kado untuk Mas. Ke luar rumah lama, juga bukan karena Mami, tapi karena Lydia. Jadi kalau Mas mau marah silahkan marah ke Lydia saja," balas Lydia dengan suara yang lembut.
Aarav pun tidak jadi ke luar kamar dan hendak berprotes pada mamihnya. Laki-laki itu mengikuti apa kata sang istri duduk kembali di samping Lydia.
"Emang kamu dari mana kenapa bisa lama sekali?" tanya Aarav kali ini nada bicaranya jangan ditanya sangat lembut dan tidak seperti sebelumnya menggebu-gebu nahan marah.
Lydia justru tidak menjawab, dan malah memilih membuka tas selempangnya dan mengeluarkan kado yang sudah disiapkan untu suami tercinta. "Untuk Mas." Wanita berhijab itu memberika kado yang sudah dibungkus dengan sederhana.
Kali ini Aarav yang nampak bingung ketika melihat sang istri benar-benar memberikan kado. Ia tadi mengira kalau maminya akan memberikan kado itu hanya bohongan agar dirinya mengizinkan Lydia menemani sang mami.
"Tunggu, kamu kasih kado dalam rangka apa? Hari ini Mas ingat-ingat tidak ada yang sepesial," tanya Aarav justru tidak langsung mengambil kado yang ada di hadapanya.
__ADS_1
"Tidak ada, emang kalau mau kasih kado harus ada hari sepesial?" tanya balik Lydia, dan Aarav membalas dengan gelengan kepala.
"Tidak sih, tapi setidaknya kasih tahu dulu kalau mau kasih kado biar Mas juga belikan sesuatu untuk kamu."
"Kalau kaya gitu, tidak sepesial dong. Kalau ini kan spesial dan Mas pasti suka, buka." Lydia kembali mendorong kado yang ada di tangannya agar Mas suami mengambil dan segera membukanya.
Aarav pun dengan ragu mengambil kado yang ada di tangan sang istri.
"Ini beneran buat Mas?" tanya Aarav ulang untuk memastikan lagi.
"Beneran Mas, masa Lydia bohong, buka deh."
Kini dengan perlahan Aarav pun membuka kado yang tidak terlalu besar.
Hah.... Kedua mata Aarav melebar sempurna dan kini menatap Lydia seolah bertanya lewat sorot matanya.
Dan Lydia mengangguk dengan pelan sebagai jawaban.
Yes!!!
Parankkkk.... Pyarrrrr....
Huaaa... suara tangisan Iko.
"Aarav kamu kenapa?" Mami Misel langsung masuk ke kamar sang anak.
"Ya Tuhan ini kenapa?"
"Maaf Mih, diluar prediksi BMKG!"
#Nah loh, Aarav kamu ngapain.....
__ADS_1
Bersambung...
...****************...