
"Aku senang banget Min, akhirnya aku bisa lihat kamu bersemangat untuk sembuh lagi, tidak sia-sia kami membawa kamu ke rumah sakit ini. Aku yakin nantinya kamu adalah pasien kesekian yang bisa bersih dari sel kangker. Oh iya, aku juga bersyukur banget karena kamu akhirnya memiliki dokter yang benar-benar nyaman untuk berkonsultasi. Aku berharap setelah nanti banyak tenaga medis yang membantu kamu untuk sembuh, kamu juga bersemangat untuk menjalani serangkaian pengobatan ini, agar kamu cepat sembuh. Kamu tadi ingatkankan dokter Doni bilang apa, obat paling mujarab dari sakit apapun hanya satu yaitu semangat dari pasien untuk sembuh. Kamu ingat cerita Alzam yang mana dia mengindap kangker ganas yang dalam hitungan sebentar bisa saja menghilangkan nyawanya karena perkembangan jenis sel kangker yang dia indap cukup cepat dan menyerangnya organ fital, tetapi berkat semangatnya hingga sembuh dalam hitungan satu tahun dokter sudah merngatakan kalau dia sudah bersih dari sel kanker, aku salut dengan dia," ucapku sembari menemani Mimin untuk makan siang, di mana dokter Sera sendiri sudah meminta izin padaku untuk ia pulang dan nanti anaknya yang akan bergantian menjaga Mimin, setelah ini aku akan meminta izin dengan mas suami untuk meminta perawat khusus untuk menjaga Mimin, agar tidak terlalu merepotkan dokter Sera dan juga putrinya.
Aku lihat Mimin mengembangkan senyumnya dengan manis, bahkan aku saat ini melihat Mimin seperti yang dulu, yang penuh semangat dan juga pantang menyerah.
"Aku mau sembuh Lyd, aku mau menjaga Tiko, terima kasih kamu sudah membawa aku ke rumah sakit ini, aku janji kalau aku tidak akan mengecewakan kalian, aku janji aku pasti akan sembuh. Aku akan semangat demi Tiko," balas Mimin dengan mata berkaca-kaca.
Aku pun langsung memeluk Mimin yang aku tahu dia itu hanya butuh dukungan dari kita semua. "Aku sangat senang karena kamu bisa punya semangat yang segini hebatnya. Pasti Tiko bangga, oh iya nanti aku akan pulang dan setelah anak dari dokter Sera datang pastinya, dan untuk datang lagi menjenguk kamu atau malah menemani kamu melakukan terapi seperti yang dokter Doni katakan, sepertinya aku tidak bisa menemani kamu, tetapi aku nanti akan coba bicara dengan Mas Aarav untuk carikan perawat untuk kamu agar menemani kamu, kasihan kalau bergantung terus dengan dokter Sera meskipun mereka tidak keberatan, tetapi takutnya ada kegiatan lain yang jauh lebih penting nanti malah jadi merepotkan."
"Terima kasih Lyd, kamu dari dulu memang teman terbaikku, aku nanti pasti akan balas semua kebaikan kamu," jawab Mimin dengan mengusap punggungku yang mana saat ini kamu masih berpelukan.
"Yah, memang kamu harus bayar ini semua, tetapi bayar dengan kesembuhan kamu, kalau kamu sembuh aku saangat bahagian karena itu tandanya perjuanganku tidak sia-sia. Dan Tiko juga akan aman di tangan kamu, bukan aku tidak mau menjaga anak kamu, tetapi sebaik-baiknya tempat berlindung untuk buah hati adalah orang tuanya, dan itu adalah kamu."
"Aku janji akan menunjukan pada Iko kalau dia memiliki seorang ibu yang sangat kuat seorang ibu yang tidak pernah menyerah meskipun hampir semua orang mungkin menatapku jijik, tetapi suatu saat aku bisa bercerita pada Iko saat dia besar nanti bahwa ibunya adalah wanita kuat." Dari cara berbicara Mimin aku bisa lihat kalau dia cukup memiliki sakut hati yang sangat dalam pantas saja dia stres, dan mengkibatkan berberapa sakit datang.
"Aku akan tunggu hari itu tiba, dan aku sebagai saksi bahwa kamu adalah wanita yang sangat hebat," ucapku sembari terus menyuapi Mimin.
__ADS_1
"Sebentar lagi lebaran ayo kamu cepat sehat dan lebaran bisa kumpul bersama," ucapku lagi memberikan semangat untuk sahabatku.
Kali ini malah aku melihat Mimin seperti murung, hingga aku bingung apa ada yang salah yang barusan aku ucapkan.
"Min, kamu kenapa? Apa ada hal yang salah yang aku katakan sehingga membuat kamu bersedih?" tanyaku sembari mengusap punggung tangan ibu satu anak itu.
Mimin menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak ada Lyd, aku hanya keingat almarhum ibu aku, hal paling terberat dalam hidupku adalah saat kehilangan Ibu, aku sampai seperti orang gila, stres dan depresi karena tiba-tiba ditinggalkan seorang diri di dunia ini. Dan sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan papah dan juga abangku, sekali pun dia datang kepadaku untuk meminta maaf aku tidak akan pernah memaafkan kecuali mereka kembalikan ibuku hingga hidup lagi, itu adalah janjiku di hadapan jasad ibuku, dan ketika lebaran datang itu adalah masa di mana aku benar-benar merasakan hidup yang sangat sedih, aku benci saat itu datang, di mana orang berkumpul dengan orang terkasihnya sedangkan aku sampai saat ini tidak tahu siapakah orang yang terkasih yang bisa membuat aku bahagia, dan tidak benci lagi ketika lebaran akan datang."
"Aku tidak perah berhenti berdoa mudah-mudahan kamu suatu saat nanti akan merindukan hari itu akan tiba, dan di hari raya kamu akan menemukan arti kebersamaan yang tidak pernah kamu rasakan, mungkin tidak hari ini, tetapi mungkin nanti atau bahkan tahun depan." Aku mencoba menghibur Mimin, hingga tidak kerasa makanan yang sebelumnya Mimin sangat sulit untuk makan, karena asik bercerita hingga tidak sadar habis juga.
"Amin, mudah-mudahan saja aku bisa seperti kamu dapat suami yang sangat baik dan pengertian, Aarav memang baik kamu pantas mendapatkannya."
Deg!!
__ADS_1
Aku pun cukup terkejut dengan ucapan Mimin. Bukankah Mimin tidak kenal Mas Aarav, tetapi kenapa bisa tahu kalau suamiku orang baik?
"Kamu pasti bingung kenapa aku bisa kenal dengan suami kamu, dan kemarin aku seolah tidak kenal dengan Aarav?" tanya Mimin kali ini dengan wajah yang cukup serius.
Dan aku pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Mimin. Ya iya lah aku penasaran banget pasalnya aku sudah mengira kalau Mimin teman aku bukan Mimin mantan kekasih mas suami.
"Yah, mungkin setelah aku bercerita, kamu wajib beri aku apresiasi, karena aku nyatanya masih punya sisi baik," kelakar Mimi, lagi dan lagi aku melihat seperti Mimin yang dulu di mana kalau berbicara selalu serius, tetapi tiba-tiba ada candaan di dalamnya.
"Yah mungkin setelah aku tahu alasan mulia kamu besok-besok kalau aku datang ke sini akan bawakan balon warna pink buat teman kamu tidur," balasku dengan membuang pandangan.
"Yah, aku hanya ingin menjaga perasaan kamu saja, aku tahu kalau aku langsung tahu kalau Aarav adalah teman lamaku pasti kami akan teribat obrolan yang tidak terlalu penting dan bisa saja kami mengacuhkan kamu sehingga kamu berpikir yang tidak tidak. Itu sebabnya aku lebih baik berpura-pura tidak kenal, toh yang aku butuhkan bukan Aarav tetapi kamu," ucap Mimin yang langsung membuat aku terharu rasanya air mata ini ingin bermain perosotan.
Bersambung...
#Biarin othor kerjain Mbak Lydia nangis sepanjang episode...
__ADS_1