
Gibran masih penasaran siapa Laura yang disebut Tania,ada perasaan senang saat Tania menyebut nama itu.
Melewati jalan panjang Gibran sangat merasa lelah karena Varo tidak mau menggantikan Nya saat menyetir.Akhirnya mereka Tiba dikediaman keluarga Mahardika.
Langsung disambut Bunda Bella yang sudah diberitahu sebelumnya kepulangan mereka.
Tania turun menyusul dibelakang Varo.
"Bunda sapa Tania",Mendekat kearah Bella lalu memeluknya sekilas.
"Langsung beristirahatlah,kalian pasti lelahkan".
Tania mengangguk setuju dan menyusul Varo yamg sudah duluan naik tangga.
"Apa terjadi sesuatu,kenapa kalian pulang lebih cepat??"Tanya Bella pada Gibran
"Hmmmm,Cerita nya panjang Bunda,Nanti Gibran ceritain ya ,moga aja Bunda bisa bantu dua pasutru itu".Gibran sangat mengantuk sekali
"Wah ada masalah serius ini,oke cepatlah beristirahat nanti jangan lupa temuin bunda".
Gibran mengacungkan jempolnya setuju.
Didalam kamar Varo langsung menuju kamar mandi dan masih mengabaikan Istrinya.
__ADS_1
Tania terlihat murung.
"Apa dia sangat marah padaku,hiks tapi apa kesalahanku"bathin Tania.
Varo melihat Tania yang masih duduk didepan cermin.mencepol rambutnya keatas menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus.
"Akh ingin sekali memeluknya dan mencium leher jenjangnya itu seperti yang sering aku lakukan"Jerit bathin Varo melihat Tania ia juga tersiksa saat ini menahan untuk tidak bicara pada istrinya.
Tania merasa varo sedang memperhatikan gerak geriknya.dengan cepat memalingkan wajahnya kearah Varo dan mata merekapun bertemu.
"Masih tidak mau berbicara padaku?"tanya Tania
Varo tersadar lalu menggeleng.
Tania menarik nafas panjang dan berlalu kekamar mandi.
Lelah kerena perjalanan dan juga pikiran dengan cepat Tania tertidur.Varo ragu mendekati istrinya takut saja kalau Tania hanya berpura-pura tidur.ia masih mau menghukum istri tersayangnya itu.
Dengan perlahan Varo pun naik diatas ranjang dan tidur memunggungi Tania.
Tanpa terasa waktu pagi pun tiba sinar matahari masuk dari celah korden yang terbuka.Tania meregangkan otot tangannya diatas perutnya terasa berat ia pun membuka matanya dan melihat tangan Varo melingkar sempurna memeluknya.
Tania tersenyum senang.perlahan membalikan badannya menatap wajah suaminya.
__ADS_1
"Tampan"Ucapnya pelan Tania tidak mau Varo terbangun dengan suaranya ia masih betah memandangi suaminya itu.
"Kita perlu bicara banyak,aku butuh alasan dan penjelasan padamu,kenapa Cuekin istrimu ini"Gumam Tania masih dengan suara pelan ia masih ingin berlama-lama memandangi suami tercintanya.
Varo mendengar semua yang diucapkan Tania,karena merasa sedikit canggung telah memeluk istrinya ia berpura-pura masih tertidur.andai saja ia sedang tidak kesal sudah langsung memberikan istrinya itu morning kiss.
Tania merasa ada yang aneh dengan perutnya ada rasa mual yang tidak biasa kepalanya juga mulai pusing.
"Aku mau muntah".Tania dengan cepat berlari kekamar mandi dan.....
"huekk,huekkkk,huekkkkk" Tania memuntahkan semua isi perutnya.
Varo pun khawatir dengan istrinya.
"Ahhh,lupakan dulu hukumannya,aku harus memastikan istriku baik-baik saja"Akhirnya Varo menyusul Tania kekamar mandi.
"Sayang kamu Muntah,mana yang sakit ".Varo melihat kondisi Tania pucat membuat ia panik.
Tania tidak bisa menjawab karena ia masih merasa mual dan pusing.Sedetik kemudian ia pingsan,membuat Varo semakin panik dan menggendong Tania ketempat tidur.
"Sayang bangun lah,jangan membuatku takut".Varo menghubungi Gibran dan memberitahu keadaan istrinya.
Gibran langsung menghubungi dokter keluarga mereka dan memberitahukan Semua anggota keluarga.
__ADS_1
Dan pagi itu membuat satu rumah itu panik mendengar kabar Tania.
Author : Nah Tania kenapa ya??๐ค hayo ada yang bisa nebak ๐kita tunggu diagnosis dokter selanjutnya ya๐