
Keesokan harinya Varo menepati janjinya untuk menemui Mama Rosi untuk terakhir kali nya.awalnya ia ragu untuk membawa serta istri dan anaknya.setelah berpikir panjang dan Tania meminta untuk tetap ikut akhirnya Varo menyetujuinya.Bukan tanpa alasan karena Varo ada kekhawatiran,kejadian lalu terulang lagi dan bisa mengancam anak Dan istrinya.
"Atur jarak aman untuk Zain dan Tania dari jangkauan Rosi"Pesan bunda Bella pada Varo.
"Aku juga ikut bersama kalian"Gibran datang dengan tergesa-gesa.
"Ayo kita berangkat sekarang"varo membuka pintu mobil buat istrinya yang sedang menggendong Zain anaknya.
Petugas lapas sudah menunggu kedatangan mereka.
Varo turun perlahan dari mobil dan memasuki ruangan khusus untuk dia bertemu dengan mama nya.
Kesan pertama saat melihat Mamanya Varo merasakan kesedihan yang sangat dalam mama nya terlihat kurus dan putus asa.bagaimanapun wanita ini adalah ibu kandung yang melahirkannya.
"Ma......"sapa Varo pelan
Rosi mengangkat wajahnya dan menyadari Anak yang selalu ia harapkan mengunjunginya disaat-saat terakhirnya.
tanpa meminta persetujuan varo mendekap anaknya Kuat dan menangis.
"Maafin mama Varo,Hiks hiks hiks hiks"Suara Rosi sesegukan
Varo masih diam dan menyiapkan hatinya untuk bisa memaafkan Mamanya.
Tania meminta Gibran untuk menggendong Zain dan mendekati Varo dan mama mertuanya.
"Tania,,,apa sebaiknya jangan mendekati mereka dulu"Gibran mencoba mencegah Tania.
Namun Tania tetap mendekati Varo dan memeluk Varo dan Rosi.
"Ma....Kami semua sudah memaafkan Mama"Tania ikut menangis ia tidak pernah dendam terhadap Mama Mertuanya.
__ADS_1
"Tania,,Mama banyak bersalah padamu,seandainya mama bisa kembali kemasa lalu mama tidak ingin menyakiti kalian semua"Suara mama Rosi terdengar tulus
Varo pun mengeluarkan air mata mendengar ucapan Mamanya.
Varo melepas pelukannya.
"Ma lihat siapa disana???"Menunjuk putranya yang digendong Gibran
Rosi dengan mata yang masih berkaca-kaca melihat kearah yang ditunjuk Varo dan tersenyum penuh haru.
"Itu pasti cucuku kan"Tebak mama Rosi
"Iya dia Cucu pertama mama"Varo mengambil Zain dan mendekatkan putranya.
"Varo berhati-hatilah"Gibran merasa was-was
"Aku yakin mamaku sudah berubah Bran"Ucap Varo yakin
Mama Rosi meminta Zain untuk di berikan kepadanya.
"Cucu nenek yang ganteng,sama seperti Ayahnya juga mirip sekali dengan kakeknya"Rosi mengeluarkan kata-kata didalam hatinya.dan air matanya mengalir lagi.
"Nenek pasti sangat merindukan mu"Terus menghujani pipi Zain dengan ciumannya.
Zain merasa nyaman dipelukan neneknya.
Varo dan Tania merasa bahagia melihat perubahan mama Rosi.
"Tania jaga cucuku dengan baik ya,besarkan ia dengan kasih sayang dan kamu Varo jangan terlalu sibuk bekerja hingga lupa kebersamaan dengan Anakmu"Rosi memberi nasihat
"Kami janji ma,,,"Jawab Varo dan Tania bersamaan
__ADS_1
"Nah sekarang nenek bisa pergi dengan tenang"bisiknya ditelinga Zain
Rosi merasakan pusing dikepalanya dengan cepat ia menyerahkan Zain ketangan Tania.
Selang beberapa menit tubuh Rosi ambruk kelantai.
Varo panik melihat tubuh mamanya tersungkur dan mencoba memerikasa keadaan mamanya.
Gibran dengan cepat memanggil Petugas untuk memeriksa keadaan Rosi.
"Ma,,sadarlah"
"Ma,,kumohon buka matamu"
Varo memeriksa denyut nadi Rosi dan wajahnya pucat seketika.
"Varo,,"Tania menyentuh pundak suaminya
Varo terus menangis menyadari mamanya sudah tiada.
"Tidak terjadi apa-apakan sama mama"Tania juga merasa khawatir
Petugas datang dan memerikasa keadaan Rosi.
"Beliau sudah meninggal dunia".
Ucap petugas setelah memerikasa keadaan Rosi.
"Varo yang tabah"Gibran mendekati sahabatnya yang masih memegang tangan mamanya erat.
Tania terlihat syok dan airmatanya mengalir deras.
__ADS_1
"Ma....Sebenarnya kami berniat membebaskan mama hari ini dari tuntutan hukuman mati,Kenapa mama pergi meninggalkan kami dengan cara seperti ini"
Bathin Varo