
Hampir dua hari Tania menginap dirumah sakit dan kondisinya pasca melahirkan sudah mulai berangsur pulih.
"Hari ini anak dan istri ku sudah boleh pulang ya Dok?"dengan mimik wajah serius varo bertanya pada dokter Sarah yang baru masuk keruangan Tania.
"Aku periksa dulu keadaan Tania,kalau memungkinkan kalian bisa pulang hari ini."Dokter Sarah mulai memeriksa keseluruhan keadaan Tania.dan ia tersenyum senang.
"Gimana Dok?"tanya Varo lagi setelah Dokter Sarah selesai memeriksa Tania.
"Tania boleh pulang hari ini".jawab Dokter Sarah
Varo dan Tania tampak bahagia mendengar ucapan Dokter Sarah.mereka sudah tidak sabar untuk pulang.
"Kalau begitu Dokter tinggal dulu ya,mau kepasien sebelah,"Pamit Dokter Sarah
"Terima kasih Dokter Sarah,"Ucap Tania tersenyum ramah.
Dibalas Anggukan dan senyum dari Dokter Sarah dan ia pun berlalu pergi.
Varo langsung menghubungi Gibran untuk menjemputnya.sambil menuggu Varo mulai mengemas semua perlengkapan Tania untuk dibawa pulang.
Sekitar lima belas menit Gibran tiba dirumah sakit.dengan dibantu para suster Tania dan bayinya memasuki mobil.Zain terlihat tidur nyenyak digendongan Ayahnya.mereka pun langsung menuju kerumah keluarga Mahardika semua keluarga menunggu kepulangan Varo,Tania dan Zain.
Gibran membuka pintu mobil buat Varo dan Tania Bunda Bella melihat kedatangan mereka langsung mendekat dan menggandeng Tania.
"Jalannya hati-hati".Ucap Bunda Bella
__ADS_1
"Iya Bun",
"Kamar Buat Baby Zain udah Bunda siapin,kalau ada Yang kamu kurang suka bisa bilang sama Bunda,nanti kita ubah ya sayang"ucap bunda sepanjang ia menggandeng Tania.
"Apapun yang bunda siapkan,pasti Tania suka Bun".balas Tania ia tidak terlalu mempersoalkan seperti apa Desain kamar buat putranya,ia tau pasti bunda Bella sudah mempersiapkan nya dengan matang.
Saat mereka tiba diruang tamu semua menyambut dengan bahagia.
"Cucu kesayangan udah datang,aku ingin segera menggendongnya"Ucap papa Rendi antusias mendekati anaknya.dan varo pun menyerahkan Zain yang dari tadi digendongannya.
"Tania istirahat lah dulu,pasti kamu masih lemah,Nanti Bunda buatkan sup untukmu".
"Makasih Bun"Tania sangat bersyukur memiliki orang yang menyayangi dirinya.
"Varo antar istri mu kekamar"Perintah kakek pada Varo yang masih asik mencium putranya Zain.
"Sayang tidurlah sebentar,Nanti Zain biar aku yang jaga"Varo membuka selimut dan menidurkan istrinya dengan lembut mengecup sekilas kening Tania.
Terdengar suara tangis Zain dari bawah
"Sayang tunggu sebentar aku mau lihat anak kita dulu"Varo ingin segera beranjak
"Zain mungkin lapar,bawa aja keatas dulu biar aku kasih asi"Ucap Tania sebelum suaminya berlalu.
"Oke sayang,aku ambil Zain dulu ya"Varo pun turun untuk mengambil anaknya.
__ADS_1
Varo melihat Papa Rendi mencoba menenangkannya.
"Mas Rendi sepertinya Zain lapar".ucap Bunda Bella lalu memindahkan Zain dalam gendongannya.
"Aku masih belum puas menggendong cucuku."Protes Rendi saat Bella adiknya mengambil Zain darinya.
"Nanti lagi,Zain pasti lapar nih,Mas Rendi lupa ya saat dulu Varo masih bayi juga seperti ini"Ucap Bella yang membuat Rendi terlihat sedih
"Mana mas tau,soalnya aku sibuk bekerja pada saat itu,bukankah kamu yang merawat Varo,jujur Mas merasa bersalah".Ucap Rendi lirih.
"Maaf mas Rendi,Bella gak bermaksud,,,"Bella merasa tidak nyaman pada Kakaknya ada raut kesedihan diwajahnya.
"Gak apa-apa Bel,setidaknya Mas mau belajar dari kesalahan masa lalu,tidak akan melewatkan momen penting untuk pertumbuhan cucuku ini".ucapan Rendi membuat Varo terharu.
"Makasih Pa"Varo sudah berdiri disamping Papanya.
"Maaf kan papa ya Varo"Papa memeluk anak tunggalnya itu.ia merasa sangat bersalah karena tidak pernah memberikan perhatian pada anaknya karena terlalu sibuk bekerja.
"Sekarang atur Jadwal kerjamu jangan pernah melewatkan momen bersama anakmu,sesibuk apapun itu"pesan Papa Rendi pada Varo.
Varo mengangguk setuju.
Lalu meminta Pada Bunda Bella untuk membawa Zain kepada Tania.
"Hati-Hati bawa anakmu"ucap kakek yang dari tadi hanya jadi pendengar anak dan cucunya berbicara.
__ADS_1
"Iya kek"Varo pun membawa Zain yang masih terdengar suara tangis kecilnya.