Pengorbanan Hari Tania

Pengorbanan Hari Tania
Bab.164


__ADS_3

Dengan pikiran kacau balau Gibran melajukan Mobilnya.


"aku harus belajar ikhlas,asal kamu bahagia dengan keputusan perjodohan orang tua mu aku akan mendukungmu Laura".Gibran berucap sendiri didalam perjalanan air matanya sudah mengalir deras harus merelakan gadis yang ia tunggu selama beberapa tahun harus melepasnya lagi sebelum ia sempat mengatakan perasaannya.


"Akhhhhh,,,,"teriak Gibran lalu menghentikan laju mobilnya dipinggir jalan.


"Aku gak bisa,aku akan jujur tentang perasaan ku,sebelum aku kehilangan kesempatan untuk selamanya"Tekad Gibran dan menghapus air matanya cepat dan menuju kantor Varo.


Dirumah sakit Tante Ina menatap mata suami nya tajam


"Sayang,kenapa menatap ku seperti itu??"Om Bran berpura-pura tidak tau apa dipikiran istrinya sekarang ini.


"Bukankah Daddy tadi setuju untuk perjodohan Laura dan Gibran"Pertanyaan lolos dari mulut Tante Ina.


''Sayang kita bicarakan itu nanti saja ya,aku ingin melihat Laura"Om Bran sengaja mengerjai istrinya


"Daddy!!!!"suara Tante Ina sedikit meninggi


"Ya,Daddy menyetujui ide mommy,bukan Berarti Daddy setuju Putri ku menikah dengan pria itu" Om Bran masih sengaja membuat istrinya kesal.


dan dia ingin sekali tertawa saat melihat ekspresi istrinya sekarang.


"Jadi apa maksud Daddy ingin menikahkan Laura tadi".

__ADS_1


"Ingin cepat juga punya cucu"jawab Om Bran santai


"Terus,,,kenapa Daddy menolak Gibran untuk mendekati Laura"Tante Ina merasa bingung dengan sikap suaminya yang plin plan.


"Karena Daddy ingin memberinya tantangan sebesar apa cintanya pada Laura,ingin lihat perjuangannya mendapatkan hati Putri kesayangan Brandi Wijaya"Ucapan Om Bran membuat Tante Ina merasa bangga sama suaminya.


"Jadi Daddy tadi hanya bersandiwara"Tante Ina meyakinkan tebakannya


"Menurut Mommy,lihat saja nanti aku pastikan Gibran akan melakukan nya,bukankah tadi sudah Daddy bilang,akan mendorongnya mengatakan perasaannya".


"Tapi ucapan Daddy tadi sangat kasar Sekali"Ucap Tante Ina sedih karena ia merasakan gimana perasaan Gibran tadi.


"Ya itulah cara Daddy,gak semudah itu bisa mendapatkan Putri kesayangan ku.harus perlu perjuangan dulu"


"Ayo sudah kita lihat keadaan Laura sekarang"ajak Om Bran


Saat orang tuanya masuk Laura sudah tertidur nyenyak karena efek obat yang ia minum


Varo sudah tiba dikantornya ia membawa Tania dan putranya kekantor.


Tak lama kemudian Gibran juga tiba dengan mata masih sembab dia memilih memakai kaca mata hitam agar orang-orang tidak bertanya kenapa dengan matanya.


Gibran pun segera menyusul Varo yang akan masuk kedalam lift menuju ruangannya.

__ADS_1


"Om Giblan Kenapa pake kaca mata"Tunjuk Zain saat Gibran berada didalam lift.


Varo juga merasa heran karena tidak seperti biasanya.


"Keren kan Om Giblan"Gibran masih menyembunyikan matanya dari tatapan Varo.


Zain hanya mengangguk Setuju.dan Zain kembali fokus ke permen ditangannya.


"Gimana keadaan Laura"tanya Tania


"Tadi sudah minum obat,ku rasa dia tidur sekarang"jawab Gibran


"Semoga dia cepat pulih"doa Tania


"Aku malah berharap dia lebih lama dirumah sakit"Tania sadar Gibran berucap


Varo dan Tania terkejut mendengar ucapan Gibran


"Apa terjadi sesuatu,mengapa kamu mengatakan itu"Varo menepuk punggung Gibran


"Setidaknya itulah kesempatanku untuk bisa bersamanya,sebelum ia menikah dengan pria yang dijodohkan orang tuanya"


Tania menatap Varo bingung bukankah Dia adalah Pria yang di inginkan Tante Ina untuk Laura.

__ADS_1


__ADS_2