
"Rin please bantuin ya",Sarah memohon dengan akting wajah sedihnya
"Enggak"tolak Rini tegas
"Masa kamu tega sama aku"Sarah masih berusaha membujuk sahabatnya
"Resiko nya besar sar!!!!!"geram Rini
"Aku hanya memintamu memberitahukan ku pembunuh bayaran handal itu"Sarah terus membujuk Rini,dan Rini merasa risih.
Dengan terpaksa memberitahu Sarah
"Kamu hubungi aja sendiri,aku gak mau terlibat".
Wajah Sarah sumringah "makasih"Memeluk Rini erat
"Lepasin,,,,,ga bisa nafas nih!!!!!mendorong tubuh Sarah
"iya bawel,,,,"
"Bayarannya gak murah Sar"
"tenang ada ATM bejalan aku"ucap Sarah tersenyum bangga.
Rini hanya menggelengkan kepalanya,ampun dengan sikap Sarah.
Dikantor Varo
Varo masih melihat berkas yang baru saja diberikan Laura dari Ayah Denian.
Laura masih diam memandang Varo,ia ingin berbicara sesuatu tentang rencananya mengajak Tania untuk keluar besok.namun masih ragu.Varo menyadarinya dan bertanya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan padaku"tanya Varo
__ADS_1
Laura sedikit terkejut "Eh iya pak,itu Laura ingin mengajak Tania besok keluar,udah lama kami gak bertemu dan ngobrol lama"ucap Laura ragu - ragu.
Varo sebenarnya sudah mengetahuinya ada rasa ragu dihatinya saat ingin mengijinkan Istrinya untuk keluar dalam kondisi seperti ini.namun ia juga gak sampai hati melarang Tania untuk bertemu sahabatnya.
"Boleh,dengan syarat"ucap Varo
"Syarat pak???"Laura sedikit heran
"Iya aku dan Gibran ikut bersama kalian"
"Ohh,,,gak masalah pak"Laura tak bisa menolak
"oke,lanjutkan pekerjaan mu"
"Pak ada lagi"ucap Laura "Boleh aku mampir kerumah Tania hari ini,aku ingin bertemu dengan Zain"Pinta Laura ragu-ragu
"Tentu saja boleh,ikutlah dengan kami nanti saat pulang"Varo memberi tawaran
"Beneran pak"Laura mencoba meyakinkan
"Yeyyyy terima kasih pak"sorak Laura dan saat bersamaan Gibran memasuki ruangan
Varo hanya tersenyum melihat Laura.
"Senang banget"Tegur Gibran
"Iya lah,mau ketemu si ganteng"Ucap Laura
Gibran salah sangka dia kira yang dimaksud Laura siganteng adalah seorang pria Gibran menatap Varo dengan penuh arti meminta penjelasan.
Varo pun paham dari tatapan Gibran sahabatnya,ada rasa cemburu dimatanya.
dan Varo memilih mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Sesekali ngerjain Gibran"pikir varo karena yang dimaksud Laura si ganteng adalah putranya Zain.
"Laura berikan Berkas ini kembali sama pak Denian,dan sampaikan padanya,habis makan siang nanti aku akan menemui ayahku".perintah Varo
Laura segera mengambil berkasnya dan meninggalkan ruangan tanpa tahu perasaan gibran yang sedang kesal hari ini.
"Apa kamu tahu siapa si ganteng????"tanya Gibran pada Varo saat Laura sudah keluar dari ruangan
"Tanya saja sendiri"jawab Varo cuek dia tertawa didalam hati
"Ayo kita makan siang"ajak Varo pada Gibran
Wajah gibran terlihat gak semangat "Gak selera makan"ucap gibran
Varo tertawa didalam hati dan merasa kasihan juga"yuks mau tau siapa si ganteng,kita makan dulu nanti ku beritahu"Varo memukul pelan pundak Gibran
"Janji"Gibran menatap Varo
Varo ingin rasanya tertawa keras,melihat sikap Gibran.bahwa yang membuat sahabatnya itu cemburu adalah Putranya Zain.
"Mangkanya cepat ungkapkan perasaan terpendam mu itu,sudah bertahun-tahun juga"
"Aku belum berani"Gibran tertunduk
"Seorang Gibran Takut"ejek Varo
"Belum waktu nya aja"Gibran mencari alasan
"Gerak cepat sebelum keduluan pria lain"Varo sengaja menakuti Gibran.
"Tau ahhhhh,,,"Gibran mengacak rambutnya kesal
"Heii,,mana jurus rayuan Gibran,bukan kah Viona juga sempat terpincut olehmu".
__ADS_1
"hehehehe,,aku sudah mencoba namun ga berhasil pada Laura"Lirih Gibran
"Berusaha lah,aku mendukungmu"Varo memberi semangat