
Setelah meeting selesai dan Varo juga mengajak Istri dan Putranya makan siang.
"Mau pulang"Tawar Varo
"Boleh kah aku menjenguk Laura lagi"Tania memohon dan bergelut manja pada suaminya.
"Boleh"Varo tersenyum penuh arti
"Asal ada syaratnya"Makin tersenyum penuh kemenangan
"Kok ada syaratnya"
"Batalin Tidur seminggu sama Zain"bisik Varo
"Lho,,,,Ayahnya Zain kok pelit banget sama anak sendiri"desis Tania
"Bukannya pelit,kamu sudah seharian bersamanya,malam adalah giliran ku bersama mu"protes varo
Tania tertawa dan menutup mulutnya mendengar ucapan suaminya.
"Tapi bersama anakku,setidaknya aku lebih tidur nyenyak dari pada bersama ayahnya,yang selalu mengganggu tidur malam ku"
"Ayolah sayang,kita mau buat Sikembar dan adik-adiknya kan"Tania memperhatikan para karyawan yang mencuri pandang kearahnya yang lagi bisik-bisikan sama CEO mereka.
__ADS_1
Tania mencubit kecil pinggang suaminya"Auuuuuuu"Ringis Varo
"Aku sedang memberi hukuman padamu,siapa suruh tadi ngetawain aku"Tania memasang wajah serius
Varo gak kehabisan akal"okey,aku gak ngijinin kamu jenguk Laura"Varo merasa alasan ini bisa membuat Tania berubah pikiran,Seringai licik tersungging di bibir Varo.
"isssshhhhhh,curang"desis Tania
"Aku udah janji pada putramu,kamu mau dia kecewa".Tania merasa kalah telak
"Kita tetap tidur bersama nya malam ini,tapi hari-hari berikutnya biarkan dia mandiri"Bisik Varo lagi.
"Ayah sama mama bicala telus,Zain lapal nih"dengan muka gemasnya membuat Varo dan Tania langsung menciumnya bersamaan.
"Kacian anak ayah udah laper ya,sini Ayah suapin Zain".Varo mengambil mangkuk sup milik Zain dan memberinya suapan perlahan.
Gibran masih sibuk dengan beberapa tugas yang seharusnya menjadi tugas Laura harus ia kerjakan selama Laura dalam masa pemulihan,Gibran tidak merasa keberatan karena ia adalah sosok yang bertanggung jawab dan sangat ahli dalam semua bidang hanya saja bidang cinta ia agak lemah hehehehe
Tekad nya sudah bulat hari ini ia akan mengungkapkan perasaanya dengan berpegang pada ucapan Tania "Sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan untuk maju"Gibran tersenyum senang mengulang ucapan Tania tadi.
Setelah merapikan beberapa berkas Gibran bersiap beristirahat sebentar untuk mengisi perutnya yang sudah berdendang sejak tadi menandakan lapar.
Dirumah sakit Laura nampak murung,entah kenapa pikirannya hanya Gibran,terbiasa di suapin saat makan membuatnya merindukan sosok Pria tampan itu.
__ADS_1
"Aku jadi terbiasa dengan kehadirannya,tapi tetap aja perasaan ini salah.aku akan segera dijodohkan dan tidak boleh memilik rasa terhadap pria lain selain suamiku kelak"Pikiran Laura melayang jauh ia menyadari ada desiran dihatinya saat berada dekat dengan Gibran namun mencoba membuangnya jauh-jauh agar tidak terluka akhirnya.
Tante Ina merasakan kegundahan putrinya
"Laura makan siangnya udah mulai dingin,mommy suapin ya"Lamunan Laura Buyar mendengar suara nyaring Mommi nya
"Daddy mana mom?"melihat keseluruh ruangan tidak menemukan keberadaan Daddy nya.
"Ada sedikit Masalah dikantor dan Daddy harus menyelesaikannya segera".
"Mom,,,Laura belum laper"Tolaknya saat satu sendokan ingin Tante ina daratkan dimulut putrinya.
"Kamu harus minum obat sayang biar cepat sembuh,ayo sedikit saja cicipin makanannya"Tante Ina mencoba membujuk Laura.
Laura tetap menggelengkan kepalanya."dimana ponselmu"Tanya Tante Ina
"ditas Mom,untuk apa Mom"
"Menghubungi Gibran dan meminta nya untuk menyuapimu lagi"jawab Tante Ina jujur
"ehh,,,jangan mom,please jangan ngerepotin Pak Gibran lagi"Pinta Laura memelas
"Mangkanya makan,jangan keras kepala"
__ADS_1
Laura perlahan membuka mulutnya
"Anak pintar"Tante Ina mengusap kepala Laura lembut