Pengorbanan Hari Tania

Pengorbanan Hari Tania
Bab 137


__ADS_3

"Ayo kita makan dulu,nanti aja Cari ponselnya".Tania membuka rantang yang berisi makanan Kesukaan Varo.


"Aku rindu masakan mu Tania"Seru Laura


Membuat Gibran sedikit bingung dengan ucapan Laura.


"Apa kalian saling mengenal???"tanya Gibran langsung


"Gadis ini sahabatku namanya Laura"Balas Tania santai


"Tania kalau aku tau Laura adalah gadis yang sama,aku tidak perlu menunggu dan menantinya selama ini,aku bisa saja meminta nomor ponsel ya darimu"jerit bathin gibran.


Varo duduk disamping Tania dan Gibran disamping Laura.


Tanpa menunda lagi mereka semua menyantap makan siang yang di bawa Tania.


Dilobi kantor


"Aku ingin menemui Alvaro"


Teriak Sarah pada karyawan yang bertugas dilobi.


"Apa anda sudah buat janji sebelumnya???"Karyawan bernama Lala itu mencoba ramah


"Apa perlu!!!!!"tersenyum sinis


Dengan tegas Lala menjawab "Tentu perlu,ini sudah ketentuan perusahaan.tidak bisa sembarang menemui CEO kami".


"cihhhhhh,kamu ga tau siapa aku????"Sarah menatap penuh amarah


"Yang jelas kamu bukan siapa - siapa disini"Tantang Lala ia sangat muak melihat wanita angkuh didepannya.


"Aku pacar kesayangannya"Sarah berucap dengan penuh keyakinan


Lala mendekap mulut nya untuk tidak tertawa namun tawa Lala akhirnya lolos juga, membuat Sarah menjadi tersinggung.


"Kamu mau dipecat ya!!!!!"Pekik Sarah


Gibran keluar dari lift dan mendengar keributan di lobi kantor.

__ADS_1


"Ada apa ini???"Gibran bertanya dan memandang ke arah sarah


"Gibran......." Sarah mendekati Gibran dan memeluknya erat.


Gibran dengan cepat melepaskan pelukan Sarah.dan mendorongnya


"Apa-apaan ini!!!"Gibran terlihat gusar


"Wanita murahan"umpat beberapa karyawan yang ada dilobi.


"Ngapain kamu kesini!!!!"Gibran terlihat emosi.


"Tentu saja menemui kekasih lamaku,aku merindukan varo".Jawab Sarah santai


"Sarah berhenti bicara omong kosong"Gibran merasa ia kehabisan kesabarannya.


"Security......cepat usir wanita ini keluar!!!!!!"Perintah Gibran.ia tak mau Tania melihat wanita gila ini.


Security menarik tangan Sarah kasar.


"Lepasin"Sarah meronta


Gibran menatap muak kepada Sarah


"Kakak beradik itu Sama-sama gila"Bathin Gibran.


"Jangan biarkan Wanita itu memasuki kantor lagi"Pesan Gibran pada semua karyawan dan mereka mengangguk setuju.


Gibran kembali keruangan Varo dan membisikan sesuatu.


Varo melihat kearah istrinya yang sedang asik mengobrol bersama sahabatnya.


"Jaga keamanan istri dan anakku,aku yakin dia punya rencana jahat"Varo kembali berbisik pada Gibran hatinya mulai gelisah.


Gibran mengangguk mengerti.


"Sayang nanti pulang biar Gibran yang antar ya"Varo mendekati istrinya.


"Aku pulang sama pak Sopir aja,kasian Kak Gibran harus bolak balik nanti"Tania menolak.

__ADS_1


"Gibran sekalian mau mengambil sesuatu dirumah"ucap Varo berbohong.


"Okey sayang"Tania pun akhirnya setuju.


"Laura nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi,aku pulang dulu"Tania memeluk sahabatnya.


"Hati-Hati dijalan"Varo mencium kening istrinya Laura ijin pada Varo untuk mengantar Tania sebentar.Sampai diruang parkir Gibran pun segera menjalankan Mobilnya.seseorang sedang memperhatikan dengan seksama.


"Ah mana varo ya???"Sarah berharap ia bisa bertemu Varo.


Tanpa terasa waktu pulang Kantor,Laura merapikan semua berkas yang udah diperiksa dan ditanda tangani Varo.


"Kamu naik apa Nanti pulang?tanya varo pada Laura.


"Mungkin Naik Taxi Pak Varo"


"Biar Gibran yang mengantarmu"


"Ga usah nanti merepotkan"Tolak Laura.ia tidak mau kalau Gibran mengetahui tempat tinggalnya sekarang.


Gibran tersenyum pada Varo penuh arti.


"Ikutlah dengannya"Varo mencoba meyakinkan Laura.


Laura bingung mencari alasan apa untuk menolak lagi dan ia merasa tak nyaman juga pada Varo


"Hmmmmmm aku minta turunkan Dipesimpangan saja nanti"Ide Laura


"Baiklah"


"Yessss"Seru Gibran didalam hati


Varo tersenyum melihat sahabatnya itu.


"Aku hanya bisa membantu mu sedikit,selebihnya kamu yang mikir gimana dekatin Laura"bisik varo pada Gibran


Gibran Mengarahkan jempol pada sahabat yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu.


Laura hanya memandang bingung Varo dan Gibran yang tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2