
Gibran sudah bersiap pulang kantor dan ingin langsung menuju rumah sakit tempat Laura dirawat.
"Sayang kita beri ruang untuk Gibran bisa mengungkapkan perasaannya,takut aja kehadiran kita mengganggu momen pentingnya"Varo mengingatkan istrinya yang juga ingin ikut bersama Gibran kerumah sakit.
"Bener juga ya"Tania setuju saran suaminya"Kalau gitu pulang ini kita mampir ditoko kue langganan kita"
"Siap Nyonya Alvaro"Varo menggandeng tangan istrinya.Varo membetulkan Posisi Zain yang digendongnya.Putra tampannya itu asik menikmati tidur di gendongan Ayahnya.
"Dia pasti lelah dan bosan seharian ini"Tania membelai lembut pipi putranya Zain.
Dengan langkah pelan Varo berjalan menuju parkiran mobil nya.dan perlahan memberikan Zain pada Tania.
Dirumah sakit Laura merasa gelisah karena jujur dia merindukan kehadiran Gibran.
"Bukankah dia biasanya akan datang saat jam istirahat siang"gumam Laura penuh tanda tanya
orang yang Laura rindukan sudah muncul didepan pintu dan tersenyum penuh makna.tanpa sadar Laura berucap "Apa aku sedang berhalusinasi Orang yang aku ingin temui saat ini bediri di hadapanku".Celetuk Laura Tanpa menyadari bahwa Gibran yang dihadapannya sekarang nyata.
Laura memejamkan matanya lalu membukanya lagi Gibran masih berdiam diri dan tersenyum senang mendengar ucapan dari Laura tadi.
"Apa aku bermimpi"Laura memukul pipinya pelan menyadarkan bahwa dia sedang tidak bermimpi."Mimpi ini terasa nyata"Ucapnya lagi.
"Apa tidak sakit memukul pipimu seperti itu"
"Tentu sakit,kalo ini nyata,hei kenapa kamu bisa berbicara padaku dalam mimpiku".Laura menunjuk Gibran
__ADS_1
"Ini masih siang Nona,udah mimpi aja"Celetuk Gibran
Laura yang sadar ia sedang tidak bermimpi menyembunyikan wajahnya dengan menutup bantal erat.ia benar -benar malu dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Hei kamu bisa kehilangan nafas bila seperti ini"Gibran mengambil bantal yang Laura gunakan untuk menutup wajahnya.
"Dimana Mommy ku"tanya Laura canggung.
"Aku kesini tidak melihatnya,mungkin keluar sebentar"Gibran meletakkan bunga yang ia bawa untuk Laura.yang akan ia gunakan sebagai pelengkap untuk mengatakan cintanya nanti.
"Apa siganteng tidak ikut bersamamu"Laura sengaja mencari obrolan lain agar Gibran tidak mengetahui sedang Malu sekali berkata jujur saat Gibran datang yang dia anggap mimpi.
"Zain pulang bersama orang tuanya,aku melihat dia tertidur digendongan ayahnya".
"Apa hanya Zain yang sekarang kamu rindukan,apakah kamu tidak merindukanku???"Entah dari mana keberanian Gibran berucap seperti ini.
"Maksud pak Gibran"Laura menyembunyikan rasa canggungnya sekarang dan mencoba bersikap biasa walau hatinya sedang berloncat ria.
"Bisakah saat diluar kantor hanya memanggil namaku saja"Pinta Gibran
"Apa boleh seperti itu"
"Tentu saja,aku merasa tua dihadapanmu saat kamu memanggilku Pak"Ucap gibran jujur
Laura ingin sekali tertawa mendengar ucapan Gibran saat ini namun ia tahan karena takut menyinggung perasaan atasannya itu.
__ADS_1
"Laura boleh aku berkata sesuatu"Mata Gibran menatap Laura penuh dengan pengharapan.
"Apa yang kamu ingin katakan????"Jantung Laura terasa ingin melompat keluar menatap pria dihadapannya"Sejak kapan Gibran setampan ini,apa selama ini aku terlalu cuek dengannya" bathin Laura.
"Laura aku menaruh hati padamu,sejak awal kita bertemu"Ucap Gibran dengan penuh keberanian
Deg,,,,jantung Laura seakan berhenti
"Iya sejak kita bertemu di luar negeri saat dirimu kuliah,kamu tau aku tidak pernah berhenti memikirkanmu,sampai saat kita bertemu lagi perasaan ini gak pernah berubah ,malah semakin Kuat".Gibran menatap lekat mata Laura tak ada kata yang keluar dari Laura.
Setelah beberapa lama terdiam akhirnya Laura berkata juga.
"Aku tidak mengerti perasaan ku,jujur saat dirimu merawatku ada perasaan lain dihati ini,namun,,,,"Laura tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak bisa menerima cintamu maaf"Laura terisak"Aku akan segera menikah dan aku gak boleh memiliki perasaan dengan lelaki lain selain yang menjadi suamiku kelak"
Laura semakin merasakan sakit dihatinya.
"Tidak adakah kesempatan untukku"Gibran meraih bunga yang ia beli untuk Laura.
"Adakah sedikit saja kamu menyukaiku Laura,aku akan belajar ikhlas melepas mu,Jika kamu memilih lelaki lain"Suara Gibran terasa berat.
Dua orang yang dari tadi mengawasi Gibran dan Laura tidak tahan lagi keluar dari persembunyiannya
"Daddy,Mommy"Laura kaget begitu juga Gibran "Tante,om"desisnya
__ADS_1