Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 10


__ADS_3

Bunda mempersiapkan pernikahan Ilham dan Farah. Mulai dari mengundang Ustad Ahmad – ayah Balqis untuk menjadi wali Farah. Bahkan Balqis kaget mendengar berita ini. Dari pihak Farah hanya mengundang keluarga Ustad Ahmad beserta istrinya, Balqis, Jihan, dan tetangga terdekat rumah Farah yang dulu.


Bunda telah menghubungi mas Damar agar bisa hadir di pernikahan adiknya. Karena acaranya tertutup mengundang sedikit tetangga terutama ketua RT, maka Bunda hanya mendekorasi rumah. Tak akan ada banyak tamu, jadi tidak perlu menyewa gedung atau semacamnya.


Semua berkas untuk pernikahan sudah siap. Akad nikah berlangsung 2 minggu setelah malam perjodohan di ruang keluarga Bunda. Walaupun tak ada pesta, Farah tetap berhias seperti pengantin pada umumnya. Memakai gaun pengantin bergaya muslimah.


Sehari sebelum hari akad nikah, Bunda meminta agar tangan Farah memakai henna. Bunda juga memesan mawar merah dengan jumlah yang banyak sekali. Semua dilakukan agar Farah tampak seperti Farah yang ada di mimpinya Ilham.


Hari akad nikah. Semua telah dipersiapkan selama dua minggu ini. Ilham telah bersiap memakai setelan serba putih. Mas Damar akan menjadi wali Ilham, sedangkan pak Parmin menjadi saksi. Ustad Ahmad menjadi wali nikah Farah, dan ada satu tetangga terdekat Farah menjadi saksi.


Semua hadirin sudah tiba. Dua petugas dari KUA setempat juga sudah hadir. Mereka sibuk mencatat surat nikah resmi. Tiba pada Farah yang keluar dari salah satu kamar yang digunakan sebagai tempat berhias pengantin perempuan.


Farah tampak ayu dalam balutan gaun pengantin itu. Hijabnya dimahkotai dengan rangkaian bunga-bunga yang cantik, di tangannya berhias lukisan henna dan membawa seikat bunga mawar merah. Kontras dengan gaun putihnya.


Ilham terpukau. Moment ini sama persis seperti mimpinya. Sampai tak berkedip melihat Farah yang berbeda dari biasanya.


Farah menebar senyumnya, terlihat menawan. Farah duduk bersebelahan dengan uminya Balqis tidak duduk bersebelahan dengan Ilham. Bahkan Balqis dan Jihan melihatnya seperti sang tuan putri. Cantik tanpa tanding.


Tiba pada prosesi akad nikah. Sebelum memulai mengakad, ustd Ahmad meminta kepada hadirin untuk beristighfar, mensucikan hati dan jiwa. Lalu meminta semuanya untuk bersama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat. Terasa sakral sekali pernikahan ini, ditambah Ilham sendiri yang meminta agar ijab qobulnya memakai bahasa arab.


Ustad Ahmad menjabat tangan Ilham erat, lalu mewakili wali menikahkan Ilham dengan Farah. Dengan suara terbata-bata namun jelas Ilham menjawab dengan kemantapan hati :


“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhitu bihi, wallahu waliyu taufiq! Aku terima nikah dan kawinnya dia (Farah binti Rudi Setiawan) dengan mahar yang telah disebut, dan Aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugrah.”


Setelah pengucapan ijab dan qobul ustad Ahmad mengatakan kata “ SAH”. Ketika saat itu para saksi dan hadirin juga mengatakan “SAH”. Proses ijab dan qobul dinyatakan selesai.


Alhamdulillah, ijab qobul berjalan dengan lancar. Semua bersuka cita dalam ruangan itu. Farah terharu meneteskan air mata bahagia mendengar qobul Ilham. Kini Ilham dan Farah telah sah menjadi suami istri.

__ADS_1


Ustad Ahmad mendoakan kedua mempelai. Setelah ditutup dengan acara doa, para tamu undangan menikmati hidangan yang disajikan. Walaupun terbilang sedikit, tetap hari itu adalah hari terpenting dalam hidup Farah dan Ilham.


Hari sudah beranjak siang. Para tamu undangan sudah berfoto dengan kedua mempelai. Akhirnya mereka berpamitan meninggalkan acara itu. Lega acara ini sudah selesai. Segera Farah dan Ilham diajak oleh Bunda menuju kamar pengantin mereka. Sejauh ini Ilham tidak protes, tidak juga menolak. dia masih bersikap tenang.


“Kalian penganting baru, silahkan beristirahat di kamar ini. Ingat jangan lupa kunci pintunya,” goda Bunda. Bunda nampak bahagia sekali.


Akhirnya Farah dan Ilham masuk ke kamar pengantin. Sebenarnya itu kamar milik Ilham, sudah di hias sedemikian rupa dengan bunga-bunga yang cantik. Bahkan Bunda jauh-jauh hari sudah memesan meja rias khusus untuk Farah. Aroma di kamar itu amat menyegarkan.


Ilham duduk di sofa yang letaknya berada di pojok kanan kamar ini. Farah yang sedari tadi memegang seikat bunga mawar merah lalu menaruhnya di vas bunga yang ada di meja. Kamar itu masih hening. Ilham sekarang sudah fokus pada ponselnya ada beberapa kali panggilan masuk. Mungkin penting sekali. Farah masih memilih diam duduk di pinggir kasur.


“Akmal kamu handle dulu. Jangan lupa kumpulkan sketsa tanah beserta surat-surat penting lainnya. Sebentar lagi saya segera datang ke kedai. Hari ini kita akan berangkat melihat lokasinya. Sudah siapkan saja. Terima kasih,” percakapan Ilham di ponsel dengan orang yang di seberang sana.


Hening. Farah memilih mendengarkan tidak berkomentar. Farah akhirnya berjalan menuju meja cermin riasnya, duduk di sana. Dilihatnya wajahnya sendiri denga polesan make up. Tampak cantik. Akhirnya Farah memilih untuk melepaskan aksesoris yang berada di kepalanya sepeti mahkota bunga, kain panjang warna putih transparan yang digunakan sebagai hiasan hijabnya.


Ilham mengetahui bahwa istrinya akan membuka hijabnya untuk membersihkan make up nya. Seketika dia menyuruhnya untuk berhenti.


“Tolong jangan buka hijabmu di sini,” ucap Ilham.


“Di manapun kamu berada, jangan pernah melepaskan hijab itu. Jangan pernah membuka auratmu. Termasuk di depan aku. Jika kamu ingin melepasnya, sampaikanlah padaku, agar aku keluar dari kamar ini,” jawab Ilham.


“Mengapa? Bukankah kita sudah mahram?” tanya Farah lagi. Farah masih tak percaya apa yang dikatakan oleh Ilham.


Bukankan aku sudah menjadi istrimu?


“Karena aku belum menginginkannya,” jawab Ilham datar.


Mendengar alasan dari Ilham, hati Farah serasa pilu. Mengapa Ilham bisa bicara begitu. Bukankah kita baru saja menikah tadi pagi?

__ADS_1


“Oh ya ... satu lagi. Jangan pernah bilang kepada siapapun bahwa kamu itu istriku. Jangan pernah! Ingat istri yang baik harus mematuhi perkataan suaminya, tanpa protes!” lanjut Ilham.


Ilham berdiri mengambil pakaian di lemarinya dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.


Farah mematung, berusaha mencerna perkataan Ilham barusan, “Mengapa aku tidak boleh mengakui bahwa aku istrinya? Lantas mengapa dia bersedia menerima aku?” gumannya pada bayangan yang dipantulkan di cermin itu.


Ilham kembali dengan pakaian yang biasa ia kenakan. Kelihatanya ia hendak pergi. Tak berkata sepatah katapun. Berlalu begitu saja meninggalkan Farah sendiri di kamar.


Seketika Farah menangis, “Mengapa bisa begini?”


“Tidak! Aku tidak boleh menangis. Aku harus bersabar dan lebih tabah. Mungkin Ilham belum beradaptasi denganku, suatu hari nanti dia akan menerimaku. aku harus sedikit tabah dari biasanya,” kata Farah menguatkan hatinya.


Farah menghapus make up yang ada di wajahnya. Melepas semua aksesoris yang ada di tubuhnya. Menggantinya dengan baju yang biasa ia kenakan. Dan jangan lupa kerudung. Farah harus memakai kerudung ini di manapun ia berada.


Farah keluar dari kamar menuju kulkas yang berada di ruang makan, untuk mengambil air minum. Menapaki kaki di ruang makan Farah mendapati ada nunda dan mas Damar yang duduk di kursi meja makan.


Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu. Pikir Farah.


“Farah, kesini dulu sayang,” kata Bunda.


“Iya Bunda,” Farah menuruti perintah Bunda.


“Mengapa kamu tidak mencegah suamimu agar tidak pergi bekerja. Hari ini hari pertama pernikahan kalian. Harusnya Ilham juga tidak meninggalkan istrinya,” ujar Bunda sedikit kesal.


Farah tersenyum. “Mas Ilham sedang sibuk Bun, tak mungkin saya melarang mas Ilham.”


“Katanya Ilham mau membuka cabang kedainya Bun. Mungkin mengecek lokasi yang akan dibangun,” Mas Damar menjelaskan.

__ADS_1


“Lho ...! tidak bisa begitu, dia baru saja menikah, harusnya bisa untuk libur walau sehari saja.” Bunda masih kesal karena perlakuan Ilham pada Farah.


“Saya tidak keberatan Bunda. Mungkin mas Ilham memprioritaskan tentang pembukaan cabang kedai baru seperti yang disampaikan oleh mas Damar. Tidak apa-apa Bunda, Farah bisa menunggu mas Ilham pulang nanti,” jawab Farah menyakinkan Bunda.


__ADS_2