
Pagi hari ini Farah sudah bersiap dengan wajah yang sangat sumringah. Ia duduk di pinggir ranjang di dekat koper milik Ilham. Farah sudah memasukkan semua keperluan untuk suaminya, sekarang ia sedang menunggu suaminya yang sedang memilih kemeja yang akan digunakan.
“Yang merah atau hijau?” Ilham menyodorkan kedua kemejanya kepada Farah.
Farah menggeleng, ia berjalan mendekati lemari Ilham yang dipenuhi kemeja-kemejanya yang tergantung rapi. Farah memilah kemeja-kemeja yang bergantungan itu, ia mencari apa warna yang cocok untuk dipakai suaminya. Matanya tertuju pada kemeja berwarna biru navy.
Farah mengambilnya. “Ini warna yang cocok.”
Ilham memegang dagunya, ia menimbang tentang kemeja yang dipilihkan istrinya. Kemeja berwarna biru navy.
Farah merasa gemas dengan Ilham, ia langsung saja memakaikan kemeja itu ke badan Ilham yang sebelumnya telah memakai kaos oblong putih polos. Ia juga mengancingkan kemeja yang Ilham.
Ilham hanya terdiam, ia tersenyum karena perlakuan istrinya. Ia membelai lembut puncak kepala Farah. “Terima kasih istriku.”
Setelah selesai mengancingkan kemeja suaminya, Farah mendongak. Matanya sangat lekat memandang wajah Ilham, begitu dalam. Ada kesedihan yang muncur di wajah ayu milik Farah.
“Kenapa jadi cemberut lagi? Kamu jelek kalau seperti itu,” Ilham menjangkau kedua pipi Farah.
Farah hanya menggeleng, ia langsung memeluk suaminya. Ilham sedikit tersentak dibuatnya. “Harus pergi sekarang ya?” tanya Farah. Airmuka-nya menyatakan ketidak-relaan untuk Ilham pergi. Farah membenamkan tubuhnya dalam dekapan hangat dari tubuh Ilham.
Mengapa Farah sangat manja sekali hari ini. Tidak biasanya ia bertingkah seperti ini.
“Sayang, Mas harus pergi ke Numa. Kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di benakmu?” Ilham mendekap erat, tangan kanananya masih membelai lembut puncak kepala Farah.
“Aku takut jika Mas Ilham seperti kemarin. Tidak ada kabar sama sekali,” ucap Farah.
“Aku janji, akan selalu menjawab teleponmu bahkan membalas pesanmu dengan sesegera mungkin.” Ilham meyakinkan Farah.
Hati Farah luluh, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Ilham. sekarang hatinya sudah lebih tenang. Ia takut akan rasa gelisah yang mendadak berteriak lantang.
“Sepertinya istriku sudah rindu sebelum perpisahan ini dimulai.” Ilham tertawa, ia mencubit gemas kedua pipi Farah yang merona merah.
“Kata siapa?! Aku tidak rindu,” kilah Farah, ia memanyunkan bibirnya beberapa senti.
Ilham tertawa lebar, ia merangkul Farah agar segera berangkat menuju kedai.
***
__ADS_1
Sesampainya di kedai, semua mata tertuju pada Farah yang berjalan bergandeng tangan dengan Ilham. Mereka menebar senyum sapaan untuk para karyawan dan karyawati. Banyak pekerja di sana yang terpana melihat Farah yang terkenal sebagai ‘karyawati’ di kedai itu, berjalan beriringan dengan bos mereka Pak Ilham.
“Bukannya itu Farah pelayan lantai empat? Mengapa dia datang bersama bos kita?” ucap salah satu karyawati yang menatap sinis.
“Dia berani sekali datang siang, di antar Pak Ilham. Dia ada hubungan apa dengan Pak Ilham?” bisik karyawati lainnya.
“Jangan-jangan dia merayu bos kita agar mau dengannya. Teringat dulu dia juga merayu pak Rayhan pemilik perusahaan kontruksi yang tajir itu,” timpal karyawan lain.
Ilham mendengar ucapan itu hatinya sakit, ketika derajat Farah seakan-akan direndahkan. Ia teringat bahwa semua ini kesalahan konyolnya. Dulu ia meminta untuk menikahi Farah tanpa mengundang tamu luar hanya keluarga masing-masing saja. Sekarang dampaknya baru terasa, mereka melihat Farah seakan-akan dia adalah perempuan tidak baik.
Farah yang mendengar ucapan itu hanya bisa tertunduk. Gosip akan tercipta, mungkin cerita skandal yang akan populer dari lantai satu hingga lantai empat. Ilham melihat istrinya yang sedang menahan hinaan yang terlontar dari mulut teman se-profesinya.
“Mohon perhatian!” suara Ilham terdengar lantang, hingga semua orang yang berada di dekat Ilham menoleh ke arah sumber suara.
Farah hanya tertunduk diam, tidak berkomentar apapun. Genggaman tangan Ilham terasa hangat dan erat, seakan tanda untuk saling menguatkan. Farah menoleh ke arah suaminya.
“Perlu kalian ketahui, karyawati yang bernama Farah adalah istri sah saya. Kami sudah menikah sah dan legal dalam hukum beberapa bulan yang lalu. Jika ada yang bertanya, mengapa seorang istri bos bisa menjadi karyawati di kedai ini, jawabannya karena ingin memantau situasi dan menilai hasil kerja kalian. Jadi saya mohon agar tidak perlu berspekulasi hal yang tidak berdasarkan fakta. Jika ada yang melanggar, berarti kalian siap untuk keluar dari kedai ini,” Ilham memberi pengumuman untuk orang-orang yang berada di sekitarnya.
“Wah, selamat ya Pak,” ucap salah satu karyawan, ia juga berjabat tangan dengan Ilham.
Melihat hal itu, banyak karyawan yang mengikutinya. Berjabat tangan dan mengucapkan selamat kepada Ilham dan Farah.
Ilham yang masih menggamit tangan Farah, ia mengajaknya untuk ke atas menuju lantai lima. Ruangan milik Ilham.
Sesampainya di ruangan miliknya, Ilham menelpon Akmal untuk segera datang. Tak lama Akmal muncul, ia memberi salam kepada Ilham dan Farah.
“Apakah ada yang bisa dibantu Pak?” tanya Akmal.
“Hari ini kamu dan istriku menjemput Rahma di kontrakannya, karena mulai hari ini Rahma akan tinggal bersama istriku di rumahku. Sebentar lagi aku harus ke Kota Numa untuk mengurusi kedai baru,” ucap Ilham.
“Siap Pak.” Akmal mengangguk.
Ilham tersenyum. “Hari ini kamu menjemput Rahma dengan Akmal ya. Mas harus buru-buru sayang.” Ilham mengelus puncak kepala Farah yang tertutup dengan hijab.
“Iya. Janji harus pulang, dan balas semua pesanku,” balas Farah.
Ilham mengangguk. “Oh ya Akmal, jika istriku menelpon kamu harus segera menjawabnya. Ingat harus dengan segera menjawabnya,” perintah Ilham.
__ADS_1
“Baik, Pak.”
Ilham menoleh kepada Farah, mengelus pipi kanannya. Farah langsung mencium punggung tangan milik suaminya.
Ilham pun mencium puncak kepala Farah dengan lembut. “Jaga dirimu sayang.”
Farah mengangguk, ia tersenyum mengembangkan kedua pipinya membentuk lengkungan manis.
Bagi Akmal pemandangan seperti itu sedikit menguras jiwanya. Mengapa mereka bermesraan di depanku! Kapan aku seperti itu! Jelas batin Akmal sedikit tersiksa.
“Ehmmm,” Akmal berdeham membuyarkan kemesraan Ilham dan Farah
“Oh ya, aku lupa jika ada bujangan di sini. Aku yakin dia pasti iri melihat kita,” ucap Ilham.
Farah hanya tertawa kecil. Ia tahu bujang yang dimaksud suaminya adalah Akmal.
“Akmal, adegan tadi untuk yang sudah halal. Ingat jika sudah sah dan halal itu bebas.” Ilham tertawa renyah.
Akmal hanya tersenyum simpul. Sebenarnya batinya berteriak.
Sial! Mengapa aku harus melihat pemandangan ini!
Ilham tahu jika Akmal sedikit sebal karena melihat kemesraannya bersama Farah. Ia memang sengaja melakukan hal ini sebagai pembalasan.
Ini balasan untukmu, karena dering telepon darimu membuat batal ciuman pertamaku! Hahaha!
Ilham akhirnya berlalu, ia pergi mengendarai mobilnya menuju Kota Numa. Ia sudah yakin jika Akmal mampu menjaga istrinya.
_____________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa🍀