Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 20


__ADS_3

Pukul 23.00 Ilham sudah sampai di rumah. Secepat apapun mobil Ilham melaju, tetap saja ia pulang sangat larut. Ia melihat Farah sedang tidur di kamarnya. Pintu kamar milik Farah tidak dikunci. Ilham masuk ke dalam kamar Farah.


Ilham melihat gadis itu tertidur di meja belajarnya. Ia batal menayakan soal janji dengan dokter kandungan.


“Pasti dia tertidur saat belajar,” guman Ilham.


Lalu Ilham mengangkat tubuh Farah agar dia berbaring di tempat tidurnya. Ilham juga menyelimuti Farah. Ini kebiasaan Farah yang sudah diketahui Ilham, bahwa Farah jika sudah jatuh tertidur, mau dipindahkan di manapun dia tidak akan bangun. Farah tertidur sangat lelapnya.


Ilham menyesal akhir-akhir ini Ia jarang melihat Farah, apalagi bercengkrama hangat. Bagaimana tidak setiap pagi Farah selalu berangkat paling awal daripada Ilham. Pulang pun Farah juga yang paling akhir dibanding Ilham.


Ilham menghela nafas, “Mengapa kamu begitu baik dengan orang yang bahkan tidak kamu kenal. Apa yang ada di pikiranmu? Kenapa harus peduli kepada mereka yang belum tentu peduli denganmu,” kata Ilham.


Namun sayang percakapan itu sangat ganjil. Ilham berbincang dengan Farah. Akan tetapi Farah tidak menjawab. Dia sudah jatuh tertidur pulas, mungkin Farah juga tak mendengar Ilham berbicara tentang apa.


Ilham beranjak dari tempat itu. Ilham ingin sekali mengelus pucak kepala Farah yang dibalut kain hijab. Tak sampai tangannya menyentuh puncak kepala Farah. Ia mengurungkan niatnya.


“Maaf, sampai saat ini aku belum menginginkanmu. Berusahalah lebih keras untuk memenangkan hatiku, agar aku memiliki alasan betapa aku sangat menginginkanmu kelak,” ucap Ilham sebelum meninggalkan kamar Farah.


Tentu saja Farah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Ilham. Ia sudah berada di alam mimpinya.

__ADS_1


***


Gadis itu berjalan menyusuri trotoar menuju jalan pulang ke rumahnya. Gadis itu membawa kantong kresek. Hari ini gadis itu sadar bahwa dunia ini tidak sebrengsek yang ia kira. Hari ia menguntit lagi di minimarket. Hampir setiap malam ia melakukannya. Desakan ekonomi membuatnya nekat untuk melakukan tindakan tidak terpuji ini.


Jika kurang beruntung, ia bisa dihajar pemilik toko sampai babak belur. Dan pulang ia akan memaki kepada Sang Semesta bahwa hidup ini tidak adil untuknya, mengapa ia harus merasakan penderitaan ini. Atau jika Semesta bisa berbaik hati, gadis itu ingin memilih takdirnya sendiri agar hidupnya tidak sekelam ini.


Tapi hari ini, Allah maha baik bagi gadis itu. Hari ini ia menguntit lagi tapi Allah menyadarkan dengan kelembutanya. Gadis itu masih tidak percaya dengan dosa bahkan memaki tapi dibalas dengan cara yang amat baik dan membuat hati gadis itu pilu. Merasa Allah mengabaikannya justru ia sekarang disadarkan, sesadar sadarnya.


“Yeee ... Kak Anti pulang!” seru anak kecil itu. Anak itu terlihat girang saat melihat kakaknya pulang.


Gadis itu tahu anak kecil itu menunggunya. Anak kecil itu kelihatannya kelaparan. Ia sangat senang saat Kak Antinya pulang membawa kantong kresek.


Tak lama kemudian Ayah mereka pulang. Ayahnya juga membawa kotak makan seperti malam-malam sebelumnya.


Sang Ayah menggantungkan seragam satpamnya, lalu ikut menggerombol dengan anak -anaknya.


“Ayah! Lihat Kak Anti beli sosis Yah!” ucap anak kecil itu girang.


Ayahnya tersenyum. Tapi Kakaknya sedikit menunduk menyeka air matanya yang keluar.

__ADS_1


“Itu sosis bisa Reno goreng untuk bekal makan siang Reno di sekolah,” kata Kakak itu.


“Iya Kak, terima kasih. Reno sayang Kak Anti,” ucap Reno si anak kecil itu.


“Iya Reno,” balas Kak Anti, “Ayah bawa apa itu? Makanan sisa lagi?” sekarang Kak Anti bertanya pada ayahnya.


“Bukan. Ini makanan dari salah satu karyawati di cafe tempat Ayah bekerja. Dia kasihan sekali, setiap hari membawa bekal untuk suaminya, tapi tidak pernah dimakan malahan sering di buang-buang. Maka dari itu Ayah bawa saja, lagipula makanan ini tidak disentuh, masih utuh. Nasi dan lauknya juga terpisah. Ini angetin dulu lauknya agar bisa kita makan,” Ayah itu menyuruh putri sulungnya untuk memanasi kembali lauk ia bawa tadi.


Sungguh dia seorang istri yang malang. Batin putri sulung.


Kak Anti menurutinya. Ia menuju dapur. Sebenarnya ada rasa sesal mengapa ayahnya harus membawa lauk pauk seperti ini seminggu terakhir. Malahan lauk pauk ini sangat mewah untuk keluarganya. Udang saus pedas, oseng cumi, empal daging terkadang sambal kentang goreng ati. Sangat mahal dan rasanya juga enak.


Tiba – tiba sang ayah masuk ke dapur kecil itu.


“Jawab jujur, bagaimana kamu mendapatkan susu dan sosis itu Kinanti. Kamu tidak mencuri lagi kan?” tanya Ayah.


“Aku tidak mencuri Ayah! Aku mendapatkannya dengan cara baik,” kilah Kinanti. “Aku membeli itu semua untuk Reno Yah. Reno masih kecil, dia butuh gizi yang baik untuk pertumbuhan,” lanjut Kinanti.


Tiba – tiba ayahnya merasa bersalah, tidak seharusnya anak- anaknya merasakan hidup susah seperti ini. Gaji sang ayah selalu berkurang karena sang ayah memiliki hutang yang sangat banyak.

__ADS_1


__ADS_2