Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 63


__ADS_3

Malam itu langit menangis membasahi Kota Milepolis. Gemuruh petir bersahutan membuat kengerian di atas langit. Mobil mewah melaju lancar di jalanan lenggang, Ray memang sengaja memilih jalan ini untuk sampai di istananya.


Farah masih tetap menangis, ia minta dilepaskan. Farah juga merasa ketakutan yang luar biasa. Farah terus berpikir bagaimana ia bisa lolos dari Ray.


“Ray lepaskan aku! Turunkan aku di sini!” Farah memaksa, ia juga memukul Ray. Walaupun pukulan dari Farah tidak berarti apa-apa untuk Ray.


Farah tetap merengkek minta di lepaskan dan terus memukul tubuh Ray. Ini membuat Ray geram hingga ia terpaksa menghentikan mobilnya. Ia menatap nanar perempuan yang duduk di kursi sampingnya.


“Kamu bukan Ray temanku. Kamu jahat, kamu manusia yang jahat!” Farah menangis melihat tatapan tajam dari Ray.


“Diam!” Ray membentak galak.


Ray lepas kendali, amarahnya sudah di ujung tanduk. Ia sudah tak tahan terhadap tangisan seorang perempuan.


Plakk!


Ray menampar pipi Farah hingga perempuan itu terbungkam.


Farah memegang pipinya yang habis ditampar oleh Ray. Ia merasakan sakit, baru kali ini ada orang yang menamparnya dengan keras. Farah menutupi wajahnya, suaranya pun terdengar jika ia sedang menahan tangisan. Terisak-isak.


Seketika Ray sadar akan perbuatannya. Ia begitu mudahnya melayangkan tamparan kejam kepadan puan pujaannya. Hati Ray merasa sakit, karena Farah menangis karena kesakitan yang telah Ray ciptakan.


“Apakah kau baik-baik saja?” kini airmuka Ray berubah menjadi kecemasan. Ia menyesal karena tindakannya.


Farah menatap Ray dengan ketakutan, bahkan saat Ray akan menyentuh pipinya. Farah menangis begitu kencang.


“Kamu jahat Ray! Kamu bukan Ray yang aku kenal.”


Tetap saja rengekan Farah tidak mempan pada bebalnya hati Ray. Ia tetap melajukan mobilnya menuju istananya. Ia tak peduli jika Farah kesakitan karena tamparan darinya.


Mobil mewah Ray terus melaju menembus hujan. Farah tidak mengetahui ini di daerah mana. Hanya jalanan sepi dengan pembatas jalan yang berupa tembok tinggi. Farah terus berpikir bagaimana keluar dari mobil ini dan pulang.


Peluang Farah hanya terletak di safety belt. Ia tidak memakai benda itu. Farah juga sudah mempersiapkan seprotan cabai. Hanya sekarang Farah harus mengumpulkan keberaniannya.

__ADS_1


Farah menarik napas, mengembuskannya perlahan. Ia melihat Ray yang sedang fokus mengemudikan mobil ini.


Oke! Aku harus berani.


Farah secara spontan menarik setir ke kiri, sehingga mobil Ray berjalan serong hingga menabrak ke tembok pembatas jalan. Mobil pun berhenti mendadak, Ray dan Farah terhentak hingga kepala mereka menghantam dashboard mobil.


Pelipis Farah berdarah karena hantaman itu. Ray juga sedikit kaget dan ia sedikit mengalami guncangan di kepalanya.


“Apa yang kamu lakukan? Ini berbahaya!” geram Ray. Ia sedang kesakitan akibat benturan itu.


“Aku tidak ingin ikut denganmu! Kamu orang jahat!” Farah berusaha keluar dari mobil Ray.


Untuk kesekian kalinya, Ray tidak suka disebut ‘orang jahat’. Ia tetap menarik paksa tangan Farah agar tidak keluar dari jangkauannya.


“Lepaskan aku Ray!” Farah berusaha melepaskan tangan kanannya dari cengkeraman tangan Ray.


“Tidak! Tidak akan mungkin.” Ray membalas dengan cengkeraman yang lebih kuat, membuat Farah kesakitan.


“Aaakhhh!” Ray memekik, ia merasakan wajahnya yang panas dan perih. Seketika cengkeraman Ray terlepas.


Ini adalah kesempatan bagi Farah. Ia langsung keluar dari mobil Ray, lalu berlari sejauh mungkin. Farah terus berlari menembus hujan. Akhirnya ia terlepas dari jeratan jahat Ray.


Ray keluar dari mobilnya, ia membasahkan wajahnya agar rasa perih akibat seprotan cabai itu hilang. Ia melihat sosok Farah yang sudah berlari cukup jauh.


“Ini hari kesialanku!” Ray mengumpat dengan kondisinya saat ini.


Saat ini dia kehilangan wanita yang ia cintai, ditambah body mobil depan yang rusak akibat benturan tadi. Hari ini Ray sangat kacau, ia sudah patah hati, ia juga mengajak paksa Farah untuk ikut dengannya. Ini seperti kisah klasik Rahwana yang menculik perempuan cantik yang bernama Sinta. Namun Rahwana lebih beruntung karena bisa menyekap Sinta sedikit lebih lama daripada Ray, ia belum sempat menyekap Farah di istananya.


Sungguh lacur sekali Ray hari ini. ia juga mengutuki Sang Semesta mengapa ia harus bertemu dengan perempuan itu. Ia marah mengapa takdir selalu kejam terhadapnya. Ray memilik semua, harta bahkan tahta. Tapi ia belum memiliki pendamping hidup.


Ray kembali ke dalam mobilnya. Amarah masih menguasai dirinya, hingga ia nekat memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti mengejar sesuatu.


***

__ADS_1


Ilham memasuki kawasan elite yang berada di jantung Kota Milepolis, ia sengaja mengambil jalur kota yang lebih dekat serta penerangan yang memadai. Ilham ingin mencari Farah di rumah besar Ray.


Kawasan elite ini hanya dimiliki oleh mereka yang memang benar-benar kaya, Ray termasuk di dalamnya. Kawasan ini dekat dengan taman kota. Ilham pernah singgah ke rumah Ray, desainnya lebih ekslusif seperti istana.


Ilham telah sampai di gerbang rumah Ray, para penjaga juga sudah mengenal Ilham. Bahkan Ray sudah mengatakan pada semua penjaga dan pelayan bahwa Ilham adalah tamu kehormatan Ray. Jadi Ilham sedikit memiliki akses masuk dengan mudah di rumah istana Ray.


Jarak antara gerbang dan rumah utama lumayan jauh sekitar 100 meter. Ilham segera melajukan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama rumah istana ini. Ia di sambut oleh pelayan setia Ray yaitu Pak Sudiro.


“Maaf Tuan Ilham, Tuan Muda sedang keluar dan belum kembali,” ucap Pak Sudiro.


Apa? Ray belum kembali. Dia membawa Farah ke mana?!


Sejenak Ilham berpikir, ke mana perginya Ray dan Farah. Pikiran Ilham sudah diracuni oleh hal-hal yang sangat membuat hatinya tidak tenang.


***


Dalam kemelut hujan dan bersahutan dengan gemuruh, Farah tetap berlari, sesekali ia berjalan. Bahkan beberapa kali Farah harus terjerembap ke dalam lubang jalan yang di penuhi air. Penerangan di sini tidak cukup memadai. Ponselnya mati karena terkena air hujan, yang bisa ia lakukan hanya menjauh dari Ray. Farah mengikuti kata hatinya, ke mana ia harus berlari.


“Aduhh!” pekik Farah, untuk kelima kalinya ia terjatuh. Bajunya sudah basah dan kotor. Hujan ini menghambat larinya. Mirisnya tidak ada kendaraan yang lewat satu pun. Tubuhnya terasa sakit akibat benturan. Farah terus menguatkan tubuhnya agar bisa berlari sampai ke rumah.


Keringat dan air mata suda tercampur dengan air langit yang turun. Badannya terasa dingin. Namun ia tetap menguatkan kakinya untuk terus berjalan. Hingga sorot lampu mobil terlihat dalam hujan yang lebat ini. Mobil itu melaju dari arah belakang Farah.


Namun Farah merasakan hal yang berbeda, mobil itu tidak melaju melewati Farah namun mengikuti Farah. Napas Farah memburu, jantungnya berdebar kencang.


Jangan-jangan itu Ray! Tidak, aku tidak mau ikut dengannya lagi!


Farah merasa mobil yang ada di belakangnya adalah mobil Ray. Seketika Farah memasang badannya, ia berlari lagi menembus kerumunan air hujan. Mobil itu semakin mengejar Farah. Ia masih berlari hingga ada kakinya terperosok pada lubang lagi.


Farah mengerang kesakitan, ia sudah tidak kuat untuk berlari lagi. Hingga mobil itu berhenti tepat di depan Farah. Ia berusaha untuk bangkit, namun tubuhnya sudah melampai batasnya. Seseorang keluar dari mobil itu. Farah tidak dapat melihat wajahnya karena kondisi hujan yang sangat lebat.


“Aku mohon, jangan sakiti aku! Aku tidak mau ikut denganmu!” Farah berteriak pada sosok yang ia anggap itu adalah Ray.


“Akhirnya aku menemukanmu,” ucap sosok itu.

__ADS_1


__ADS_2