Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 93


__ADS_3

Kinanti telah selesai menjalankan kewajibannya. Ia akan kembali ke tempat mobilnya. Kinanti segera berpikir untuk segera mengusir penumpangnya itu. Ia sedikit lelah karena hampir berputar mengelilingi Kota Milepolis. Tiba-tiba ada rasa perih yang menyerang ulu hatinya. Kinanti teringat bahwa ia belum memakan apapun selain makan siang yang ia bawa saat di stan penjualan. Namun Kinanti mencoba tidak menghiraukan suara perutnya yang mengerang meminta jatah makanan. Ia akhirnya berjalan menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir.


Naresh yang memposisiskan dirinya seperti tidur tapi telinganya masih masih bekerja maksimal menangkap suara derap langkah manusia. Ia bisa merasakan bahwa derap langkah itu akan datang menuju mobil ini. Langsung saja Naresh membuka mata dan bersiaga, ia juga memposisikan duduk seperti saat Kinanti meninggalkan dirinya di mobil ini.


Kinanti masuk ke dalam mobilnya dan duduk di tempat kemudi. Wajahnya terlihat ada sisa butiran air. Rambut Kinanti yang terurai sebahu, ia buru-buru mengkucirnya agar tidak terlalu mengganggu saat memegang kemudi.


Naresh memperhatikan perempuan yang berada di sampingnya. Ia melihat perempuan itu sedang mengikat rambut. Semakin di perhatikan Naresh mulai menemukan sedikit keanehan pada wajah Kinanti. Benar saja ada bekas lebam yang sangat mencolok terlihat. Naresh yakin tadi luka lebam biru keunguan itu tidak ada.


“Mengapa pelipis dan sudut bibirmu membiru?” Tanpa menghiraukan apapun, Naresh langsung menjangkau pipi Kinanti. Ini membuat dua insan itu menjadi sedekat mungkin.


“Mengapa hal ini terjadi? Mengapa setelah dari rumah ibadah, wajahmu menjadi lebam?” Naresh bertanya penuh kekhawatiran yang berlebihan.


Hal ini tidak disukai oleh Kinanti. Ia menganggap bahwa Pria yang berada di hadapannya ini akan berbuat hal yang tidak pantas. Dengan sekuat tenaga, Kinanti mendorong Pria itu untuk menjauh.


“Jangan berbuat yang macam-macam, atau saya akan teriak!” Kinanti menatap galak pada pria yang berada di hadapannya.


Naresh langsung terdorong, tubuhnya sudah menyentuh pintu dan mobil sedikit terguncang. Naresh tidak suka jika calon kadidat yang ia bawa tergores luka sedikitpun. Ia lansung keluar dari mobil dan langsung mengendong Kinanti agar duduk di kursi yang sudah ia duduki sebelumnya.


“Anda, mau apa?! Turunkan aku sekarang!” Kinanti memberontak dalam gendongan Naresh.


Naresh terlihat tidak kesulitan menggendong Kinanti yang tidak bisa diam. Ia meletakkan tubuh Kinanti dengan halus ke kursi ang sempat ia duduki tadi. Kemudian ia juga memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Kinanti.


“Kamu diam di sini biar aku yang mengemudikan mobil ini. Jangan berpikir macam-macam, dan jangan lupa Adnan–bosmu itu adalah sahabatku. Mungkin dia tidak akan protes jika mobilnya aku pinjam sebentar.” Naresh menatap lekat wajah Kinanti, ia begitu khawatir dengan luka yang tercetak di pelipis dan sudut bibir perempuan ini.


Naresh langsung berjalan menuju kursi kemudi. Setelah ia mantap pada posisinya, Naresh sejenak mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. Ia mencari di mesin pencarian otomatis. Naresh memang sedang mencari apotek terdekat dari lokasinya saat ini.


“Ketemu!” Mata Naresh berbinar, ia telah menemukan apa yang ia cari. Dengan segera Naresh melajukan mobilnya.


“Kau ingin membawaku kemana, Tuan?!” Kinanti berseru, ia tidak mengenal pasti siapa pria yang bernama Naresh ini.


Naresh bergeming, ia tidak peduli dengan pertanyaan Kinanti, yang pasti ia ingin menemukan apotek segera. Tak berapa lama Naresh menghentikan mobilnya di depan apotek yang bertuliskan ‘Buka 24 jam’.

__ADS_1


“Jangan kemana-mana, tetap di sini. Aku akan segera kembali.”


Naresh keluar dari mobil. Terlihat ia berlari menyeberangi jalan raya menuju apotek. Kinanti merasa aneh dengan tingkah pria itu.


“Pasti dia kaget melihat luka lebamku ini,” Kinanti berguman lirih. Ia tahu persis, saat tadi berwudhu semua yang menempel di wajahnya larut dalan basuhan air. Ia baru sadar bahwa krim yang ia pakai telah luntur warnanya hingga sangat menampilkan jelas bekas lebam yang membiru.


Naresh telah kembali, ia membawa sekantong kresek berisi obat dan beberapa air es yang di masukkan ke dalam wadah kompres dingin. Ia masuk ke dalam mobil dan terseyum melihat Kinanti masih ada di tempatnya. Itu senyumnya pertama sejak Kinan membaur dengannya beberapa jam yang lalu.


Naresh dengan pernuh perhatian sedikit mengompres pelipis Kinanti. “Mengapa kamu bisa terluka seperti ini. Apakah kau memiliki masalah?” Naresh sedikit meniup kening Kinanti.


Kinanti hanya tertegun, ia tidak suka bercerita dengan orang yang tidak ia kenal. Naresh melihat luka Kinanti yang tercetak jelas di sudut bibirnya. Ia mengambil obat yang berupa salep dan mengoleskan dengan perlahan.


“Aduh!” Kinanti sedikit mengerang kesakitan ketika jari telunjuk Naresh yang terdapat sedikit salep menyentuh sudut bibir yang terluka itu.


“Tahan sedikit, salep ini akan cepat menyembuhkan lebam ini.” Dengan hati-hati Naresh mengoleskan salep itu. Sangat hati-hati seperti ia menyentuh keramik yang sangat mewah dan mahal.


Kinanti tidak habis pikir dengan pria yang berada di hadapannya. Apakah pria itu tidak menyadari bahwa mereka baru saja bertemu beberapa jam yang lalu. Kinanti melihat setiap lekuk wajah dengan tulang-tulang yang tersusun tegas. Walaupun nampak terlihat galak pada kesan awal bertemu, namun sekarang presepsi wajah galaknya menghilang ketika Kinanti melihat dengan dekat pria itu.


“Hari ini cukup sampai di sini jalan-jalannya. Tapi ada satu permintaan yang harus kamu penuhi.” Naresh menatap lekat wajah Kinanti.


Kinanti mengerutkan keningnya, tanda menanyakan permintaan apa yang akan pria ini minta.


“Jangan menatapku seperti itu! Pemintaanku hanya sederhana, kau ikut denganku, kita makan malam sebentar.”


Tanpa meminta pesetujuan dari Kinanti, Naresh langsung memacu kendaraannya. Ia sangat yakin bawa perempuan yang berada di sampingnya ini belum makan. Atau bisa jadi perempuan itu terlalu lelah karena harus mengantarkan dirinya berkeliling kota ini. Dan Naresh tidak ingin dia sakit karena kelelahan dan menahan lapar.


“Anda ingin membawaku kemana, Tuan?!”


Lagi-lagi pertanyaan ini muncul. Naresh hanya menoleh sebentar tidak menjawab. Ia melajukan mobilnya ke tengah kawasan elite yang berada di Milepolis. Kinanti tahu daerah ini, ia masih menatap kebingungan mengapa pria ini mengajaknya kemari. Naresh berhenti di salah satu restoran yang terkenal mahal.


“Tuan mengapa berhenti di sini?!” Kinanti tidak mau bergerak dari tempatnya. Ia menggeleng tanda tidak mau ikut.

__ADS_1


“Nanti kau akan tahu,” Naresh hanya tersenyum.


__________________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


_______________


Novel Rekomendasi saat menunggu Perempuan Pilihan update :



Don't Say Goodbye - Author Yu Aotian


Promise - Author Light Queen


Boss Come here Please! - Author Novi Wu


Sebenarnya Cinta - Author F.A queen.


My Arrogant husband - Author Auzuzah


__ADS_1


Hope you like it 😆


__ADS_2