
EPISODE 151: Selamat Tinggal Mantan Kekasih, Jaga Dirimu Baik-baik
Selamat Berimajinasi
_____________
“Nona, Anda sangatlah hebat, tapi sangat disayangkan, semuanya sia-sia!”
Kinanti masih mencari sumber suara itu. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mengucur deras di bingkai wajahnya.
Mengapa dia ada di sini?
Sebuah tangan mencengkeram tangan Kinanti. “Mengapa kau ingin sekali pergi!”
Demi melihat tatapan pria itu, nyali Kinanti menciut. Ada rasa ketakutan yang menyelimuti udara di sekitarnya.
Kenapa aku bisa tertangkap!
“Kinanti jawab aku!” Suara pria itu meninggi.
“Lepaskan aku Kak Naresh! Biarkan aku pergi! Sudah saatnya kau melepaskanku. Aku ... aku ... hanya gadis ....” Kinanti tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia menahan air mata yang tiba-tiba keluar.
Naresh melonggarkan cengkeramannya. Ia menggandengan tangan gadis ini agar dirinya lebih tenang. “Ayo kita pulang.”
“Tidak!” Kinanti menampik tangan Naresh. Dalam otaknya selalu muncul foto pria yang ia sayangin bersama perempuan lain. “Tak bisakah kamu melepaskanku? Anggap saja kita kembali seperti dulu, tak saling mengenal? Jika Tuhan sudi memutar waktu ke masa lalu, mungkin aku akan meminta agar kita tak saling bertemu! Aku akan meminta perasaan ini tidak tumbuh!” Kinanti berteriak kalap.
Mendengar pernyataan itu, Naresh melepaskan genggamannya. Hatinya terlampau sakit mendengar Kinanti yang berbicara seperti itu. “Apakah kamu merasa terkekang?”
“Ya!”
“Apakah kamu menyesal dengan hubungan kita saat ini?” Naresh bertanya lagi
“Iya! Dengar baik-baik Tuan Yori, saya menyesal telah menjadi bagian dari kehidupan Anda.”
Naresh terpaksa melengkungkan senyumnya. Kata-kata yang diucpakan oleh Kinanti begitu menusuk relung hatinya.
“Aku melepasmu.”
Kinanti mendengar sebuah kata yang cukup membuat sesak. Aku melepaskamu, ucapan itu seakan terngiang dipelbagai otaknya. Tangisannya tertahan cukup berat. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya, namun urung ia lakukan.
__ADS_1
Bukankah ini hari kebebasanmu Kinanti? Mengapa dirimu justru tak berbahagia? Mengapa hati dan raga ini sakit rasanya?
Naresh berjalan menjauh. “Kau boleh pulang. Biarkan Jun yang mengantarmu malam ini.”
Naresh sudah tidak perduli, ia hanya menelepon Jun agar segera mengantarkan “mantan kekasihnya” kembali ke Kota Milepolis.
Kinanti berjalan lunglai. Kakinya terasa berat seperti ada sebuah jangkar yang mengikatnya. Ada rasa yang tertahan, ada air mata yang hendak keluar, dan ada rasa yang dilenyapkan. Semuanya tumpah ruah memnuhi semua bagian tubuh kecilnya.
Naresh merasa hampa. Ia tahu gadis yang ia cintai berjalan di belakangnya, tapi ia terpaksa mengabaikan kehadiran Kinanti. Hatinya terlampau sakit mendengar hal ini. Apa boleh buat, gadis itu menginginkan kebebasannya.
Kinanti yang berjalan di belakang Naresh merasa punggung lelaki itu sudah berbeda. Dia tak menoleh sedikitpun ke arahnya. Senyuman hilang oleh malam. Rembulan bersembunyi di balik awan membuat kolam yang dipenuhi tumbuhan lotus seakan menjadi kelam.
Menurut cerita para maid senior, kolam yang dipenuhi oleh tumbuhan lotus itu selalu bersinar jika sang putra dipenuhi keriangan dan kebaikan. Namun kolam itu telah suram. Bahkan rembulan enggan bersinar untuk bercermin di kolam itu.
Apakah kau merasa kelam?
Kinanti menghentikan langkahnya karena Jun telah menunggu di gazebo berpilar tinggi. Ia melihat Naresh berjalan seakan sudah melupakan dirinya. Satu kesedihan lagi tercipta.
“Nona? Apa yang Anda tunggu?” Pertanyaan Jun membuyarkan lamunan Kinanti akan Naresh.
“Tidak. Apakah kita bisa pergi ke Kota Milepolis malam ini?” Kinanti menjawab pertanyaan Jun dengan sebuah pertanyaan yang sedikit meremehkan kemampuan pria berumur empat puluh tahun itu.
Berbeda dengan Kinanti yang langkah kakinya semakin lama, makin melamban. Ada rasa yang tertinggal di tempat ini. Namun ia berusaha untuk menyakinkan dirinya bahwa ini keputusan yang memang ia nantikan.
Jun meletakan tas milk Kinanti di tempat duduk bagian belakang. Kinanti terus membujuk hatinya agar segera keluar dari rumah ini.
Jalanan Kota Zen pada malah hari ini tidak terlalu padat. Jun melajukan mobil yang ia kendarai menuju perbatasan kota. Ia menangkap raut sedih milik Kinanti yang telah bersarang semenjak akan berangkat.
“Apakah Anda baik-baik saja Nona?” tanya Jun.
“Pak Jun tidak perlu memanggil saya Nona. Saya sudah bukan lagi siapa-siapa.”
Jun tersenyum. Ia tahu gadis ini sedang meratapi kesedihannya karena berani meninggalkan kediaman keluarga Fernando.
“Boleh saya bercerita?”
Kinanti memandang ke Jun. Ia tak biasanya mendengar Jun meminta izin untuk bercerita. “Silakan.”
“Nona, Tuan sebenarnya sangat mencintai Nona.”
__ADS_1
Benar dugaan Kinanti. Ia akan disuguhi cerita akan kebaikan Naresh. “Jika beliau mencintai saya, mengapa harus ada foto itu?” Ia mulai menyangkal.
“Itu hanya jebakan untuk misahkan kalian. Wanita yang ada di foto itu bernama Sirena, perempuan pekerja se-ks komesial yang ada di pinggiran Kota Zen bagian utara. Dia hanya di bayar agar mau berfoto seperti itu.”
Kinanti mendapatkan informasi baru. Ia tak tahu tentang perempuan itu dan jelas ia cemburu. Perempuan mana yang tidak cemburu ketika kekasihnya berfoto dengan perempuan lain ditambah berpose sangat menantang.
“Apakah Pak Jun dibayar untuk mengatakan hal ini kepada saya?”
Jun menggeleng. “Tidak Nona. Saya mengatakan hal yang sebenarya.” Ia yakin, gadis yang duduk di sebelahnya ini memang keras kepala. Tapi ia harus sabar sesuai waktu yang telah di tentukan.
“Tuan Yori dijebak saat pulang. Perempuan itu sengaja melakukan hal ini karena di bayar. Bahkan menurut penuturan perempuan bernama Sirena ini, dia sama sekali tidak menyentuh Tuan apalagi berbuat mesum seperti yang dipikirkan.”
Benarkah? Apa perempuan itu bisa dipercaya?
“Tuan Yori selalu menghormati dan menjaga perempuan manapun. Beliau tidak akan berbuat seperti itu apalagi hanya sekedar memuaskan hasrat. Tuan Yori tidak seperti itu. Selama saya mengabdi di keluarga itu, Tuan Yori tidak pernah membawa perempuan ke rumahnya kecuali Nona.”
Seperti tersambar petir, Kinanti merasa ada semacam hal yang tak terduga yang ia rasakan dari penuturan Jun.
Aku hanya wanita belian!
“Saya yakin, meskipun Nona bertempat tinggal di rumah Tuan Yori, pasti tepat tidurnya terpisah. Karena Tuan Yori selalu menghormati perempuan.” Lanjut Jun.
Mendadak wajah Kinanti menjadi kebas. Jika aku hanya wanita belian, mengapa selama ini Kak Naresh tidak menuntutku untuk berhubungan lebih jauh. Ia juga tak pernah mengintip dan selalu menjagaku. Mengapa aku baru tahu hal ini?
Mobil yang mereka kendarai sudah melewati batas Kota Zen. Jalanan yang sangat lenggang tanpa sorot lampu jalan terpaksa mereka lalui. Tiba-tiba sebuah mobil melaju untuk menjajari mereka dan melesatkan sebuah timah panas. Kaca mobil yang berada di sebelah Jun pecah mengenai pria itu.
Dor!
“Menunduk Nona!” seru Jun.
Apa yang sebenarnya terjadi? Degup jantung Kinanti berpacu cepat. Ia menyadari kondisi ini. Sang penjahat telah datang.
___________________
Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....😁😁
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa.🍀