Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 56


__ADS_3

Pagi kembali menyapa dengan senyuman hangat sang mentari. Langit tidak begitu biru, masih ada sisa gumpalan-gumpalan awan yang membawa air hujan. Pagi ini Ray sudah memutuskan untuk menjemput Farah di rumah milik Ilham. ia masih memiliki keyakinan bahwa Farah adalah anak Bu Tin. Seperti mentari, senyuman Ray begitu hangat dan menyenangkan.


Sama seperti hari-hari sebelumnya Ray memakai baju biasa, tidak ada setelan jas mewah atau pakaian mewah lainnya. Ia memakai baju seperti orang kelas menengah. Ray ingin sekali pagi ini bisa menghibur Farah walaupun lara menyelimutinya. Ia sangat berharap gadis itu menjadi gadis yang periang dan selalu tersenyum.


Ray sudah berada di depan pagar tinggi rumah Ilham. Ia melambaikan tangannya agar sopir segera bergegas pergi dari tempat ini. Ray dengan wajah sumringahnya berdiri menunggu sang pujaan hati keluar dari rumah ini.


***


Ilham sudah bangun subuh tadi. Ia masih memandang pagi di Kota Zen dari balik jendela kamar hotel. Hari ini perasaanya sudah tidak bersemangat seperti beberapa hari yang lalu. Seperti ada yang salah dengannya hari ini. Ilham sangat tidak bersemangat mencari keberadaan Anneline.


Ilham mengembuskan napas berat. Ia rindu kesibukkannya yang dulu. Pagi untuk berangkat ke kedai dan malamnya ia tidur di rumahnya sendiri. Ilham rindu suasana rumahnya dan rindu Farah juga.


Ilham ingin sekali pulang ke Milepolis. Namun di sisi lain Ilham ingin sekali mencari di mana keberadaan Anneline.


Tiba-tiba ada sengatan yang berpusat di dada sebelah kiri. Ilham refleks memegangnya.


“Ada apa denganku?”


Mendadak Iham merasa gelisah. Pikirannya tertuju pada Farah.


***


Farah telah bersiap diri. Ia membawa bekal makanan yang berisi ayam goreng tepung. Ia merasa perlu membawa menu yang satu ini. Farah berjalan dengan penuh kehampaan menuju pintu kamar milik Ilham. ia mengetuk pintu itu.


Tak ada jawaban, ia sadar pemilik kamar ini belum pulang, dan sekarang entah di mana keberadaannya.


Farah berbisik pada pintu kamar itu. “Sama sepertimu, aku juga merindukan pemilikmu.”


Farah menghirup napas panjang. Menguatkan hatinya untuk senantiasa tegar. Ia hanya bisa berharap agar suaminya tetap baik-baik saja.


Farah berjalan keluar dari rumah. ia mengunci pintu dan jendela. Hari ini ia ingin bekerja di kedai. Secara penampilan raganya baik-baik saja, hanya perasaannya yang tidak baik. Sangat tidak baik.


Farah kaget mendapati Ray yang sudah berdiri di depan pagar rumahnya. Pria itu tersenyum hangat. Mungkin semua wanita yang melihat wajah Ray hari ini akan setuju bahwa Ray pria yang baik dan juga romantis.

__ADS_1


Farah hanya tersenyum simpul membalas senyuman yang dilemparkan Ray untuknya.


“Pagi Nona cantik, saatnya berangkat bekerja,” ucap Ray dengan nada yang menyenangkan.


Farah hanya mengangguk.


Ray tahu persis kadar kesedihan perempuan yang berada di hadapannya. Ini sisa tangisnya tadi malam. Ray melihat seperti tidak ada kehangatan yang memeluk hatinya. Tidak ada. Mungkin di sana hanya ada hampa dan mungkin gelap.


Semoga gelap tahu cara menghangatkan apa yang tidak dapat mentari sentuh dalam diri Farah.


“Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain mengikutiku? Tidak bisakah kau mengikuti perempuan selain aku?” tanya Farah yang masih berjalan menuju halte dekat gapura perumahannya. Ia tahu Ray sedang mengikutinya dari belakang.


“Jawabannya tidak.”


Untuk kesekian kalinya Ray tidak mau diusir walaupun kata-kata pedas untuk mengusirnya sudah diucapkan Farah.


Mereka telah sampai di halte dekat gapura. Halte yang biasa Farah tempati untuk menunggu bus. Namun kali ini Farah tidak berhenti di halte itu. Ia tetap berjalan menyusuri trotoar arah menuju kedai.


Ray yang mengekor di belakangnya pun heran. Mengapa Farah tidak berhenti di halte itu?


“Aku ingin berjalan,” jawab Farah tanpa melihat lawan bicaranya. Ia tetap berjalan dengan pandangan yang lurus ke depan.


Farah hanya ingin mengusir kehampaannya oleh sebab itu ia memilih cara lain agar sampai ke kedai. Farah tahu ia akan terlambat, tapi ia sudah tidak peduli.


Ray iba melihat perempuan yang dicintainya seperti ini. Pilu rasanya melihat kesakitan yang Farah rasakan. Ray ingin tahu apa yang membuatnya seperti ini. Ia hanya bisa berdoa.


Semoga Semesta menyembuhkanmu dari kosong yang hanya berisi kepiluan, kesedihan dan amarah yang terpendam.


***


“Pergi kamu! Dasar kucing jelek!”


Seorang lelaki tua berkepala botak sedang menendang kucing untuk keluar dari warung nasinya. Bahkan lelaki tua itu tak segan melempar kucing itu. Hingga kucing itu jatuh tersungkur. Terlihat kucing itu bangkit, ia berjalan menjauh karena takut diperlakukan lebih buruk lagi. Kucing itu berjalan dengan kesakitan, salah satu kakinya sakit mungkin terbentur saat dia dilempar tadi.

__ADS_1


Pemandangan itu sungguh memilukan untuk Farah. Langkahnya terhenti menyaksikan kejadian itu. Ia menghampiri kucing itu.


Ray tak percaya, apa yang akan Farah berbuat dengan kucing kotor dan sakit itu. Ia sedikit merasa jijik dengan penampilan hewan kecil itu.


Farah mendekat. “Apakah kau lapar?” Farah bertanya pada kucing itu. Ia merasa kasihan terhadap kucing yang memiliki tiga warna ini. Ia ingin mengelus puncak kepala kucing itu.


“Jangan menyentuhnya! Kucing itu kotor.” Ray mencegah agar Farah tidak melakukan hal itu. Menurut Ray kucing itu sangat kotor, jauh dari kata bersih dan mungkin berpenyakitan.


Namun Farah tak acuh, ia tetap mengelus puncak kepala kucing itu. Nampaknya kucing itu senang mendapat perlakuan Farah yang lembut itu. Bahkan kucing itu mengeong pada Farah.


Farah mengambil kotak makan yang ia bawa tadi di tasnya. Farah memberi kucing itu satu potong paha ayam goreng kepada kucing itu.


“Ambil dan makanlah.”


Kucing itu menatap Farah. Ia mungkin sedang berbicara dengan tatapan matanya bahwa manusia yang baru saja mengelus kepalanya adalah manusia yang baik. Kucing itu menerima pemberian sepotong ayam goreng dari Farah.


Farah tersenyum, sejenak ia melupakan kesedihannya.


Ray melihat kejadian itu terdiam. Ia merasa Farah tidak perlu berbelas kasih kepada kucing kotor itu. Dia saja kesusahan menata hatinya, namun dengan begitu mudahnya dia merasa kasihan kepada makhluk lain.


“Harusnya tidak perlu melakukan hal itu, kucing itu kotor dan mungkin berpenyakitan. Dia bisa mencari makan sendiri,” ucap Ray.


Kucing itu memandangi Ray dengan mulut sudah membawa ayam goreng dari Farah. Kucing itu sudah memasang badannya untuk bergegas pergi walaupun salah satu kakinya pincang karena terbentur. Ia tak ingin manusia yang memandangnya dengan tatapan jijik, lalu berubah pikiran untuk mengambil kembali makanan yang sudah diberikan. Kucing itu butuh makanan itu.


Kucing itu mundur dengan langkah kecil, lalu ia berlari sebisa mungkin. Menjauh dari pandangan Ray dan Farah.


“Kucing itu lebih membutuhkan makanan itu daripada aku. Aku tidak tega jika dia tidak mendapat makanan,” ujar Farah.


“Kucing itu kotor Farah, bahkan banyak luka-luka di sekujur tubuhnya. Kau bisa terkena rabies!” Ray mengomel seperti para ibu yang memarahi anaknya.


Farah memandangi Ray. Sepertinya Ray tidak paham apa yang Farah katakan.


“Ikuti aku.” Farah tak sengaja menarik tangan Ray agar mau mengikutinya mengejar kucing itu. Farah ingin menunjukkan sesuatu kepada Ray.

__ADS_1


Ray masih tak percaya tangan Farah mencengkram tangannya. Begitu lembut dan mengagumkan. Jantungnya tak berhenti memompa aliran darah dengan sangat cepat. Ia merasakan debaran jantungnya.


__ADS_2