
Episode 182: Amin Paling Serius Seluruh Dunia
Dering ponsel Anneline mengalihkan pandangan Ray. Ia melihat sebuah panggilan telepon dari Naresh.
Anneline dengan malasnya mengambil benda kotak itu dan menjawabnya. “Haloo ....”
“Maaf mengganggumu malam-malam begini, Adik Ipar.”
“Hemm ....” Anneline sudah setengah sadar. Ia hanya menjawab seenaknya.
Ray berusaha untuk tidak menguping percakapan Anneline dan Naresh. Namun ia lebih terbebani dengan perempuan yang sedang bertamu itu. Anneline kelewat mabuk, wajahnya sedikit memerah. Ia minum banyak sekali walaupun Ray sudah memperingatinya.
“Sepertinya kamu akan menginap di sini, Anne,” Ray mendesah. Ia meminta para pelayan untuk menyiapkan satu kamar.
Anneline telah selesai menerima telepon itu. Ia melempar sembarang ponselnya dan kembali menyesap wine yang masih tersisa di gelas. Hanya seteguk lalu ia meletakkan gelas itu lagi. “Ray, aku ingin tambah minuman.”
“Kamu sudah mabuk. Aku tak akan memberikannya lagi. Sekarang kamu harus tidur Anne.” Ray memposisikan Anneline di punggungnya. Ia harus menggendong perempuan itu menuju kamar yang telah disiapkan.
Anneline sesekali tertawa. Terkadang dia menyebut nama Ilham dan Fernando. Ray hanya mengembuskan napas kasar karena ia harus terjebak dengan beban perempuan. Akhirnya mereka sampai di kamar. Ray harus meletakkan tubuh Anneline di ranjang itu.
“Ternyata kamu berat juga, Anne!” Ray memutar bola matanya dan mendengus kesal.
Anneline hanya menggeliat. “Karena kamu! Karena kamu aku jadi seperti ini! Hahahaha ... kalian pantas mati!” Ia mencercau tak jelas.
Ray hanya menatap iba pada perempuan itu. Apakah kamu masih Anneline yang dulu? Jujur aku mulai tak mengenal sosokmu. Kamu sangat berbeda dari enam tahun yang lalu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka yang membuatmu seperti ini?
Ray ternggelam dalam pikiranya. Ia hanya duduk di sisi ranjang sambil memejamkan mata. “Apakah Ilham masih mau denganmu, jika dia tahu kalau kamu bisa mabuk?” Ia teringat pada kepriadian Ilham yang selalu agamis.
Anneline bangun dari tidurnya. Ia masih setengah sadar dan langsung merangkul Ray dari belakang. Pria itu tersentak kaget karena Anneline mencoba merobek kaus yang dipakainya.
“Apa yang ingin kamu lakukan Anne!” Ray mendorong perempuan itu. Ia tahu, bahwa dia sedang di bawah pengaruh minuman beralkohol.
Anneline hanya mendesah tak jelas. Ia bahkan sudah ingin menanggalkan pakaiannya sediri. “Aku hanya ingin kau ... Ilham.”
Ray berdiri, kausnya sedikit sobek dibagian leher karena ditarik oleh Anneline. Ia sempat mencium bau alkhol dari mulutya. “Aku bukan Ilham.”
Anneline makin liar. Ia tak sadar jika pakaiannya sudah lepas dari tubuhnya menyisakan pakaian dalam. Ray yang mengamati justru melihat ada sedikit bekas luka di sekitar dada Anneline.
__ADS_1
“Itu bekas luka apa?”
Anneline hanya tertawa, bahkan ia sudah tidak bisa mengendalikan pikirannya. Ia melepas semua pakaian dalam yang masih tersisa. Ray yang melihat itu akhirnya balik kanan dan meninggalkan Anneline.
“Maaf Anne, dulu aku memang tergila-gila padamu, tapi sekarang aku punya tujuan lain.”
***
Farah sedang duduk dengan berselonjor membaca buku sebelum tidur. Rambutnya sudah tersisir rapi bahkan sekarang panjangnya hampir sepinggang. Ilham yang baru memasuki kamar melihat istrinya yang tenggelam dalam buku Tentang Kamu karya Tere Liye. Buku yang dia beli beberapa minggu yang lalu dan baru sempat dibaca saat ini.
Farah menutup bukunya. “Mas Ilham hanya berdiri saja?” Ia tahu jika suaminya sedang menatap dirinya.
Ilham sedikit kikuk ketika Farah memergokinya. “Enggak apa-apa.” Ia langsung duduk di pinggiran ranjang.
“Bilang aja terpesona dengan keimutanku! Iya, kan?” Farah menggoda suaminya. Ia serang sekali usil kepada pria yang setahun membangun pondasi rumah tangga.
“Idih! Enggaklah.” Ilham berkata dingin yang sebetulnya sedang menahan tawa.
Farah memajukan bibirnya dua senti. “Jangan bohong, Mas.”
“Huh! Mas, nggak asik! Udah langsung tidur saja!” protes Farah.
Ilham tidak membalas kelakuan istrinya yang sedikit aktif. Ia benar-benar ingin membuat Farah sebal. “Aku ingin tidur. Besok ada banyak pekerjaan sudah menunggu.”
Farah menjadi kesal. Ia bingung harus berbuat apa, karena kegiatan belajarnya sudah selesai sejak ujian itu. “Hem!”
Farah mengambil ponselnya yang berada di nakas. Ia memutar musik kesukaannya yang hampir setiap hari ia dengarkan. Ia menggunaka earphone yang dipasang pada dua daun telinganya. Ia tak mau menggangu suaminya yang tidur.
Ilham yang merasa istrinya lebih anteng kemudian menoleh. Ternyata Farah memejamkan mata dengan kaki yang digerakan mengikuti lagu yang ia dengarkan dari earphone. Dia sedang mendengarkan apa?
Ilham mencabut satu earphone dari telinga kanan istrinya dan memasangkannya di telinga kirinya. Farah menoleh, ia tersipu melihat Ilham yang mendengarkan lagu diputar.
Semula Ilham mencoba mengingat lagu yang sedang diputar ini. Dua detik kemudian, ia tahu jika lagu ini adalah lagu yang sering perdengarkan di kedai miliknya. Matanya bersitatap kepada Farah seakan mengajak perempuan itu untuk bernyanyi.
“Tuk! Petualangan ini ... mari kita ketuk pintu yang sama. Membawa amin paling serius seluruh dunia! Bayangkan betapa, cantik dan lucunya ... gemuruh petir ini! Disanding rintik-rintik yang gemas dan merayakan amin paling serius seluruh dunia!”
Mereka terus saja bernyanyi entah suara sumbang atau merdu menjadi satu. Sebuah lagu dari Sal Priadi yang berjudul Amin Paling Serius menjadi pengantar sebelum tidur. Lagu yang bermakna sangat mendalam. Tentang keberuntunga manusia sekarang yang bisa memilih pasangannya, tidak seperti Adam dan Hawa yang tidak diberi bilik khusus untuk memilih. Saling melempar doa dan pujian, walaupun dua manusia itu memiliki banyak kekurangan.
__ADS_1
Dua kali lagu itu diputar, dua kali pula Ilham dan Farah bernyanyi bersama. Mereka pun tertawa. Farah melepaskan earphonenya. Ia menatap Ilham sangat lekat sekali.
“Ada apa?” Ilham bertanya. Ia yakin istrinya ingin meminta sesuatu karena tatapan seperti selalu berujung pada permintaan.
“Mas, bolehkah aku selalu menjadi hawa-mu?”
Ilham mengerutkan alisnya. Ia masih mencerna permintaan yang baru saja diucapakan Farah. Ia yakin pasti istrinya sedang terbawa oleh lagu yang baru saja ia dengarkan. “Maksudnya?” Ilham menjawab dengan pertanyaan. Ia tidak bisa mengartikan pertanyaan yang diajukan istrinya.
Farah tersenyum. Ia mencabut earphone dari telinga Ilham dan meletakkan di nakas berserta ponselnya. Ia ingin berbicara serius. “Bisa jadikan aku perempuan satu-satunya di kehidupanmu. Seperti Adam dan Hawa, tanpa perempuan atau pria lain?”
Ilham terdiam dan menelan salivanya. Ia tahu Adan dan Hawa hanya memiliki satu sama lain tanpa siapapun. Ia merasa permintaan ini seakan harus dipenuhi dan sebenarnya ia tidak sedang ingin menikah lagi, mungkin belum.
“Kamu melarangku untuk menikah lagi?”
Farah menggeleng. “Aku tidak melarang, itu adalah pilihan, Mas. Hanya saja ....” Suara Farah tercekat, tertahan di tenggorokannya. Ia menahan air mata yang ternyata sudah terkumpul penuh di sudut matanya.
“Hanya apa?” Ilham menuntut. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dirasakan oleh istrinya.
Farah mengumpulkan keberaniannya. “Hanya saja aku minta, selama aku hidup biarkan hanya aku yang jadi istrimu satu-satunya. Hanya selama aku hidup.” Farah memaksakan senyumnya. Satu buliran air mata jatuh membasahi pipi. Ada tangis yang tertahan.
Ilham merasa nyeri di bagian dada kirinya. Ia mendekap istrinya agar tangis yang dia tahan segera melebur.
Farah menangis lirih di pelukan suaminya. Ia ingin menumpahkan segala keinginannya di tubuh besar nan nyaman ini. “Bisakan Mas memenuhi permintaanku ini?”
Ilham mencium rambut Farah. Ia mengelus punggung istrinya untuk memberikan kenyamanan. “Iya.”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1