
Ray segera memasukkan mobilnya ke garasi yang berada di samping toko buku. Ia mempersilahkan Farah untuk duduk di meja dekat dengan jendela. Ray juga memesan dua kopi untuk dirinya dan Farah.
Farah hanya mengikut di belakang Ray. Ia melihat toko buku ini yang sangat tersentuh seni walaupun lantainya dari kayu. Toko ini tampak sepi. Farah melihat sepertinya Ray sangat akrab dengan penjaga toko buku ini. Bahkan Ray tak sungkan untuk meminta apa saja yang dia butuhkan.
Farah sebenarnya senang dengan tempat yang menawan ini, namun hatinya terlanjur kecewa dengan semua yang ia alami beberapa hari ini. Farah melihat angin yang yang berhembus sangat kencang disertai hujan yang kian deras yang membawa butiran-butiran es. Tiba-tiba air mata keluar dari sudut mata Farah. Ia menangis dalam diam.
***
Ray berada di toilet pria, ia sedang sibuk menelpon seseorang.
“Mengapa kalian memukulku!” seru Ray dengan orang yang sedang ia hubungi.
“Itu karena bos main pukul tanpa ada pemberitahuan,” jawab orang yang di seberang sana.
“Padahal yang aku inginkan itu hanya pura-pura. Ya sudahlah, tak apa, nanti bayaran kalian aku naikan dua kali lipat. Nanti aku transfer,” ucap Ray lalu ia memutuskan sambungan teleponnya.
Ray melihat wajahnya yang penuh dengan luka di cermin toilet. Ia membersihkan luka-lukanya sendiri dan menutupnya dengan plester.
“Sialan para preman itu, membuat wajahku jadi begini!” Ray mendengus kesal merasakan kesakiannya.
“Namun jika tidak seperti ini, Farah tak akan mau ikut denganku. Sekarang aku tahu bahwa mengejar cinta juga butuh pengorbanan bukan hanya uang,” guman Ray.
Setelah selesai Ray langsung keluar dari toilet, ia mengembalikan kota obat yang ia bawa dari lemari.
Tanpa sadar Ray menjatuhkan sebuah kotak, ia membuka kotak itu. Ray teringat akan kenangan itu lagi. Ia buru-buru menutupnya.
Kemudian Ray memanggil penjaga toko itu, ia ingin menyuruhnya untuk memberikan kotak itu kepada Farah.
“Ramdan,” panggil Ray.
Ramdan si penjaga toko itu meletakan nampan yang berisi dua cangkir kopi. Ia berjalan menuju tempat Ray berdiri.
“Berikan ini kepada gadis itu,” ucap Ray sambil memberikan sekotak hadiah.
__ADS_1
“Bilang kepadanya agar segera dipakai,” jelas Ray.
Ramdan pun mengangguk menyanggupi perintah dari bosnya. Ia membawa kotak itu dan dua gelas kopi di nampannya. Ramdan berjalan menuju Farah yang sedang duduk melihat hujan lebat itu.
Farah menyadari kedatangan Ramdan, ia lalu menghapus jejak air mata yang menggenang di pipinya. Farah merapatkan jas pemberian dari Ray.
“Maaf Nona, ini ada pesan dari pak Ray, mohon segera dipakai.” Ramdan tersenyum ramah sambil meletakkan kotak itu dan dua cangkir kopi di hadapan Farah.
Farah memandang kotak itu.
“Saya permisi dulu Nona.” Ramdan pamit untuk kembali ke tempat awalnya yaitu di belakang.
Farah mengangguk.
Selepas kepergian Ramdan, Farah membuka kotak itu. Ia masih masih bingung apa yang berada di dalam kotak itu. Ia merasa itu kain. Farah mengelurakan kain itu. Benar ini kain kerudung dengan motif yang cantik. Kain itu halus dan kelihatannya nyaman saat di gunakan.
Farah lalu bergegas masuk ke dalam toilet, ia bisa memakai kerudung yang lebih baik dibanding kerudung yang ia kenakan ini sudah sobek. Farah merasa ia sedikit melupakan kesedihannya.
Farah menunduk melihat Ray menatapnya dengan begitu kasih. Sampai-sampai Ray sadar untuk menghentikan kegiatan saling tatap itu. Ray beralih memandang ke arah jendela.
Farah berjalan menuju meja yang sebelumnya sudah ia tempati, ia melihat ada Ray di sana. Farah duduk berhadapan dengan Ray. Hanya meja pemisah antara mereka.
Farah melihat jelas wajah Ray yang sedikit memar dan ada luka yang dia tutupi dengan plester. Ia merasa bersalah telah melibatkan Ray.
“Terima kasih Ray, hari ini kamu telah menyelamatkanku, dan kamu juga baik kepadaku,” ucap Farah menunduk, ia sangat merasa bersalah.
“Aku tidak apa-apa, lain kali jika ingin pergi, seharusnya kamu bilang kepadaku. Aku bisa menemanimu ke manapun dengan aman,” ucap Ray.
Farah tidak menjawab, ia hanya mengangguk.
Farah melihat hujan dari balik jendela toko ini. ia merasa hujan ini kian lama makin deras dan angin bertiup seakan murka, sehingga banyak pohon-pohon yang mengeliat kencang diterpa angin badai itu.
Sekarang kamu di mana mas? kau tahu, aku bahkan tak tahu keberadaanmu saat ini. Dan aku begitu nelangsa mas.
__ADS_1
Ingin sekali Farah ingin menangis, air mata sudah menetes jatuh tanpa seizin pemiliknya. Farah buru-buru mengelap air mata yang tumpah beberapa tetes itu.
Ray melihat Farah yang akan menangis, ia merasa mengapa perempuan di depannya mudah sekali bersedih?
“Jika kamu ingin menangis, menangislah. Agar kamu lebih tenang,” ucap Ray.
Seketika Farah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia mulai menangis. Farah ingin menangis hari ini, sangat ingin.
Ray membiarkan Farah melepaskan bebannya. Ia mendengar perempuan itu sedang menangis.
Tawa harusnya meminta maaf, karena ia telah lama meninggalkanmu. Hingga sedih itu bersarang di benakmu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang menjadi beban pikiranmu? Hingga kamu selalu mendung seakan hujan harus turun. Apa mungkin ini bentuk dari amarahmu? Seperti badai, amarahmu kian memilukan.
Ray memandang Farah sedangan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ada beberapa tetes air mata yang keluar dari sela jarinya. Ray mengambil saputangan dari saku celananya dan menyodorkannya ke arah Farah.
“Gunakan ini untuk mengelap air matamu,” pinta Ray.
Farah mengambil saputangan itu dan mengelap mata dan pipi yang basah. Ia berhenti menangis. Untuk saat ini sudah cukup.
Ray berpikir bagaimana cara agar Farah berhenti untuk bersedih. Ia mencari topik yang tepat untuk saat ini. Ray masih berpikir keras.
“Aku iri pada Adam,” ucap Ray sukses membuat Farah menoleh pada padanya.
“Iya aku iri pada Adam, dia tidak di beri bilik khusus untuk menentukan seperti apa pasangannya kelak. Dari tulang rusuknya sudah terikat untuk satu wanita yaitu ibu hawa,” Ray tersenyum.
“Tidak sepertiku dan manusia-manusia sekarang, mereka kadang terjebak pada cinta yang salah dahulu sebelum menemukan cint yang sebenarnya. Mereka mudah sekali menjatuhkan hari pada orang yang mungkin tidak digaris takdirkan untuk kita,” lanjut Ray.
Penyataan dari Ray mampu membuat Farah menghentikan kesedihannya sejenak. Akhirnya Farah memberanikan diri bertanya sesuatu hal kepada Ray.
“Ray ...” panggil Farah lembut
“Iya? Ray tersenyum memandang lawan bicaranya.
“Apakah kau pernah jatuh cinta?”
__ADS_1