
Mohon maaf cerita ini sedikit mengandung unsur slasher dan gore yang dapat membuat sedikit ngeri bahkan mual. Author sarankan pembaca sudah berusia di atas 18 tahun. Semoga pembaca bijak dalam menyikapinya.
Selamat berimajinasi
_________
(Masih dalam flashback)
Pada bulan basah musim penghujan yang rinainya turun seharian penuh, Anneline memutuskan untuk membakar dendamnya hingga tuntas. Gadis itu mengambil samurai hitam dari ruang senjata. Tak lupa ia memaki gaun sederhana dengan warna putih sebersih salju.
Malam itu hujan masih saja turun tapi ia sudah sampai di dekat rumah keluarganya. Dari kejauhan ia melihat Ayah, Ibu dan Kakak Theo sedang menyantap makan malam yang sangat lezat. Mereka tampak bersuka cita dalam kehangan keluarga.
“Bersenang-senanglah kaliah, puaskan diri kalian sampai benar-benar kenyang,” guman Anneline.
Dalam pembalasan kali ini ia tidak sendiri, ada dua orang bayaran yang akan ikut membantunya. Semua dalam kendali Anneline. Ia masih setia menunggu ritual makan malam itu dari dalam mobil. Anneline sangat sabar sekali, ia yakin kesabarannya akan berbuah manis. Tak lupa ia juga melihat kilauan samurai dengan sarungnya yang berwarna hitam. Gadis itu mengeluarkan pedang khas Jepang ang bentuknya agak melengkung. Matanya berbinar melihat katana-nya yang berbisik meminta tumbal.
“Pedang ini sungguh indah bukan? Akan lebih indah lagi jika pedang ini dibasuh oleh darah,” Anneline tersenyum menyunggingkan salah satu bibirnya.
15 menit penantian panjang yang dirasakan. “Sekarang!” Anneline berseru. Dua orang bayarannya segera beraksi seperti yang ia mau. Salah satu orang membawa pisau dan tali. Anneline masih duduk manis saja menunggu untuk kedua kalinya. “Jangan kecewakan aku.”
Tak berselang lama salah satu pria itu memanggil Anneline, ia bilang bawa tugasnya sudah selesai. Lagi-lagi sebuah senyuman yang mengerikan muncul. Ia turun dari mobil dengan membawa pedang tanpa sarung. Ia sengaja berjibaku meleburkan dirinya dalam hujan yang masih saja melesatkan jarum-jarum air dari atas langit. Petir mengambil peran, ia mengedarkan cahaya yang membuat keadaan seketika terang lalu disusul gemuruh yang memekakan telinga.
Anneline berjalan dengan anggun seperti malaikan pencabut nyawa. Ia memasuki rumahnya. Hangat, itu yang ia rasakan saat ini. Kata salah satu orang bayarannya bahwa semua target sudah terkunci di dalam ruang keluaraga. Anneline bergegas memasuki ruang keluraga, ia melihat ada empat manusia yang tubuhnya tergantung ditali. Mereka meronta-ronta minta dilepaskan.
“Anneline! Mengapa kau melakukan ini kepada kami!” suara Theo masih berteriak. Ia berusaha melepaskan ikatan tali yang menjerat dirinya.
Ibu hanya bisa memangis, ia tidak bisa berbuat banyak. Anak lelaki dan suaminya juga terikat. Lebih parahnya lagi pembantunya pun juga terkena malapetaka ini. Semua tidak tahu apa yang telah Anneline rencanakan.
“Aku ingin kalian merasakan bagaimana dengan tubuh terikat seperti hewan buruan,” Anneline berbicara dengan menekatkan setiap kata. Ia sudah tidak mau peduli tentang akibat apa yang ia dapat setelah melakukan hal ini.
“Aku mohon lepaskan ibu dan ayah! Kau tidak pantas melakukan hal seperti ini!” Theo masih bersikeras. Ia harus segera melepaskan diri sebelum Anneline bertindak semakin mengerikan.
“Kau terlalu banyak membual Kakak,” Anneline tersenyum ia mengacak rambut Theo dengan kasar.
“Lepaskan kami Nak ... lepaskan ibu dan juga kakakmu itu. Aku yang bersalah di sini. Aku pantas merasakan kemarahamu,” sang ayah berujar lirih. Ia tahu dendam putrinya terbentuk karena ia dipaksa menikah denga orang yang bukan pilihannya dan itu pun karena uang.
__ADS_1
“Jangan khawatir Ayah, kau berada di urutan pertama merasakan pedang ini.” Anneline tertawa. Sekarang ia lebih mengerikan dari penjahat manapun.
Tanpa permisi, Anneline mengayunkan pedangnya ke leher sang ayah. Ia menebas dengan cepat kepala ayah hingga darahnya memercik mengenai gaun putih bersih seperti salju. Satu kepala manusia tergeletak di dasar lantai, menggelinding terputus dari tubuhnya.
“Semoga tenang Ayah,” ucap Anneline.
Tersisa tiga orang lagi yang masih tergantung. Theo menatap nanar kepala ayahnya yang terpenggal, tapi tubunya masih tergantung. Sekarang Anneline berjalan menuju pembantu yang berkerja di rumah ini.
“Aku tidak mengenalmu, tapi lebih baik kau ikut dengan tuanmu di alam baka.” Anneline mengayunkan lagi pedang yang sudah terbasuh oleh darah ayahnya.
Dua kepala manusia jatuh menggelinding dengan mata yang terbuka, darah yang memancar membuat pola pada gaun yang Anneline pakai. Theo menatap nanar dua kepala yang telah menggelinding. Lantai sudah terlukis oleh darah, bau anyir yang khas menyeruak keras masuk ke dalam indera penciuman.
Sang ibu meraung keras minta dilepaskan. Theo masih berusaha untuk mencari celah agara ikatan yang menjerat dirinya terlepas. “Sial, mengapa Anneline berubah menjadi monster seperti ini!” Theo masih sempat mengumpat.
Sekarang Anneline berjalan menuju ke ibunya dan memeluknya dengan kasih. “Aku sangat sayang dengan Ibu ... tapi kau sama dengan suamimu!” Anneline melepaskan dekapannya. Ia memandang ibunya dengan tatapan kemarahan.
“Kau sama seperti suamimu! Kau hanya bisa menangis ketika aku diseret oleh ayah! Kau tidak kuasa untuk menahan suamimu untuk menjualku kepada keluarga itu!” Anneline menganyunkan pedangnya lagi, kali ini ia sedikit gemetar untuk membunuh ibunya. Di sudut hatinya ada rasa kasihan tapi tak teramat dalam.
Theo yang melihat ketidak-tegaan dari adiknya memanfaatkan situasi untuk menghentikan kekejaman Anneline. “Jangan Anneline, dia ibumu! Dia yang melahirkanmu! Apa kau tega menyakitinya?!”
Anneline perlahan menurunkan katana yang telah berganti warna merah darah. Theo merasa siasatnya berhasil mengulur waktu untuk meloloskan diri dan ibunya. Waktunya sangat singkat, tapi harus mencari celah dari ikatan ini. Ketemu!
Tiga kepala manusia telah bergeletakan di lantai dengan mata yang terbuka. Sekarang tinggal satu manusia lagi yang masih hidup, Kakak Theo. Annelin berjalan menuju tempat di mana Theo tergantung.
“Sekarang hanya tinggal aku dan kamu, Kak.” Anneline menjambak rambut Theo, membuatnya terpaksa mendongak.
“Kau bukan adikku, Ann! Kau pembunuh! Kau membunuh ayah dan ibu!” seru Theo.
“Aku memang bukan Anneline, gadis itu telah mati! Namaku sekarang adalah Nyonya Fernando! Ingat itu baik-baik!” Anneline melepaskan tangannya.
Sekarang hanya tersisa satu orang saja yang belum terbunuh. Anneline mengayunkan katananya sangat tinggi. Gaun, tubuhnya bahkan wajah penuh dengan noda darah dari orang-orang yang telah ia bunuh.
“Selanjutnya kau Kak Theo. Kau bersalah karena ikut membantu tua bangka ini. Kau lupa akan janjimu! Janji kita semasa kecil!” Anneline mengeruk kembali kekecewaannya pada Theo.
Tak disangka oleh Anneline, Theo berhasil meloloskan diri dan membuang pedang yang dipegang Anneline. Tak hanya itu, ia juga mendorong tubuh adiknya hingga tersungkur, gaun yang dikenakan menyesap darah yang terceceran di lantai.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Theo memanfaatkan keadaan ini untuk segera melarikan diri. Namun ini tidak berlaku bagi Anneline, ia mengambil pistolnya yang ia sembunyikan di paha kiri.
Dor!
Satu peluru menembus kepala Theo, membuatnya terhenti dari pelariannya.
Dor!
Peluru kedua mengenai bagian punggung Theo, membuatnya jatuh terduduk.
Dor!
Peluru ketiga bersarang di pundak kiri Theo.
Sekarang sempurna Theo berdarah karena tiga peluru telah dilesatkan tanpa ampun oleh Anneline. Ia berjalan mendekati tubuh Theo yang mengeluarkan darah di setiap lokasi peluru yang mengenainya.
“Kau memang tidak mati karena tebasan pedangku, tapi kau mati karena pistolku. Kau bodoh Theo, sangat bodoh jika berharap bisa lari dari dendamku.”
Anneline berjalan mengambil pedangnya. Ia menyuruh dua orang bayarannya membersihkan area pembantaian itu. Malam itu selesai sudah pembalasan dendamya. Ia sudah merasa ada kelegaan. Sekarang ia harus pulang sebelum orang suruhan Fernando datang memcarinya. Terlebih lagi, suaminya sangat mudah sekali menemukan keberadaanya.
Hujan telah berhenti menangis seakan bungkam menjadi saksi bisu tragedi itu. Saat Anneline keluar dari rumah, Fernando dengan kursi rodanya sudah menunggunya tepat di ambang pintu. Dia memandang istrinya dengan tatapan menusuk.
“Apakah kau sudah selesai bermain, Sayang?”
(Flashback selesai)
______________
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar😅
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE. 😁
Terima kasih
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀