Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 156


__ADS_3

Episode 156: Terima Kasih, Nyonya


Selamat Berimajinasi


____________


Sudah hampir seharian Kinanti dan Sirena menghabiskan waktu bersama. Hampir semua petanyaan di jawab oleh Sirena. Namun tetap saja masih ada yang mengganjal di benak Kinanti. Ia hanya ingin bertanya hal yang sangat penting.


“Nyonya hari ini baik sekali. Tuan juga baik, dia juga membeli waktuku hanya untuk menjawab semua pertanyaan Nyonya,” ucap Sirena ketika lidahnya sibuk dengan sensasi dingin es krim rasa vanila.


“Membeli?” Kinanti mengernyitkan dahi. Ia menghentikan kegiatanya menjilati es krim cone rasa cokelat.


“Iya, kemarin Tuan Jun dan Tuan Yori datang. Mereka membeli waktuku selama tiga hari agar tidak digunakan oleh pelanggan lain.”


Kinanti masih mengernyitkan dahinya. Ia masih tak paham dengan ucapan ‘membeli waktu’.


Sirena mengartikan tatapan itu adalah kemarahan Kinanti yang belum selesai. Ia yakin Kinanti masih meredam kemarahan yang sangat mendalam ini. “Maksudnya mereka hanya membeliku tidak ada apa-apa hanya membeli jam bekerjaku, Nyonya.”


“Oh,” Kinanti kembali memakan es krim cokelatnya.


Sirena menghela napas lega. Akhirnya Kinanti tidak terlalu menuntup. Baginya pertanyaan dari Kinanti sangatlah mendebarkan. Bagaimana tidak? Ia harus menjawab dengan penuh kehatian apalagi menyangkut Tuan Yori. Sirena tak mau gagal jika ia hanya salah mengucapkan kata. Apalagi ia pernah menberikan jejak bibir di dada Tuan Yori.


“Bagaimana bisa kamu menjebak Kak Naresh? Bukankah dia terlalu pandai? Maksudku tak mudah menjebak tuan muda itu. Cara apa yang kau gunakan?” Kinanti kembali pada pertanya yang sedari tadi mengganjalnya. Ia baru lega jika pertanyaan ini dijawab secara jujur.


“Saya menggodanya, Nyonya. Tapi bukan untuk macam-macam. Saya dibayar untuk melakukan hal itu. Cara yang saya gunakan adalah dengan mencampurkan obat tidur ke dalam minumnya.” Sirena berbicara dengan hati-hati. Ia harus menahan diri.


“Siapa yang membayarmu? Jawab jujur, Siren.” Kinanti menuntut apa yang harus ia ketahui. Setidaknya untuk apa dilakukan cara kotor seperti ini.

__ADS_1


“Saya tidak bisa menyebutkan, yang saya tahu mereka menggunakan foto itu untuk membuat hancur Tuan Yori.”


“Hanya itu?” Kinanti tidak puas dengan jawaban Sirena. Ia merasa ada yang disembunyikan.


“Nyonya, apa maksud dari peempuan terhormat itu?” Sirena menatap lurus ke depan. Pikirannya masih mengingat jelas bagaimana nyonya yang kejam itu menyebutkan dengan perempuan tidak terhormat.


Wajah Kinanti kebas. Ia tak tahu harus menjawab pertanyaan seperti itu dengan pengertian yang mana. Karena pengertian perempuan terhormat bukan dari satu sudut pandang saja, lebih dari itu. “Aku tak bisa menjawabnya.”


“Tidak apa-apa Nyonya. Oh ya saya ingim memberitahu sesuatu kepada Nyonya?” Sirena telah menghabiskan es krimnya.


“Apa?” Kinanti termasuk manusia yang membutuhkan waktu yang lama untuk memakan sesuatu. Terbukti es krim cokelatnya belum juga habis.


“Kata Tuan Yori, di akhir pekan ada kejutan yang dibuat khusus untuk Nyonya.”


“Kejutan? Kejutan apa?” Kinanti masih sibuk dengan cone yang ia gigit.


Seketika Kinanti tersedak. Ia bahkan tidak memikirkan kemungkinan itu. Sial! Kenapa aku bia seperti ini! Kinanti masih terbatuk.


“Eh! Nyonya tidak apa-apa?” Seketika Sirena teringat sesuatu. “Jangan bilang jika Tuan Yori belum melamar Anda.”


“Memang belum! Maka dari itu sebelum semua terlambat aku tidak mau ada pria yang tidak sungguh-sungguh ketika mengikat denganku nanti!” Kinanti mengusap mulutnya.


“Kata daddy, pria sejati itu tidak diukur dari seberapa ingatnya dia tentang tanggal hubungan itu dibentuk atau tentang seberapa tahu tentang kesukaan warna dan makanan. Tapi ukur dengan kepecayaan yang dibangun dan apa yang dilakukan untuk kekasihnya. Saya yakin Tuan Yori benar-benar mencintai Anda. Buktinya dia harus seperti ini hanya untuk menyakinkan Nyonya.” Sirena tersenyum menatap keindahan malam


Kinanti merasa apa yang diucapkan Sirena ada benarnya. Bahkan Naresh pun tak ingin melepaskannya begitu saja. Jika mungkin Jun tidak diserang apakah aku akan tetap dicarinya?


Suara dering ponsel Kinanti mengambil alih. Ia langsung menjawab panggilan itu. “Iya Kak.”

__ADS_1


“Sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Sirena juga harus pulang,” ucap Naresh di seberang sana.


“Iya Kak, ini sebentar lagi pulang,” jawab Kinanti.


“Aku tunggu, Sayang.” Naresh mengecupnya dari jauh.


Kinanti menutup sambungan telepon itu dan langsung menyimpan ponselnya di tas kecil yang ia selempangakan. “Sepertinya pertemuan kita harus di akhiri, Siren. Senang bisa mengenalmu.”


“Ah sesi pertemuannya sudah berakhir ya ... padahal baru kali ini saya merasa memiliki teman baik seperti Nyonya.” Sirena tersenyum. Mata abu-abunya kian elok diterpa cahaya rembulan. “Terima kasih untuk gaun yang Anda belikan, Nyonya.”


“Iya Sirena. Aku harus pergi dulu.” Kinanti mulai berjalan diiringi oleh Dom si sopir pribadinya pengganti Jun.


“Nyonya!” Siren memanggil sebelum Kinanti benar-benar jauh. “Apakah Nyonya akan meminta Tuan Yori untuk membeli saya? Saya berjanji akan setia pada Nyonya.”


Kinanti berbalik. Ia masih belum yakin untuk menerima Sirena di dekatnya. “Akan aku pikirkan dulu, jika sudah aku akan menjemputmu sesegera mungkin, Siren.”


“Terima kasih, Nyonya. Aku akan menunggumu.” Sirena menghapus air matanya. Ada sedikit harapan untuk kehidupan yang lebih baik lagi.


________________________________


Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa.

__ADS_1


__ADS_2