Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 186


__ADS_3

Episode 186: Aku Harus Menemukan Ilham


“Farah!” Kinanti berteriak sambil melambaikan tangan.


Farah menyambut lambaian tangan itu dan berjalan menuju tempat sahabatnya berdiri. Ia senang bisa bertemu dengan Kinanti setelah sekian lama. Tak hanya itu, seketika Farah memeluk Kinanti, membuat gadis itu terkaget.


“Kupikir kamu enggak bakal datang, Kinan!” ucap Farah. “Sepertinya kamu banyak berubah.”


Kinanti merasakan pelukan hangat dari sahabat yang mengulurkan kebaikannya saat ia terpuruk. “Aku pasti akan datang, Farah.”


Mereka melepaskan pelukan. Hanya satu orang yang merasa tidak suka dengan perempuan yang berbaju gamis itu. Anneline, memilih diam walaupun dalam hati ada rasa mendidih.


Ternyata Ilham memilih perempuan yang tak jauh beda denganku sewaktu dulu.


“Kinan, kakak ini siapa?” tanya Farah kepada Kinanti.


Mau tak mau akhirnya Annelin tersenyum kepada istri kekasihnya. Ia ingin sekali berteriak bahwa Farah sangat tidak pantas untuk Ilham. Tangannya sudah gatal untuk menyakitinya.


“Perkenalkan, dia Nyonya Fernando.” Kinanti yang menjawab karena ia yakin, Anneline masih terdiam sambil memandang Farah.


“Kau bisa memanggilku, Anneline.” Anneline membetulkan ucapan Kinanti. Ia tak ingin memakai nama Fernando di kota ini.


Farah mengulurkan tangannya ke arah Anneline. “Nama saya Farah, senang berkenalan dengan Kakak.”


Cukup lama Anneline menerima uluran jabat tangan itu. Akhirnya, akal sehat menuntunnya untuk balas menjawab tangan Farah. “Iya.”


Farah tersenyum. Ia sedikit merasa aneh dengan perempuan yang berdiri di samping Kinanti.


“Ah iya, Kak Anneline ini berasal dari Kota Zen. Beliau ingin berkeliling di kota ini, Farah.” Kinanti menyadari ke-kikukan dari Anneline dan Farah. Ia yakin sekali, sahabatnya bingung karena dialek bahasa yang sangat berbeda dengan dialek bahasanya sehari-hari. Bahkan, nyonya besarnya juga merasa aneh saat mengetahui bahasa di sini sedikit santai, tidak seformal di kota asalnya.


“Wah, selama datang Kak Anneline.” Farah tersenyum.


Anneline hanya membalas dengan senyum yang tipis. Aku tak suka senyuman munafikmu itu!


“Bagimana jika kita berwisata kuliner di sini? Kebetulan stan-ku sudah banyak yang jaga. Aku jadi bingung harus ngapain, karena semua sudah ada yang bertanggung jawab,” ujar Farah dengan sedikit tawa.


“Wah, kamu sekarang jadi pengrajin kertas ya, Farah!” Kinanti menimpali.

__ADS_1


“Papercraft, Kinan. Biar keren gitu!” Harus Farah akui, Kinanti tipikal gadis yang suka sekali mengajak bercanda. Jadi dia sering sekali mengatakan sesuatu yang membuat Farah sedikit sebal.


“Ayo, kita berkeliling mencari hidangan yang lezat!” Kinanti terkekeh. Di kota ini, ia bebas mengekspresikan kejenakaannya.


Tiga perempuan itu berjalan beriringan. Sesekali Anneline mencuri pandangan kepada Farah dan membandingkan segalanya apa yang dia punya.


Aku heran, mengapa bisa Ray jatuh hati padamu. Bahkan dia rela berubah hanya untuk dirimu, mengabaikan kenyataan bahwa ada banyak perempuan yang jauh lebih cantik darinya! Ah! Sungguh gila!


Setelah berkeliling mencari stan makan, mereka akhirnya menjatuhkan pilihan kepada booth yang menjual batagor dan makanan sejenisnya. Mereka akhirnya memilih tempat duduk yang masih kosong. Anneline sedari tadi tampak diam dan masih mengamati wajah-wajah yang ia lewati berharap Ilham segera muncul.


“Kak Anneline ingin pesan apa?” tanya Kinanti sembari menyerahkan selembar menu yang disediakan.


Lagi-lagi harus memutuskan kefokusannya mencari Ilham. Pandangannya tertuju pada selembaran daftar menu yang disodorkan oleh Kinanti.


“Aku pesan sama denganmu, Kinan.”


Kinanti mengangguk. Ia mengamati gerak-gerik nyonya besarnya yang sedikit aneh. Sejak masuk di area event ini, dia seperti mencari-cari seseorang. Kinanti tidak berani berkomentar. Ia yakin jika nyonya besarnya ini kaget karena baru kali ini merasakan jalan-jalan di tempat yang ramai pengunjung.


Anneline memutar otak. Ia harus menemukan alasan yang tepat agar jauh dari pandangan Kinanti dan segera mencari Ilham. Jika perhitungannya benar, lapangan seluas ini tak sulit mencari keberadaan pria itu. Ia hanya tinggal mencari tempat perkumpulan panita saja.


“Kinanti, aku ingin pergi ke toilet sebentar,” ucap Anneline.


Anneline menggeleng. “Aku ingin pergi sendirian. Kau cukup menujukkan di mana letak toilet itu.”


Kinanti mengedarkan pandangannya segala penjuru area event untuk menemukan di mana letak toilet umum.


“Toilet ada di dekat balai kota. Tidak jauh dari sini.” Farah akhirnya angkat bicara. “Lebih tepatnya ada di selatan. Hanya perlu berjalan kaki sejauh seratus meter dari sini, mau saya antarkan?” imbunya. Ia sangat tahu letak denah area event ini karena suaminya memberikan denah sehari sebelumnya


“Tidak, terima kasih. Saya bisa sendiri.” Anneline bangkit dari tempat duduknya.


“Jika Kak Anne tersesat, segera hubungi saya,” ujar Kinanti dengan nada khawatir.


Anneline hanya menggangguk. Aku bukan anak kecil yang tak tahu arah, Kinan! Ia mendengus kesal dan langsung berjalan menjauhi area booth makanan itu.


Punggung Anneline segera hilang karena pemandanganya sudah terganti dengan orang-orang yang berlalu lalang. Farah yang sangat penasaran dengan perempuan itu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Kinanti.


“Kinan, aku ingin bertanya padamu.”

__ADS_1


Kinanti yang masih mengunyah makanannya menoleh pada Farah. “Tanyakan saja.”


“Sebenarnya Kak Anneline itu siapa? Kenapa kamu menyebutnya nyonya? Kurasa dia masih muda, mungkin sepantaran dengan kita.”


Kinanti tertawa setelah menghabiskan tiga potong batagor yang masih hangat. Ia menyeruput minuman dingin yang baru saja diantarkan. “Nyonya Fernando sudah berumur dua puluh enam tahun. Beliau memang terlihat muda karena sering berolahraga dan menjaga kecantikannya.”


“Jadi, dia siapa?” Farah mengulang lagi pertanyaan utamanya.


“Dia nyonya besar di Keluarga Fernando. Keluarga dengan status sosial tinggi dan memiliki perusahaan elektronik terbesar di Kota Zen. Bagaimana aku bisa tahu, karena aku bekerja menjadi pendampingnya. Lebih tepatnya jadi sopir dan temannya.”


Butuh waktu untuk Farah memproses setiap ucapan Kinanti. “Bukankah Kota Zen, kota yang gelap? Di sana senjata sangat legal?”


Kinanti mengangguk. “Benar, bahkan setiap istri konglomerat harus memiliki skill mempertahankan diri. Entah itu skill bela diri atau skill menggunakan senjata.”


Farah ternganga. “Aku bisa menebak, pasti pekerjaamu banyak sekali tantangannya.”


Kinanti mengangguk. “Bahkan beberapa bulan ini aku harus menguasai teknik bela diri.” Ia mengembuskan napasnya.


Farah memakan satu potongan batagornya yang berlumur saus bumbu kacang. Tapi ada yang jauh menarik perhatiannya. Perubahan gaya Kinanti yang makin seperti perempuan kebanyakan.


Kinanti yang sedari tadi merasa diamati merasa salah tingkah. “Ada apa?”


Farah hanya tertawa. “Kamu makin cantik, Kinan. Rambutmu sudah panjang dan tergerai. Kamu juga pakai rok. Padahal dulunya kamu sangat tomboy!”


***


Anneline berjalan makin jauh. Tak jarang ia harus bertabrakan dengan pengunjung lain karena ia fokus untuk melihat semua tulisan yang terpajang diberbagai stand.


“Aku harus menemukan Ilham.”


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2