
“Ray, apakah kau pernah jatuh cinta?
Mata Ray membulat, pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh Farah sukses mengaduk-aduk kenangannya. Ray memang pernah jatuh cinta sebelum ini. jatuh cinta untuk pertama kali pada gadis cantik yang bernama Anneline. Rasa itupun sudah memudar ditelan waktu, walau Ray pernah bertemu Anneline di Kota Zen, tetap rasa itu sudah musnah, hancur tanpa sisa. Dan sekarang Ray jatuh cinta untuk kedua kalinya.
“Aku sama seperti manusia-manusia pada umumnya, merasakan jatuh cinta kepada orang yang tidak tepat,” jawab Ray.
“Berarti kau lebih beruntung dari Adam, disuguhkan banyak pilihan di dunia ini. Kau bisa memilih wanita sesuai keinginanmu. Berbeda dengan Adam, hanya bisa jatuh cinta pada satu wanita saja. Dia juga tidak disuguhkan untuk memilih selain ibu Hawa.”
Ray mengangguk membenarkan pernyataan dari Farah, memang benar kita manusia-manusia sekarang mungkin jauh lebih beruntung bisa memilih kriteria sesuka hati. Namun Ray hanya menginginkan Farah.
Andai kamu tahu Farah, aku sangat berharap agar kamu menjadi ibu Hawa yang hanya diperuntukan untuk Adam, dan aku juga berharap,sosok Adam-mu adalah aku. Aku juga ingin kamu terikat di tulang belikatku dalam ikatan sakral pernikahan, laiknya sebagai laki-laki dan perempuan.
***
“Apakah dia sedang berada di Cafe Numa?” tanya Akmal dalam sambungan telepon.
“Iya Pak Akmal, dia tadi sempat ke sini untuk mencari pak Ilham, namun sekarang nona itu sudah pergi. Saya sudah mencegahnya untuk pergi. Dan sekarang kota ini sedang terjadi badai ringan,” jawab manager Cafe Numa di seberang sana.
Pergi kemana mbak Farah.
“Pak Akmal, tadi ada seorang pria yang mencari nona itu. Aku seperti mengenalnya. Dia Rayhan pemilih perusahaan kontruksi terbesar yang sangat terkenal di Kota Milepolis. Dia juga datang ke cafe ini sesaat setelah nona itu meninggalkan cafe itu,”
Apa!? pak Ray juga mencari mbak Farah di Kota Numa? Apa aku tidak salah dengar?
Akmal menutup sambungan teleponnya. Ia masih tak percaya bahwa Ray sungguh – sungguh mengejar istri dari bosnya.
Akmal buru-buru mencari nomor telepon bosnya, ia mengetuk dengan cepat layar ponselnya. Ia mencoba menghubungi Ilham.
Akmal mendekatkan ponselnya di daun telanganya.
“Mengapa pak Ilham akhir-akhir ini susah untuk dihubungi!” Akmal mendengus kesal, ia merasa gemas dengan keadaan rumah tangga bosnya.
Tiba-tiba Akmal mendapat ide. Ia yakin sekali idenya akan berhasil membuat bosnya untuk pulang ke Milepolis. Ia berkutat dengan laptop yang berada di hadapannya saat ini. Matanya tajam mencari file yang ia butuhkan.
__ADS_1
“Maafkan aku mbak Farah, aku harus melakukan ini.”
***
Hujan telah reda, namun mendung masih menghiasi langit Kota Zen, Ilham memutuskan untu beristirahat di taman hijau nan asri. Ia sudah mengelilingi hampir seluruh Kota Zen bagian timur.
Ilham sudah mengagendakan mencari Anneline di Kota Zen bagian selatan dan bagian utara. Ia menghembuskan nafas panjang ke udara. Ia menyemangati dirinya sendiri, bahwa ia bisa menemukan Anneline. Namun tak semudah itu. Justru kini hati dan logikanya sedang berperang hebat.
Aku pasti menemukannya, masih tersisa tiga hari lagi.
Hati menyemangati pemiliknya yang sedang lelah dengan pencariannya.
Untuk apa melelahkan diri untuk mencari perempuan yang sudah tidak ada kabarnya enam tahun ini.
Logika berteriak dengan lancang untuk menyadarkan pemiliknya bahwa ingin mengikuti hatinya maka akan ada penyesalan dikemudian hari.
Perempuan yang bernama Anneline adalah perempuan yang paling istimewa, Logika!
Kau lupa Hati, perempuan yang kau anggap istimewa itu sudah menghilang enam tahun yang lalu. Apakah masih kau anggap istimewa Hati?
Perlu kau pahami Hati. Bukankah kepergiannya telah membuatmu patah? Hingga sekarang pemilikmu masih merasakan lukanya?
Untuk itu aku mencarinya Logika! Aku ingin menemuinya! Aku ingin bersua dengan perempuan istimewa itu!
Untuk apa bersusah payah mencarinya Hati? Bukankah pemilik kita telah terikat dengan perempuan yang jauh lebih baik dibanding perempuan yang bernama Anneline itu?
Dengar ya Logika! Dia terikat pada pemiliku karena terpaksa! Asal kau tahu Logika, di ladangku belum ada bibit cinta yang tumbuh diantara mereka!
Itu karena kau tidak menyadarinya Hati! Kau lebih mengikuti ego yang salah, dibanding mengikutiku! Kau mengikuti raungan masa lalu pemiliki kita! Ingatlah ego yang mengendalikan semua hingga matamu tertutup Hati!
Diam Logika! Pemilikku tidak menginginkan perempuan itu! Dia hanya menginginkan Anneline! Hanya Anneline!
Apakah kau ingin menghilangkan fakta, jika perempuan yang bersamanya kini sudah terikat dalam ikatan suci! Jangan turuti egoismu Hati! Jangan turuti ego yang akan membuat pemilik kita hancur dan terlampau sakit!
__ADS_1
Ilham menarik nafas panjangnya. Ia sudah terlalu bingung harus berbuat apa. Ia mulai lelah dengan keadaan ini. Dan kenyataan bahwa dalam empat hari ini, apa yang ia lakukan sepertinya sia-sia.
“Aku ingin menemukannya,” guman Ilham.
Untuk kesekian kalinya hati berpihak lagi pada ego yang keras kepala itu. Ilham masih berambisi ingin menemukan Anneline di Kota Zen.
Ilham melihat seorang nenek yang berjalan pelan membawa barang dagangannya di punggung. Nenek itu sekarang beristirahat di bangku taman yang dekat dengan posisinya saat ini. ia merasa kasihan pada nenek itu.
“Akan aku beli beberapa barang jualannya,” guman Ilham. Ia lalu berjalan menuju ke arah Nenek itu.
Nenek itu berjualan jagung rebus, dia nampak kelelahan karena sudah berjalan cukup jauh.
“Nek, permisi. Saya ingin membeli jagung rebusnya.” Ilham tersenyum dan berucap dengan sopan.
Tak disangka raut air muka Nenek itu langsung sumringah, ia dengan cekatan memasukkan beberapa buah jagung rebus ke dalam kantong plastik.
“Ini pasti untuk istrinya ya Nak?” tanya nenek itu basa-basi.
Ilham sedikit terkejut mendengar kata ‘istrinya’. Ia sudah lama tidak bertemu dengan Farah.
Ilham mengangguk. Ia menyerahkan beberapa lembar uang kepada nenek itu.
“Maaf Nak, saya tidak ada uang kembalian,” ucap nenek itu.
Ilham tersenyum, ia memang sengaja melebihkan uangnya untuk nenek itu, “Kembaliannya untuk nenek saja.”
Nenek itu terlihat senang mendengar apa yang dikatakan Ilham, “Terima kasih Nak, nenek doakan agar hubunganya langgeng, dilancarkan rezekinya dan jika belum memiliki momongan dapat disegerakan. Amin.”
Ilham hanya mengangguk.
Hati! Dengar doa yang baru saja dipanjatkan nenek itu, jangan tutup telingamu!
Iya aku mendengarnya Logika!
__ADS_1
Kau tahu Hati? Sekarang di pikiran pemilik kita ada perempuan yang bernama Farah bukan perempuan yang bernama Anneline!