
Rahma sudah memasukkan baju ke dalam lemari yang terletak di sudut kamar ini. Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya, mesin pemindai masa lalu berkerja penuh di bawah pikirannya. Telihat jelas potongan-potongan kejadian yang telah ia lalui beberapa waktu ini. Serentetan kisah yang haru, pilu bahkan menyakitkan untuk dikenang.
Siapa pria yang melakukan hal ini? Bagaimana caraku menemukan ayah dari anak yang aku kandung? Apakah dia akan bertanggung jawab? Atau bahkan jika aku berkesempatan bertemu dengannya, apakah dia mau mengakui anak ini?
Rahma menutup mata, itu kejadian yang sangat menyakitkan dan ia tidak ingin melihatnya lagi. air matanya menetes hangat, bayang-bayang kejadian itu masih terekam jelas.
Seandainya jika malam itu aku tidak ikut dengan Susi, mungkin sekarang aku bisa meraih apa yang aku inginkan.
Seandainya aku tidak tergiur tawaran minum itu, pasti aku tidak akan seperti ini.
Seandainya jika itu tidak terjadi ....
Seandainya jika ....
Seandainya ....
Se-an-dai-nya ....
Pikirannya selalu mengusik dengan pengandaian yang membuat Rahma terisak, ia tidak kuasa memahami takdir yang ia jalani. Begitu sesak dadanya menahan semua ini. Jika diizinkan, ia ingin sekali berteriak lantang menentang takdir ini. Ia merasa beban yang ia pikul saat ini terlalu berat. Sangat berat, Rahma merasa terbelenggu dalam keadaan ini.
__ADS_1
Tiba-tiba Rahma merasakan sesuatu!
Si jabang bayi menendang dalam rahim ibunya, Rahma buru-buru mengelap air mata yang tadi mengalir deras.
“Maafkan ibu. Ibu lupa kalau sebentar lagi ibu akan memiliki malaikat kecil yang akan menemani ibu.” Rahma mengelus-elus perutnya, memberikan kenyamanan kepada si jabang bayi.
“Sebentar lagi ibu akan memiliki keluarga, yaitu kamu Nak. Ibu janji akan menjagamu sampai kapanpun.”
Rahma tersenyum, ia harus menerima ini semua walaupun menyakitkan. Tiba-tiba ia mendengar suara senandung dari luar kamar. Rahma akhirnya keluar dari kamar itu, ia melihat Farah yang sedang sibuk memainkan gunting memotong kertas denga mengikuti pola. Rahma mendekati Farah, mungkin dengan kesibukan rasa sedih yang tadi bersarang di hati bisa hilang.
“Mbak Farah sedang membuat apa?” Rahma melihat banyak sekali kertas dengan warna-warna yang indah.
“Sedang membuat paper craft untuk hiasan dinding Mbak Rahma,” Farah tersenyum, ia sekarang sedang membentuk pola itu menjadi lengkungan.
“Wah Mbak Farah membuat kertas-kertas ini menjadi bunga yang indah. Cantik sekali bentuknya Mbak, saya ingin di ajari membuat seperti itu,” puji Rahma.
Farah tersenyum, ia mengangguk mempersilakan Rahma untuk ikut membantu membuatnya. Di sela-sela menggunting, Farah dan Rahma asik bercengkrama. Mereka membahas apapun yang terlintas di benak mereka.
“Apakah Mbak Rahma masih menyukai Akmal?” tanya Farah.
__ADS_1
Pertanyaan yang baru saja di lontarkan Farah, sukses mengubrak-abrik perasaan Rahma. Ia bergeming tidak langsung menjawab pertanyaan yang spontan keluar dari mulut Farah. Ada rasa sesak ketika menjawab pertanyaan itu.
“Akmal bisa memilih perempuan yang lebih terhormat daripada saya, Mbak Farah. Saya hanya wanita malam yang sudah mengandung bayi yang entah siapa ayahnya. Saya sudah berusaha mencari siapa lelaki yang melakukan hal itu, tapi sampai sekarang belut ketemu.” Airmuka Rahma meraut sedih.
Farah merasa bersalah telah melontarkan pertanyaan konyol itu. Ia merasa sangat tidak enak hati. “Maaf jika pertanyaanku menganggangu Mbak Rahma.”
Rahmat tersenyum tipis, ia menggeleng tanda ‘tidak apa-apa’. ia telah menguatkan semuanya. Ia juga sudah mengubur dalam-dalam apa yang menjadi impiannya.
“Aku hanya ingin fokus terhadap calon bayiku Mbak, saya sudah benar-benar pasrah dengan takdir yang saya jalani. Saya tidak ingin mengharapkan sesuatu hal yang sangat tidak mungkin untuk saya. Saya hanya ingin melahirakn bayi ini dengan selamat.” Rahma untuk kesekian kalinya mengelus perutnya yang buncit seperti memberikan kenyaman untuk si jabang bayi yang berada di dalam kandungannya.
“Dulu saya menginginkan memiliki sebuah keluarga, dan anak yang saya kandung ini adalah keluarga saya. Saya yakin saya tidak akan sendirian di dunia ini.” Rahma tersenyum, ia begitu menantikan kelahiran bayi ini.
________________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa