Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 101


__ADS_3

Dalam part ini ada sedikit unsur mature dan kekerasan, jangan membayangkan hal-hal yang sedikit liar. Sangat tidak dianjurkan untuk pembaca usia di bawah 18 tahun. Semoga pembaca bijak dalam menyikapinya.


_________________________


“Tuan Yori, pengantin wanitamu sudah siap!”


Seketika kelopak mata Naresh yang menutupi sepasang permatanya terbuka. Ia memang belum sepenuhnya tertidur. Sekarang ia dalam keadaan sadar dan ia sedikit menyesuaikan dengan penglihatan yang ia tangkap. Naresh terkesima dengan wanita yang berkucir bun hair dan terdapat polesan make up di wajahnya. Semua ia mengira itu perempuan lain ternyata setelah dilihat dengan saksama barulah ia tahu bawah pemilik wajah yang cantik itu adalah Kinanti, gadis yang ia bawa dari Kota Milepolis.


Dia sangat cantik, aku tidak menyangka jika dia di make over bisa berubah! Aku yakin, sang ratu pasti menerimanya.


“Bagaimana menurutmu Tuan Yori?” Stella berbicara dengan nada yang sedikit meledek.


Naresh hanya tersenyum. Ia tidak bisa memungkiri jika Kinanti memang cantik dan kini debaran jantungnya berdetak dengan irama naik turun yang sangat tidak wajar. Bahkan otak dan hati, dua makhluk yang ia punyai dalam tubuh kini menyetujui bahwa gadis itu mirip bidadari dan cocok dijadikan pendamping. Dua makhluk itu yang biasa beradu argumen sekarang mendukung penuh biji perasaan cinta dalam tempat terdalam milik tuannya.


“Kau terus memandangiku! Apakah ada yang salah dengan penampilanku?” Kinanti memberanikan diri bertanya kepada Naresh. Ia sedikit risih dengan sepasang mata Naresh yang menatapnya lekat tanpa teralihkan.


“Tidak,” Naresh hanya menjawab singkat. Wajahnya sedikit memerah karena aksi dari dua makhluk yang berada di dalam dirinya yang memerintahkan mata ini untuk memandangi setiap keindahan yang terpancar dari diri gadis itu.


Sepertinya benar, aku tidak cantik. Buktinya kak Naresh tidak berkomentar apapun soal penampilan baruku ini.


Kinanti sedikit murung, ia harus menelan kenyataan bahwa pria yang sudah masuk dalam hidupnya, punya arti tersendiri di dalam pikirannya seakan mengabaikan hal ini.


Astaga! Mengapa aku harus memikirkan hal ini! Bukankah dia tidak akan peduli dengan apapun yang aku kenakan. Mau terlihat cantik atau terlihat urakan seperti preman pasar pun tidak berpengaruh kepadanya.


Kinanti malah melamun. Sedari tadi ia sudah mengharapkan komentar manis dari pria yang membawanya kini. Entah bagaimana prosesnya yang jelas sekarang Kinanti merasa bersalah pada dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak mengharapkan apapun dari Naresh.


“Oke saatnya kita pergi.” Naresh mencengkeram tangan Kinanti. Ia sedikit menarik paksa gadis itu. Ia sangat yakin bahwa gadis itu melamun dan wajahnya langsung muram.


“Eh ...!”


Mau tidak mau Kinanti akhirnya mengikuti Naresh. Ia sempat berterima kasih dengan wanita berambut blonde bernama Stella. Sekarang Naresh menariknya dan masuk ke dalam lift lalu pintu otomatis tertutup. Ia menekat tombol angka. Dan berusaha menunggu untuk sampai ke lantai dasar.


Kinanti melihat pantulan dirinya dari dinding lift, walapun tidak jelas wujud pantulannya. Ia hanya tertunduk dan murung, padahal ia telah membujuk hatinya agar bisa mencetak senyuman. Namun tetap saja tidak bisa, bahkan ingin menangis saja rasanya tidak ada yang perlu disedihkan.


Naresh tahu sedari tadi Kinanti hanya diam membisu, tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dan gadis itu. Dia bingung mengapa gadis yang berada di sebelahnya tidak bereaksi apa-apa. Hingga sampai di lantai dasar pun Kinanti seolah bungkam seribu bahasa. Masuk ke dalam mobil pun gadis itu masih diam, awan pekat seakan menyekat seluruh senyum manisnya. Binarnya seolah redup dengan gumpalan-gumpalan permen kapas berwarna kelabu. Akhirnya Naresh menekan pedal gas dan melajukan mobil ini ke tempat tujuannya yaitu kediaman Keluarga Fernando.


Dalam mobil itu dua anak manusia tetap pada keheningannya, terutama Kinanti. Ia tidak berbicara sepatah katapun ketika keluar sejak dari salon itu. Tak berapa lama kemudian mereka sampai di gerbang utama kediaman Keluaraga Fernando. Tak disangka rumah keluarga kaya ini begitu luas. Dari gerbang hingga pelataran rumah utamanya pun masih jauh. Kediaman rumah ini hampir mirip dengan kerajaan yang berada di Inggris. Ada rumah utama yang terpisah dari rumah-rumah yang diperuntukan untuk para maid yang bekerja di Keluarga Fernando.


Naresh menhentikan mobilnya. Ia menatapa lekat gadis yang duduk di samping kemudi. Ia mulai jengkel dengan sikap diam yang ditunjukkan oleh Kinanti. Ia sangat memastikan bahwa tidak ada perkataan yang menyinggung perasaan gadis itu. Tiba-tiba Naresh menyergah tubuh gadis itu hingga terbentur di pintu mobil yang terkunci. Sekarang Kinanti terdesak dalam ruangan mobil itu.


“Apa yang Kakak ingin lakukan padaku?!” Kinanti sebisa mungkin memberontak, namun sia-sia karena tenaga Naresh lebih kuat darinya hingga mobil mengalami sedikit guncangan.


“Mengapa kamu diam membisu? Apa aku berbuat salah denganmu?” Naresh menatap Kinanti meminta jawaban.


“Tidak, tolong lepaskan aku Kak! Ini terasa sakit!” Kinanti sedikit meringis merasakan kesakitan pada tangan dan bahunya akibat tekanan dari tubuh Naresh.


Naresh pun melepaskan tangannya dari bahu Kinanti. Sekarang gadis itu membendung air matanya agar tidak keluar. “Aku merasa tidak pantas memakai hiasan seperti ini.”


Seketika Naresh mengerti, ia lupa memberikan pujian pada gadis itu, sekarang dia malah menangis. Naresh memutar otaknya untuk menemukan cara agar gadis itu berhenti menangis. Tiba-tiba ia merangkul Kinanti dan membuat gadis itu terkejut.


“Kamu cantik hari ini, dan aku suka.” Naresh membisikan kalimat itu dan mencium pipi Kinanti dengan lembut.


Deg!


Untuk pertama kalinya Kinanti merasakan sensasi itu. Bibir Naresh terasa lembut menyapu pipinya. Benar! Kinanti memang berhenti menangis, tapi ia sedikit geram dengan aksi kurang ajar ini!

__ADS_1


“Mengapa kau menciumku!” Kinanti sekarang berteriak heboh. Ia menujuk Naresh dengan jari terlunjuknya yang runcing.


Naresh memasang wajah manis dan tersenyum, “Anggaplah itu jimat agar kamu berhasil.”


Akhirnya berhasil juga menandai dia. Lihat! Sekarang dia semakin lucu karena gugup dan pipinya merona merah.


Setelah mengatakan hal itu, Naresh keluar dari mobil. Ia juga membukakan pintu, mempersilakan Kinanti untuk keluar dari mobil. Gadis itu terpukau dengan megahnya bangunan rumah yang mirip dengan istana dalam arsitektur bergaya eropa. Tak sampai di situ, pria ini pun menjelaskan semua kegunaaan bangunan yang berdiri kokoh di sini.


“Akan aku jelaskan sedikit tentang seluk-beluk rumah ini sambil kita bekeliling. Di bagian pusat ini adalah bangunan termegah bak istana yang berfungsi sebagai kediaman keluarga Fernando. Di bagian selatan ada rumah untuk para maid, terpisah sesuai gendernya. Di sebelah utara adalah tempat favorit tuan Fernando menghabiskan waktunya.”


Tak terasa perjalanan Kinanti dan Naresh berhenti di sebuah pintu utama, sangat megah dan mewah. Itu kesan yang dilihat oleh Kinanti. Kemudian Naresh mengajaknya masuk kedalam, ia sempat berbincang kepada salah satu maid tentang keberadaan sang ratu. Ia ingin memperkenalkan gadis yang ia bawa kepadanya. Maid itu menjawab bahwa nyonya Fernando sedang berada di kolam renang.


Naresh mengajak Kinanti menuju kolam renang. Setelah melewati banyak ruangan bahkan menghabiskan waktu selama 15 menit untuk berjalan menemukann kolam renang, akhirnya mereka sampai juga. Kolam renang itu airnya tenang, ada satu pelampung besar berbentuk unicorn. Di pelampung itu ada seorang perempuan yang duduk bersantai sambil membaca sebuah novel. Kinanti bisa membaca judul novel itu karena font huruf tercetak dengan ukuran yang besar. DERANA. Ada dua maid laku-laki yang berdiri di kolam renang, mereka menjaga perempuan yang tampak tenang dalam buaian fiksi yang disuguhkan sang penulis. Para maid juga berada di sekitar pinggiran kolam, mereka tidak bergerak sedikitpun. Hanya berdiri dan ia menunggu titah yang keluar dari sang ratu yang cantik.


Sekarang Kinanti tahu betapa kuasanya perempuan itu, hal ini menjadikanya gugup, ia menarik tangan Naresh dan menggeleng tanda bahwa ia belum benar siap menghadap sang nyonya besar. Naresh tahu perasaan yang dirasakan oleh gadis itu. sindorm gugup nyatanya masih bisa menguasai siapapun itu. Ia harus menenangkan Kinanti.


“Tenang, jangan panik. Bukankah aku sudah memberikan jimat? Jangan salah jimat itu bisa membuatmu lolos dalam ujian ini.” Naresh berbisik.


“Tapi Kak, aku tak yakin ....”


“Bagaimana jika aku memberikan jimat lagi padamu? ‘kan pipi yang satunya belum.” Naresh tertawa.


Wajah Kinanti menjadi masam, di saat seperti ini kenapa pria yang menjadi tumpuanya malah bercanda! Sungguh ia dibuat kesal dengan Naresh. “ Tidak perlu!” Kinanti hanya menjawab tidak acuh.


Bagaimana bisa aku menerima jimat seperti itu lagi? Yang tadi saja rasanya sudah tidak karuan, panas dingin dan ini mau menciumku lagi. Jangan harap aku sudi menerimanya! Dasar lelaki mesum!


Naresh lalu berbicara kepada salah satu maid. Ia memberikan pesan untuk memperkenalkan pendamping barunya. Maid itu menggeleng dan ia memberanikan diri untuk berbicara dengan nyonya Fernando—sang ratu yang sering disebut oleh Naresh.


Setelah mendengar pesan dari maidnya, perempuan yang menyandang status nyonya besar menghentikan aktifitas membacanya. Ia meminta untuk kembali, dua maid yang menjaganya mendorong pelampung besar itu menuju pinggiran kolam. Sang ratu bangkit dari pelampungnya, ia berdiri dan pindah duduk di kursi dekat kolam renang.


“Siapa perempuan yang Anda bawa?” suara perempuan itu begitu terdengar lembut namun tapi mematikan.


“Dia yang akan menjadi pendamping baru untuk Nyonya.” Naresh menjawab mantap, suaranya sangat berwibawa.


Perempuan yang memiliki kekuasaan tertinggi itu memandangi Kinanti dari ujung rambut hingga kuku-kuku kaki. Dia sedang menilai apakah ada kecacatan dari gadis yang di bawa oleh Naresh. Tiba-tiba seorang pria paruh baya datang untuk menyampaikan pesan dari tuan Fernando untuk datang ke ruang kerjanya. Jelas Naresh tidak bisa mengabaikan perintah ini, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Kinanti bergeming, ia merasa sendirian di tempat yang mencekam itu apalagi setelah kepergian pria yang membawanya. Ia cemas dan kikuk menghadapi situasi ini.


“Hey! Cepat datang kemari.”


Suara perempuan itu memecahkan kecemasan Kinanti menjadi kepingan kecemasa yang makin banyak dan berkembang biak. Ia bingung apakah kalimat yang terucap adalah perintah untuknya atau untuk maid yang lain. Namun Kinanti berusaha melangkah walaupun ada jangkar yang sangat berat terikat di pergelangan kakinya. Kecemasan memiliki massa, tetapi Kinanti meneguhkan hatinya. Ia melangkah hingga berada sangat dekat sekali dengan Nyonya Besar.


“Ceritakan siapa namamu, darimana asalmu, dan mengapa Yori memilihmu?” Perempuan itu berbicara tanpa melihat wajah Kinanti yang berdiri di sampingnya. Sepasang matanya menatap lurus ke depan.


Kinanti menarik napas. Sebenarnya ini pertanyaan yang mudah, tapi entah mengapa mulut ini seakan-akan mewanti-wanti agar tidak salah berbicara. “Nama saya Kinanti, umur 20 tahun. Saya berasal dari Kota Milepolis ....”


“Daerah mana?” Nyonya Fernando memotong ucapan Kinanti walaupun belum sepenuhnya selesai. Ia sedikit penasaran di mana gadis itu tinggal.


“Di Kawasan Pasar Grosir, Nyonya.” Kinanti menjawab sangat sopan.


“Oh ... kawasan kumuh,” ucap perempuan itu dengan nada meremehkan.


Biasanya Kinanti akan langsung berteriak menentang jawaban dari lawan bicaranya, tapi kali ini ia tidak melakukannya. Ia teringat akan utang-utangnya kepada Naresh, akan sangat merepotkan jika ia kembali menjadi jiwa urakan seperti preman pasar dan itu berdampak pada waktu yang akan datang. Dia harus bersabar tentang kalimat. yang meremehkan itu.


“Kak Nar ... maksud saya tuan Yori merekomendasikan saya untuk menjadi pendamping Nyonya karena sekarang Anda sedang membutuh sopir dan diharuskan wanita.” Kinanti mencapai puncak kecemasan dan kegugupannya.


Nyonya Fernando tidak menimpali jawaban dari Kinanti, malah ia meminta salah satu maidnya untuk mengambil sesuatu. Gadis itu hanya terdiam, matanya menatap hamparan lantai yang sedikit basah karena cipratan air kolan tadi. Tak berapa lama ia mendengar suara langkah kaki yang agak terburu-buru menuju sang ratu duduk. Kinanti tidak berani melihat apa yang diberikan maid itu. Ia harus tahan dengan segala rasa penasaran.

__ADS_1


“Aku akan memanggilmu Kinan. Kemarilah dan berdiri di hadapanku,” pinta Nyonya Fernando.


Suara perintah itu seakan menusuk kewaspadaan Kinanti. Ia berjalan hati-hati dan sekarang sudah berada di hadapan Nyonya Besar. Ia masih tak berani menatap lurus, ada ketakutan yang menyeruak di dalam dirinya. Dia menerka-nerka apa yang akan dilakukan sang ratu terhadapnya.


Nyonya Fernando bangkit dari tempatnya. “Berlutut!”


Kinanti masih diam, ia mencerna satu kata yang baru saja terucap. Ia masih tak percaya dengan perintah yang baru saja ia dengar.


“Haruskah aku ulangi? Berlutut sekarang juga!” Nyonya Fernando menbentak.


Suaranya penuh penekanan membuat Kinanti bertekuk lutut di hadapan peremuan yang maha penguasa di kediaman ini. Tidak ada pilihan lain, hal ini yang sangat di takutkan olehnya. Lutut ini terasa terpaku, para maid tidak ada yang menentang sang ratu. Untuk saat ini Kinanti merasa seperti dijadikan tumbal yang akan dieksekusi. Para main yang berdiri tak ubahnaya seperti pengikut sang ratu dan selalu mengamini setiap tindakan yang dia perbuat.


Nyonya Fernando mengambil pistol yang dibawa oleh salah satu maidnya. Ia mengancungkan moncong pistol ke dahi gadis yang bertekuk lutut yang berada di hadapannya. Kinanti merasakan ujung pistol itu yang dingin menyentuh keningnya. Ia tidak bisa menggerakkan diri, akan sangat fatal jika ia bergerak secara tiba-tiba. Bisa saja perempuan yang mengacungkan pistol ini menarik pelatuknya hingga peluru bisa menebus kepalanya kapan saja.


Apa yang dilakukan nyonya besar ini?! Apakah dia sudah gila dengan bermain senjata api itu? Atau jangan-jangan kak Naresh menjadikanku tumbal untuk perempuan ini? Akankah aku dibunuh di tempat ini?


Kinanti merasa gemetar, ia takut sekali jika peluru itu melesat menembus tempurung kepalanya. Ia membayangkan darah dari tubuhnya mengalir deras membanjir lantai ini. Gadis itu bertanya-tanya apakah ia akan mati di tempat ini? Yang jelas Perempuan yang berdiri di depannya belum menarik pelatuk pistol itu.


“Bagaimana jika peluru ini kucoba untuk menembus kulitmu? Apakah kau tidak keberatan Kinanti? Tenang rasanya tidak begitu sakit, hanya ... Dorr! Dorr!” Sang Ratu mendesis, terlihat sekali kata-katanya bagai ancaman. Ia sangat antusias dalam permainan ini.


“Tidak!” Kinanti berseru. Entah hidup atau mati yang jelas sekarang tidak ada pilihan. Ia tidak bisa melawan, ia tidak bisa kabur dengan keadaan selamat.


“Bersiaplah!”


Sang Ratu menarik pelatuk pistol itu. Kinanti memejamkan mata, sebentar lagi kepalanya akan bolong, bahkan bocor bersimbah darah.


Tak!


Tak!


Pistol itu berbunyi, tapi tidak ada satu peluru pun yang keluar. Kinanti yang semula tegang dan menutup kedua matanya sekarang ia paksa untuk terbuka. Ia melihat moncong pistol itu tidak mengeluarkan apapun.


“Ternyata nyalimu boleh juga,” ucap Sang Ratu.


Sekarang ia kembali duduk di kursinya seperti beberapa waktu yang lalu. Ia juga sempat melempar pistolnya ke arah salah satu maid. Beruntung maid itu bisa menangkapnya walaupun agak kesulitan.


Sang Ratu tersenyum, ia tahu bahwa pistol tadi tidak ada selongsong peluru satupun. Ia hanya menguji calon pendampingnya dan ia suka dengan karakteristik orang yang seperti Kinanti. Ia telah menguji banyak sekal calon pendamping sebelum ini. Ketika dia memegang pistol, banyak diantaranya yang berteriak histeris. Bahkan tak jarang ada juga yang pingsan. Bagi Sang Ratu hal itu menandakan bahwa jiwa orang-orang itu lemah, takut akan kenyataan yang tak seindah bayangannya.


Kinanti masih berlutut. Keringat dingin membasahi wajahnya. Momen yang sangat menegangkan. Ia malah sudah membayangkan akan terbunuh di tempat itu, namun waktu berkata lain. Ia mulai berani mengangkat kepalanya dan menatap perempuan yang mengacungkan pistolnya tadi.


“Kau lulus untuk menjadi pendamping sekaligus sopir pribadiku. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja.” Sang Ratu tersenyum puas melihat keberanian Kinanti. Ia bangkit dan membawa buku novel yang ia baca tadi.


Nyonya Fernando akan meninggalkan tempat itu, namun sebelumnya ia ingin berkata sesuatu kepada pendamping barunya, “Aku kurang menyukai gaya rambutmu, tolong berpenampilan seperti biasanya.” Nyonya Fernando pergi dari tempat itu diikuti beberapa maid yang menemaninya.


Kinanti berdiri, ia masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dialami. Dia tersenyum puas, sebentar lagi ia akan memberitahu hal ini kepada Naresh.


____________


Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ni, pencet like dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😁


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗


Terima kasih


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2