Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 118


__ADS_3

Selamat berimajinasi


_________


Kinanti membaca kertas agenda Nyonya Fernando untuk hari ini. Ia terkejut menemukan ada acara pesta pertunangan anak pemilik perusahaan ritel yang namanya sudah tidak asing di telinga masyarakat. Sepengetahuan Kinanti perusahann ini sangat besar dan cabangnya pun sudah tersebar di banyak daerah.


“Berarti hari ini nyonya akan pergi ke butik langganannya, kemudia ke salon dan yang terakhir ke pesta.” Kinanti hanya bermenung. “Ternyata jadwal Nyonya Fernando padat sekali.”


Gadis itu memasukkan melipatkan kertas itu dan menyelipkan di buku catatannya yang berukuran 15x10 sentimeter. Tak lama kemudian Nyonya Fernando keluar dari kamar, penampilannya sungguh cantik.


“Kinan, hari ini aku hanya ingin pergi bersamamu tanpa membawa seorang maid sekalipun,” pinta Nyonya Fernando.


“Baik Nyonya.” Kinanti membungkuk tanda mengerti.


Gadis itu merasa ada yang aneh dengan nyonya besarnya, tak biasa meminta hal seperti ini. Biasanya akan ada dua orang yang menjaganya, si pendamping dan satu maid laki-laki sebagai bodyguard. Namun kali ini dia tidak meminta hal itu, Kinanti jadi menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh Nyonya Fernando. Mereka akhirnya berangkat meuju butik yang letak tak jauh dari pusat kota. Kinanti bahkan sudah hapal dengan jalanan yang ramai lancar, lebih ramai dibanding Kota Milepolis.


Kota Zen. Kota metropolitas yang terbagi dengan lima bagian, yaitu Kota Zen Bagian Timur, Kota Zen Bagian Barat, Kota Zen Bagian Selatan, Kota Zen Bagian Utara dan Kota Zen Pusat. Kota ini sangat besar, dan menjadi kota paling masyhur diantara kota sekitarnya. Kota yang pertumbuhan ekonominya sangat baik, beberapa sektor bisnis berkembang pesat. Kota ini juga sebagai kota terpadat dan merupakan pusat pemerintahan.


Kinanti tiba di depan butik yang namanya pun sudah mengensankan kata mewah, sudah tentu hanya orang kelas atas yang dapat memiliki koleksi pakaian di sana. Nyonya Fernando susah berjalan lebih dulu, Kinanti hanya bisa mengekor mengikuti kemana perempuan itu pergi.


Butik yang sangat bagus, Kinanti berdecak kagum melihat koleksi busana yang ada di butik ini, sangat mewah dan berkelas.


Seorang perempuan yang berpenampilan unik tapi modis datang menghampiri mereka. “Nyonya Fernando, selamat datang Nyonya,” sapa perempuan itu.


Nyonya Fernando tersenyum ramah. “Aku ingin ke pesta, bisakah anda pilihkan busana yang terbaik?”

__ADS_1


“Dengan senang hati, Nyonya.” Perempuan modis itu berlalu mengambilkan koleksi pakaiannya yang terbaik.


Tak berapa lama perempuan modis itu datang dengan beberapa pelayan toko yang membawa pakaian-pakaian terbaik yang dimiliki. Selera Nyonya Fernando sangatlah tinggi, ia memilih gaun berwarna biru navy dengan panjang sampai betis. Gaun yang bermotif renda payet mewah yang sangat cocok dipakai oleh kalangan wanita kelas atas.


“Pilihan Anda sangat tepat, Nyonya. Jika ingin mencoba silakan ke kamar ganti, biar salah satu pelayanku yang mengantarkan Anda,” ucap perempuan modis itu.


Salah satu pelayan perempuan yang berumur belia mengantarkan Nyonya Fernando untuk mencoba gaun yang dipilihnya.


Perempuan modis itu menatap Kinanti, ia bisa mengetahui bahwa dia adalah pendamping nyonya besar. Di Kota Zen orang-orang kaya kadang mempekerjakan seseorag yang memiliki skill bela diri atau lihai menggunakan senjata sebagai bodyguard. Hal itu sudah menjadi rahasia umum. Mereka lebih terancam karena banyak sekali kejadian tak diinginkan, misalnya kasus penculikan dan berujung meminta uang tebusan. Perempuan modis itu memperhatikan Kinanti yang memandang berseri-seri koleksi busananya.


“Jika Anda ingin berkeliling biar diantar oleh pelayanku, Nona ....”


“Kinan, nama saya Kinan.”


“Baik Nona Kinan, selamat menjelajahi koleksiku,” ucap perempuan modis itu.


Setelah berkeliling cukup lama, matanya tertaut pada dress selutut dengan bagian bawanya berbentuk lipit. Dress itu di kelilingi kain yang mungkin tidak terlalu banyak aksen tapi indah. Sangat sederhana dengan elok warna hitam. Tidak bisa dipungkiri, rasanya ia ingin memiliki gaun itu.


***


Dering ponsel itu membuat si pemilik langsung mengambil benda kotak itu dari dalam tas yang berbentuk seperti dompet. Ia sedikit geram karena ada panggilan masuk yang sepertinya salah tempat dan waktu. Dengan perasaan dongkol, ia menjawab panggilan itu dengan mengusap kasar layar ponselnya.


“Mengapa kau menelponku Kakak Ipar?” ucap Nyonya Fernando dengan nada kesalnya. Ia berhak melakukan hal itu karena ia akan mencoba gaun yang indah ini untuk pesta malam nanti.


“Apakah kau masih di butik bersama Kinanti?” tanyanya di seberang sana.

__ADS_1


“Masih, ada apa? Bisa langsung pada intinya?” Nyonya Fernando tidak suka bertele-tele.


“Baiklah Sang Ratu.” Sudah menjadi kebiasaan menyebut Nyonya Fernando dengan julukan itu. “Belikan dia sebuah dress yang pas membalut tubuh kecilnya.”


Nyonya Fernando sedikit terkejut dengan permintaan kakak iparnya. “Haruskan? Atau jangan-jangan kau ingin mengajaknya ke pesta malam nanti?”


“Seratus untukmu adik ipar! Aku memang ingin mengajaknya sebagai kekasih. Bukankah kau akan bersama Fernando di pesta nanti?” ucapnya, “aku juga menginginkan hal itu.”


“Berarti kau harus membayarku lebih untuk hal itu, Kakak Ipar,” Nyonya Fernando tertawa renyah.


“Baiklah, akan aku transfer sejumlah uang, jangan lupa habiskan dan tidak perlu berbicara hal ini kepada Fernando. Satu hal, sekalian bungkuskan dress itu, biar aku saja yang memberikannya,” pintanya.


“Akan aku laksanakan permintaanmu Kakak Ipar.”


Nyonya Fernando menutup percakapan via telepon itu. Kakak Ipar, julukan yang tepat untuk memangil Naresh. Seperti itu hubungan mereka, iya seperti kakak beradik. Naresh mampu meramu siapa saja yang di dekatnya menjadi teman yang akrab.


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😁


Terima kasih


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2