
Farah memaksa ingin pulang ke rumah. Ia tidak ingin dirawat di rumah sakit. Dan lebih memilih rawat jalan.
Sesampainya di rumah Ilham. Farah berjalan di bantu bu Tin untuk menuju kamarnya. Ilham sedari tadi hanya diam membisu. Ia masih mencerna kata- kata yang diucapkan oleh Kinan.
Farah sudah berada di kamarnya. Ia ingin segera merebahkan tubuh yang terserang sakit ini. Bu Tin menemani Farah, namun Farah bersikeras agar bu Tin beristirahat di kamarnya. Karena esok pagi masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Bu Tin.
“Bu Tin istirahat di kamar saja, saya sudah merasa baik Bu Tin,” ujar Farah.
“Tapi Nona ...”
“Besok pekerjaan Bu Tin masih banyak, apalagi mas Ilham pulang, kemungkinan besok saya belum bisa memasak sarapan untuk as Ilham. Akhirnya Bu Tin yang mengerjakan. Sudah Bu Tin segera beristirahat.”
“Baik Nona, nanti kalo Nona Farah butuh apa-apa bisa panggil saya ya Nona,” kata Bu Tin.
Farah mengangguk tanda mengiyakan. Bu Tin akhirnya meninggalkan Farah di kamarnya. Farah ingin beristirahat, ia harus segera sembuh karena esok lusa ia harus mememani Rahma untuk memeriksa kandungannya.
***
Ilham membasuh dirinya. Sekarang Ia merasa lebih segar dari sebelumnya. Ia masih terngiang – ngiang perkataan Kinan waktu di rumah sakit tadi.
Kau itu suami macam apa? setiap hari istrimu selalu membawakan bekal makan siang untukmu, tapi tak pernah kau makan! jika aku boleh jujur Kau sangat tidak pantas mendapatkan istri sebaik dan setulus Farah!
Anda sangat tidak pantas untuk wanita sebaik Farah.
Ilham merebahkan dirinya di kasur kamarnya sendiri. Bergulat pada pikiranya sendiri.
Apakah aku terlalu jahat kepada Farah?
Apa aku terlalu menyiksa perasaan Farah?
Apa aku bukan lelaki yang baik? Bukankah Farah sendiri yang bersedia untuk menjadi istrinya? Jadi dia harus menerima konsekuensi bagaimana perlakuanku terhadapnya.
Ilham bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia tidak pantas untuk Farah. Pertanyaan ini sungguh menyiksa relung hati Ilham.
“Biar bagaimanapun Farah tetap tanggung jawabku. Aku sudah mengijab qobulnya. Berarti dia sudah bagian dariku apapun itu,” guman Ilham.
Ilham bangkit dari posisinya. Ia ingin melihat Farah.
Dia sudah tidur atau belum ya?
Ah semoga saja belum.
Logika Ilham menjawabnya sendiri. Lalu Ilham berjalan menuju kamar Farah.
Seperti biasa kamar Farah memang tidak dikunci. Ilham masuk ke kamar itu. Ia melihat Farah tidur dengan ketenangannya. Ilham memandang wajah pucat Farah seperti tidak ada sinar keriangan di wajah itu. Saat tidur pun Farah juga memakai hijabnya. Sekarang Ilham tahu betapa Farah sangat mematuhi semua perintahnya.
Ilham duduk di pinggir kasur, sekarang wajah Farah dengan mata tertutup sangat jelas sekali. Ilham melihat Farah sedikit gelisah. Ia mencoba menyentuh dahi Farah.
“Panas sekali badannya. Pasti dia demam,” guman Ilham.
Ilham keluar dari kamar Farah lalu mengambil air dan handuk kecil di dapur. Ilham ingin mengompres Farah agar suhu badannya menurun.
Ilham merasa iba dengan kondisi Farah saat ini. Ilham menganti kompres dengan handuk basah lainnya.
Tanpa sadar Farah memegang tangan Ilham. Ia merasakan kalau ada yang mengopres di bagian dahinya.
“Mas?” tanyanya lemah.
“Sudah cepat tidur. Akan aku temani di sini,” jawab Ilham.
Farah masih merasa lemas, ia tertidur kembali.
Ilham juga merasa mengantuk dan akhirnya tidur dengan posisi duduk dekat dengan Farah.
***
__ADS_1
Suara azan subuh berkumandang dengan merdu di pagi yang sejuk. Ilham terbangun. Ia membuka mata dan melihat Farah terduduk memandangi dirinya.
“Kenapa kamu bangun? Sudah kembali tidur,” ujar Ilham yang masih merasakan kantuk. Ia menguap.
“Mas dari kemarin malam di sini? Kenapa tidak tidur di kasur, kenapa harus tidur di kursi?” tanya Farah.
Ilham tidak menjawab. Ia segera bangkit dari tempatnya. Ia harus mengambil air wudhu untuk shalat subuh.
Farah juga turun dari kasurnya, Ia bangun namun sayang baru beberapa langkah berjalan Farah terjatuh, tubuhnya menghempas ke lantai. Ia masih merasakan pusing.
“Aku bilang juga apa! jangan bangun, kamu tak perlu berjalan dulu. shalat di kasur saja, bisa tayamum kan?” kata Ilham yang membantu Farah berdiri.
Farah mengangguk. Ia masih pusing sekali, sempoyongan saat berjalan. Ini konsekuensi karena ia tidak mau dirawat di rumah sakit.
“Aku mau ke masjid dulu. Kamu shalat disini saja, jangan kemana -mana. Biar bu Tin yang memasak hari ini. Kamu cukup beristirahat,” ujar Ilham sebelum meninggalkan kamar Farah.
***
Pagi itu Farah meminta bu Tin untuk memapah ke kamar mandi. Farah ingin terlihat bersih walaupun di rumah dan pastinya menjalankan kewajibannya sebagai istri yaitu menyenangkan suami.
Bu Tin tidak memperbolehkan Farah untuk membantunya memasak, jadi Farah hanya duduk di ranjangnya.
Ilham hari ini tidak berniat untuk ke lokasi pembangunan cabang kedainya, ia tidak juga pergi ke kedai, karena Akmal sudah bisa menjalankan kedainya dengan baik. Sejujurnya Ilham sangat khawatir dengan kondisi Farah. Dia sangat keras kepala minta rawat jalan.
Ilham melihat bu Tin di dapur. Ia sedang menata makanan di nampan.
“Untuk siapa Bu?” tanya Ilham.
“Ini untuk nona Farah, Tuan,” jawab Bu Tin.
“Biar saya saja.”
“Tapi Tuan, bukannya Tuan harus kerja?”
“Biar saya saja! Saya ingin menyuapi Farah,” pinta Ilham yang tentu tidak bisa ditolak oleh bu Tin.
“Farah, sarapan dulu lalu minum obat,” kata Ilham saat meletakan nampan itu di meja.
Aku nggak salah lihat? Ini mas Ilham membawa sarapan untukku?
Farah yang merasa ada aneh dengan sikap lembut Ilham.
“Mas Ilham tidak berangkat kerja?” tanya Farah.
“Aku ingin beristirahat saja. Akmal udah bisa mengurus ini semua,” jawab Ilham, “Sekarang waktunya sarapan. Sini buka mulutmu. Jangan lupa baca basmallah dulu.”
Farah tersenyum. Itu senyum tulusnya. Ia masih tidak percaya bahwa Ilham sekarang berada di hadapanya dan menyuapi bubur itu untuknya.
Dia tersenyum. Manis sekali senyumannya bikin nagih.
Ilham yang menyukai ekspresi Farah saat itu.
“Kok diam, enggak mau aku suapin? Jangan sampai aku berubah pikiran dan pergi dari sini,” ancam Ilham.
Farah menggeleng dan berdoa sebelum mendekatkan mulutnya ke bubur yang disuapkan untuknya.
“Nah gitu dong, tanganku sudah pegal memegang sendok ini tapi hanya dipandang saja,” gerutu Ilham.
Farah tersenyum. Hari ini sikap Ilham hangan seperti mentari. Farah merasa bahagia bisa sedekat ini dan tanpa sadar air mata Farah menetes. Buru-buru Farah mengelapnya.
“Lho kok nangis? Ada cabai yang kemakan ya? tanya Ilham sambil memeriksa mangkok bubur itu. “Perasaan nggak ada cabai di bubur ini.”
Farah tersenyum, ia menggeleng. “Aku senang Mas bisa menyuapi aku seperti ini.” Farah terisak bahagia.
Ya ampun, baru dikasih perhatian kecil seperti ini, senangnya luar biasa.
__ADS_1
Ilham tersenyum.
Ilham menyendok lagi bubur itu dan menyuapkan ke Farah. Masih setengah porsi lagi yang harus dihabiskan oleh Farah. Namum Farah menggeleng. Dia sedikit mual, ingin berhenti makan saja.
“Kenapa buburnya tidak enak?” tanya Ilham saat menyodorkan sedok penuh dengan bubur namun ditolak oleh Farah.
“Sudah Mas, rasanya pahit.”
Lalu Ilham merasakan bubur itu. Rasanya enak tidak pahit seperti yang dikatakan Farah.
“Kamu bohong, bubur ini enak kok.”
“Itu karena Mas tidak sakit jadi rasanya enak saja.”
Ilham tidak memaksa Farah untuk menghabiskan buburnya. Kemudian dilanjut dengan meminum obat.
Setelah sarapan Ilham mengajak Farah berbincang-bincang. Rasanya sudah lama sekali Ilham tidak melakukan seperti ini bersama Farah. Mereka membahas tentang topik apa saja yang terlintas di benak mereka. Mulai dari pembangunan cabang kedai hingga Farah yang memiliki sahabat baru seperti Kinan.
“Sudah, kamu harus istirahat, jangan bekerja dulu sampai kamu sembuh,” kata Ilham menasehati.
“Iya Mas.”
“Oh ya tadi kata Akmal kamu minta cuti untuk besok, untuk apa? bukankah Akmal sudah tahu kalau kamu sakit?” tanya Ilham.
“Soal itu. Iya Mas tadi aku meminta cuti untuk besok karena ingin mengantarkan mbak Rahma untuk memeriksa kandunganya lagi dan memberikan uang gajinya Mas.”
Ilham menghembuskan nafas panjang, Ia tidak suka Farah dekat dengan Rahma. Baginya, Rahma adalah wanita yang tidak baik dan bisa mempengaruhi Farah.
“Aku heran denganmu. Kamu rela minta rawat jalan karena ingin mengantarkan wanita pezina itu untuk memeriksakan kandunganya. Kamu bukan siapa-siapanya,” ujar Ilham tegas.
“Mas, mbak Rahma tidak senista itu. Mbak Rahma hamil bukan kehendaknya. Ia dijebak oleh temannya dan juga kekurangan uang. Toh sekarang mbak Rahma sudah memperbaiki kesalahannya yang dulu.”
“Kamu sangat keras kepala, kamu lebih suka membahagiankan orang lain dibanding dirimu sendiri.”
“Aku malah lebih bahagia karena aku bisa membahagiakan orang lain.” Farah tak mau mengalah.
Ilham dan Farah mulai berdebat. Setiap kali berbincang hangat selalu berakhir dengan percikan api perdebatan yang tiada ujung membuat mereka satu sama lain tidak ingin mengalah.
Ilham meninggalkan Farah sendiri di kamar. Ia tak ingin memperpanjang perdebatanya dengan Farah.
Ilham duduk di ruang tamu. Ia masih kesal dengan sikap Farah yang lebih membela Rahma.
Tiba-tiba pintu rumah Ilham diketuk oleh seseorang. Bu Tin sedang di belakang menjemur pakaian. Akhirnya Ilham yang membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum,” salam Kinan sopan.
Ilham kenal dengan perempuan yang datang ke rumahnya. Dia Kinan perempuan yang gayanya seperti preman pasar.
Ngapain perempuan ini ke sini?
“Wa’alaikumussalam. Ngapain kamu kesini?” tanya Ilham ketus, ia belum mempersilahkan Kinan untuk masuk ke rumahnya.
“Maaf Pak, saya kesini untuk menjenguk Farah sekaligus ingin meminta maaf atas insiden di rumah sakit kemarin. Karena kelancangan saya, saya meminta maaf beribu maaf,” jawab Kinan sopan sambil membungkukkan badannya ke depan berkali-kali.
“Ohh ...” Ilham hanya ber oh.
“Semoga Bapak Ilham mau memaafkan kelancangan saya. Dan saya mohon agar ayah saya tetap bekerja di cafe milik Bapak, mohon jangan jadikan kesalahan saya sebagai penyebab kesulitan ayah saya,” ujar Kinan dengan nada yang sangat sopan, dibanding kemarin.
Kenapa perempuan ini mendadak sangat sopan sekali. Menggelikan sekali saat dia berbicara formal dan sopan seperti ini.
Ilham masih telihat ketus. Ia menahan tawanya.
Ilham memicingkan matanya. Ia mendekatkan mukanya ke perempuan itu.
“Akan aku pikirkan kembali,” jawab Ilham datar.
__ADS_1
“Terima Kasih Pak. Mohon dipertimbangan kembali.”
“Silahkan masuk. Farah berada di kamarnya.”