Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 176


__ADS_3

Episode 176: Kenangan itu Selalu Berputar di Kepalaku


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Naresh memilih mengemudikan sendiri mobilnya menuju Kota Milepolis. Ia hanya membawa dua pemumpang, yaitu adik iparnya—Anneline dan perempuan yang sangat dicintainya—Kinanti. Alasan dia tidak memakai jasa sopir karena Jun masih belum menemukan keberadaan Sirena. Untuk urusan perusahaan, ia menyerahkan pekerjaannya kepada Chief Executive Officer yang baru ia angkat seminggu yang lalu. Ia hanya meminta setidaknya lima sampai tujuh hari untuk menikmati berlibur di kota kelahiran Kinanti sekaligus melamarnya.


Dalam mobil itu terlihat sekali raut-raut wajah yang bahagia, tak terkecuali Anneline. Ia sangat menunggu saat-saat ini. Selama enam tahun, ia tak pernah keluar dari Kota Zen, selama itu juga ia menyembunyikan semua kenangan manis yang pernah ia kecap sebelum menjadi sosok sekarang ini.


Mobil berhenti di perempatan lampu lalu lintas yang menyala merah tanda untuk berhenti. Di siang itu, Anneline menatap pemandangan yang sudah lama tidak ia rasakan. Sepasang anak dengan memakai seragam SMA tengah berhenti di samping mobil ini. Mereka menggunakan motor dan berboncengan, di belakangnya terlihat perempuan dengan memakai hijab khas anak sekolahan. Entah mereka sepasang kekasih atau kakak beradik, yang jelas ada balok yang menghantam dadanya.


Anneline merasa ada yang hangat membasahi pipinya. Ia menangis, padahal dirinya sudah lupa bagaimana cara menangis. Terlalu lama terkurung dalam ruang kesedihan, membuatnya lupa jika air mata dapat diproduksi ketika memori lama berputar kembali. Anneline mengingat bagaimana Ilham sering menungguinya di parkiran sekolah saat dirinya masih terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler badminton.

__ADS_1


Setiap pagi, Ilham selalu menjemputnya dengan sepeda kayuh karena jarak sekolah yang tak terlalu dekat. Jika sepedanya bermasalah, pasti ia dan Ilham akan naik angkot. Anneline tersenyum-senyum sendiri mengingat sepotong masa lalu itu.


Ia terserang rindu pada sosok Anneline yang dulu. Anneline yang selalu bersemangat menjalani hidup, Anneline yang selalu galak pada teman laki-lakinya tak mau membersihkan kelas saat piket, dan Anneline yang selalu bersama Ilham. Bahkan seisi sekolah tahu, di mana ada Ilham pasti di dekatnya ada Anneline, begitu pun sebaliknya.


Aku merindukan diriku yang dulu.


Anneline menghela napas panjang, setelah kenangan bersama Ilham itu berputar, giliran kenangan buruk yang selalu membekas di ingatkan bagai luka sayat yang selalu melukai hatinya. Ayah yang menjualnya, Ibu yang tak mampu berbuat banyak saat anak perempuannya dijual, dan kakak laki-lakinya—Theo tidak bisa melindungi adiknya. Mereka tidak pantas disebut keluarga. Anneline menjamin, tidak ada keluarga sedarah yang pantas melakukan hal itu, mungkin dirinya hanya anak pungut sehingga Ayah bisa melakukan hal ini. Ganjaran yang mereka dapatkan adalah kematian. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran Anneline.


Mobil melajur di jalanan panas hingga fatamorgana terlihat di beberapa titik. Perjalanan ini baru tercapai separuhnya, mungkin dua jam lagi mereka akan sampai di Kota Milepolis. Naresh memutuskan untuk berhenti di rest area untuk beristirahat dan makan siang. Jujur, ia merasa sedikit pegal melakukann pejalanan jauh seperti ini, terakhir ia ke Kota Milepolis saat menjemput Kinanti beberapa bulan yang lalu.


Anneline cenderung memilih diam dibanding dua sejoli yang sedang kasmaran dan ingin mengikat janji suci pernikahan. Naresh bahkan tak sungkan menyuapi Kinanti yang membuat gadis itu merasa tak enak hati.


“Sepertinya aku menjadi lalat penganggu di sini.” Anneline menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengembuskan napas panjang.


Kinanti hanya tersipu, tak berani menjawab. Sebentar lagi ia akan resmi menyandang gelar Nyonya Yori. Hidup bersama pria berusia tiga puluh tahun dengan segala manja dan terkadang menyebalkan. Setidaknya itu yang Kinanti rasakan, penuh cinta untuk dicurahkan.


“O ya, aku tadi sempat menghubungi adikku, katanya hari ini ia akan menjalani operasi. Ya semacam menempelkan alat agar kakinya berfungsi kembali. Semoga dia mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.” Naresh tersenyum.


Anneline memaksakan senyumnya. Untuk apa jika dia bisa berjalan? Untuk apa? Dia tak pernah membuatku bahagia. Aku juga tak sudi dengannya walaupun dia bisa berdiri tegak.


“Wah! Aku tak sabar melihat Tuan Fernando,” ujar Kinanti.


“Sebentar lagi kau akan memanggilnya dengan adik ipar,” sahut Naresh.

__ADS_1


***


Perjalanan kembali dilanjutkan, itu berarti dua jam lagi untuk sampai ke Kota Milepolis. Seperti biasa, Naresh akan membuat lelucon yang hanya membuat Kinanti tertawa, namun tidak bagi Anneline. Ia tak tertawa sedikitpun, pandanganya memandang ke arah jendela. Pikirannya berputar pada satu sesuatu yang tidak ia tentukan. Terkadang di kepalanya muncul pertanyaan-pertanyaan aneh, dan selalu ada sahutan jawaban yang menangkan sang pemilik.


Bagaimana jika Ilham tak mengingatku? Dia sudah beristri, dan mungkin


Dia pernah mencariku di Kota Zen selama lima hari dan meninggalkan istrinya, bukankah itu pertanda kamu masih ada di hatinya.


Tapi bagaimana jika tidak mau hidup bersamaku dan memilih istrinya?


Mudah, bunuh saja dia. Toh aku sudah terbiasa dengan hal ini. Istri Ilham akan bersama keluargaku, pasti dia mau berkenalan dengan mereka di alam baka sana.


Dua jam perjalanan terbayar tuntas. Sudah dari jauh hari, Naresh telah memesan rumah penginapan yang ia sewa selama tujuh hari. Tempatnya memang sedikit jauh dari pusat Kota Milepolis, tapi sangat cocok untuk beristirahat dari hiruk piuk daerah perkotaaan.


Sejujurnya Kinanti sedikit terkejut melihat perubahan kota yang signifikan. Ia ingat, terakhir melihat keadaan kota kelahirannya saat dijemput oleh Naresh. Hanya itu, selebihnya dia tak mengingat detail tentang kotanya.


Demi melihat sofa yang panjang, seketika Naresh langsung merebahkan dirinya. Ia ingin menikmati rasa rebahan yang punggungnya terasa pegal saat menyetir. Rumah penginapan ini, bisa dibilang sangat nyeni, dilihat dari lantai hingga interior dalam. Tak hanya itu, ada kolam renang yang berada di belakang. Lalu jika mau berjalan lagi, ada sebuah hitan buatan yang masih dala satu kawasan. Lantai kayu memberi kesan yang sangat nyaman, tak hanya itu rumah penginapan ini memiliki dua lantai dan dua kamar tidur yang bagian kamarnya pun tak kalah bagus untuk berspot foto.


Tiba-tiba ponsel Naresh berdering, membuat pemiliknya harus bangun dengan sedikit kemalasan. Ia mengutuki siapa yang menelpon di keadaan yang sangat nyamna seperti ini. Ponsel itu bergetar dan menampilkan layar bertuliskan Jun sedang memanggil. Demi melihat nama Jun, Naresh terlonjak berdiri. Ia menuju salah satu kamar yang berada di lantai dua. Setelah masuk ke kamar dan menutup pintu, barulah ia menerima panggilan itu.


“Halo ... apa Sirena sudah ketemu?” Naresh bertanya. Setelah mendengar beberapa menit penjelasan Jun, wajah Naresh menjadi pucat pasi.


“Apa!”

__ADS_1


__ADS_2