Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 57


__ADS_3

“Ikuti aku.”


Farah tak sengaja menarik tangan Ray agar mau mengikutinya mengejar kucing itu. Farah ingin menunjukkan sesuatu kepada Ray.


Ray masih tak percaya tangan Farah mencengkram tangannya. Begitu lembut dan mengagumkan. Jantungnya tak berhenti memompa aliran darah dengan sangat cepat. Ia merasakan debaran jantungnya.


Farah mengajak Ray ke tempat yang kumuh. Lokasinya tak jauh dari jalan raya. Biasanya banyak kucing liar hidup di tempat itu.


Farah melihat kucing tiga warna tadi yang masih menggigit ayam goreng. Kucing itu berjalan menuju kardus yang sudah tidak layak pakai.


“Ray lihat!” Farah menujuk ke arah kardus.


Debaran Ray kembali menuju ke frekuansi normal. Ia melihat hewan yang ia sebut kucing kotor tadi.


Ray melihat kucing itu meletakkan ayam goreng yang ia bawa tadi dengan mulut mungilnya di depan sebuah kardus. Kucing itu mengeong keras, sepertinya berbicara sesuatu.


Tak disangka ada tiga ekor anak kucing yang keluar dari kardus itu, mereka mengeong dengan manja. Terlihat kucing yang Farah tolong tadi menyerahkan sepotong ayam goreng hanya untuk ketiga anak kucing itu.


Tiba-tiba memori Ray berputar menampilkan potongan-potongan ingatannya kepada ibu dan ayahnya dulu.


Ternyata induk kucing itu mencari makanan untuk ketiga anaknya. Pantas ia tak langsung memakan ayam goreng itu.


Ray teringat kehidupannya yang dulu, bagaimana ayahnya hanya bisa memberi sepotong roti. Kehidupan yang sangat miskin, sampai ibunya pergi meninggalkan mereka karena sudah tidak tahan dengan kondisi ini. Hanya ayah yang merawat Ray kecil dan adiknya yang masih balita.


Ray masih ingat akan kehidupan ‘Rayhan kecil’ yang kelam dan suram. Keluarga mereka dihina bahkan dicaci maki oleh banyak orang. Hingga suatu hari keajaiban itu muncul. Seorang wanita menawari ayahnya untuk bekerja. Dia perempuan janda yang sangat kaya raya. Namun Si Janda ini telah beberapa kali menikah, namun tidak kunjung memiliki anak. Tak disangka takdir Semesta bekerja, Si Janda itu menaruh hati kepada ayahnya Ray. Terjadilah pengikatan sakral antara ayahnya Ray dan Si Janda itu. Rayhan dan adiknya menjadi kesayangan Si Janda yang kaya raya.


Ray melihat pemandangan itu wajah yang sedu. Kerinduan menyeruak di hatinya. Ray merindukan ayahnya dan adiknya.


Farah mendekati keluarga kucing itu. Ia ingin memberikan lagi ayam goreng yang masih ada di wadah bekal makannya.


“Ini untukmu,” ucap Farah yang menyodorkan satu potong lagi paha ayam goreng.


Kucing itu melihat Farah, matanya berkaca-kaca melihat manusia yang baik ini. Kucing itu mengeong, mungkin tanda terima kasih telah memberikan makanan.


Farah tersenyum. Ia juga mengelus kepala ketiga anak kucing itu. Baginya keluarga kucing ini menggemaskan.


Pemandangan Farah yang menolong kucing-kucing kotor itu mengingatkan Ray pada Si Janda istri ayahnya.


“Ayo kita pergi Ray,” ucap Farah yang membuyarkan lamunan Ray tentang Si Janda itu.

__ADS_1


Ray mengangguk. Hari ini Farah sukses membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Dan dia sukses membuat Ray merasakan masa lalunya.


“Aku berharap bisa memeliharanya. Namun tak bisa, rumah yang aku tempati bukan milikku.” Farah mengembuskan napas kecewanya.


Ray mendengar kalam keluh yang keluar dari mulut Farah. Ia lantas menelpon para stafnya untuk menghubungi komunitas pencinta kucing. Ray ingin keluarga kucing itu hidup di lingkungan yang baik.


“Tenang keluarga kucing itu akan aman. Sebentar lagi kucing itu akan di adopsi oleh orang-orang yang tepat,” balas Ray.


Farah memandang Ray, matanya membulat. Sinar keceriaan gadis itu muncul, dan lengkungan manis terbentuk dari bibir mungilnya.


“Terima kasih Ray.”


Untuk kesekian kalinya senyuman Farah memberi energi kebahagiaan bagi Ray.


***


Untuk pertama kalinya Ilham merasa ada yang salah dengan dada kirinya. Tiba-tiba ia bisa merasakan sakit, tiba-tiba rasa sakit itu hilang.


Apa aku sudah menyakiti seseorang?


Atau Farah sedang melewati batas?


***


Farah dan Ray kembali berjalan menyusuri trotoar menuju kedai milik Ilham. Sekarang langkah kaki Ray sudah beriringan sejajar dengan langkah kaki Farah. bagi Ray, pagi ini energi bahagianya bertambah dua kali lipat. Ia senang bisa melangkah manpaki bumi bersama Farah. Bahkan bayangan yang muncul karena terpaan sinar matahari melukiskan sosok mereka berdua yang beriringan, sejalan seperti gambaran sepasang kekasih.


Ray merasa bahagia. Namun tidak dengan Farah yang hanya berjalan dengan kehampaan. Ray menyadari gadis pujaannya sedang sedih gulana. Seperti kembang yang layu, kehilangan sinar matahari dan air. Bunga yang mekar merekah seakan hilang kecantikkannya. Tidak mau berfotosintesis. Hanya ingin melayu perlahan.


Apakah kesedihanmu itu? Seperti apakah kesakitan yang kau rasakan sayang? Mari kita berbagi cerita. Larungkan kesedihanmu itu!


Kehampaan yang dirasakan Farah membuatnya lalai bahwa ada lelaki yang ada disampingnya. Ia hanya bisa memikirkan di mana keberadaan Ilham. Hanya itu. Hatinya meraut sedih. Seakan-akan Farah harus menutupinya dengan menertawakan sunyi. Dan bilang ‘saya baik-baik saja’. Nyatanya tidak sepenuhnya baik.


Hanya suara langkah kaki yang menguar terdengar dari mereka. Tidak ada percakapan. Kembang yang berada di samping Ray memilih diam dan berjalan.Sebentar lagi ia akan mendekati halte depan kedai milik Ilham. Farah berjalan dengan irama yang semakin melambat. Lambat. Dan akhirnya langkah Farah terhenti.


Ray memandang Farah dengan tatapan iba. Baru saja ia merayakan bersandingnya bayangan mereka.


“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Ray.


Aku ingin menangis! Aku ingin menumpakah semua amarahku. Aku merasakan sakit, aku merasakan sesak di dada ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi!

__ADS_1


“Iya Ray, aku baik-baik saja,” kilah Farah.


Sekali lagi Farah bisa menampilkan senyum palsunya kepada Ray dan dunia ini.


Langit tiba-tiba menurunkan hujan. Padahal hanya ada beberapa gumpalan awan yang menggantung di sekitar matahari. Hujan yang turun namun sinar matahari masih bersinar. Sama seperti yang dirasakan Farah. Hatinya menangis tapi wajahnya menampilakan senyuman.


Ray dan Farah buru-buru berlari mencari tempat berteduh. Mereka berteduh di halte depan kedai milik Ilham. Farah duduk di kursi halte. Ia menunduk, wajahnya meraut sedih.


“Hujan ini paradoks!” seru Ray.


Pernyataan Ray sukses membuat Farah mengangkat kepalanya memandangi Ray.


“Hujan ini paradoks, air turun tapi matahari juga bersinar. Apakah kamu tidak akan terlambat menuju kedai?” tanya Ray.


Farah menggeleng. “Aku ingin di sini.”


Farah terdiam. Ray juga diam. Ia berpikir bagaimana agar Farah tidak terlalu larut dalam kesedihan yang tiada ujung.


“Apa cita-cita yang ingin kau capai saat ini?” tanya Ray.


“Aku ingin berkuliah Ray. Pasti cita-citamu saat ini ingin memajukan perusahaamu ‘kan?”


Ray tersenyum.


Aku ingin mempersuntingmu.


.


.


.


Nb : terima kasih telah setia membaca kisah ini.


Sekarang Amy ingin bertanya untuk pembaca setiaku.


kalian lebih suka Amy update cerita 1 episode tapi isinya banyak atau sehari update 2 episode?


mohon dijawab di kolom komentar ya..🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2