
Malam yang masih sama, ketika ibu bulan bersinar lembut. Kali ini ibu bulan berbentuk sabit yang elok ditambah manik-manik yang indah bertaburan menghias langit malam. Malam ini langit begitu cerah dan cantik, namun ada yang berbanding terbalik dengan ini semua. Perempuan itu masih tampak murung terduduk di kursi yang menghadap jendela kamarnya. Ia menatap si malaikat kecil yang sekarang sudah tertidur pulas karena kekenyangan setelah mendapat asupan Asi yang melimpah. Perempuan itu tampak galau dalam lamunannya. Malam ini masih sama, namun dengan tempat yang berbeda.
Akmal keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Ia menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya agar segera kering. Akmal melihat istrinya yang terlihat muram malam ini. setelah pindah dari rumah Ilham, Akmal memutuskan untuk mengontrak rumah yang berada di utara kota Milepolis. Ia menduga bahwa istrinya tidak ingin lagi tinggal mengontrak. Mungkin itu yang membuatnya muram saat ini.
Akmal berjalan menuju meja. Ia mengambil beberapa berkas yang berada di tempat penyimpanan pada meja itu dan ingin menunjukkannya kepada istrinya. Akmal menyentuh lembut pundak istrinya, lalu membimbingnya untuk duduk bersama di pinggiran ranjang.
“Aku tahu kamu bersedih karena aku memutuskan untuk mengontrak rumah?” Akmal menatap lekat sepasang bola mata milik Rahma.
Rahma menggeleng, ia tidak mempermasalahkan hal ini, yang terpentng baginya memiliki tempat untuk berlindung. Rahma sedikit tertarik dengan dokumen yang di bawa Akmal. Ia mengambil dokumen itu dan melihatnya dengan sesama. Rahma memperhatikan dalam dokumen itu hanya ada gambar rumah dan tata letaknya. Terlihat minimalis, unik dan indah. Lalu ia menatap Akmal, ia ingin Akmal menjelaskan apa maksud dari dokumen ini.
“Kau menyukainya?” Akmal tersenyum memandang istrinya.
Rahma hanya mengangguk lemah, ia suka dengan design-nya yang menurutnya sangat tersentuh dengan seni.
“Ini rumah kita yang akan berdiri di Kota Numa.” Akmal menunjukkan skesta gambar rumah yang terlihat dari depan.
Mata Rahma membulat, ia masih tak percaya dengan pernyataan yang baru saja diucapkan oleh suaminya. Ia lalu menatap Akmal kembali, meminta penjelasan secera terperinci.
“Ini sketsa rumah kita, masih tahap pembangunan belum sepenuhnya rampung. Sebentar lagi keluarga kecil kita akan pindah ke Numa. Dan design ini adalah rumah impianmu ‘kan? Dengan lantai kayu dan kolam yang berisi ikan koi, seperti rumah tradisional di Jepang.” Akmal menjelaskan dengan baik.
Memang benar design rumah ini mirip seperti rumah impian Rahma, lantai kayu dan di bagian belakang rumah terdapat kolam ikan koi. Ditambah dengan gemerik air mancur dengan wadah bambu yang terdengar seirama yang menyenangkan. Rahma tersenyum, namun tak berapa lama kemudian ia kembali murung. Raut wajahnya sangat mudah ditebak, dan Akmal tidak menyukai hal itu.
__ADS_1
“Apa yang mengusik pikiranmu?” Akmal meraih kedua pipi milik Rahma.
Rahma menghela napas, memang ada yang berkecamuk di hatinya. Tiba-tiba satu butiran hangat menetes dari sudut matanya.
“Hey, mengapa menangis? Ada yang menjadi beban pikiranmu? Ceritakanlah, bukankah aku teman masa kecilmu hingga saat ini?” Akmal menghapus air mata Rahma yang keluar kian deras. Ia juga mendekap istrinya untuk menangis dalam pelukkannya.
Rahma masih terus menangis, ia memeluk tubuh yang kokoh. Ia merasa sangat nyaman dan damai dalam pelukka orang terkasihnya.
“Mengapa, kau memilihku untuk menjadi istrimu? Bukankah kau juga tahu bahwa aku pernah menjadi wanita malam dan melahirkan Argian? Mengapa kamu tidak mencari perempuan yang lebiih terhormat dibanding aku? Apakah kamu melakukan hal ini semata-mata karena kasihan melihatku yang sudah memiliki anak sebelum adanya pernikahan?” Rahma terisak, ia menatap lekat wajah damai milik Akmal.
“Huuusstttt!” Akmal menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rahma, mengisyaratkan agar jangan berkata lagi.
Rahma terdiam tidak menjawab petanyaan dari Akmal, ia hanya ingin mendengar dengan takzim semua perkataan suaminya.
“Aku hanya menginginkanmu karena takdir yang menyatukan kita. Aku ingin mencintaimu karena Allah bukan semata-mata karena kasihan. Aku menerimamu seutuhnya, sepaket dengan masa lalu-mu. Aku juga sudah menganggap Argian adalah bagian dariku. Dia adalah anakku walaupun aku bukan ayah biologisnya. Aku mohon, jangan ceritakan pada Argian tentang bagaimana ia hadir di dunia ini. Ceritakan yang baik saja. Ceritakan bahwa aku adalah ayahnya,” Akmal menjawab semua pertanyaan yang menjadi beban pikiran Rahma.
Mendengar hal itu, Rahma merasa malu. Ia menangis karena ia bahagia. Sangat bahagia. Ternyata dunia masih sudi menerima keadaannya dan lihat! Sekarang Akmal menerimanya dengan keteguhan hati. Menerima semua kurangnya tanpa protes. Sekarang Rahma tahu, bagaimana Akmal mencintainya selama ini.
“Apakah kamu tahu, kita sama-sama tidak memilik sosok keluarga yang utuh. Kita sama-sama tidak pernah mendapat kehangatan pelukan ibu dan ayah. Kita sama-sama tahu, bahwa kita berasal dari panti asuhan.”
Akmal menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia juga meraih pundak Raham untuk menguatkan perasaan yang berkecamuk dalam diri istrinya.
__ADS_1
“Dulu kita sama-sama bermimpi memiliki keluarga yang utuh dan hangat. Mungkin selama ini kita tidak pernah mendapatkan itu semua. Namun keluarga yang hangat harus tercipta dari kita. Ibu yang pandai memasak dan mengajarkan hal baru untuk anak-anaknya harus berasal dari dalam dirimu. Ayah yang hebat dan bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga harus berasal dari aku. Sebab, Argian membutuhkan ini semua. Keluarga yang utuh harus berasal dari kita. Dan aku berjanji, bahwa aku akan menyayangi Argian seperti anak kandungku sndiri.”
Rahma kembali menangis mendengar penuturan dari suaminya. Ia merasa sangat tidak pantas untuk menerima semua kebahagiaan ini. Ia sekarang sadar dan mengerti, ketidak-adilan yang selalu ia rasakan bukan karena dunia membencinya. Namun karena keadaan akan silih berganti. Untuk sekarang Rahma merasakan buah manis dari kesedihan yang selalu bernaung dalam dirinya.
“Jangan menangis lagi, kita saling belajar untuk menjadi orang tua yang baik untuk Argian. Aku janji akan terus bersamamu, memelukmu dan Argian. karena kita adalah keluarga yang utuh.” Akmal melanjutkan kalimatnya.
Memang benar, banyak luka yang sering Akmal dan Rahma alami. Baik itu luka karena goresan yang kecil atau luka yang diameternya luas dan menganga. Semua luka terasa sangat menyakitkan dan terkadang meninggalkan bekas yang sulit sekali disembuhkan. Ada banyak respon terhadap luka yang sering dialami oleh manusia. Ada manusia yang sebelumnya lemah lalu ia mengalami luka yang terasa perih dalam kehidupannya. Benar saja, ia menjadi kuat untuk mentolerir rasa sakit karena sering terluka.
Terkadang ada dari bagian mereka yang membalas luka ini kebaikkan agar tidak ada yang terluka lagi. Mungkin itu bisa disebut tumbuh dari luka. Tumbuh dari perih-perihnya luka yang entah dengan sengaja dunia ukirkan. Tumbuh dari luka seperti halnya menghangatkan gelap yang tidak tersentuh dengn mentari. Sejuk dalam hawa panas. Dan tenang dalam kerusuhan masalah yang datang secara bertubi-tubi.
____________________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
__ADS_1